Jatuh Cinta

Jatuh cinta: perasaan bahagia para dewa barangkali
Setelah terkena pesona sang dewi
Asmara memelesat terbang secepat panah Srikandi
Hingga tertancap dalam ke jantung hati

. . .

Ingin rasanya mengingat-ingat kembali waktu pertama kalinya aku menyanyikan lagunya J-Rocks ini:

Kurasakan ku jatuh cinta
Sejak pertama berjumpa
Senyumanmu yang selalu menghiasi hariku
Kau ciptaan-Nya yang terindah
Yang menghanyutkan hatiku
Semua telah terjadi
Aku tak bisa berhenti memikirkanmu
Dan kuharapkan engkau tahu

Kau yang kuinginkan
Meski tak kuungkapkan
Kau yang kubayangkan
Yang selalu kuimpikan
Aku jatuh cinta
Telah jatuh cinta
Cinta kepadamu
Kujatuh cinta
I’m falling in love
I’m falling in love with you

Ah, indahnya masa kala itu… Dan kala sekarang. :D

Roda Berputar

Memang benar orang yang mengatakan kehidupan di dunia ini ibarat roda yang berputar. Suatu saat kita bisa kembali ke tempat semula.

Seperti misalnya aku yang hari ini duduk hampir persis sama di ruang tunggu ini. Dalam rangka pergi menunaikan tugas yang sama. Menuju kota yang berinisial sama. Kulakukan hal demikian ini persis seperti tahun lalu \beda dua hari\. Dengan kondisi dua hari sebelumnya bertemu untuk barangkali “terakhir kalinya” dengan orang yang sama.

Posting setahun lalu…

Sesungguhnya berkemas itu ialah hal segala paksa, dan oleh sebab itu maka segala perkemasan harus dilakukan karena harus sesuai dengan periperkoporan dan peripertentengan.

Dan perjuangan mengepas perbekalan itu telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa memasukkan baju dan kolor ke dalam kopor dan meteran serta rompi ke dalam tas besar yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

View on Path

Maaf, Atas Buruknya Kebiasaan

Baru-baru ini terlaku lagi salah satu kebiasaan buruk yang sudah lama kuperangi.

Adalah aku yang apabila bertemu secara tidak terduga dan sengaja dengan orang yang kukenal, apalagi yang sudah lama tidak berjumpa sehingga pertemuan tersebut termasuk mengejutkan, akan melakukan tindakan yang barangkali boleh dikatakan kasar bagi yang kurang mengenaliku: mengagetkan balik atas kemunculannya yang tiba-tiba di hadapanku dengan cara misalnya menendang kakinya, memukul bahunya, atau bahkan menggetok kepalanya dengan benda apapun yang sedang kupegang ketika kejadian mengejutkan tersebut berlangsung.

Kebiasaan, atau barangkali bisa dikatakan refleks, buruk ini barangkali bisa ditarik lini masanya ketika aku masih SMA dengan penular utamanya yaitu seorang yang bernama Roki. Dia adalah orang yang kalau hidup sampai pada zaman sekarang ini barangkali akan dituduh menderita bipolar hanya karena kelainan ini sedang popular padahal sama sekali ia tidak. Semoga ia tenang dan damai di alam sana.

Kebiasaan burukku ini telah pun banyak memakan korban. Yang paling parah adalah ketika aku secara refleks mendorong seseorang sehingga jatuh dari ketinggian enam belas anak tangga. Sejak saat itulah aku menyadari bahwa kelakuan semacam itu harus kuperangi dengan gencar.

Inilah salah satu alasan mengapa aku meminta orang-orang di dekatku untuk tidak memberikanku kejutan dalam bentuk apapun. Yaitu tak lain karena kebiasaan buruk semacam ini belum tuntas kubasmi.

Aku sungguh menyesali, terutama untuk kejadian yang baru-baru ini, terlebih karena barangkali si korban tidak ingin bertemu denganku lagi. Dari lubuk hati terdalam aku sangat menyesal dan meminta maaf secara tulus kepadanya terlebih karena tidak langsung menyadari atas kesalahanku mengagetkannya "kembali" dengan cara menggetok kepalanya itu dengan mainan. Barulah beberapa jam setelahnya aku sadar bahwa kekagetannya itu bukanlah karena secara tak terduga bertemu denganku melainkan lebih karena apa yang barangkali bisa dituduhkan mengasarinya secara lahir dan barangkali pula secara batin.

Dengan ini aku kembali bertekad dengan kuat untuk memerangi kebiasaan buruk membahayakan ini. Mohon bagi yang berada di dekatku untuk selalu mengingatkanku dan sebisa mungkin mencegahku apabila kejadian yang sama kemungkinan akan kembali terulang. Bagi yang sudah mengenaliku akan kebiasaan buruk yang kuderita ini, mohon ampunan dan makluman jikalau barangkali \semoga tidak terjadi\ di masa yang akan datang menjadi korban.

Sekian.

Gerundel

Purnama. Seharusnya. Tetapi malaikat penjaga langit barangkali sedang demam, jadilah selimut raksasa dibentangkannya. Menjadikan bidadari-bidadari khayangan kehilangan petunjuk arah, tidak bisa turun ke bumi untuk sekadar mandi.

Tampaknya music nib sedang mengalami ketenarannya pada masa sekarang ini. Bukan saja karena Noodler’s akhirnya mengeluarkan versinya, melainkan orang-orang seakan berlomba-lomba memamerkannya. Barangkali belum cukup disayangkan manakala mata pena jenis ini malah tidak banyak digunakan sebagaimana mestinya: menuliskan notasi musik. Tetapi yang sangat disayangkan adalah aku tidak \atau belum\ memiliki kesempatan untuk sekadar mencobanya apalagi memilikinya.

Koper yang beberapa hari lalu kugunakan dalam keadaan darurat ternyata ritsletingnya macet dan belum bisa dibuka. Haruskah aku tetap membiarkannya demikian sehingga sebagian besar koleksi Doraemon-ku tertelan di dalamnya untuk selama-lamanya? Ataukah aku harus membuka paksa dengan mengambil risiko beberapa isinya akan terluka untuk selama-lamanya pula?