05.09.08
Farijs van Java Gaat Naar de Dierentuin (Deel Twee)
<< Kisah Sebelumnya (Deel Een)
Sekarang mari kita lanjutkan kisah perjalanan Semandadumitz melakukan penampakan di dunia binatang Ragunan.
Pada saat kumpul-kumpul sebelum memasuki “Pusat Primata Schmutzer” itu, tiba-tiba terhidang banyak makanan di antara mereka. Wuih, benar-benar ajaib!

(Itadakimasu…)
Ya sudah, Semandadumitz akhirnya memakan makanan tersebut dengan biadab. Sembari makan dan ngumpul-ngumpul, mereka tertawa-tawa tanpa sebab. Biasalah, tabiat para Semandadumitz yang melakukan penampakan.

(Tertawa secara serentak)
Selain aksi gila secara massal dengan tertawa secara serentak, ada juga aksi yang dilakukan perorangan. Bahasa kerennya adalah monolog, epilog, ataupun goblog. Berikut ini contoh aksi gila yang dilakukan secara singgel tersebut:

(Antho berdeklamasi)
Datanglah masa tengah hari, masa yang tepat bagi Semandadumitz yang melakukan penampakan untuk memulai lawatan mengunjungi tempat tinggal para sesepuh. Akhirnya, mereka pun mulai memasuki areal
“Pusat Primata Schmutzer”. Farijs, yang karena adalah manusia kalong, terpaksa harus melindungi wajah tampannya dari sengatan matahari. Yah, memang susah memiliki paras yang tampan seperti Farijs.

(Kek orang Arab aja, Rijs)

(Onta Arab lagi minum)
Sebelum memulai petualangan di rumah kediaman para sesepuh Semandadumitz, terlebih dahulu mereka melakukan ritual-ritual. Beberapa bukti forensik pelaksanaan ritual-ritual tersebut yaitu:
1. Ritual Memirip-miripkan Wajah

2. Ritual Berpose-Tangga

3. Ritual Memirip-miripkan Badan

4. Ritual Dicium Monyet

Di dalam “Pusat Primata Schmutzer” para Semandadumitz bertemu dengan makhluk-makhluk aneh sebagai berikut:
1. Kera Batu

2. Monyet Manyun

3. Gorila

4. Siluman Laba-laba

5. Kera Bibir

6. Monyet Ngupil

Namun tontonan itu semua tak ada yang lebih menggairahkan Farijs, selain tontonan berikut ini:

(Sasaran penculikannya Farijs: “Dasar pedofil!”)
Di dalam “Pusat Primata Schmutzer” ternyata ada sebuah kandang kosong. Kandang tersebut sekarang dikontrakkan. Bagi yang berminat mengontrak kandang tersebut, silakan hubungi nomor yang tertera pada papan pengumuman berikut ini: //Iklan numpang lewat….//

Setelah puas menjelajah daerah kediaman para sesepuh, akhirnya Semandadumitz pun keluar kandang. Karena mereka makhluk yang religius, segera saja mereka melakukan sembah kepada Yang Maha, alias sholat dzuhur.
Setelah sholat, petualangan pun dilanjutkan. Kali ini mereka menjelajahi ke segala pelosok dunia binatang Ragunan. Banyak sekali yang mereka lihat, rasakan, dan dapatkan. Dari yang mereka lihat tersebut, di antaranya adalah mereka melihat banyak pasangan muda-mudi yang ada di situ. Tampaknya mereka ingin menemui orang tua masing-masing di situ dan memohon agar hubungan mereka direstui. Cuit cuit cuit….

(Uh, so sweeeeeeeeeet….)

(Langkah tegap maju … jalan!)

(Farijs van Java, Naia van Mollen, dan Gajah van Andalas)

(Pasangan terheboh abad ini!)
Selain pasangan muda-mudi, Semandadumitz juga menjumpai beberapa artis. Wah, ternyata tak hanya binatang yang hidup di sana. Artis yang mereka temui di antaranya adalah:
1. Di3va

2. Backstreet Boys & The Backbone

Tak hanya itu, Semandadumitz juga melihat hal-hal yang agak “ganjil”. Tak disangka mereka menjumpai pasien rumah sakit jiwa di sana! Kok bisa ada gitu, pasien RSJ yang kabur ke dunia binatang. Ayak-ayak wae….

Tak hanya itu saja ke”ganjil”an di dunia binatang Ragunan. Di sana malah ada sebuah jalur untuk refleksi. Biasa, kan? Tapi yang tak biasa, untuk masuk ke jalur tersebut kakinya harus dilepas! Benar-benar gila!

Dan ternyata tak cukup itu saja ke”ganjil”an yang mereka saksikan di sana. Mereka juga sempat melihat arak-arakan orang berdemonstrasi! Ajegile, Ndro….

(Turunkan Xtian! ^^)
Selain demonstrasi di atas, ada juga aksi damai yang dilakukan para pengunjung lain. Salah satunya adalah aksi teatrikal mendukung langkah Persatuan Bangsa-Bangsa untuk menyelamatkan satwa yang dilindungi: HIU.
Dan sore pun akhirnya datang. Para Semandadumitz pun kelaparan. Akhirnya mereka pun bersepakat untuk rehat makan-makan terlebih dahulu di sebuah warung di dunia binatang Ragunan. Tentunya karena di situ adalah dunia binatang, makanan yang tersedia adalah hasil impor dari dunia tumbuh-tumbuhan seperti rerumputan, biji-bijian, buah-buahan, dan lain-lain.

(”Mas, ada urap rumput campur tanah kagak?”)
Pada saat makan-makan, ternyata oh ternyata, hujan turun secara tiba-tiba. Waduhaduh™…gimana ini? Ya sudah, para Semandadumitz akhirnya berteduh di warung tersebut sampai hujan tak lagi mengguyur. Lama juga hujan turun. Untung hujannya hujan air, bukan hujan kera. Hwehe….
Setelah hujan mereda, Semandadumitz kembali menuju masjid untuk menunaikan sholat Ashar. Religius sekali. Mantap, lah. Semoga kalian semua masuk surga, Nak. Jangan sampai ngikut siluman di bawah ini ke neraka:

Setelah sukses bertobat, entah pertobatan mereka diterima atau tidak, mereka pun pulang ke kandang masing-masing. Mereka pun pulang satu per satu karena pintu gerbang dunia binatang Ragunan sudah akan ditutup. Rasa lelah, lapar, dan gundah gulana karena seharian menjelajahi dunia binatang terbayar sudah dengan kenangan yang indah. Semoga purnama depan Semandadumitz bisa melakukan penampakan lagi. Bravo Semandadumitz yang menjadi The-Penampakanz!

Oh ya, sekalian promosi photoblog-ku di http://matadrjt.wordpress.com/. Sementara masih sedikit hasil karyanya.


Farijs van Java Gaat Naar de Dierentuin (Deel Een) « semangat! berkata,
9 Mei 2008 pada 13:39
[...] Kisah Selanjutnya (Deel Twee) >> [...]
naia cute berkata,
15 Mei 2008 pada 15:37
Farijs van Java berkata,
16 Mei 2008 pada 7:34
#naia
yah, ngakak lagi.
ati2 disangka gila, nai….
(^_^)v
naia cute berkata,
16 Mei 2008 pada 13:27
sekarang pengen nangis..
Farijs van Java berkata,
16 Mei 2008 pada 14:09
#naia
lho, kok pengen nangis? kenapa emang nai? waduhaduh™…. cayang…cup, cup.
(^_^)v