04.17.08
Dijajah Dangdut!
//Lagi-lagi dangdut. Lagi-lagi dangdut! ABCDE. Aduh Bo’, Capek Deh Eike!//
Dari malam sampai pagi tadi aku benar-benar merasa bahwa diriku sedang terjajah. Kalau bangsa Indonesia pernah dijajah oleh Belanda dan Jepang, sekarang aku dijajah oleh sesuatu yang katanya berasal dari Indonesia sendiri, sesuatu yang malah diberi gelar sebagai “Music of My Country”! Ya, aku dijajah dangdut!
Benar-benar marah aku dari malam hingga pagi tadi. Hampir saja meledak amarahku itu kalau saja tak teringat akan sebuah hadits Nabi:
“Bukanlah orang yang kuat itu orang yang kuat dalam berkelahi, tapi orang yang kuat adalah yang bisa menguasai hawa nafsunya ketika marah.” <HR Muslim>
Yâ Allâh, berikanlah aku kesabaran ekstra….
Kejadiannya begini, saudara-saudara. Tadi malam sekitaran pukul 22, si penghuni kamar sebelah (spks) baru pulang dari bekerja. //Sudah kenal kan, dengan spks itu? Sudah pernah kuceritakan dalam “Mendadak Dangdut.”// Seketika dia langsung menyalakan radio kesayangannya. Radio yang sempat kupikir hanya bisa menangkap satu gelombang channel radio. Karena sependengaranku tak pernah ia mengeluarkan suara dari stasiun radio lain selain stasiun radio dangdut yang bermarkas di kawasan Rawamangun itu. Ya, radio dan stasiun radio dangdut itulah yang membuatku marah.
Spks memang benar-benar tak tahu diri. Sudah larut malam, menyetel radio keras-keras. Awalnya sih aku memaklumi. Biarlah, dia sedang butuh hiburan karena kecapekan bekerja barangkali. Tapi lama-lama kok ngeselin juga. Aku jadi terganggu, nggak bisa tidur. Tahu sendiri kan, radio dangdut itu selalu memutar lagu-lagu dangdut yang membuat jantung selalu berdetak mengikuti irama alunan kendang yang ada dalam setiap lagu dangdut.
Malam itu aku sedang malas makan malam. Entah mengapa tiba-tiba setelah bertahun-tahun aku kembali merasakan malas untuk makan. Jadilah aku kelaparan malam itu. Dan sudah kuceritakan dalam “Sarapan Itu Penting” bahwa bila perut dalam keadaan kosong, tingkat sensitifitas akan nafsu amarah menjadi meningkat. Namun hal ini berbeda dengan ketika kita sedang berpuasa. Ketika puasa, meski perut sama-sama kosong, entah mengapa amarah kita malah bisa semakin terkendali. Entahlah, mungkin itu salah satu dahsyatnya puasa.
Dengan perut keroncongan, ditambah dengan suara berisik dari kamar sebelah, ditambah tidak bisa tidur karena hal itu, jadilah amarahku mencapai puncaknya. Sekitar pukul 1.30 dini hari tadi, kudatangi kamar sebelah. Kuketuk pintu dan kupanggil spks dengan sopan. No respond. Kuketuk dan kupanggil lagi spks beberapa kali dengan lebih keras. No respond juga. Yaelah, ternyata spks sudah tidur. Gebleg! Ia tidur dengan pulasnya sementara musik dangdut yang memekakkan telinga masih mengalun. Kok bisa, ya? Tak habis pikir aku. Bahkan suara dengkurannya sempat mengalahkan suara radio beberapa detik. Hebat! Fantastis!
Dalam hati kutenangkan diri, “Sabar, sabar. Orang sabar katanya cepet nikah….” Kuambil air wudu. Qiyâmul-layl. Kupanjatkan doa agar Allâh memberikanku kesabaran. Kudoakan agar spks dimaafkan oleh Allâh. Semoga amal baiknya diterima di sisi-Nya. //Loh, kek doain orang yang meninggal aja.// Lagi-lagi aku mengalah. Namun mengalah bukan berarti kalah. Semoga yang kulakukan ini adalah mengalah untuk menang. Kemenangan yang hakiki. Âmîn.
Pukul 2.00. Radio mengeluarkan suara lafadz-lafadz Surat Al-Fâtihah. Alhamdulillâh, stasiun radio sudah akan tutup. Segera kubaca doa penutup majlis dan istighfâr tiga kali. //Yaelah, kek abis apaan aja.// Untungnya malam itu si JAIM tidak siaran. Kalau saja si JAIM siaran, sudah pasti aku makin tak bisa tidur. Pastilah aku terganggu dengan siarannya yang monoton, yang hanya mengeluarkan bunyi “Zzzzzzzzzzzzzzzzz” itu.
Kubaca doa sebelum tidur. Tidurlah aku dengan damai. Alhamdulillâh.
Namun ada yang kusesali. Sekitar hampir tengah malam tadi aku sempat memaki seorang adik kelas yang usil me-misscall-misscall-ku berkali-kali. Seharusnya kumaklumi dia karena tingkahnya yang masih kekanak-kanakan itu. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlontar kata yang barangkali menyakitinya. Maafkanlah abang, wahai adikku. Abang khilaf. Maklumilah abang yang tadi malam sedang naik tensi….
v(^_^)v

kangpandoe berkata,
17 April 2008 pada 10:37
Makanya Teliti Teman Kos Sebelum nge-Kos…. wkwkwkwk
Farijs van Java berkata,
17 April 2008 pada 10:39
#panpan
yaelah. sapa bilang itu teman kos??
(^_^)v
Gandhi berkata,
17 April 2008 pada 17:44
makanya jd orng jng punya telinga. dijamin dah ga bkal dnger.. :d
konfirmasi coment km; sy kan multitalent. jd sgla bsa.. ha8x.. ;d
willmen46 berkata,
17 April 2008 pada 18:02
wa ketemu lagi
dunia ini memang sempit
hahahahhahaha
salam kenal bua tpara dangdut mania
Farijs van Java berkata,
18 April 2008 pada 8:13
#gandhi
ye… kau mau ga punya telinga??
multitalent? bisa nyeketsa fotoku, tak?
(^_^)v
Farijs van Java berkata,
18 April 2008 pada 8:14
#bung will
iya nih, dunia sempit banget buat badanku yang lebar ini. hehe….
(^_^)v
chepty_cuantique berkata,
18 April 2008 pada 16:00
ehm…gimana ya…sebenernya aku ngasih comment ini karena desakan dan paksaanmu semata…….jadi aku gak bertanggung jawab atas isi dari tulisan ini…!!!
(hehehehe…
musik dangdut?????
aku agak familiar dengan aliran musik ini kayaknya….
tapi sebaiknya anda harus mulai membiasakan diri untuk bersahabat dengan itu…(demi kelangsungan hidup anda di kemudian hari..), karena anda sebagai generasi penerus bangsa, anda harus ikut serta menjaga dan melestarikan musik lokal yang sudah mulai mendunia…(hahaha..)
jadi…..selamat menikmati ketidaknyaman anda dengan suara berisik yang ditimbulkan oleh radio teman sekosan anda….lama2 ntar juga biasa…
(inget pepatah jawa “tresno jalaran ra ono sing liyo…salah yo..!!!)
Farijs van Java berkata,
21 April 2008 pada 10:48
#cheptyctank
terima kasih atas nasihatnya. semoga dapat saya laksanakan dengan sebaik-baiknya.
(^_^)v
tintin berkata,
23 April 2008 pada 21:00
humm . lebih baik cari lingkungan yang kondusif pak ..
pada awalnya kita alergi .. lama2x kelamaan bisa kebawa ..
mending hijrah kalo nggak mampu ..
Farijs van Java berkata,
24 April 2008 pada 9:05
#tintin
iya sih, pengennya. cuma malas pindah-pindah aku. udah enak di situ itu sebenernya. yah, pasrah aja lah….
(^_^)v
Intensitas Keingintahuan vs Konsentrasi « semangat! berkata,
30 April 2008 pada 9:00
[...] Begitu juga dengan tidur. Meski intensitas kengantukanku tinggi, kalau masih ada suara bising dari kamar sebelah, susah sekali aku tidur. Tampaknya salah seorang Mbakku juga begitu tadi malam. Fa, aku dah ngantuk berat, tp g bs tdur gr2 ada dangdut! Ttanggaku ada yg pnya hajat, rame bgt, ada dangdutny. Kok jd ktlran Faris gni, sih. [...]
Cobaan « semangat! berkata,
2 Mei 2008 pada 14:48
[...] sekarang aku mulai merenung bahwa cobaan “konser kamar sebelah” adalah sebuah ujian dan cobaan. Aku harus bersabar. Cobaan seperti ini akan menggugurkan [...]