04.09.08

Egoisme: Pemuda vs Gadis

Ditulis dalam Ceritera, Puisi, Sajak, dan Prosa tagged , , , , , , pada 7:40 oleh Farijs van Java

“Sekarang mungkin aku tahu masalahmu,” berkata seorang pemuda mengawali pembicaraan dengan seorang gadis belia.

“Akhirnya agak nyambung juga,” jawab si gadis datar.

“Agak nyambung? Jadi ga sepenuhnya nyambung? Bagian mana yang ga nyambung?” tanya sang pemuda yang ditanggapi bisu oleh si gadis.

“Yah, mungkin aku tahu bagaimana perasaanmu, karena aku juga seperti itu,” lanjut sang pemuda.

“Mengapa sih, dirimu selalu saja sok mengerti aku?!” tanya si gadis dengan nada tinggi, mukanya merah padam.

“Muak, muak!” tambah si gadis.

“Karena aku orangnya sok tahu,” tanggap sang pemuda dengan santainya sembari tersenyum.

Kemudian sang pemuda melanjutkan, “Ketika aku melihatmu, seperti aku sedang melihat diriku di dalam cermin. Setidaknya itu menurut pandangan mataku. Maaf kalau engkau tidak berkenan.”

Merah padam di wajah si gadis belum memudar.

“Egois, tak mau mengalah. Kekanak-kanakan, ingin menjadi seperti anak kecil terus. Keras kepala. Itulah aku. Ingin semuanya sesuai kehendakku. Tapi itu dulu. Dulu. Sekarang semoga berkurang dan aku sedang berusaha untuk itu. Aku ingin berubah!” tandas sang pemuda penuh emosi.

Dengan mata berkaca-kaca, sang pemuda melanjutkan, “Ingin sekali aku menangis malam ini rasanya. Tapi anak laki-laki tak boleh menangis! Yah, ini juga salah satu kelemahanku yang BELUM bisa kuubah. Aku terlampau meyakini hal ini. Padahal seorang hamba menangis di hadapan Tuhannya bukanlah sesuatu yang memalukan lagi hina.”

Sejenak sang pemuda berhenti berkata. Hampir terisak. Kemudian ia melanjutkan luapan emosinya, “Kau telah menusukku dengan sangat dalam. Dalam sekali. Engkau mengingatkan kepada diriku akan dagingku yang busuk!”

“Apaan sih?” berkata si gadis penuh keheranan. Emosinya sudah mulai mereda.

“Kau yang apaan sih!” bentak sang pemuda kepada si gadis.

“Mau gosok gigi, kemudian tidur,” potong sang gadis lugu, seperti ingin mengakhiri percakapan tersebut.

“Ya sudah, tidurlah sana. Anak gadis tak boleh tidur terlampau larut. Jangan lupa berdoa sebelum tidur. Gosok gigilah sana, sekalian cuci kakimu. Semoga Allâh selalu merahmatimu,” ujar sang pemuda. Emosinya mereda karena tingkah laku polos si gadis.

Malam itu begitu hening. Sang pemuda masih terlarut dalam lamunan. Tak terasa matanya mulai tertutup. Kemudian ia tertidur pulas dalam kedamaian.

22 Komentar »

  1. Endah_Maniezzz berkata,

    9 April 2008 pada 14:25

    Apaan sih, maksudnya?

  2. drjt berkata,

    9 April 2008 pada 14:29

    #endah
    maksud apanya? ya maksudnya itu. aku cuma mo nulis itu. semoga ada yg baca; seseorang. hehe…

    (^_^)v

  3. Endah_Maniezzz berkata,

    9 April 2008 pada 14:32

    dasarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrdr dulu masih ga jelas juga!!!!!!!

  4. drjt berkata,

    9 April 2008 pada 14:34

    #endah lagi
    hehe…

    ga tau aja nih, ini tu sastra tingkat tinggi…

    (^_^)v

  5. fairuzdarin berkata,

    9 April 2008 pada 14:45

    Pemuda vs Gadis?
    Skornya udah berapa nih?
    1-1 ya?
    :)

    Sedalam apa Si Gadis menusuk Si Pemuda? Kenapa Si Gadis tega berbuat itu?
    ~_~

  6. drjt berkata,

    9 April 2008 pada 16:25

    #mbak fairuz
    keknya sih udah 2-0 dengan kemenangan telak di tangan si gadis. TT

    sedalam apa? hampir nyentuk pembuluh arteri keknya. ya ga tau kenapa tega kek gitu. tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. hehe….

    (^_^)v

  7. fairuzdarin berkata,

    9 April 2008 pada 16:39

    Wah, mau aku apain nih Si Gadis? Jangan begitu dong sama Si Pemuda…
    Sok lugu gitu lagi, padahal dia udah menusuk dengan sangat dalam. Sangat dalam…
    Apa emang Si Gadis benar-benar lugu ya? Yach, kalo emang gitu adanya, semoga Si Pemuda memaafkan Si Gadis…

    ;)

  8. drjt berkata,

    9 April 2008 pada 16:43

    #mbak fairuz
    ya mo gimana lagi, mbak. keknya emang udah adatnya, eh maksudnya tabiatnya si gadis kek gitu kali.

    (^_^)v

    semoga bisa berlanjut dengan happy ending…

  9. fairuzdarin berkata,

    9 April 2008 pada 16:58

    semoga…
    :)

  10. endahhh berkata,

    10 April 2008 pada 10:17

    Sebenernya gimana sih maksud tulisannya???

  11. irrrr berkata,

    10 April 2008 pada 13:19

    ga mudeng aku. :D

  12. nh berkata,

    10 April 2008 pada 13:39

    Cerita yang amat sangat membingungkan.
    Apakah si Gadis adalah perlambang perwujudan dari “Tuhan”?
    Kau memberi denoument pada akhir cerita dengan menyuruhnya pergi ke kamar mandi, tapi itu tidak menolong pembaca untuk rileks di bagian akhir.
    Kesimpulannya, apakah ini mau jadi cerpen atau prosa liris, jadinya ga jelas…
    (bahkan komen-ku ikut2an ga jelas gini… ;) :D

  13. drjt berkata,

    10 April 2008 pada 14:24

    #endah & irrr
    coba kalian baca berulang-ulang…

    sastra tingkat tinggi ini…

    (^_^)v

  14. drjt berkata,

    10 April 2008 pada 14:26

    #mbah nh
    denoument? denouement kali….

    yah, makanya, baca berulang-ulang biar makin ga jelas. hehe….

    (^_^)v

  15. fairuzdarin berkata,

    10 April 2008 pada 14:38

    pada ga mudeng ya?
    sama
    :)

  16. fairuzdarin berkata,

    10 April 2008 pada 14:41

    kalo sok mudeng aja gimana???
    :D

  17. drjt berkata,

    10 April 2008 pada 16:03

    #mbak fairuz
    ye, sama-sama ga mudeng juga.

    ga boleh sok mudeng! kalo pura-pura mudeng sih ga papa. hehe….

    (^_^)v

  18. tough berkata,

    13 April 2008 pada 16:57

    aku laper aku laper aku lapeeer

    ga peduli ah kapan2 tulisanku yg disini mau aku posting ke blog akupetta, ternyata keren juga yah?

  19. tough berkata,

    13 April 2008 pada 16:58

    aku laper aku laper aku lapeeer!! >_<

    ga peduli ah kapan2 tulisanku yg disini mau aku posting ke blog akupetta, ternyata keren juga yah?

  20. drjt berkata,

    14 April 2008 pada 7:13

    #pettougher
    kalo laper makan!

    terserah! mo keren, mo kagak, yg penting blogku ini yg keren….

    (^_^)v

  21. Ye houdt van mij? « semangat! berkata,

    6 Mei 2008 pada 9:59

    [...] Egoisme: Pemuda vs Gadis Pesimisme: Gadis vs Pemuda [...]

  22. monggo dibaca… « setegar karang, secerah pelangi… berkata,

    15 Juni 2008 pada 20:32

    [...] c [...]

Tinggalkan Komentar