26 Des
Spider
22 Des
Dunia Laut, Hujan, dan Hari Ibu
Sedang berteduh sendirian di depan Sea World, Ancol. Padahal rencananya bakal ber-Teduh (bersama Teduh) bareng papa-mamanya. Mereka masih diliputi macet di tol. Semoga segera mencapai tempat ini dengan selamat.
Hujan tampaknya takkan mereda selama seharian ini. Bagi yang tak berpayung bersiap-siaplah kebasahan jika akan menuju kemari.
Hari ini, Selasa, 22 Desember 2009, khusus kuliburkan diri dari rutinitas kantor.
Hari Ibu. Kuucapkan selamat memiliki hari bagi para ibu se-Indonesia. Kami para ayah, dan juga yang sedang calon, sangat iri kepada kalian.
Memperingati Hari Ibu ini, perkenankanlah saya menyenandungkan sebuah lagu:
kaum ibu Indonesia
wanita yang sejati
pengasuh pembimbing putra
muda harapan rakyatbangkit tegak serentak
melaksanakan wajib dan darma
bangkit tegak serentak
melaksanakan wajib dan darmakalian putri Indonesia
sadar kewajiban semua
bunga indah bagai lambang
suci dan berani matilaju maju menjelang
kebahagiaan nusa dan bangsa
laju maju menjelang
kebahagiaan nusa dan bangsa
Ummiy! Selamat hari ibu! Wi lop yu muah muah!
19 Des
Secercah
Secercah harapan itu akhirnya tebersit. Artinya ada kemungkinan kesempatan itu menghampiriku, meski hanya sekecil butiran pasir. Aku yang semula lunglai tanpa daya, kini kembali bisa berdiri tegak di atas kakiku sendiri. Bagaikan karang yang tetap tegar meski dihantam ribuan ombak sekalipun.
Mungkinkah ini anugerah Tuhan? Atau mungkinkah ini cobaan? Atau jangan-jangan malah azab dari Tuhan atas kedurhakaanku kepada-Nya?
Tanpa ragu, aku pun segera berpasrah kepada-Nya. Kuhaturkan sembah sedalaman kalbuku setulus-tulusnya. Harapku, pintaku, dan hasratku kuungkapkan kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Penuh seluruh kumemohon pada-Nya. Karena aku tak mau kehilangannya (lagi)…

16 Des
Kubis
12 Des
Dua
Mungkin selama ini aku selalu mendoakan kebaikan untuknya. Mungkin selama ini aku mengharapkan yang terbaik baginya. Tiap malam mungkin ada namanya kusebut selalu ketika aku sedang meminta.
Namun sekarang aku ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku ingin kotak ajaib itu tidak sampai kepadanya! Biarlah segala sesuatunya terjadi seperti sedia kala.
Selamat menjalani hari-hari yang penuh bahagia menuju Dua-Dua.
8 Des
Apa yang ditakutkan dari JK?
ANGKET CENTURY MENCEKAL JK…?
Amat mencurigakan, ketika tersebar berita bahwa Angket Pansus tidak-bahkan sengaja mengeblok–agar JK tidak dipanggil untuk dimintai keterangan.
PANITIA Khusus Angket Bank Century–selanjutnya disebut dengan Angket Century–hadir di tengah publik yang sedang dilanda bara ketidakpercayaan. Tidak percaya karena belum pernah sebuah angket di tangan DPR, dalam enam tahun terakhir, berhasil.
Angket-angket DPR selama ini dirampok oleh pragmatisme DPR sendiri. DPR disumbat mulut dan hatinya sehingga mengkhianati kebenaran yang sedang dicari publik.
Angket Century yang diketuai Idrus Marham, politikus Partai Golkar, juga sedang dilanda ketidakpercayaan. Tidak semata karena Idrus orang lama di DPR, tetapi juga karena Idrus dianggap tokoh yang mau menjadi muara dari berbagai kepentingan yang sedang dicurigai.
Salah satu tugas berat yang diemban Angket Century adalah membongkar setuntasnya aliran dana Rp6,7 triliun ke Bank Century. Uang yang sangat banyak itu tidak cuma dipersoalkan ke mana larinya, tetapi dasar kebijakannya pun dipertanyakan. Karena melabrak banyak rambu kepatutan dan kehati-hatian.
Angket Century harus merangkai aliran dana yang terputus-putus–baik karena kesengajaan untuk menghilangkan jejak maupun tidak–untuk diketahui benang merahnya. Ke mana dan kepada siapa uang itu pergi.
Salah satu yang dianggap sebagai saksi mahkota adalah Jusuf Kalla. Mantan wakil presiden itu tidak saja sentral karena kewenangan, tetapi juga sentral karena dia penjabat presiden ketika keputusan tentang bailout Bank Century diputuskan Komite Stabilitas Sektor Keuangan. Dia penjabat presiden karena Presiden Susilo Bambang Yu- dhoyono ketika itu sedang berada di Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan Metro TV beberapa saat lalu, JK mengatakan dia sebagai penjabat presiden waktu itu tidak diberi tahu tentang keputusan bailout Bank Century. Ketika kemudian dia diberi tahu, reaksinya waktu itu adalah memerintahkan penangkapan Robert Tantular. Karena menurut logika seorang wakil presiden ketika itu, kasus Century adalah jelas perampokan bank oleh pemiliknya sendiri.
Bila situasi krisis ekonomi dunia waktu itu dianggap menjadi pemicu keputusan bailout, JK adalah wakil presiden yang menilai Bank Century tidak memiliki potensi dampak sistemik. Dengan demikian, bank ini tidak pantas menerima kucuran dana Rp6,7 triliun.
Artinya, kucuran dana itu dipaksakan oleh tangan yang tidak kelihatan–invisible hand. Tangan yang tidak terlihat itulah yang menyebabkan orang seperti Boediono yang waktu itu menjadi Gubernur Bank Indonesia kehilangan kehati-hatian sehingga menyetujui bailout. Tangan yang tidak terlihat itu juga yang menyebabkan orang seperti Sri Mulyani merasa tidak memiliki pilihan lain kecuali menggelontorkan dana Rp6,7 triliun.
Sebagai wakil presiden yang menangani bidang ekonomi dan sebagai orang yang memiliki pengalaman dan naluri perdagangan, JK mungkin tahu tentang permainan tangan yang tidak terlihat itu.
Adalah amat mencurigakan, ketika tersebar berita bahwa Angket Pansus tidak–bahkan sengaja mengeblok–agar JK tidak dipanggil untuk dimintai keterangan. Blok terhadap JK berhembus kencang bersamaan dengan menguatnya peluang Idrus memimpin Angket Century.
Apa yang ditakutkan dari JK? Ini pertanyaan yang menggelitik.
(EDITORIAL MEDIA INDONESIA EDISI SELASA, 8 DESEMBER 2009)
===
Seperti tak ada habisnya kisah-kasih perekayasaan di negeri ini.
Nggak tahu-menahu aku soal kasus ini. Nggak berhak bicara banyak sebenarnya. Cuman aneh aja kejadian-kejadian di negeri ini belakangan ini. Kasus Antasari, Kasus Bibit-Chandra, Kasus Century, selanjutnya kasus apa lagi?
Invisible hand… Sepertinya ada istilah baru selain invisible hand-nya Adam Smith, nih.






RSS - Posts
Komentar Semangat!