Berbaik Sangka

Semalam melanjutkan membaca buku pinjaman dari kawan “Kupinang Engkau dengan Hamdalah”. Alhamdulillâh, ada ilmu yang kudapat. Bukan hanya ilmu tentang pernikahan. Buku ini isinya memang padat. Meski membahas tentang segala hal mengenai persiapan menikah, namun ada ilmu lain yang tersirat. Salah satunya adalah mengenai hal yang akan kubahas ini.

Dalam bab empat buku ini dijelaskan bahwa ada dua hal yang perli kita jaga sejak berangkat meminang atau datangnya pinangan. Yaitu menyangkut persangkaan kita kepada Allâh dan persangkaan atau persepsi kita terhadap pernikahan dan calon pasangan hidup kita. Persangkaan terhadap pernikahan dan calon pasangan banyak terkait dengan persangkaan kita kepada Allâh. Jika persangkaan kepada Allâh tidak baik, persangkaan terhadap pernikahan dan calon pasangan sangat mungkin ikut tidak baik.

Sang penulis menjelaskan bahwa terdapat dua kemungkinan yang terjadi tatkala ada seseorang yang ketika berdoa kepada Allâh tampak bersungguh-sungguh. Bisa jadi orang tersebut sangat yakin bahwa Allâh Maha Mendengar doa hamba-hamba-Nya. Ia meyakini bahwa Allâh memperhatikan orang yang datang kepada-Nya dan memohon pertolongan-Nya. Namun bisa jadi orang tersebut tampak bersungguh-sungguh dalam berdoa karena ketidakyakinannya. Ia mengkhusyuk-khusyukkan doanya justru karena tidak terlalu yakin bahwa Allâh Maha Mengabulkan doa hamba-Nya. Ia bersungguh-sungguh memohon kepada Allâh karena khawatir keinginannya tidak tercapai dan ia tahu Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Benar-benar sangat jauh perbedaan antara kesungguhan berdoa karena yakin dan kesungguhan berdoa justru karena kurang yakin akan kemurahan Allâh. Padahal Allâh menuruti apa yang dipersangkakan hamba-Nya kepada-Nya. Apabila kita berdoa dengan memiliki keyakinan akan dikabulkan oleh Allâh, niscaya cepat atau lambat InsyaAllâh akan benar-benar dikabulkan. //Kalau tidak salah, salah satu adab berdoa ‘kan kita harus yakin bahwa Allâh akan mengabulkan doa kita tersebut.//

Jadi teringat apa yang pernah dialami oleh salah satu pimpinanku. Beliau bercerita bahwa setiap hari ketika akan berangkat ke kantor beliau selalu berdoa dengan penuh keyakinan akan dikabulkannya doa tersebut kepada Allâh, bahwa Allâh Maha Pemurah. Doanya: “Ya Allâh, berilah hamba satu miliar rupiah dengan rahmat dan barakah-Mu.” //Jangan lupa untuk meminta sesuatu dengan tambahan bahwa sesuatu tersebut dilingkupi oleh rahmat dan barakah dari Allâh SWT.// Dan subhânallâh, kata beliau pernah suatu hari diberi oleh seseorang uang tepat sebesar satu miliar rupiah. Subhânallâh. Rezeki Allâh memang bisa datang dari pintu mana saja yang Ia kehendaki.

Yah, sudah selayaknya kita berbaik sangka kepada Allâh. Apabila kita mendapat musibah, jangan langsung menghakimi bahwa Allâh jahat terhadap kita. Janganlah kita melihat musibah sebagai kemurkaan Allâh tapi yakinlah bahwa Allâh sedang memberi kesempatan kepada orang-orang beriman untuk meningkatkan diri. Bersabarlah. Tabahlah. Semoga dengan kesabaran dan ketabahan kita Allâh meningkatkan derajat kita di antara orang-orang yang beriman.

Mengenai apa yang terjadi kepada diriku, komputerku rusak, semoga aku tidak akan berprasangka //beranggapan buruk// kepada Allâh. Mungkin saja dengan komputerku rusa, aku ditegur oleh Allâh untuk senantiasa merawat dan memelihara segala barang pemberian-Nya. Sepatutnya aku harus bersyukur atas apa yang kupunya. Mungkin juga Allâh sedang akan menggantinya dengan yang lebih baik dan lebih mendatangkan barakah. Yâ Allâh, aku berlindung kepada-Mu dari berdoa yang tidak layak. Âmîn….

(^_^)v

Semoga kita semua terhindar dari prasangka-prasangka yang tidak diridai-Nya.

Respond to this post