“Sekarang mungkin aku tahu masalahmu,” berkata seorang pemuda mengawali pembicaraan dengan seorang gadis belia.
“Akhirnya agak nyambung juga,” jawab si gadis datar.
“Agak nyambung? Jadi ga sepenuhnya nyambung? Bagian mana yang ga nyambung?” tanya sang pemuda yang ditanggapi bisu oleh si gadis.
“Yah, mungkin aku tahu bagaimana perasaanmu, karena aku juga seperti itu,” lanjut sang pemuda.
“Mengapa sih, dirimu selalu saja sok mengerti aku?!” tanya si gadis dengan nada tinggi, mukanya merah padam.
“Muak, muak!” tambah si gadis.
“Karena aku orangnya sok tahu,” tanggap sang pemuda dengan santainya sembari tersenyum.
Kemudian sang pemuda melanjutkan, “Ketika aku melihatmu, seperti aku sedang melihat diriku di dalam cermin. Setidaknya itu menurut pandangan mataku. Maaf kalau engkau tidak berkenan.”
Merah padam di wajah si gadis belum memudar.
“Egois, tak mau mengalah. Kekanak-kanakan, ingin menjadi seperti anak kecil terus. Keras kepala. Itulah aku. Ingin semuanya sesuai kehendakku. Tapi itu dulu. Dulu. Sekarang semoga berkurang dan aku sedang berusaha untuk itu. Aku ingin berubah!” tandas sang pemuda penuh emosi.
Dengan mata berkaca-kaca, sang pemuda melanjutkan, “Ingin sekali aku menangis malam ini rasanya. Tapi anak laki-laki tak boleh menangis! Yah, ini juga salah satu kelemahanku yang BELUM bisa kuubah. Aku terlampau meyakini hal ini. Padahal seorang hamba menangis di hadapan Tuhannya bukanlah sesuatu yang memalukan lagi hina.”
Sejenak sang pemuda berhenti berkata. Hampir terisak. Kemudian ia melanjutkan luapan emosinya, “Kau telah menusukku dengan sangat dalam. Dalam sekali. Engkau mengingatkan kepada diriku akan dagingku yang busuk!”
“Apaan sih?” berkata si gadis penuh keheranan. Emosinya sudah mulai mereda.
“Kau yang apaan sih!” bentak sang pemuda kepada si gadis.
“Mau gosok gigi, kemudian tidur,” potong sang gadis lugu, seperti ingin mengakhiri percakapan tersebut.
“Ya sudah, tidurlah sana. Anak gadis tak boleh tidur terlampau larut. Jangan lupa berdoa sebelum tidur. Gosok gigilah sana, sekalian cuci kakimu. Semoga Allâh selalu merahmatimu,” ujar sang pemuda. Emosinya mereda karena tingkah laku polos si gadis.
Malam itu begitu hening. Sang pemuda masih terlarut dalam lamunan. Tak terasa matanya mulai tertutup. Kemudian ia tertidur pulas dalam kedamaian.
RSS - Posts
Posted by Endah_Maniezzz on 9 April 2008 at 14:25
Apaan sih, maksudnya?
Posted by drjt on 9 April 2008 at 14:29
#endah
maksud apanya? ya maksudnya itu. aku cuma mo nulis itu. semoga ada yg baca; seseorang. hehe…
(^_^)v
Posted by Endah_Maniezzz on 9 April 2008 at 14:32
dasarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrdr dulu masih ga jelas juga!!!!!!!
Posted by drjt on 9 April 2008 at 14:34
#endah lagi
hehe…
ga tau aja nih, ini tu sastra tingkat tinggi…
(^_^)v
Posted by fairuzdarin on 9 April 2008 at 14:45
Pemuda vs Gadis?
Skornya udah berapa nih?
1-1 ya?
Sedalam apa Si Gadis menusuk Si Pemuda? Kenapa Si Gadis tega berbuat itu?
~_~
Posted by drjt on 9 April 2008 at 16:25
#mbak fairuz
keknya sih udah 2-0 dengan kemenangan telak di tangan si gadis. TT
sedalam apa? hampir nyentuk pembuluh arteri keknya. ya ga tau kenapa tega kek gitu. tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. hehe….
(^_^)v
Posted by fairuzdarin on 9 April 2008 at 16:39
Wah, mau aku apain nih Si Gadis? Jangan begitu dong sama Si Pemuda…
Sok lugu gitu lagi, padahal dia udah menusuk dengan sangat dalam. Sangat dalam…
Apa emang Si Gadis benar-benar lugu ya? Yach, kalo emang gitu adanya, semoga Si Pemuda memaafkan Si Gadis…
Posted by drjt on 9 April 2008 at 16:43
#mbak fairuz
ya mo gimana lagi, mbak. keknya emang udah adatnya, eh maksudnya tabiatnya si gadis kek gitu kali.
(^_^)v
semoga bisa berlanjut dengan happy ending…
Posted by fairuzdarin on 9 April 2008 at 16:58
semoga…
Posted by endahhh on 10 April 2008 at 10:17
Sebenernya gimana sih maksud tulisannya???
Posted by irrrr on 10 April 2008 at 13:19
ga mudeng aku.
Posted by nh on 10 April 2008 at 13:39
Cerita yang amat sangat membingungkan.
Apakah si Gadis adalah perlambang perwujudan dari “Tuhan”?
Kau memberi denoument pada akhir cerita dengan menyuruhnya pergi ke kamar mandi, tapi itu tidak menolong pembaca untuk rileks di bagian akhir.
Kesimpulannya, apakah ini mau jadi cerpen atau prosa liris, jadinya ga jelas…
(bahkan komen-ku ikut2an ga jelas gini…)
Posted by drjt on 10 April 2008 at 14:24
#endah & irrr
coba kalian baca berulang-ulang…
sastra tingkat tinggi ini…
(^_^)v
Posted by drjt on 10 April 2008 at 14:26
#mbah nh
denoument? denouement kali….
yah, makanya, baca berulang-ulang biar makin ga jelas. hehe….
(^_^)v
Posted by fairuzdarin on 10 April 2008 at 14:38
pada ga mudeng ya?
sama
Posted by fairuzdarin on 10 April 2008 at 14:41
kalo sok mudeng aja gimana???
Posted by drjt on 10 April 2008 at 16:03
#mbak fairuz
ye, sama-sama ga mudeng juga.
ga boleh sok mudeng! kalo pura-pura mudeng sih ga papa. hehe….
(^_^)v
Posted by tough on 13 April 2008 at 16:57
aku laper aku laper aku lapeeer
ga peduli ah kapan2 tulisanku yg disini mau aku posting ke blog akupetta, ternyata keren juga yah?
Posted by tough on 13 April 2008 at 16:58
aku laper aku laper aku lapeeer!! >_<
ga peduli ah kapan2 tulisanku yg disini mau aku posting ke blog akupetta, ternyata keren juga yah?
Posted by drjt on 14 April 2008 at 7:13
#pettougher
kalo laper makan!
terserah! mo keren, mo kagak, yg penting blogku ini yg keren….
(^_^)v
Posted by Ye houdt van mij? « semangat! on 6 Mei 2008 at 9:59
[...] Egoisme: Pemuda vs Gadis Pesimisme: Gadis vs Pemuda [...]
Posted by monggo dibaca… « setegar karang, secerah pelangi… on 15 Juni 2008 at 20:32
[...] c [...]
Posted by Gadis vs Pemuda: Ceroboh Itu Lugu « semangat! on 31 Juli 2008 at 8:55
[...] Egoisme: Pemuda vs Gadis Pesimisme: Gadis vs Pemuda Ye houdt van mij? Dewasa Itu… Gadis vs Pemuda: Sensitivitas [...]
Posted by Gadis vs Pemuda: Munafik « semangat! on 4 Agustus 2008 at 13:08
[...] Egoisme: Pemuda vs Gadis Pesimisme: Gadis vs Pemuda Ye houdt van mij? Dewasa Itu… Gadis vs Pemuda: Sensitivitas Gadis vs Pemuda: Ceroboh Itu Lugu [...]
Posted by Gadis vs Pemuda: Baiyonara! « semangat! on 25 September 2008 at 9:18
[...] Egoisme: Pemuda vs Gadis [...]
Posted by Gadis vs Pemuda: SMS Salam Lebaran « semangat! on 13 Oktober 2008 at 8:20
[...] Egoisme: Pemuda vs Gadis [...]
Posted by Gadis vs Pemuda: Kentut Nakal « semangat! on 29 Januari 2009 at 2:07
[...] Egoisme: Pemuda vs Gadis [...]
Posted by Gadis vs Pemuda: Kanibal « semangat! on 12 April 2009 at 22:04
[...] Egoisme: Pemuda vs Gadis [...]
Posted by Gadis vs Pemuda: Sebal-Sebal Sambal « semangat! on 4 Juni 2009 at 23:21
[...] Egoisme: Pemuda vs Gadis [...]