05.12.08

3 Pendekar, Bondan Winarno, Iron Man, dan Pelacur! (updated)

Ditulis dalam Buku-buku, Ceritera, Pemikiran & Ide tagged , , , , , , , , pada 13:28 oleh Farijs van Java

Ya, tiga pendekar-pendekir kembali berpetualang….

Tiga pendekar-pendekir kembali turun gunung menuju kota. Kali ini mereka berangkat secara terpisah-pisah. Kemudian mereka berkumpul di sebuah toko buku silat di sebuah pusat perbelanjaan di kota. Betapa katrok-nya mereka, sampai-sampai dibukalah oleh mereka sampul plastik salah satu majalah yang dipajang di situ. Untung tak ada orang yang melihat. Waduhaduh™….

Hehe…. Kemarin aku baru membeli buku lagi. //Padahal buku yang waktu itu terbeli belum penuh terbaca. TT// Pengarangnya adalah si pemandu acara “Wisata Kuliner” itu. Ya, siapa lagi kalau bukan si Mak Nyuss yang endang bambang gulinem itu, Bondan Winarno. Jangan salah, ini bukan buku tentang kuliner. Judul bukunya “RUMAH IKLAN: Upaya Matari Menjadikan Periklanan Indonesia Tuan Rumah di Negeri Sendiri”. Ya, buku ini tentang dunia periklanan, reklame, kehumasan, advertensi.

Buku yang lumayan bagus menurutku, karena menguraikan sejarah. Sejarah periklanan dan perhumasan di Indonesia. Makin cintalah aku kepada Ibu Pertiwi. Baru kubaca sampai di tengah Bab I, sih. Tapi greget bagusnya sudah terasa. Sejarah…sejarah, saudara-saudara. Ada sejarah tentang Indonesianya pula. Wuih, mantap dah. Mak nyuss! Isi selanjutnya sih agaknya mengenai sebuah perusahaan periklanan, Matari Advertising. Yah, ini buku memang sudah diproyekkan sedari lama oleh sang pendiri perusahaan tersebut yang kini sudah almarhum, Ken Soedarto, bersama Bondan Winarno.

Dari segi fisik buku tersebut agak kurang bagus menurutku. Sampul bukunya sih bagus. Bagus banget. Kertas isinya itu, lho. Putih, terang banget jadinya. Tapi lumayan, di dalamnya ada kertas majalah berisi foto-foto dan beberapa contoh iklan. Ada iklan dari jaman baheula juga, lho. Contohnya:

Waktoe malem dengen pikiran legah nona Jan-tji pentil mandolin di damping kekasinja sembari menjanji:
Jadoe-jadoe! kekasihkoe jang lanang!
Sagelas anggoer hatikoe merasa senang!
Anggoer Tjap Toean adalah paling menang!
Jang bikin tjinta padamoe djadi terkenang!

Terus ada lagi yang ini:

Soesoe “Tjap Nonna” makanan anak-anak jang terbaik diseloeroeh doenia. Toean poenja anak jang masih baji ataupoen jang telah dapat moelai berdjalan, sampai oemoer lima taoenan, berilah minoeman Soesoe “Tjap Nonna”.
Sebab: ada doea kekoeatan dari itoe Soesoe “Tjap Nonna”, jaitoe:
1. Anak toean tinggal gemoek dan sehat.
2. Anak toean tidak moedah kena penjakit.
Inilah kekoeatan Soesoe “Tjap Nonna” itoe tadi.

Font yang dipakai untuk bodytext inti juga terlalu umum. Tak terlalu suka aku. Mengingatkan akan buku-buku teks ekonomi yang membosankan itu. Secara keseluruhan buku ini bagus, lah. Sangat menambah wawasan. Apalagi di dalamnya sarat akan sejarah. Ya, sejarah kusuka!

Ketiga pendekar-kir tak berhenti berpetualang di situ. Dari Arion Mall, mereka segera meluncur pergi ke MKG dengan menunggangi kendaraan bernama “angkot”. Di situ mereka terheran-heran akan keramaian di pusat perbelanjaan tersebut. Apalagi di situ terdapat banyak barang yang baru pertama kali mereka lihat. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah bagian mall tersebut yang sering disebut “bioskop” oleh orang-orang.

Hehe lagi…. Kemarin kami nonton film yang superduper bagus banget: Iron Man! Sebuah film yang diadaptasi dari karya legendaris Marvel, Pahlawan Super Iron Man.

Iron Man

Ceritanya itu tentang Tony Stark (Robert Downey Jr.), seorang industrialis biliuner dan penemu genius yang memiliki perusahaan senjata warisan ayahnya yaitu Stark Industries. Ia diculik oleh sekawanan pemberontak di Afghanistan dan dipaksa membuat rudal supercanggih. Ia pun berpura-pura menyetujui kemudian meminta kepada pimpinan penculik itu untuk menyediakan semua peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan. Namun bukannya membuat rudal tersebut, dengan menggunakan kecerdasannya, ia malah membuat baju baja berteknologi canggih dari baja-baja bekas rudal dan berhasil melarikan diri.

Selama dirinya diculik, ia menjadi sadar bahwa senjata-senjata yang diciptakan perusahaannya tidaklah membawa kedamaian. Justru senjata itu malah semakin membawa kehancuran bagi manusia. Oleh karena itu, sekembalinya ia berniat menutup usaha pembuatan senjata, digantikan dengan usaha reaktor energi. Namun niat mulianya tersebut dihadang oleh pamannya, yang ternyata memiliki hati jahat.

Sementara itu si Tony menyempurnakan desain kostum baju baja yang dibuatnya selama ia diculik. Dengan peralatan serba canggih di rumahnya, ia berhasil membuat kostum yang sangat canggih. Kostum tersebut, suer saudara-saudara. Ciamik! Bagus banget! Canggih, lah. Kostum tersebut kemudian dibuatnya agar bisa terbang. Bisa juga buat nembak-nembak, ngeluarin rudal, dsb. Antipeluru pula. Wah, pokoknya ini film bagus. Special FX-nya mantap. Ceritanya? Yah, lumayan lah. Ga terlalu komik banget. //Sori, review filmnya rada-rada aneh.//

Iron Man terbang

Sudah dulu, ah. Nanti postingan ini ku-update lagi. Masih ada bagian-bagian yang lebih seru dari petualangan tiga pendekar kali ini. Hehe…. Sibuk!

(^_^)v

Oh ya. Hari ini adalah hari pertama dimulainya serangkaian acara final National Accounting Challenge 2008 (NAC 2008)! Dan hari ini adalah babak Thinkfast Challenge! Wah, semoga sukses bagi para peserta yang sudah lolos Babak Pendahuluan. Untuk panitia NAC 2008, semoga lancar. Semangat! Bravo NAC!

(^_^)v

UPDATED (13 Mei 2008):

Tadi malam aku meneruskan membaca “RUMAH IKLAN” lagi. Wuih, makin sedap dah. Mak nyuss bener! Di dalam buku itu ternyata mencakup banyak hal, antara lain sejarah perekonomian Indonesia! Ternyata ada hubungan yang sangat erat antara perekonomian Indonesia dengan industri periklanan Indonesia. Lebih dari itu, ternyata periklanan juga erat kaitannya dengan dunia pers. Bila perekonomian baik, semakin meningkat dengan maraknya perusahaan multinasional membombardir pasar Indonesia, dunia periklanan berdenyut. Periklanan menemukan darah segar, yang kemudian diteruskan kepada dunia media. Saling terkait, lah.

Dari buku ini aku menjadi berpikir betapa negara ini salah urus dari awal. Pengucuran kredit bagi usaha-usaha baru tanpa dibarengi dengan pengawasan, dsb. Yah, jadi berimbas deh sampai sekarang: BBM naik harga. Sepertinya begitu…. ^^

Ketiga pendekar-pendekir puas atas tontonan yang baru saja mereka saksikan. Sebuah film fiksi ilmiah yang sangat bagus, membuat mereka tertegun-tegun kagum. Tapi salah satu dari mereka ternyata tidak terlalu menyukainya. Ia malah berujar, “Film tadi nggak masuk akal! Masak bisa terbang gitu. Komputernya bisa ngomong, lagi. Pokoknya lebih masuk akal film “Tali Pocong Perawan”, deh. Di situ … uh, Dewi Persiknya, bo’. Seksi abis!”

Yah, cape deh….

Seusai nonton, satu pendekir mengundurkan diri. Tak kuat ia melanjutkan petualangan tersebut. Selamat jalan, wahai pendekir. Semoga engkau selamat sampai tujuan. Sekarang tinggal tersisa dua pendekar yang melanjutkan petualangan mereka di pusat perbelanjaan di kota tersebut. Berkelilinglah mereka berdua di dalam. Seperti orang udik kurang kerjaan.

Sesampainya ia di depan sebuah toko … toko buku! Mereka pun masuk ke dalam toko tersebut. Barangkali akan menjumpai buku-buku silat dan kungfu, pikir mereka. Di dalam toko buku itu ternyata banyak sekali buku berjajar; bertumpuk. Betahlah mereka di dalam. Bak menemukan sebuah perpustakaan saja.

Hoho. Ternyata ada Gramedia di MKG. Mampirlah aku ke sana. Pertama yang terlintas di pikiranku adalah mencari pensil mekanik yang sama seperti punyaku dulu yang hilang. Dulu aku punya sebuah pensil mekanik kecil nan mungil berwarna hitam bermerek Lexion, Standard. Bagus. Mantap untuk menulis atau sekadar coret-coret. Tapi kemudian hilang. Hilang begitu saja di posko NAC yang berantakan. Sedihnya aku waktu itu. Namun tak mengapa, toh nanti bisa kubeli lagi pensil yang sama, begitu pikirku. Ternyata oh ternyata, saudara-saudara. Setelah kejadian kehilangan tersebut, berkali-kali aku singgah di Gramedia BP tempat kubeli pensil yang hilang tersebut, tak kujumpai pensil yang serupa. Miris. Sudah berapa lama aku mencari pensil yang sama di berbagai toko buku, namun tak kujumpai jua. Oh, pensil mungilku. Kemanakah dikau pergi gerangan?

Dan alangkah bahagia oh bahagianya. Di toko buku itu, yang di MKG itu, ternyata kulihat barang yang serupa dengan pensil tersebut. Uh, langsung kuterkam, kuserbu. Tapi tunggu dulu. Kok beda? Mereknya sih sama. Wujud fisiknya pun serupa. Tapi kok … kok … kok setelah kupencet ujungnya, yang keluar bukannya batangan pensil melainkan wujud lain. Oh, ternyata itu pena! Pena, saudara-saudara!

Memang sih merek tersebut merupakan produk sepasang. Satu pensil dan satu pena dengan wujud yang serupa. Dan yang kutemui di toko tersebut adalah versi penanya. Yang pensil? Tak ada. Kutanyakan kepada SPG di situ, “Mbak, yang pensil ada nggak?” Dan SPG tersebut menjawab, “Oh, yang pensil nggak ada. Udah nggak produksi lagi. Dari Jepangnya udah nggak ngirim lagi tuh dari lama.”

Oh, jantungku copot! //Lebay banget, sih….//

Yang pensil ternyata tak diproduksi lagi. Pantas saja kucari kemana-mana tak ketemu. Yah, nasib. Menyesallah aku mengapa dulu tidak kubeli saja dua sekaligus. Barang langka ternyata. Barang langka, barang unik, barang antik! ToT

Ya sudah, yang lalu biarlah berlalu. Kita harus optimis. Semangat! Mungkin saja suatu saat nanti kutemukan kembali pensilku yang hilang itu. Atau bisa jadi aku menemukan pensil yang jauh lebih bagus. InsyâAllâh. p(^_^)q

Lanjut! //Benci sebenernya aku ngelanjutin. Sebel! Nyesel!// Di sana aku juga sempat melihat beberapa buku. Salah satunya adalah yang akan kuceritakan ini. Kulihat ada sebuah buku. Novel. Judulnya sangat “wah”, berani sekali. Kubaca sampul belakangnya yang berisi ringkasan novel tersebut. Sakit aku jadinya. Sakit banget! Menyesal aku sudah baca itu! Sampai hari ini pun [13052008] aku masih merasa ngeri dengan apa yang kubaca ini.

Judul novel itu adalah “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur”. Melihat judul ini saja sudah merinding aku. Pengarangnya berinisial MMD. Entah apa yang ada di benak pengarang. Yah, sungguh ia telah melukai hatiku. Sungguh!

Dari sampul belakang tersebut aku menangkap begini: Novel tersebut berkisah tentang perjalanan hidup seorang muslimah. Asli muslimah tulen. Berhijab, melaksanakan kehidupan yang islami. Ia kemudian bernaung dalam organisasi Islam garis keras yang ia pikir bisa membawanya ke dalam kehidupan Islam secara kaffah. Namun kemudian ia kecewa kepada organisasi tersebut yang tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan batinnya. Ya, terbentur akan dogma-dogma semata. Ia sangat kecewa. Bahkan kemudian ia kecewa kepada Tuhannya, yang ia pikir tidak berbuat sesuatu untuk menjawab itu semua. Ia sangat kecewa.

Kemudian ia memberontak. Ia jatuh ke dalam pergaulan bebas. Freesex! Bahkan sampai dunia narkoba. MasyaAllâh! Sungguh mengenaskan! Mengerikan! Na’ûdzubillâhi min dzâlik. Kemudian ia melacurkan diri. Jadilah ia pelac*r! Sampai sini aku makin sakit. Sakit aku membaca ini! Aku selaku seorang laki-laki. Aku selaku seorang muslim. Aku selaku pembenci sekaligus penghormat perempuan! Aku…aku selaku manusia bermoral! Sakit!!

Di sampul belakang itu disebutkan, beberapa aktivis Islam juga turut menjadi pelanggannya. Pelanggan! Kek warteg aja! Aktivis yang meneriakkan kata-kata Ilahi di jalanan itu. Tak hanya itu. Ada juga seorang dosen universitas di Yogyakarta, yang adalah dosennya, menjadi germonya! MasyaAllâh! Astaghfirullâh! Dosen tersebut juga adalah seorang anggota DPRD! Dari partai Islam yang senantiasa menggembar-gemborkan tentang penegakan syariat Islam! Yâ Allâh, entah apa pula maksud si penulis membuat novel seperti ini. Sakit aku! Benar-benar sakit! Menusuk hingga perih pedih.

Na’ûdzubillâhi min dzâlik!

Dalam perjalanan pulang dari MKG aku sakit. Sakit hati ini. Sampai-sampai kehebohan film Iron Man yang kutonton itu tak lagi kurasakan gaungnya.

Yâ Allâh, semoga aku, adik-adikku, saudara-saudariku, mbak-mbakku, kawan-kawanku, beserta semua orang di sekelilingku, hindarkanlah kami semua dari hal-hal keji semacam itu. Na’ûdzubillâhi min dzâlik!

9 Komentar »

  1. hanggadamai berkata,

    12 Mei 2008 pada 17:11

    keknya seru banget..

    Farijs van Java berkata,
    oh, jelas seru dong. muter2 sampe nyasar di mall, trus nonton film yg ciamik! backsound-nya itu, lho. nge-beat banget! aku nonton aja sambil menghentakhentak.

    (^_^)v

  2. yellashakti berkata,

    13 Mei 2008 pada 9:16

    wealah, kok ak gak diajak2 to?

    Farijs van Java berkata,
    yah, mbak. katanya sakit, ya ga diajak jadinya. hehe….

    (^_^)v

  3. cempluk berkata,

    13 Mei 2008 pada 10:02

    cempluk juga udah ntn iron man..seru abisss..

    Farijs van Java berkata,
    wah, pluk. dah nonton juga, toh? bagus, kan?

    (^_^)v

  4. edratna berkata,

    13 Mei 2008 pada 12:06

    Kata anakku Iron Man memang bagus…sayang belum sempat nonton… :P

    Buku rumah iklan melihat resensinya di Kompas memang bagus kayaknya…..kembali lagi belum sempat ke toko buku…..entah akhir-akhir ini banyak kegiatan yang menyita waktu….

    Farijs van Java berkata,
    iya bu, filmnya bagus banget. fiksi ilmiah yang keren. lebih keren dari spiderman, lah.

    rumah iklan bagus juga. aku jadi nambah wawasan ttg dunia periklanan yang sudah beberapa tahun ini aku minati.

    (^_^)v

  5. nie berkata,

    14 Mei 2008 pada 11:35

    Yâ Allâh, semoga aku, adik-adikku, saudara-saudariku, mbak-mbakku, kawan-kawanku, beserta semua orang di sekelilingku, hindarkanlah kami semua dari hal-hal keji semacam itu. Na’ûdzubillâhi min dzâlik!

    amiiiin

    Farijs van Java berkata,
    âmîn….

    (^_^)v

  6. Rumah Iklan, Sejarah, Sosial, Budaya, Politik, Sastra, … « semangat! berkata,

    14 Mei 2008 pada 13:34

    [...] rumah iklan, ulasan pada 13:34 oleh Farijs van Java Sudah kubaca sampai tengah bab lima. Buku Rumah Iklan itu. Wuuuh! Bagus! Ternyata buku itu mengupas multibidang. Mulai dari membahas sejarah Indonesia, [...]

  7. Hyper_mu berkata,

    21 Mei 2008 pada 17:59

    Di bagian akhir, yang kamu bahas tentang buku “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur”, justru bukan kengerian yang aku rasain. Aku malah berfikir, kadang yang dirasain oleh peran utama dalam novel itu aku rasain juga. Selama 4 tahun aku hidup di t4 yang sama dengan setting novel tersebut, aku merasakan kebingungan yang sama dengan tokoh utama disitu_tentang agamaku, bahkan aku bisa menempatkan diri seperti sang tokoh utama di novel itu.
    Fer…tuh novel jangan dilihat dari sisi negatifnya aja…Kalo kmu emg miris baca kenyataan yang menjijikkan (bagimu) yang tertulis dinovel itu, coba apa idemu umtuk menyelamatkan para perempuan yang terjebak dalam kebingungan yang tiadda berujung tentang agamanya dan akhirnya lebih memilih keluar dari linkaran yang membingungkan mereka…
    Siapa coba yang salah kalo dia(tokoh utama) haruz mengalami terasingkan krn salah mengikuti sebuah aliran (agama)? Kenapa ga ada yang mengarahkan? dimana peranan Tuhan untuk menyelamatkannya?
    Aku justru kasihan sama tokoh utama dalam novel itu…dan lebih kasihan lagi bila kamu tahu, begitu banyak perempuan2 dsna (kota yang disebut di novel), yang mengalami pengalaman hidup yang sama dengannya…Bukan di novel…tapi dalam kenyataan!
    Pada siapa dia

    Farijs van Java berkata,
    “Pada siapa dia” apa? keputus itu komenmu…

    (^_^)v

    aku ga tau. yang jelas aku sakit ngebaca bagian belakang novel itu. sakit banget. bukan main2!

    emang sebegitu “parah”kah keadaan di sana?

    kau tanya ttg peranan Tuhan? Tuhan menciptakan manusia dgn berbagai kelebihan. akal. akal manusia itu wujud paling sempurnanya. Tuhan menciptakan “setan”. Tuhan menciptakan rules of life.

    masih sakit aku sebenarnya. terjerumusnya aku!

  8. Hyper_mu berkata,

    22 Mei 2008 pada 7:20

    Maksud kamu dengan “TERJERUMUSNYA AKU”, apaan sih???

    Farijs van Java berkata,
    hehe…. yah, terjerumusnya aku aja. aku merasa “terjerumus” aja. bukannya aku buta dari kenyataan…

    (^_^)v

  9. Hyper_mu berkata,

    23 Mei 2008 pada 12:44

    Eh Fer,ucapan tuh doa lho…Kmu bilang kmu”buta dari kenyataan”!?!? Mbok ati2 kalo ngomong tuh, ntar beneran kmu ga bisa terima kenyataan dalam hidup, kmu sendiri lho yang repot.

    Farijs van Java berkata,
    eh, aku kan bilangnya “bukannya aku buta dari kenyataan”. jadi itu artinya aku menolak untuk dikatakan kalau aku buta dari kenyataan.

    (^_^)v

Tinggalkan Komentar