Kembali

Hening malam tiada dapat membungkam mulutku untuk terus melantunkan namamu; berharap suara ini dapat tembus sampai ke langit terujung. Bahkan di kegelapan petang dengan mata terpejam masih kutangkap pendar wajahmu; samar-samar bayangan itu menjelma dalam anganku sendiri mewujud malaikat berambut emas beruntai dengan sayapnya yang mengepak-ngepak nyaris terkepak. Engkau pergi di saat aku sedang belajar untuk berlari; agar dapat pula aku terbang tinggi mendampingimu mengitari bumi mendekati matari. Tanpamu di sisiku aku bagai pokok tanpa air; aku serupa senja tanpa teja. Maka dengan ini aku berpinta agar hidup seribu tahun lagi sampai kau kembali.

#edisimenototengahmalam

Asmara Penasaran dan Doraemon

Sangkalan: Sesungguhnya tulisan ini sudah terencana untuk kupublikasikan beberapa waktu sebelum pernikahan si anu (Rapi Amat) dan si itu (Nageta Sapina) heboh ditayangkan selama berhari-hari oleh salah satu stasiun televisi swasta kita.

Disclaimer: This is supposed to be a translation of the sentence above in Lingish. So for the sake of our convenience, let’s just say so.

Siapa sih yang tidak menyukai kisah asmara? Kita semua menyukainya, barangkali. Terlebih apabila kita turut ambil peran di dalamnya. Ya, meski tidak sebagai peran utamanya, barangkali peran sebagai figuran cukuplah sudah dapat membuat kita ikut bahagia.

Akan tetapi bagaimanakah halnya ketika kisah asmara tersebut telah mencapai happy ending dan kemudian peran kita di situ berakhir pula? Akankah kita masih turut menikmati bahagia?

Sedikit kecewa sangatlah mungkin kita rasakan. Tetapi sebagai manusia yang terus ingin hidup di muka bumi ini hingga seribu tahun lagi, selayaknya kita terus melangkah maju. Barangkali dalam pelangkahan kita itu akan kita jumpai kisah-kisah asmara yang perlu pelibatan diri kita di dalamnya. Barangkali pula peran kita tidak lagi sebatas figuran melainkan sebagai pemeran pembantu utama. Sungguh mungkin, bukan?

Maka persiapkanlah diri kita untuk selalu siap sedia menghadapi kemungkinan tersebut. Lihatlah selalu peluang-peluang yang ada selama kita melangkah itu. Dengan demikian niscaya kita akan selalu hidup dari bahagia yang satu ke bahagia yang lain. Haha.

\Otak sedang kacau karena lama tak minum kopi, barangkali.\

Berbicara mengenai Doraemon \anggap saja kita tadi sedang asyik membicarakan robot kucing berwarna biru muda itu\ tahukah kalian kalau di negara serikat seberang lautan sana ditayangkan dalam televisi mereka satu seri kartun animasi Doraemon? Disney XD nama stasiun televisinya, kalau aku tidak salah.

Katanya di sini, ada beberapa pengadaptasian dari bagian cerita sehingga barangkali lebih berterima di hati para pemirsanya di sana. Seperti misalnya Nobita menjadi Noby, Suneo menjadi Sneech, Shizuka menjadi Sue, Gian menjadi Big G, dan seterusnya. Bahkan Doraemon tidak lagi disalahanggapkan sebagai rakun melainkan anjing laut.

Apapun itu, aku mendukung segala pengadaptasian semacam ini. Sama sajalah seperti dulu dilakukan oleh Wali Sembilan. Kan?

Ada sebuah pemikiran yang kembali berkembang dewasa ini mengenai moda transportasi yang aman dan nyaman bagi umat manusia sedunia, yaitu dengan tanpa menggunakan bahan bakar fosil yang tidak terbarukan sehingga ramah lingkungan. Adapun moda ini dianggap aman karena tidak akan terjadi kecelakaan. Kalau pun ada tentu sangat minim sekali persentase kemungkinan terjadinya. Adapun nyaman, karena membutuhkan waktu yang relatif singkat sehingga tidak akan ada lagi kecapaian selama perjalanan.

Adapun moda transportasi yang dimaksud adalah Doko Demo Doa alias Pintu Kemana Saja. Bagaimana? – at Halim Perdana Kusuma International Airport (HLP)

See on Path

Buset

Buset dah. Sampai mau berkata-kata saja gak bisa. Disingkat saja, lah. Intinya dulu pernah menulis di sini perihal nasi telah menjadi bubur. Maka bikin saja sekalian bubur ayam, biar enak. Tetapi dibikin bubur ayam sampai bubur manado pun tetap gak terasa enak. Haruskah aku bagaimana? Bilakah aku mengapa?

Oh iya. Purnamanya sedang indah. Aku tahu malam ini takkan ada bidadari khayangan yang turun ke bumi untuk mandi atau untuk apapun tujuannya. Tetapi bolehlah kiranya aku tetap di semak-semak sini: bersembunyi; lalu mengindik ke arah telaga sunyi demi mengamati bayangan purnama yang semakin tenggelam di permukaan air derita.

Hasyah. :D