Bintaro-Blok M vs Blok M-Pulogadung vs Pulogadung-Rawamangun

Setelah reunian itu kusegera pulang, kembali ke Rawamangun. Memakai rute yang biasa. Naik angkot C05, menyambung pakai metromini 71 ke Blok M. Terus dari Blok M naik busway arah Kota, transit di Dukuh Atas untuk kemudian naik busway koridor 4 arah Pulogadung, turun di Sunan Giri. Ya, begitulah rencanaku semula.

Sesuai rencana, aku naik angkot C05. Dari Ceger. Duduk di kursi depan, samping supir. Berencana turun sebelum perlintasan kereta api untuk kemudian naik metromini 71 ke Blok M. Capek sekali. Badan pegal terasa. Yah, tidur deh. //Ketiduran, sih.// Bangun-bangun…. Ulujami, Cipulir. Oh, tidak! //Sekali lagi, ah.// Oh, tidak…! Kebablasan aku. Kejadian terulang kembali. Kebablasan jauh pula.

“Kiri, bang….” teriakku. Sontak abang supir terkejutz. Abang supir banting setir //bukan banting setir alih profesi!//. Sempat pula menyerempet bajaj dan ojek sepeda. Diremnya angkot dengan mendadak. “Ciiiiiiiiiit….” Segera kubayar ongkos angkot, terus nyelonong pergi.

Yah, bingung dah mo naik apa. Bingung juga arah Blok M ke mana. Nekad kunaik metromini 69 jurusan Ciledug-Blok M. Alhamdulillâh, itu yang menuju Blok M. Beberapa menit kemudian sampailah aku di Blok M dengan selamat sentosa sejahtera nan bahagia. //Halah!//

Lansung bergegas aku ke tempat beli tiket busway. Rp3.500,00. Segera naik menuju halte. Wuih, ramai sekali! Antrean sampai keluar dari halte. Dengan sangat terpaksa aku menjadi salah satu anggota antrean yang tidak teratur itu. Lama sekali aku mengantre. Akhirnya giliranku naik busway tiba juga. Alhamdulillâh bisa ngadem di dalam bus full-AC meski tak kebagian tempat duduk.

Sampailah bus di halte Dukuh Atas. Bergegas aku keluar dari bus, berjalan pelan menaiki jembatan menuju halte Dukuh Atas 2 untuk transit. Naik busway jurusan Dukuh Atas 2 – Pulogadung untuk kemudian turun di halte Sunan Giri. Alhamdulillâh tak banyak antrean. Dapat tempat duduk di pojok kanan bus bagian belakang. Posisi yang sungguh sangat wueeeenak tenan itu aku manfaatkan untuk tidur sejenak. Ya, aku berniat tidur sejenak. Hanya sejenak.

Sungguh enak tidur di busway, saudara-saudara. Bagi yang belum pernah, silakan mencoba. Tapi aku tidak menganjurkannya apabila saudara-saudara tidak kebagian tempat duduk. Bisa-bisa saudara-saudara terjatuh.

“Mas, Mas. Turun di sini, Mas. Biar cepet,” kata seorang penumpang busway yang lain membangunkanku. Kulihat di sekeliling. Oh, tidak! //Sekali lagi, ah.// Oh, tidak…! Kebablasan aku. Kejadian terulang kembali. Kebablasan jauh pula. //Hehe, mengulang script.// Ternyata aku sudah hampir sampai di terminal Pulogadung, saudara-saudara! Karena macet, seperti biasa, para penumpang dipersilakan turun di jalan meski belum sampai di halte. Entah mengapa setiap siang hari pasti begitu di sekitar terminal Pulogadung, jalanan serasa sempit. Mungkin ini gara-gara banyak lapak-lapak pedagang di emperan jalan. Atau mungkin karena banyaknya angkot yang mangkal di situ. Atau mungkin juga karena jalannya memang benar-benar sempit. Hehe. Whatever, lah. Yang jelas, aku kebablasan! Gara-gara ketiduran lagi!

Dengan masih menguap aku turun dari bus. Bingung. Lagi-lagi bingung. Aku harus berjalan ke terminal untuk kemudian naik busway ke arah sebaliknya, atau naik bus R57 untuk bisa pulang. Tapi kemudian aku melihat banyak angkot bertuliskan 02 jurusan Pulogadung – Kampung Melayu yang sering kulihat di sekitar kosku. “Wah, jangan-jangan aku bisa pulang naik ini,” batinku. Aku pun nekad mencegat sebuah angkot 02. Naiklah aku di kursi favoritku: samping supir. Dan sekarang, aku sudah berpengalaman. Takkan lagi aku tertidur!

Beberapa menit, aku sudah sampai di terminal Rawamangun. Beberapa menit kemudian, angkot 02 yang kunaiki tersebut mengantarku di sebuah pertigaan di daerah sekitar kos. Aku pun turun dengan penat penuh terbayang di wajahku. //Halah!//

Hari itu aku mendapat pelajaran. Jangan tidur di dalam kendaraan umum kalau bepergian seorang diri. Jangan, kalau tak yakin akan tersadar sendiri ketika hampir sampai di tempat tujuan. Sekali lagi jangan, saudara-saudara. //Tapi mungkin alangkah baiknya untuk berdoa sebelum saudara-saudara ketiduran, agar nanti para malaikat membangunkan saudara-saudara ketika hampir sampai di tempat tujuan.//

Meski waktuku terbuang banyak gara-gara dua kali ketiduran, tapi aku menjadi tahu kalau ternyata ada angkutan umum alternatif untukku menuju terminal Pulogadung ataupun sebaliknya. Sebelumnya kalau akan ke terminal Pulogadung aku lebih nyaman naik busway. Yah, jadi pengen pulang ke Pekalongan nih, ngomongin terminal Pulogadung. Semangat!

(^_^)v

2 Tanggapan to this post.

  1. tidur di angkot emang menyenangkan mas … mantaffffffffffffft

    Balas

  2. #advokatku
    menyenangkan? iya sih, menyenangkan. mantaf sih mantaf. tapi kalo dah kebablasan … huyuh, ga mo lagi deeee….

    (^_^)v

    Balas

Tanggapi posting ini