Ahad kemarin aku telah berencana pergi melihat pertunjukan konser piano. //Halah, sok pake tenses!// Kabar dari kawanku, si Gendut, ada konser piano gratis yang akan diselenggarakan di GoetheHaus mulai pukul 16 pada Ahad tersebut. Karena tak tahu lokasinya, berkali-kali aku konsultasi dengan si Gendut perihal bagaimana aku bisa sampai di tempat yang dimaksud dengan selamat. Dari hasil pemikirannya olahan otaknya, didapatkan bahwa untuk sampai ke sana aku bisa naik busway, turun di daerah Kuningan, kemudian naik kopaja P20, minta diturunkan di depan GoetheHaus, Pusat Kebudayaan Jerman, Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat.
Time: Ahad pagi.
Weather report: Matahari mulai terik.
Activities: Berbaring sambil ber-SMS-an dengan seorang mbak-mbak yang tidak mau disebutkan namanya //mbak-mbak yang nanya nama bayi// perihal memberikan usulan nama-nama untuk calon keponakannya.
Situation: Tenang, tenteram, gemah ripah loh jinawi.
Condition: Kenyang (abis sarapan), masih pegal-pegal (gara-gara senam).
Time: Ahad siang, sehabis dzuhur.
Weather report: Matahari begitu terik.
Activities: Berbaring sambil ngadem sekaligus SMS-an dengan si Gendut perihal masih menanyakan hal-ihwal bagaimana aku sampai di GoetheHaus.
Situation: Mulai ramai, tapi masih gemah ripah loh jinawi.
Condition: Kenyang (abis makan siang), kepanasan.
Sebagai dampak SMS-an dengan si Gendut, aku langsung bergegas cabut dari kos menuju tempat dimana ia berada, Gramedia Matraman. Sewaktu aku mengajaknya untuk mampir ke GM dulu sebelum ke GH, ternyata ia sudah ada di GM sedari pagi. Dasar gebleg! Pergi ke sana nggak bilang-bilang.
Sesampainya di halte busway Matraman: bingung, “GM-nya di sebelah mana, yak?” Segera ku-SMS si Gendut. Balasnya, GM ada di depan halte Tegalan, nyambung busway arah Ancol-Kampung Melayu. OK. Setibanya di halte busway Matraman I //tempat transfer kalau ingin naik busway Ancol-Kampung Melayu//, terlihat berjubel antrean tak teratur //biasa, orang Endonesiya// orang-orang yang akan naik busway tersebut.
“Yah, bakalan lama nih,” batinku. Ternyata halte busway Tegalan itu setelah Matraman I kalau dari arah Ancol ke Kampung Melayu. Itu artinya, jarak Matraman I ke Tegalan tak seberapa jauh. Yah, terpaksa jalan kaki, deh. Nekad. Dan ternyata memang dekat, saudara-saudara. Beberapa menit saja aku sudah sampai di toko buku yang katanya terbesar se-Asia Tenggara itu. //Waduhaduhâ„¢….//
Sebelum mencari si Gendut aku mampir di bagian stationery dulu, di level G. Ah, my favorite place. Entah mengapa aku paling betah berlama-lama di bagian stationery. Setiap kali ke tokok buku, pasti mampir di bagian yang memajang beragam alat tulis dan alat kantor ini. Cukup lengkap ternyata di sana. Binder yang seperti kemarin itu pun ada di sini. Harganya tak terpaut jauh.
Setelah bertemu si Gendut di level 3, kami turun di level 2, melihat-lihat buku. Banyak sekali buku. Buku-buku. Sepertinya memang lengkap meski belum semua ruangan di toko buku tersebut termanfaatkan. Yah, whatever lah. Setelah puas menonton sampul-sampul buku berbicara //halah, bahasanya…// kami pun meluncur ke GH. Naik taksi BB, karena informasi yang didapatkan mata-mata si Gendut mengenai jurusan kopaja yang melewati Sam Ratulangi itu salah. Tapi enak sih, naik taksi. Nyaman, meski cepat mengeringkan saku //ga nyimpen duit di dompet, tapi di saku celana dan saku baju//.
Sesampainya di GH. Masih lumayan lengang. Panitia baru bersiap-siap. Ternyata kami datang over-ontime, saudara-saudara. Tak apalah, daripada datang lewat-waktu alias telat. Malu lah sebagai generasi muda penerus bangsa ini. Di sana sudah hadir pianis yang akan konser. Sang pianis cilik itu, Stephanie Onggowinoto, mengenakan gaun putih yang cantik. Ya, hari itu adalah resital pianonya Stephanie, siswi Program Seniman Muda di Konservatorium Musik Jakarta. Dia yang baru berusia 13 tahun itu sudah lulus grade 8 ABRSM dengan predikat distinction. Nah, untuk masuk ke jenjang selanjutnya, diploma, dia harus menggelar tiga konser tunggal. Dan konser Ahad kemarin itu adalah konser tunggal pertamanya.
Waktu ashar tiba, aku dan si Gendut sholat dulu. Di mushola di GH. Di sudut. Mushola yang mengenaskan. Kecil sekali. Amat jauh berbeda dengan mushola yang ada di Erasmus Huis (baca: erasmus dahaga, eh, haus), Pusat Kebudayaan Belanda, Kuningan, Jakarta Pusat. Di EH, terdapat mushola yang meski tidak besar namun lumayan bagus; mewah. Entah mengapa Jerman kalah dengan Belanda. Whatever, lah. Yang penting sholat, khusyu’.
Pukul 16.00. Kami dan para pengunjung lainnya sudah memasuki tempat konser. Kami duduk di balkon, barisan pertama. Lumayan strategis. Di sinilah aku mulai kecewa. Bukan pada si pianis kecilnya. Tapi pada para pengunjungnya. Yah, aku maklumin sih. Orang-orang Indonesia. Berbudaya terlalu permisif. Over-permisif. Saat sang pianis sudah berada di panggung, masih saja orang telat diperbolehkan masuk. Ya sudah, tak apa. Tapi mereka menghalangi penonton lain…. Mereka melewati penonton lain yang sedang khusyuk melihat jari-jari lentik Stephanie menari di atas tuts piano sembari mendengarkan lantunan nada-nada lembut yang berasal dari bunyi getaran dawai-dawai piano. Gimana? Ya sudah, biarkan saja. //Yo wis….//
Pada resital sore itu Stephanie memainkan tujuh buah lagu, mulai dari zaman Barok, Klasik, Romantik, Impresionis, hingga lagu bernuansa Indonesia (gubahan gurunya). Pertama, ia memainkan Partita No. 1 karya Johann Sebastian Bach. Salah satu Partita dari enam Partita yang digubah oleh Bach sewaktu tinggal di Leipzig. Dengan apik Stephanie memainkan Partita tersebut. Dari Prelude, Allemande, Courante, Sarabande, Minuet, sampai Gigue dimainkan dengan sangat harmonis. //Halah, sok ngerti musik!//
Selesai satu lagu, Stephanie meninggalkan panggung. //Padahal baru bentar mainnya, eh dia masuk. Minum kali, yak. Tapi mungkin itu etika musik kek gitu kali….// Beberapa penonton yang terlambat diperbolehkan masuk ke auditorium. //Kan penonton baru boleh masuk dan keluar pada saat jeda ganti lagu seperti ini. Tapi yang ga habis pikir, dari jeda pertama sampai terakhir, tetap aja ada yang datang terlambat. Endonesiya banget, dah.//
Stephanie kembali ke panggung. Tepuk tangan hadirin. Stephanie duduk di depan pianonya. Diam sejenak, kemudian mulai memencet-mencet tuts piano. Lagu kedua dimulai. Sebuah lagu gubahan gurunya, Dr. Johannes Sebastian Nugroho, bertajuk Citra. Benar-benar apik lagu tersebut. Ada nuansa-nuansa gending Jawanya. Mantap! Mengalunlah nada-nada merdu yang lembut namun tegas. Dari awal sampai akhir terasa Indonesia sekali.
Setelah Citra, Stephanie memainkan dua buah lagu gubahan Claude Debussy. Dua buah prelude yang terdapat dalam buku kedua kumpulan prelude Debussy: La Puerta Del Vino (The Wine Gate) dan Feux d’Artificie (Fireworks). Keduanya dimainkan Stephanie dengan bagus. Salute. Setelah kedua lagu dimainkan, tibalah waktu istirahat selama 20 menit.
Musik klasik, aku kenal jenis musik ini ketika SMA. Tepatnya kelas satu SMA, ketika aku pertama kali memiliki PC. Di dalam PC Pentium II itu terdapat beberapa file musik klasik (bawaan Windows Gallery). Pertama kali mendengarkan memang terasa asing. Lagu tanpa vokal, hanya instrumen. Tapi mengasyikkan untuk terus didengar. Ada peralihan ritme dari lembut ke keras, lambat ke cepat, atau sebaliknya. Itu yang menurutku asyik. Dan kesukaanku akan musik klasik ini pun berlanjut sampai masa kuliah. Malah semakin bertambah suka setelah ada film Korea My Sassy Girl dimana di situ terdapat Canon-nya Johann Pachelbel yang divariasi oleh George Winston. Ditambah lagi setelah aku menemukan Canon versi rock-nya Jerry Chan. Apalagi setelah kutemukan kawan-kawan yang juga suka musik klasik, gara-gara dorama Jepang Nodame Cantabile. Bravo! //Gyabo…!// Makin kenal aku dengan musik klasik.
Setelah 20 menit, pertunjukan pun dimulai. Kali ini Stephanie memainkan lagunya Wolfgang Amadeus Mozart. Sebuah Piano Sonata No. 18, in D Major, KV 576 yang terdiri dari tiga gerakan: Allegro, Adagio, dan Allegretto. Seperti Mozart yang biasa. Musik yang hidup. Dengan apik Stephanie menyelesaikannya. Tepuk riuh para hadirin. //Nah, setelah inilah kekecewaan selanjutnya. Panitia membuat kesalahan. Padahal kan masih ada dua lagu lagi yang akan dimainkan, tetapi sang provokator moderator memberikan ucapan penutupan. Halah, ga profesional banget!//
Lagu berikutnya adalah gubahan Franz Liszt, Etude de concert No. 2 “La leggierezza” dan Hungarian Rhapsody No. 11. Mantap lah pokoknya. Ga nyesel dateng, dah. //Sori ye buat Gandhi…. ^_^)v//
Satu yang kuperhatikan dari pertunjukan tersebut. Adalah gaun yang dipakai oleh Stephanie. Gaun berwarna hitam dengan sentuhan sedikit warna biru menyala. Sangat anggun dikenakan Stephanie yang masih centil itu. Jadi teringat oleh adik perempuanku. Ingin sekali aku melihat adikku mengenakan gaun seperti itu. Jadi kangen Pekalongan….
(^_^)v
//Dah ah, kuposting aja. Dah ngendap di “Naskah” sedari kemarin.//
RSS - Posts
Posted by fairuzdarin on 15 April 2008 at 16:22
yang ini lebih ga mudeng daripada Gadis vs Pemuda dan Pemuda vs Gadis…
Posted by drjt on 15 April 2008 at 16:32
#mbak fairuz
yaelah, mbak. trus kapan mudengnya?
(^_^)v
Posted by Cinta on 30 Juli 2008 at 16:36
Haik2.. stephani..aku satu sekolah musik sm dia.. stephani cantik en jago banget main piano.. aku nonton pas dia resital tunggal.. AKu mau lho kyk dia.. Tapi mungkin butuh waktu lam untuk kayak gitu kali yah, soalnya kalo dia dari umur 5 udh belajar piano, aku baru belajar pas umur 13, skrg br 15..yah pokoknya masih lama..
Posted by Cinta on 30 Juli 2008 at 16:39
tapi..tetep semangat yo! GanBATte Ne!
Posted by budi on 21 Desember 2008 at 20:57
aq mau tanya .
pa nama situs yang dapat ngedownload buku piano secara gratis??
soalnya aq lagi bel nie. perlu buku.