Teliti sebelum membeli.
Tak kenal maka ta’aruf.
Sedia payung sebelum hujan.
Kalimat-kalimat nasihat di atas mungkin tidak ada hubungannya dengan apa yang akan kuceritakan ini. Tapi mungkin kalau lebih dicermati ada sedikit hubungannya. //Ah, penulis plin-plan nih.//
Jadi begini //mengawali sebuah kisah//. Tadi malam aku kembali berbelanja di swalayan yang biasa. Kupikir tadi malam itu adalah malam yang tepat untukku berbelanja. Kemarin malamnya kan mendung disertai banyak petir //menggelegar membelah angkasa//. Sedangkan tadi malam itu meski tidak cerah namun masih terlihat banyak bintang //bertaburan menghiasi malam//. So, dengan pasti aku mengambil langkah //tegap majuuuu jalan!// ke TKP alias Tujuan Kaki Pegal.
Seperti biasa, jalanan di depan swalayan ramai, banyak kendaraan berlalu lalang. Ada bajaj, mikrolet, ojek motor, ojek sepeda, dan konco-konconya. Banyak juga orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan. Ada pengemis, pengamen, pencopet, dan kroni-kroninya. Di emperan jalan terdapat beragam tenda //bukan tenda-tenda pengungsian!// tempat menjajakan beragam makanan dari seluruh Indonesia //bahkan ada juga yang dari mancanegara//. Mulai combro dan misro bandung, martabak bangka, bakso malang, sate padang, tahu sumedang, rawon surabaya, pecel madiun, ayam bakar lamongan, soto ayam surabaya, sate madura, sea food medan, roti unyil bogor, pempek palembang, ikan bakar banyuwangi, gudeg jogja, opor ayam solo, kebab turki, burger amerika, sampai pizza italia. //Sayang tidak ada megono pekalongannya.// Tapi bukan keramaian ini yang ingin kuceritakan. //Yeee, dah ngiler nih…. Dasar emang penulisnya plin-plan!//
Setelah menyeberang jalan //dan hampir menabrak mobil// sampai jualah aku di swalayan yang dimaksud. Baru di pintu masuk, aku segera menyadari kesalahanku. Ternyata aku salah pilih! “Harusnya kemarin-kemarin aku ke sininya,” batinku. Aku lupa kalau ini tanggal muda, tanggal dimana bisa dihitung hanya dengan menggunakan jari-jari tangan kiri. //Tapi sepertinya pakai jari-jari tangan kanan juga bisa, deh. Entahlah, belum pernah kubuktikan.// Tanggal-tanggal segini tentu saja banyak orang berbelanja. Baru saja gajian, gitu loh! Memangnya aku, si pekerja rodi, yang uang jatah bulanannya yang tak seberapa itu belum cair-cair juga. Nggak ngaruh mo tanggal muda kek, mo tanggal tua kek. Tetap saja harus selalu mengencangkan ikat pinggang //biar celananya ga melorot maksudnya//.
Yah, sepertinya orang Indonesia harus belajar mengenai bagaimana mengelola penghasilan. Menurut salah seorang pakar keuangan, //lupa aku namanya// yang pertama harus disisihkan dari penghasilan kita adalah zakat. Segera setelah kita menerima gaji, keluarkanlah zakat, sedekah, dan segala hak-hak fakir-miskin yang masih dititipkan di harta kita. Tunaikan segera perintah Allâh. Kemudian sisihkan untuk membayar utang bila kita punya utang. //Yang punya tagihan kartu kredit maupun tagihan tukang kredit, harap dicatat tuh.// Setelah itu, sisihkan sebagian sisanya untuk ditabung. Boleh ditabung di bank //dalam bentuk tabungan, deposito, dsb//, aset investasi //semisal emas, saham, reksa dana, SBSN//, ataupun disimpan secara mandiri di rumah //dalam celengan semar, celengan bambu, ataupun di bawah bantal//. Baru kemudian sisa gaji setelah dikurangi tiga macam pos tadi kita gunakan semua untuk berbelanja barang-barang konsumsi. Jangan sampai ada sisa nantinya. Habiskan semua untuk belanja. Karena kalau nanti ada sisa, dikhawatirkan digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Jangan pula ada pikiran “toh nantinya bisa ditabung”. Jangan. Kalau misalnya sering ada sisa, berarti bulan depan pos tabungan (saving) harus ditambah. //Sudah kek Safir Senduk aja, nih.//
Kita lanjutkan ke pembahasan semula. Setelah mendapatkan keranjang belanjaan, //Waktu aku masuk keranjang yang biasanya ditumpuk di sebelah pintu sudah habis. Untung ada mas-mas yang merelakan keranjangnya untuk kupakai.// segera aku mulai memburu baran-barang yang terdaftar dalam shopping list. Tak banyak yang ingin kubeli. Tetapi untuk mendapatkan satu per satu barang, harus terlebih dahulu kena sikut orang, ditabrak troli, didorong kiri-senggol kanan dulu. ABCDE! //Aduh Bo’, Cebel Deh Eike….//
Ketika sampai di stand bagian deterjen, aku terhenti. Wow! Di depanku ada sesosok makhluk //Tuhan paling seksi//. “Yah, ketemu kakak cantik di marih. Ternyata kagak salah pilih dah, aku belanja malam ini,” ocehku dalam hati. Jadi begini, saudara-saudara. Aku waktu itu bertemu dengan kakak-kakak cantik yang sering kujumpai ketika kupulang dari masjid sehabis Isya atau di warteg, atau kadang pagi-pagi ketika akan berangkat ke kantor. Sepertinya kakak ini tinggal di dekat kosku. Cantik sih memang. Usianya kalau kutaksir sekitar 25-26 tahunan, lah. Ya, boleh dikatakan aku ini memang penggemar gadis-gadis yang lebih tua. Meski aku juga suka anak-anak kecil, tapi perempuan yang kuanggap cantik itu ya yang seumuran lima tahunan di atasku saat ini. Salah satunya ya kakak cantik ini. //Jadi penulis ini pedofil atau gimana? Yang jelas, dong. Emang dasar plin-plan, nih.//
Entah kenapa, dari dulu aku lebih suka dengan perempuan yang lebih tua. Teman seangkatan atau bahkan adik kelasku pun kubilang ketuaan untuk menjadi istriku. Kukatakan itu kepada teman-teman yang sering menjodoh-jodohkanku. Kutambahkan, kalau aku ingin istriku nanti lebih muda 4-5 tahun dariku. Yah, lagi-lagi masalah menikah. Forget ’bout marriage.
Kakak cantik sih waktu itu tidak melihatku. Jadi jangan dibayangkan kalau kami itu sempat berbincang-bincang, temu-kangen, cipika-cipiki, dsb. Kenal aja belum. Makanya, kalau tak kenal ta’aruf dong. //Tuh kan bener yang kubilang di awal tadi.// Ini kakak cantik, kemana pun aku pergi, pasti muncu. Di stand sabun, ada kakak cantik. Di stand tisu, eh ada kakak cantik juga. Sepertinya kakak ini membuntutiku, deh. Atau mungkin aku yang membuntutinya? Aku jadi bingung, saudara-saudara! Sepertinya susah dibedakan. //Yah, penulis lagi-lagi plin-plan….//
Aku coba menghindar dari kakak cantik itu. Aku segera menyelonong ke stand makanan ringan. Harus jaga-jaga soalnya, siapa tahu ada paparazi atau wartawan infotainment yang sedang membidikku. //Halah, dasar obsesi selebritis!// Lega, untung kakak cantik tidak mengikutiku. //Ini lagi, sok kegantengan.//
Setelah semua barang dalam shopping list ada dalam keranjang, aku segera menuju kasir. Busyet, dah! Semua kasih penuh antrean orang yang mau bayar. Segera saja kuanalisis kira-kira antrean mana yang lebih cepat habis. Tips berikut ini barangkali berguna bagi saudara-saudara dalam memilih antrean yang menguntungkan. Pertama, jangan pilih antrean yang terdapat troli berisi penuh barang di dalamnya. Jangan, karena nanti ia akan lama diinterogasi di kasir. Kemudian hindari juga antrean yang ada satu keluarga berkumpul di situ. Meski tidak memakai troli, biasanya masing-masing dari ayah, ibu, dan anak membawa keranjang belanjaan sendiri-sendiri. Terus hindari pula antrean yang ada pasangan muda-mudinya. Mereka seringkali tak tahu diri dengan berpacarang mesra-mesraan di muka umum. Kalau di permainan monopoli, mereka sudah pasti kena denda sebesar Rp100.000 dan harus membayarnya kepada semua pemain.
Alhamdulillâh, kutemukan satu antrean yang prospek ke depannya lumayan lancar. Bismillâh, aku melangkah masuk ke dalam antrean. Tentunya masuk di bagian antrean paling belakang. Sebagai pemuda bangsa ini, kita harus membudayakan tertib mengantre. Jangan seperti orang-orang yang akan naik bus transjakarta itu yang suka memotong antrean ataupun tidak berbaris rapi dalam mengantre. Kalah dengan semut-semut kecil yang tinggal di dalam tanah bersama papa-mamanya, pokoknya. Apalagi sama semut-semut merah yang berbaris di dinding menatapku curiga seakan penuh tanya sedang apa di sini, kalah telak dah.
Tak berapa lama ternyata pilihanku terbukti salah, saudara-saudara. Salah strategi! Rupanya bapak-bapak di depanku hanyalah joki. Ada ibu-ibu yang muncul dari koridor stand kemudian mendekati bapak itu terus menaruh barang-barang belanjaan ke dalam keranjang yang dipegang si bapak. Ternyata tak hanya ujian SPMB dan jalur three-in-one yang ada jokinya. Mengantre pun ada jokinya! Belakangan kuketahui kalau mereka adalah sepasang suami-istri. Yah, curang!
Tapi kemudian penghakiman salah pilih itu perlu diajukan PK alias Peninjauan Kembali. Karena tak berapa lama juga, tiba-tiba si kakak cantik ada di belakangku. Sewaktu kutengok, kakak cantik mengembangkan senyum manis merekahnya. Mak nyot! Jantungku berdetak makin kencang. Darahku mengalir dengan derasnya ke seluruh bagian tubuh. Dan hal ini membawa akibat negatif di organ tubuh bagian bawahku. HIV-ku kambuh! Entah mengapa HIV-ku kambuh di saat sedang berdiri mengantre lama, di depan kakak cantik pula! Tapi itu wajar saja sepertinya. Karena memang sedari keluar dari kos kemudian makan di warteg terus keluar dari masjid dan sampai saat itu aku belum lagi membuang water of art-ku.
Mengantre dengan menahan HIV ternyata sakit juga. Yah, lega juga sewaktu di depan kasir dengan si kakak cantik masih di dekatku tentunya. Segera kubayar, langsung bergegas keluar. Pulang ke kos dengan berlari. Karena apa, saudara-saudara? Karena aku gerimis mengundang, saudara-saudara! Sewaktu aku keluar, langit tiba-tiba menangis. Tak bawa payung pula. Basah-basahan deh.
Yah, jadi bingung lagi. Malam itu sebenarnya aku tepat pilih atau salah pilih untuk berbelanja, sih? Benar juga apa kata komentator. Memang plin-plan diriku ini.
Sekian dan terima kasih.
hehe.. mo belanja tipsnya di catat dari rumah, agar ga salah. trus jangan coba-coba keluar dari rencana awal, ntar bisa berabe… alias keluar duit lagi dech.. akhirnya rencana pasti gagal.., ini biasanya cwek. kalau lagi liat barang bagus bawaannya mau belii ajah, apalagi murah. hehe. Aq juga mau dung barang bagus tapi murah.. setuju..??
setuju banget, kang wawan. ya, begitu benernya, bawa shopping list dari rumah sebelum belanja.
tapi ga jarang juga yg gagal itu cowok, lho kang. jadi malu sendiri dah aku…
(^_^)v
wah,,,, jadi inget belum belanja.
tapi dipikir2 klo belanja di ker4 deket rumah klo tanggal2 segini pasti ngantrinya bikin pegel, padahal mah belinya ga seberapa.
jadi….. nanti aja deh….
ris,,, fotonya mana ???? ::kedip2 mata genit::
foto apaan, irrr? lo mo foto gw?
(^_^)v
enak lo ye, dah gajian. nah gw…. nasib, nasib….
oddypus complex?
ga yangka fer,,,,
oedipus complex maksudku,,,
ga nyangka fer,,,,
Pelajaran moral nomor 33: jangan belanja bulanan di awal bulan (susah ya?)
Kalo aku sih biasanya belanja di tengah atau akhir bulan. Paling males tuh ngantri…
Ciè…jadi intinya semalam lagi berbunga-bunga nih….^^
#mbak rhe
ga terlalu gitu sih mungkin. tapi ya…. mungkin juga. hehe.
(^_^)v
#nh
pelajaran moralnya siapa, tuh mbak?
ya bukannya gitu. aku kalo mo belanja, ya karena butuh aja. ga peduliin tanggal. asal ada uang buat belanja keperluan tsb, ya berangkat. mendesak soalnya.
(^_^)v
berbunga-bunga? ga juga, soalnya ada lagi kejadian setelah aku nyampe di kosan. besok aja lah, kuposting. berhubungan dengan mbak juga soalnya. hehe.
(^_^)v