2.3 Unity

Ingin kunyanyikan kembali lagu yang sama yang kunyanyikan setahun lalu:

hari ini, hari yang kutunggu
bertambah satu tahun usiaku
bahagialah aku
yang kuingin bukan s’potong kebab
bukan sebatang cok’lat ataupun bakpao
juga s’cangkir kopi

maaf, bukan nggak sopan
atau nggak mau
n’rima kadomu
yang ingin aku dapat darimu
doa s’tulus hati

s’moga Tuhan melindungi aku
serta tercapai semua angan dan cita-citaku
mudah-mudahan dib’ri umur panjang
sehat selama-lamanya

s’moga Allâh meridhoi aku
serta segera menikah dengan gadis dambaanku
mudah-mudahan dib’ri keberkahan
senang selama-lamanya

s’lamat ulang tahun…

JAMRUD – Selamat Ulang Tahun //dengan sedikit modifikasi//

Terima kasih, kawan-kawan. Terima kasih atas ucapan selamat, doa, sokongan, hardikan, nasehat, petuah, kado, transferan, dan makanan dari kalian.

Mohon dukungan selalu.

Bukan

Dia bukan artis. Maka tak pantas aku gemar padanya.
Dia bukan idola. Maka tak pantas aku berfoto bersamanya.
Dia bukan selebritis. Maka tak pantas aku meminta tanda tangannya.
Dia juga bukan bidadari. Maka aku tak berhak mendapatkannya.

Boekoe Lapoek Djadi Djadoel

Koleksi bukuku berjamur!  

Buku-buku itu kutaruh di dalam lemari kayu tertutup. Kemungkinan sangat lembab, sehingga jamur bisa bebas berkembang biak.

Apa yang harus kulakukan?  

Bahkan buku-buku yang belum sempat kubaca pun jadi lapuk karena jamur.  

Memang semua itu kesalahanku, menelantarkan barang-barang kepunyaan sekehendak hatiku.  

Maafkan aku, buku-bukuku…

Teman Erat

Aku kenal dengan seseorang yang aku ingin menjadi temannya yang paling erat. Dia teramat egois. Namun darinya aku belajar menekan egoku, demi membuatku menjadi temannya yang paling erat.

Aku kenal dengan seseorang yang penakut yang ingin aku akrabi dengan erat. Deminya aku belajar menjadi seorang pemberani. Darinya aku tahu bahwa untuk menjadi seorang yang pemberani butuh seseorang atau sesuatu hal yang ingin kulindungi.

Aku butuh kenal dengan seseorang sombong yang pecundang. Agar aku bisa senantiasa rendah hati dan mau berbagi. Mungkin aku bisa menjadi sahabatnya yang paling sejati.

Aku juga butuh kenal dengan seseorang yang pemarah. Darinya aku ingin belajar bagaimana mengendalikan amarah. Mungkin dengan aku menjadi kawannya yang paling kental aku bisa berubah menjadi orang yang penyabar.

Ah, aku ingin kenal dengan semua orang. Agar aku bisa terus belajar bagaimana seharusnya menjadi orang.

Pemburujanda Anthem

Selamat malam, saudara pendengar sekalian. Masih bersama penyiar kesukaan Anda: FARIJS MANIJS. Terima kasih Anda masih mendengarkan kami di gelombang 168.22.0.1 FM, Radio CEMANGAT, radionya para pemeras keringat!

Para pendengar dimanapun Anda berada, tampaknya musim dingin telah datang menyapa kita yang berada di kota megapolitan Jakarta Raya. Jadi kepada Bapak dan Ibu sekalian, sangat dihimbau untuk menyalakan perapian dan membakar jagung serta kemenyan agar suasana rumah Anda menjadi hangat kembali.

Demi suasana semakin menghangat, tak ada salahnya jika Anda para pasangan suami-istri duduk saling berimpitan sembari berangkulan. Bagi yang belum memiliki pasangan suami ataupun istri, silakan memeluk guling masing-masing sembari menyimak lagu kebangsaan para pemburu janda berikut ini….

hey hey you you, I don’t like your husband
no way no way, I think you need a new one
hey hey you you, I could be your husband

hey hey you you, I know that you like me
no way no way, you know it’s not a secret
hey hey you you, I want to be your husband

you’re so fine, I want you mine, you’re so delicious
I think about you all the time, you’re so addictive
don’t you know what I can do to make you feel alright

don’t pretend, I think you know I’m da*n precious
and he*l yeah, I’m the mot**r f**king prince
I can tell you like me too and you know I’m right

Lanjutkan membaca

Happy!

Mendapatkan kalender dari Majalah Versus edisi Januari-Februari 2010:

Happy New Year '10

Happy New Year 2010

Meja kerjaku makin penuh dah jadinya…  

Bagaimana kabar meja kerja kalian?  

Selamat pagi!
Semangat lagi!

Gadis vs Pemuda: Gokil

Hujan turun dengan derasnya secara tiba-tiba dari langit kota megapolitan Jakarta Raya pagi ini. Tampaknya memang benar, tanda-tanda musim penghujan datang sudah kian jelas. Seorang pemuda dengan cemas tergambar jelas di wajahnya berdiri di depan sebuah rumah sambil sesekali melihat ke layar ponsel: menengok penunjuk waktu. Dengan cekatan ia menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya. Bergegas sang pemuda menerobos rinai hujan demi taksi berhenti, demi segera berteduh di dalam taksi.

“Ancol, Pak.”

“Hujan-hujan gini kok ke Ancol, Mas?”

“Gak papa, Pak. Ke Sea World.”

“Oh, kalo ke situ mah hujan juga gak papa.”

“Iya. Indoor.”

“Ini mudah-mudahan aja jalan gak banjir, nih.”

“Semoga aja, Pak.”

Sang pemuda membuka sebuah kontak di ponsel Sonia-nya. Sebuah kontak itu agaknya baru beberapa hari tersimpan di dalam ponselnya. Kemudian ia menekan tombol Call. Tak ada jawaban. Kemudian ia ulangi lagi menekan tombol Call. Masih saja tak ada yang mengangkat. Semakin teranglah guratan kecemasan pada wajah sang pemuda. Dan taksi berikut argonya terus melaju….

Ada apa? SMS aja. Hujan. Ga ada payung. Nunggu reda.

Sebuah SMS datang dari kontak itu. Seorang gadis rupanya.

Kau dimana? Aku jemput. Naik taksi.

Sedikit khawatir, sang pemuda meng-SMS si gadis. Kemudian datanglah balasannya:

Gak usah. Terima kasih. Aku bareng busway aja.

Ya sudah, pikir sang pemuda. Sang pemuda sepertinya mangkel. Menurutnya hujan takkan mereda sepanjang hari ini. Meski sedikit gusar, ia berdoa semoga si gadis dapat segera berangkat dan kemudian tiba dengan selamat di tempat mereka akan bertemu kawan-kawan mereka.

Sudah dari jauh hari pertemuan ini direncanakan. Sepasang suami-istri berikut bayinya yang sudah genap berusia setengah tahun mengajak sang pemuda jauh hari sebelumnya untuk berpiknik bersama. Sang pemuda pun berjanji akan ikut serta. Tak dinyana, ternyata keluarga itu juga mengajak si gadis turut serta. Jadilah pertemuan kali ini adalah yang pertama bagi sang pemuda dan si gadis semenjak perseteruan terakhir mereka. Lanjutkan membaca

Belajar dari Cina

Sesungguhnya tidak perlu khawatir terhadap FTA kalau tercipta fanatisme produksi dalam negeri. Tetapi, kita tidak pernah sukses mencintai produksi sendiri.

KEGAGAPAN. Itulah kata yang bisa mewakili cara kita menghadapi implementasi perdagangan bebas ASEAN-China atau ASEAN-China Free Trade Agreement (FTA) yang mulai berlaku 1 Januari 2010.

Gagap karena banyak yang cemas bahwa perdagangan bebas itu akan kian menyuburkan masuknya barang murah dari China. Kenyataan yang amat pahit karena barang produksi dalam negeri akan tergusur dan industri kita pun bakal hancur.

Sebelum era perdagangan bebas ASEAN-China diberlakukan pun, kita sudah tak berdaya menghadapi gempuran barang impor ilegal dari China. Neraca perdagangan Indonesia dengan China juga berapor merah dalam lima tahun terakhir. Impor dari China lebih besar daripada ekspor kita ke “Negeri Tirai Bambu” itu.

Pada 2005, selisih antara impor dan ekspor ke China masih sebesar US$0,59 miliar. Namun, pada 2008, selisihnya membengkak karena impor kita dari China lebih besar US$7,16 miliar ketimbang ekspor.

Kegagapan menjadi kian lengkap setelah pemerintah pun belum memiliki strategi besar menyongsong perdagangan bebas dengan China itu. Padahal, FTA ASEAN-China sudah disepakati sejak 2001.

Itu berarti dalam kurun delapan tahun nyaris tidak banyak yang diperbuat pemerintah untuk mempersiapkan benteng bagi produk domestik. Akibatnya, perdagangan bebas dengan China seolah-olah datang secara tiba-tiba.

Banyak instrumen teknis yang kedodoran dalam menghadapi serbuan produk China. Bakal makin kedodoran lagi setelah instrumen tarif yang sebelumnya masih bisa mendampingi instrumen teknis untuk membendung produk China akan tidak ada lagi atau 0%.

Sudah begitu, daya saing Sudah begitu, daya saing industri kita juga amat lemah akibat absennya strategi. Kalangan usaha dalam negeri selama ini berhadapan dengan banyak ketidakpastian, tingginya suku bunga kredit, mahalnya listrik, hingga mengguritanya upeti dari birokrasi.

Negeri ini punya gas dan batu bara yang melimpah sebagai penggerak industri, tetapi sebagian besar gas dan batu bara itu diekspor. Pengusaha batu bara pun sekadar berburu keuntungan melimpah, tapi kemudian alpa membayar royalti dan pajak.

Mari kita bandingkan dengan cara China menggerakkan industri dalam negeri mereka. Pemerintah China memberikan listrik yang murah, yang dibiayai dari batu bara impor. Bukan karena China tidak memiliki batu bara, melainkan mereka sengaja menyimpannya untuk kemandirian energi dalam jangka panjang.

Pemerintah China juga membentengi negerinya dengan sejumlah instrumen teknis yang berfungsi menahan laju kencang masuknya barang-barang dari luar ke negeri mereka. Standardisasi barang impor amat ketat sehingga tidak sembarang produk bisa melenggang bebas.

Sebaliknya, di Indonesia, standardisasi barang yang masuk kelewat longgar. Akibatnya, barang-barang yang berbahaya bagi kesehatan bisa masuk tanpa kesulitan yang berarti.

Tetapi, mengutuki terus-menerus perdagangan bebas dengan China bukanlah langkah yang bijak. Walau terlambat, tidak usah ragu-ragu untuk menyusun strategi dagang dengan dua cara, yakni defensif dan ofensif.

Cara defensif dilakukan dengan membuat standar yang makin ketat bagi masuknya produk China. Cara ofensif dilakukan dengan melindungi industri dalam negeri melalui sejumlah insentif dan menghilangkan aturan-aturan yang menghambat industri.

Sesungguhnya tidak perlu khawatir terhadap FTA kalau tercipta fanatisme produksi dalam negeri. Tetapi, kita tidak pernah sukses mencintai produksi sendiri.

(Editorial Media Indonesia Edisi Senin, 4 Januari 2010)

===

Menarik.

Aku hanya ingin menyoroti bagaimana pemerintah Cina menyimpan batu baranya demi kemandirian energi dalam jangka panjang. Inilah menurutku yang patut kita teladani dari pemerintah Cina. Atau pemerintah kita sudah mempunyai rencana lain perihal energi ini? Penciptaan energi alternatif, semisal blue energy atau banyu geni? Atau nuklir, yang mempunyai efek samping?

Ah, kita memang harus banyak belajar meski itu sampai ke negeri Cina.

Sedikit sentilan, yang baku kan Cina, bukan China. Bagaimana sih editornya?

Dunia Laut

Oleh-oleh dari Sea World kemarin:

Kapan nih ber-Teduh lagi?