04.14.08

Pesimisme: Gadis vs Pemuda

Ditulis dalam Ceritera, Puisi, Sajak, dan Prosa tagged , , , , , , , pada 13:15 oleh Farijs van Java

Pulang dari masjid sang pemuda langsung roboh di atas kasur. “Ah, akhirnya bisa rebahan juga,” berkata sang pemuda dalam hati. Malam itu sang pemuda merasakan kelelahan yang teramat sangat. Tungkai kaki dan tangan susah digerakkan. Di sekujur tubuh terasa pegal-pegal. Memang sedari pagi hingga sore tenaganya terkuras untuk bekerja. Sesuai rencana, setelah Isya’ sang pemuda bermaksud mempercepat jadwal tidurnya.

Baru beberapa menit ia mulai terlelap, ponsel berdering. Bunyi dering nasyid “Hai Mujahid Muda” membahana di seluruh ruangan. “Majulah wahai mujahid muda!” terdengar lantang mencoba membangkitkan semangat penghuni kamar. Sang pemuda pun terkaget kemudian terjaga. Diangkatnya ponselnya.

“Iya?” sapa sang pemuda.

“Assalâmu’alaykum,” salam seseorang di ujung telepon yang ternyata si gadis.

“Wa’alaykumussalâm,” jawab sang pemuda.

Belum selesai sang pemuda menjawab salam, si gadis berteriak, “Haaa…. Nilai ujianku jatuh….” Si gadis terdengar tersedu-sedu.

“Kenapa? Sebentar, aku keluar dulu. Sinyal di sini jelek,” tanggap sang pemuda. Ia bergegas mengambil kunci, keluar kamar, membuka pintu rumah, kemudian berdiri di teras.

“Ha… iya, kau kenapa?” tanya sang pemuda penuh heran.

“Nilaiku jatuh….” isak si gadis.

“Ha? Nilainya jatuh? Kok bisa?” sang pemuda semakin heran.

“Aa… Ga tau. Nilaiku jelek. Gimana dong?” rengek si gadis.

“Ya gimana…. Kau jangan kek gitu, dong. Yang sabar….” nasihat sang pemuda. Sang pemuda ikutan panik.

“Ya tapi gimana? Aku kan malu. Malu! Malu sama temen-temen. Yang lain tu nilainya pada tinggi-tinggi. Cuma aku yang rendah. Aa…. Gimana??” keluh si gadis dengan nada masih merengek-rengek. Seolah-olah ia meminta pertanggungjawaban dari sang pemuda.

Sang pemuda terdiam; bingung harus berkata apa kepada si gadis yang pesimis itu. Ia ikut prihatin mengetahui kondisi si gadis.

Tak direspon, si gadis kembali merengek, terisak, “Aa…. Gimana? Aku musti gimana?”

“Ya kau yang sabar aja, lah. Kau tenang aja dulu,” bujuk sang pemuda mencoba menenangkan.

“Aa…. Ga bisa! Besok gimana? Aku kan malu….” si gadis masih merengek.

Sang pemuda terdiam kembali. Benar-benar bingung sang pemuda dibuatnya. Ia tak tahu bagaimana cara menghibur atau membesarkan hati si gadis yang kekanak-kanakan itu.

Karena cukup lama sang pemuda terdiam, si gadis berkata, “Ya udah. Udah.” Isak tangisnya sudah mereda. Sekarang ia tak merengek lagi.

“Ya udah. Sekarang kau tidur aja. Lupain itu. Semoga besok agak mendingan. Jangan teriak-teriak kek tadi lagi, ah. Ga baik. Kau yang sabar aja. Orang sabar itu disayang Allâh. Besok InsyaAllâh aku ke tempatmu,” nasihat sang pemuda. Akhirnya kata-kata bijaksana keluar dari mulutnya.

Si gadis menanggapi, “Ya udah, tidur. Assalâmu’alaykum….”

“Wa’alaykumsalâm,” balas sang pemuda.

Si gadis menutup telepon. Sang pemuda menghela nafas. Sang pemuda masih panik sekaligus heran. Untuk pertama kalinya si gadis menangis sekaligus merengek di hadapannya.

Malam kala itu udara begitu dingin. Awan tebal nan hitam menyelimuti langit malam. Sepertinya malam itu akan turun hujan. Si gadis bergegas tidur. Sementara sang pemuda masih melamun. Angannya masih melayang, memikirkan bagaimana ia esok. Masih memikirkan rengekan si gadis. Kepeduliannya terhadap si gadis memang cukup tinggi.

Pagi pun tiba. Mentari seakan mengintip dari batas horizon. Jalanan Jakarta basah oleh hujan malam harinya. Sang pemuda sudah terbangun, meski agak terlambat. Tak biasanya ia sampai terlambat subuhan seperti pagi itu.

Ponselnya kembali berdering. Sebuah SMS diterima.

Assalamu’alaikum.
mw dtg jam brp?
nt skalian bawain bukuku, ya.

Sender:
Si Gadis
+628xxxxxxxxx

Setelah membereskan kamar sang pemuda segera menelepon si gadis.

“Assalâmu’alaykum,” si gadis menerima telepon.

“Wa’alaykumsalâm,” jawab sang pemuda, kemudian melanjutkan, “Ga jadi dateng. Ternyata urusanku di sini tambah banyak. Maaf.”

“Oh, ya udah,” ujar si gadis tanpa terdengar kecewa sedikit pun.

“Kau udah ga pa-pa?” tanya sang pemuda dengan hati-hati yang dibalas si gadis dengan nada tinggi, “Apaan sih??”

“Ga, ga pa-pa,” balas sang pemuda. Dalam hati ia berserapah, “Gebleg!”

“Ada lagi nggak, yang mo diomongin?” tanya si gadis datar dan dingin.

Dalam hati sang pemuda ngedumel, “Gebleg! Dasar gebleg! Ga sopan! Nyesel aku dah nelpon!”

“Ga ada. Cuma itu,” jawab sang pemuda pasrah.

“Ya udah, Assalâmu’alaykum,” akhir si gadis.

“Wa’alaykumussalâm,” jawab sang pemuda.

Klik. Si gadis menutup telepon. Sementara sang pemuda membatin, “Bego’! Dasar gebleg! Harusnya ga kutelpon dia! Bener-bener gebleeeeeg!”

Meski dongkol, sang pemuda tersenyum. Senyumnya penuh syukur. “Alhamdulillâh, sekarang kau udah kembali seperti semula. Datar dan dingin seperti biasa. Sudah normal sekarang. Semoga kau bisa lebih bersabar,” batin sang pemuda.

Sebenarnya sang pemuda tadinya ingin mengatakan sesuatu. Ia ingin membesarkan hati si gadis dengan mengatakan kalau masih ada satu kesempatan lagi. Ya, masih ada satu kesempatan untuk membuktikan kemampuan akademis si gadis. Jadi, si gadis tak boleh putus asa. Si gadis harus selalu bersemangat dan optimis, disertai dengan usaha-usaha yang keras. Belajar yang giat, mencoba mengurangi kegiatan di luar. Sebisa mungkin si gadis harus bisa mengatur waktunya. Jangan terlampau sibuk di luar sebab belajar itu pun penting. Yang terakhir, sang pemuda ingin mengatakan bahwa janganlah malas untuk belajar. Belajarlah dengan tekun dan teratur agar nilai si gadis baik kembali.

Pagi itu begitu sejuk. Sang mentari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Jalanan kota Jakarta perlahan mulai ramai. Si gadis dan sang pemuda pun memulai aktivitas mereka masing-masing.

9 Komentar »

  1. vie berkata,

    14 April 2008 pada 14:23

    pertanyaannya….
    apa aktivitas si gadis dan sang pemuda sehari-hari????

    hahahaha…

    tulisannya bagus loh…

  2. drjt berkata,

    14 April 2008 pada 14:29

    #vie
    itulah yang masih menjadi misteri. hehe.

    makasih….

    (^_^)v

  3. vie berkata,

    14 April 2008 pada 15:03

    aduh…aduh…

    bingung aku…

    yo wislah…

    biarlah semua tetap menjadi misteri…

    hehehe…

    opo si?? ;p

  4. fairuzdarin berkata,

    14 April 2008 pada 16:02

    Kemaren kan main di kandang Pemuda (Egoisme: Pemuda vs Gadis), kata Feris skornya 0-2, Si Pemuda kalah. :D
    Kalo sekarang kan main di kandang Gadis (Pesimisme: Gadis vs Pemuda), skornya berapa?

    Kalo masalah mudeng ato ga mudeng ma ceritanya, itu mah nomor sekian (soale aku emang ga mudeng). Yang penting skornya.

  5. drjt berkata,

    14 April 2008 pada 16:05

    #mbak fairuz
    kalo yang babak ini, menang sang pemuda 1-0. yah, lumayanlah sang pemuda ngantongin skor.

    (^_^)v

    eh, mbak kok ada avatarnya? mbak punya akun WP, ya?

  6. irrrr berkata,

    15 April 2008 pada 10:44

    ehm ehm,,,,,,,
    makin seru aja ni ceritanya…….

    lanjut baang……

    *ngeliat perilaku kekanakan si gadis, jadi inget dengan gadisku yang dulu :oops:

    hihihihi…

  7. drjt berkata,

    15 April 2008 pada 11:14

    #irrr
    gadismu yang dulu mana? ato sekarang udah ga gadis? //ups!//

    (^_^)v

    oke, lanjuuuuuut!

  8. monggo dibaca… « setegar karang, secerah pelangi… berkata,

    15 Juni 2008 pada 20:13

    [...] a [...]

  9. NH's Angel Ratna berkata,

    19 Juni 2008 pada 11:13

    Si Gadis en Si Pemuda hubungannya apa c? Lucu juga ceritanya.

    Farijs van Java berkata,
    hubungannya? kalo menurut dikau?

    (^_^)v

    lucu ya. ketawa, dong. hwehe.

Tinggalkan Komentar