Sabtu kemarin seperti biasa aku melakukan sebuah perjalanan panjang nan berliku //dengan aral rintangan menghadang di hadapan// dari Rawamangun ke Bintaro. Bismillâh, aku pergi berniatkan mencari ridha-Mu, Yâ Allâh. Pukul 9.34 sudah sampai di kampus. Padahal janjiannya pukul 10.30. //Selalu over-ontime!// Untungnya bertemu beberapa kawan seangkatan. Akhirnya ngobrol-ngobrol tentang bermacam hal, termasuk rencana perpisahan tanggal 19 nanti. //Yah, nggak janji bisa ikut aku. Dah jauh-jauh hari ada rencana kegiatan lain.//
Pertemuan selesai sekitar pukul 13. Aku bermaksud menengok //atau melawat atau meninjau// kegiatan NAC yang hari itu adalah pelaksanaan Seleksi Pendahuluan. Tak menyangka tahun ini ternyata ada 110 tim yang terdaftar sebagai peserta NAC 2008, jauh melebihi tahun lalu yang 70-an. Alhamdulillâh. Sewaktu menilik posko NAC, terlihat hanya ada dua orang, para sekretaris NAC, yang ada di situ. Mereka sedang mencetak sertifikat untuk para peserta. Di sekeliling mereka … busyet! Barang-barang berantakan! Segala potongan kertas, plastik, gunting, amplop, bantal, dan sebagainya semuanya berhamburan, tercecer di semua titik dalam ruangan tersebut. Seakan baru saja terjadi gempa berkekuatan tujuh skala richter. Kondisi yang jauh lebih parah daripada tahun lalu di saat serupa. //Dasar panitia sekarang ga ada yang rajin beres-beres kek aku dulu, nih!//
Setelah puas menilik aku bergegas pergi menuju Blok M. Di sana aku bermaksud mencari tas baru karena tas yang lama sudah usang dan berlubang. Sekalian ingin mampir ke Toko GA di Plaza Blok M untuk mencari binder loose leaf. Sesampainya di toko buku tersebut aku bergegas pergi ke bagian stationery. Kulihat tas-tas di sana jelek semua. Urung kubeli tas di situ. Kemudian aku beralih ke bagian buku-buku Islam. Teringat akan pesan seorang kawan //mbak-mbak, teteup// yang minta dicarikan nama perempuan untuk calon keponakannya. Sekalian saja aku melihat-lihat buku tentang nama-nama bayi.
Setelah lama memindai, kutemukan beberapa nama. Di antaranya adalah Fayrûz Fâtin yang berarti “permata yang mengagumkan.” Nama cantik untuk seorang anak perempuan yang cantik. //Cantik.// Di deretan nama-nama berawalan huruf F lainnya kudapati nama Farah (baca: Faroh) yang berarti kesenangan, bergembira. Tiba-tiba dalam anganku terbayang sesosok perempuan, kawan semasa SMA, yang bernama Faroh. Langsung terasa nostalgik. Hatiku merasakan kerinduan yang luar biasa akan dirinya. Faroh Arina Zulfa. Ya, aku tiba-tiba rindu padanya.
FIOL FAHRUN ARAZA, nama sandi yang sering disebutnya yang ia bentuk dari susunan acak huruf-huruf pada namanya, tiba-tiba terngiang dalam benakku. Sosok yang hangat dan lembut, itulah Faroh. Teman sekelasku dulu waktu kelas satu SMA. Juga teman satu tim dalam ekstraturikular KIR. Pernah juga bersama-sama mewakili sekolah menjadi tim penyusun makalah penelitian. Tentang pompa air kalau tidak salah.
Sosok yang ramah itu tiba-tiba tebersit dalam ingatanku. Ia yang selalu berbalutkan baju panjang dan nan lebar, memenuhi otakku kala itu. Yah, mengapa aku jadi begitu rindu. Sampai-sampai malam harinya ia hadir ke dalam mimpiku.
Kami masih berhubungan //maksudnya saling kontak-kontakan!// sewaktu kami sama-sama mulai memasuki dunia kampus. Awal-awal perkuliahan itu kami masih saling berbalas SMS. Terakhir aku terima SMS darinya ketika lebaran 2005. Sesudah itu dia gone with the wind. //Halah, sok english lagi!// Nomor ponselnya entah mengapa tak bisa kuhubungi lagi. Pudar sudah silaturahim yang terjalin. Aku hanya bisa berdoa semoga engkau selalu dalam kebaikan. Semoga engkau selalu dalam lindungan, rahmat, dan hidayah Allâh.
Sekian lama aku berdiri di depan rak buku-buku Islam sementara hari semakin sore. Kuletakkan kembali buku tentang nama-nama bayi di tempatnya semula. Kemudian bergegas kembali ke bagian stationery. Segera kucari binder loose leaf. Sebuah binder yang pengaitnya dari plastik, bukan dari besi. //Sewaktu kuliah, aku pernah mempunyai sebuah binder yang pengaitnya dari besi. Sekarang pengaitnya tersebut sudah berkarat. Karena itu aku sekarang mencari binder yang berbuat dari plastik.//
Ada beraneka ragam binder plastik di situ. Beragam warna dan model. //Baru tahu aku kalau ternyata binder itu ada beragam bentuk dan model. Ada yang cara membuka pengaitnya dengan cara ditekan, ditarik, direnggangkan, dsb.// Ada yang bermerk Kokuyo (dari Jepang) dan ada Pantone Universe. Kuambil binder yang nyantol di hati. Sebuah binder Kokuyo berukuran besar (B5). Namun setelah kutilik harganya … wow! MasyaAllâh! Harganya nyaris Rp 80 ribu! Kulihat yang bermerk Pantone dengan ukuran yang sama harganya Rp 60 ribu lebih sedikit. Mahal sekali. Padahal binder yang seperti waktu masih kuliah dulu, dengan ukuran yang sama, harganya tidak sampai Rp 40 ribu. Mengapa harganya jauh begitu berbeda? Nyaris dua kali lipat. Busyet! Apakah ini gara-gara ia produk impor yang terkena bea masuk yang tinggi? Bisa jadi. Bisa jadi pula karena telah dibebani beragam pajak yang kawanku dari spesialisasi perpajakan saja mungkin kerepotan menghitungnya. Lagi-lagi aku kecewa dengan kondisi pasar //dalam arti luas menurut ekonomi// dalam negeri.
Ironis memang. Hampir semua stationery yang dijajakan di situ berasal dari mancanegara. Ada yang dari Jerman, Cina, Jepang, dan Korea. Apakah perusahaan-perusahaan domestik tidak ada yang bergerak di bidang stationery? Atau apabila ada apakah produk-produk mereka kalah bersaing dengan produk-produk impor? //Yah, kebalikan dari ayam kate: kalah di kandang sendiri.// Atau mungkin produk-produk stationery kita diekspor semua ke luar negeri seperti halnya minyak bumi kita? Atau apakah ini yang dimaksud dengan ekonomi biaya tinggi? Lagi-lagi kecewa dengan pasar domestik.
Urung kubeli binder tersebut. Keluar dari toko tanpa membeli apapun. Yah, mau bagaimana lagi. Uang yang kubawa hanya cukup untuk membeli tas. Tak ingin kuulang kejadian minggu lalunya yang berencana membeli tas malah sweater yang terbeli. Memang dasar tidak mahir berbelanja. //Atau tidak kuat hati menahan diri? ^^//
Segera saja kuberpindah ke Mal Blok M, mencari tas. Aku masuk ke sebuah swalayan di situ yang sedang memberi banyak diskon. Sekian lama aku bolak-balik di kios yang memajang tas-tas. Setelah memperhatikan dengan saksama //dan dalam tempo yang lama// kuputuskan untuk membeli tas hitam yang kuminati. //Sayang tas yang itu tidak kena diskon Kata mas penjaganya, itu karena tas dengan merk dimaksud punya kualitas yang bagus. Alasan yang nggak nyambung menurutku.// Tanpa sadar aku sudah berada di depan kasir. //Emang dari tadi nyadar, mas?// Kukeluarkan sejumlah uang yang tak etis untuk kusebut di sini. //Takut melanggar UU ITE soalnya. Halah, nggak nyambung!// Hati pun puas karena sudah mendapatkan barang yang diinginkan.
Sesampainya di kos, aku bersedih hati. Mengapa? Karena harus berpisah dengan tas lamaku yang usang ini. “Oh, tas tuaku. Jasa-jasamu tiada tara.” //Hiks… hiks…// Sekarang tas lama itu kugantung di sudut kamar. Sebagai balas jasa atas keberanian dan kerja kerasnya selama lebih dari tiga tahun ini, tak kan kubuang ia. //InsyaAllâh.//
“Dengan segala hormat, Anda saya pensiunkan. Sekarang Anda dapat menyandang gelar veteran.”
(^_^)v
“Darah itu merah, Jenderal!”

Posted by fairuzdarin on 14 April 2008 at 13:02
Komentarku:
1. Emang Feris rajin beres-beres? Masak sih?
2. Fayruz Fatin kok mirip ma namaku? Terinspirasi dariku ya? (ge-er!)
3. Gimana kalo nama calon keponakan temenmu itu Fiol Fahrun Araza? Ada artinya ga tuh?
4. Mau binder bekasku ga? Dia udah jenderal juga lho.
Ga ding, ga jadi kukasih… (Dasar plinplan…)
Posted by drjt on 14 April 2008 at 13:18
#mbak fairuz
jawaban faris:
1. iya, dong. ga percaya?
2. ye…. emang nama mbak siapa? itu terinspirasi akan kecantikan si kakak cantik. hehe….
3. ada artinya. artinya kacau-balau! mending dikasih nama Sahajawati atau Sederhananti aja keknya.
4. binder bekas? sori lah ya….
(^_^)v
Posted by irrrr on 15 April 2008 at 10:08
fayruz fatin, namanya bener2 cantik, nesok klo aku punya anak cwe bakalan ku kasih nama itu
inget binder jadi inget masa kuliah dulu, 3 taun kuliah, isi binder nya ga abis, karena kebanyakan ga pernah nyatet, minjem punya temen yang rajin dan poto kopi, lagian tiap taun kan dapet buku tulis yang warna kuning itu ris,
yang ga akan abis dimakan tujuh turunanPosted by drjt on 15 April 2008 at 10:15
#irrr
yah, musti bayar royalti tuh.
(^_^)v
iya, bener. ada yg buku kuning itu. tapi malas kupakai itu. rasa-rasanya ga sesuai dengan perkembangan dunia modern. hehe….
(^_^)v
poto kopi catetan temen, jadi keinget jaman2 SMA. dulu tu catetanku sering banget dibajak, digandakan, dan difotokopi secara ilegal! bener2 ga ngerti soal hak cipta tuh temen2ku dulu…
(^_^)v