Mama Titi

Lagi-lagi sang ibu (demam). Kena kelelawar Kerajaan Inggris (batuk). Menanggung dosa (bersin) pula. Akibat tertular virus. Akibat insomnia. Akibat takut bermimpi. Setiap begini, aku merasa mati sangat dekat di hati. Bagaimana denganmu?

Kejadian Sore

Jadi ini yang tadi sore kusaksikan, Saudara. Dia sedang berbincang-bincang dengan kawannya. Dan dengan "dia" maksudku adalah seorang gadis yang sedang duduk bersila di tepi balkon sebuah rumah. Dan dengan "kawannya" maksudku adalah seorang gadis yang sedang berdiri di atas pagar rumah di seberangnya.

Untuk mencapai kediamannya sekarang, kubayangkan "dia" harus naik memanjat pagar besi yang membatasi balkon dengan tepian balkon. Dan dengan "pagar besi" maksudku adalah pagar setinggi satu koma tiga lima meter yang terbuat dari besi untuk mencegah orang yang berdiri di balkon melompat secara tidak sengaja dari situ untuk kemudian jatuh ke tanah. Dan dengan "tepian balkon" maksudku adalah semacam sambungan balkon yang menjorok sekitar dua puluh centimeter untuk mencegah teras di bawah balkon terkena percikan hujan.

Adapula dengan "pagar rumah" maksudku adalah pagar bata setinggi dua meter. Dengan demikian kubayangkan si "kawannya" ini, dengan handuk melingkar di atas kepalanya, memanjat pagar sedemikian tingginya demi berdiri lantas bercengkerama dengan "dia" di seberangnya.

Kuperkirakan sudut elevasi antara "dia" dan "kawannya" ini sekitar dua puluh tujuh derajat dengan bentangan jarak empat meter. Dengan demikian mereka perlu sedikit berteriak agar perkataannya dapat didengar satu sama lain.

Aku pikir sungguh tidak efektif dan tidak aman cara berbincang semacam itu. Mereka bisa saja menggunakan dua buah kaleng yang terhubung dengan seutas senar. Dengan begitu mereka tidak perlu repot-repot mengeluarkan banyak tenaga untuk berteriak. Pula pesan yang mereka pertukarkan tidak akan bocor sehingga tidak sengaja terdengar oleh orang yang melintas di antara mereka berdua.

Adapun dengan "orang yang melintas di antara mereka berdua" maksudku adalah aku. Dan dengan "pesan yang mereka pertukarkan" maksudku adalah "kasep pisan euy".

Dan dengan "kasep pisan" maksud mereka adalah aku.

Perihal Menakik

Hal yang paling membuatku frustasi saat ini adalah kehabisan tinta di saat kepala dipenuhi dengan banyak aksara. Artinya aku tidak bisa lagi menyalin aksara-aksara itu ke atas lembar-lembar nyawa pohon berwujud buku tulis. Dengan demikian sepertinya aku harus pula belajar menakik leherku sehingga getah aksara itu bisa keluar dengan sendirinya. Bagaimana?

Tetap Berlatih

Seorang guru olahraga pernah mengatakan hal ini kepadaku. Katanya, sekali dalam satu kurun waktu seorang atlet yang sedang rehat dalam karier profesionalnya harus berlatih agar dapat menjaga kebisaannya dalam olahraga yang ditekuninya. Perkataannya itu mendatangi ingatanku kemarin malam, yaitu pada saat aku menatap bulan sabit untuk kali pertamanya dalam bulan ini.

Benar juga. Badan manusia relatif lebih mudah pikun daripada hatinya. Barangkali seseorang akan mudah melupakan betapa sakit kakinya ketika terjatuh di jalan. Akan tetapi hatinya tetap akan ingat betapa sakit sekali hatinya mengetahui bahwa orang terkasihnyalah yang telah mendorongnya dengan sengaja sehingga ia terjatuh.

Tetapi bukan hal itu yang ingin aku tekankan. Seorang pemain sepak bola yang dilarang bermain sepak bola untuk sementara waktu karena cedera kaki yang dialaminya, akan membutuhkan waktu untuk setidaknya mengingatkan kakinya kepada teknik-teknik mengolah bola ketika dia sudah sembuh. Ia tidak akan bisa langsung melakukan tendangan ajaibnya seperti sedia kala. Memori kakinya tidak serta merta kembali seperti sedia kala. Katanya.

Maka mulai sekarang aku pun bertekad untuk melakukan hal yang menjadi kejagoanku minimal sebulan sekali. Aku tahu sudah lama aku tidak mempraktikkannya. Sudah hampir setahun ini, barangkali. Tentu aku tidak ingin kehilangan keahlianku ini.

Aku memang tidak berniat untuk kembali lagi menekuni dan berkarier secara profesional di bidang ini. Sudah lama aku memutuskan untuk keluar malahan. Tetapi aku merasa sayang untuk menghilangkan kebisaan ini secara total.

Maka inilah aku sekarang, berbahagia dalam keadaan perut kepenuhan makanan. Sampai berjumpa lagi di lain kesempatan, barangkali dalam satu bulan ke depan. :D

Leap of Faith

Belakangan ini aku beberapa kali mendengar frasa “leap of faith“. Apa pula itu maknanya? Bahkan mendengarnya dari mana saja aku sudah lupa.

Memang kuakui kalau belakangan ini aku sedang bermasalah dengan kepercayaan: tidak terlalu percaya dengan kebaikan orang, tidak terlalu percaya bahwa kebaikan pada akhirnya akan datang. Jadi mendengar frasa tadi seolah bagaikan menampar pipi sendiri; tidak sakit tetapi lebam-lebam itu pipi.

Kemudian sekarang aku mencoba untuk kembali percaya. Terlebih setelah mendengarkan Neng Najwa Latif menyanyikan “Cinta Muka Buku” sebagai berikut ini:

Banyak soalan banyak juga jawabannya
Kata hati dan rasa tak dibiar saja
Setiap yang berlaku ada kebaikannya
Harus pejam mata dan cuba apa saja

Percaya saja. Melompat saja, karena barangkali kita memang melompat ke tempat yang kita tuju. Jangan lupa memakai sepatu. Tak perlulah khawatir melompat ke tempat yang salah, karena setiap kejadian pasti ada sisi baiknya. Kan?