05.14.08

Rumah Iklan, Sejarah, Sosial, Budaya, Politik, Sastra, …

Ditulis dalam Buku-buku, Puisi, Sajak, dan Prosa tagged , , , , , pada 13:34 oleh Farijs van Java

Sudah kubaca sampai tengah bab lima. Buku Rumah Iklan itu. Wuuuh! Bagus! Ternyata buku itu mengupas multibidang. Mulai dari membahas sejarah Indonesia, ekonomi, lingkungan hidup, olahraga, kesehatan, politik, bahkan sampai sastra! Kulinernya juga ada sih. //Ga penting banget Bondan Winarno ini di catatan penulis halaman 124. ^^//

Terus apa pula hubungan periklanan dengan semua bidang itu? Yah, alangkah baiknya saudara-saudara baca saja buku tersebut. Dijamin mak nyuss!

(^_^)v

Coba tebak, kira-kira puisi yang ada di buku Rumah Iklan ini hubungannya apa dengan periklanan Indonesia:

SANG ANAK
Kahlil Gibran

Anakmu bukan milikmu
Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, namun bukan hakmu

Berikan mereka kasih sayangmu
Tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri
Patut kauberikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan
Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian

Kau boleh berusaha menyerupai mereka
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
Pun tidak tenggelam di masa lampau

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur
Sang Penamah mahatahu sasaran bidikan keabadian
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya
Hingga anak panah itu melesat jauh, serta cepat

Meliuklah dengan suka-cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap

Hayo, apa coba? (^_^)v

Sekarang coba, bandingkan dengan tulisan berikut:

RENUNGAN BAGI ORANG TUA

Dan seorang wanita yang mendekap anaknya berkata: Bicaralah pada kami perihal anak-anak. Maka orang bijak itupun bicara: Puteramu bukanlah puteramu. Mereka adalah putera-puteri kehidupan yang mendambakan hidup mereka sendiri. Mereka datang melalui kamu tapi tidak dari kamu. Dan sungguhpun bersamamu mereka bukanlah milikmu. Engkau dapat memberikan kasih sayangmu tapi tidak pendirianmu. Sebab mereka memiliki pendirian sendiri. Engkau dapat memberikan tempat pijak bagi raganya tapi tidak bagi jiwanya. Lantaran jiwa mereka ada di masa datang, yang tak bisa engkau capai sekalipun dalam mimpi. Engkau boleh berusaha mengikuti alam mereka, tapi jangan mengharap mereka dapat mengikuti alammu. Sebab hidup tidaklah surut ke belakang, tidak pula tertambat di masa lalu. Engkau adalah busur dari mana bagai anak-panah kehidupan putera-puterimu melesat ke masa depan.

Ini adalah iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh Matari tahun 1978. Mantap, bukan?

Yah, andaikan orang tuaku dulu membaca puisi karya Kahlil Gibran ataupun iklan buatan Matari ini. “Engkau dapat memberikan kasih sayangmu tapi tidak pendirianmu.” Harusnya memang begitulah orang tua. “Engkau dapat memberikan tempat pijak bagi raganya tapi tidak bagi jiwanya.” Harus begitu juga. Yah, semoga kelak nanti ketika aku sudah diberi amanah oleh Allâh untuk menjadi orang tua, aku masih ingat kata-kata ini.

Terus, coba tebak apa pula hubungan periklanan dengan kutipan berikut ini yang pernah dilontarkan oleh Kwik Kian Gie di harian Kompas tahun 1990:

“Ada kecenderungan bahwa orang-orang asing yang ditempatkan di Indonesia adalah orang-orang kelas empat. Mereka yang tergolong kelas pertama tentulah sangat dibutuhkan di negeri asalnya. Orang-orang yang tergolong kelas dua akan dikirim ke negara-negara maju yang hampir setara tingkat ekonominya. Orang-orang yang tergolong kelas tiga ditugasi ke negara-negara industri baru. Dan, negara-negara seperti Indonesia hanya kebagian yang kelas empat.”

Huhu…. Tebak sendiri! (^_^)v

Yah, ternyata Pak Kwik ini memang sudah vokal dari dulu. Tak hanya sekarang-sekarang saja yang menyoal subsidi BBM. Aku sendiri cenderung setuju dengan pendapat Pak Kwik di atas. Dulu salah seorang guruku juga pernah berkata senada dengan itu. Beliau malah menambahkan kalau orang-orang ahli Indonesia, yang sekolahnya dibiayai dana asing, banyak yang diambil untuk bekerja di negara-negara maju sehingga Indonesia kekurangan tenaga ahli. Yah, tak tahu juga sih. Perlu belajar sejarah lebih banyak….

Semangat!

p(^_^)q

Postingan yang mungkin terkait:

3 Pendekar, Bondan Winarno, Iron Man, dan Pelacur!

5 Komentar »

  1. fairuzdarin berkata,

    14 Mei 2008 pada 15:05

    Weh… bukunya kayaknya keren. Jadi pengen baca…

    Farijs van Java berkata,
    iya, emang keren, mbak. baca aja…

    (^_^)v

  2. hanggadamai berkata,

    14 Mei 2008 pada 21:12

    lagi mumets jadi gak bisa nebak… :(

    Farijs van Java berkata,
    mumets kenapa, kang? mikirin bbm naik apa pas zamannya pak harto?

    (^_^)v

  3. fauziah85 berkata,

    15 Mei 2008 pada 8:57

    Btw, Matari itu produk apa? (maklum, tahun 1978 aku belum lahir)
    Hmmm, membandingkan dengan buku yang pernah kubaca (lupa bacanya dimana) setuju juga dengan kalimat “Anakmu bukan anakmu”. Pengaruh lingkungan, termasuk iklan2 komersil yang saat ini menjamur sangat mempengaruhi perkembangan jiwa anak2. Anak sekarang (eh, orang dewasa juga dink) cenderung lebih konsumtif. Eh, baru inget, itu bukunya Cak Nun yang terbit tahun 90-an. Lebih jadul tapi sudah mengupas beginian ya… (topiknya hampir sama)

    Farijs van Java berkata,
    Matari itu perusahaan periklanan, mbak!

    iya, emang bener. bukunya cak nun? ngupas beginian apa? topiknya dah pasti ga sama. buku ini tu menceritakan perjalanan periklanan di indonesia. cak nun dah pasti ga bakal ngebahas itu.

    (^_^)v

    sebetulnya buku ini dah banyak ngisi lubang-lubang puzzle yang aku punya dari dulu. banyak banget. mengenai sejarah terutama.

  4. fairuzdarin berkata,

    15 Mei 2008 pada 14:50

    Pembuat iklan dari Matari tadi pasti pengagum Kahlil Gibran. :)
    Dari kemarin dah baca postingan ini, aku baru menyadari apa makna dibalik puisi itu sekarang (telat bgt sih, mbak?).
    Yah, itu mah ibuku bangggettt… :)

    Farijs van Java berkata,
    ye… telat banget!

    (^_^)v

    yah, beruntungnya mbak punya ibu kek gitu. bersyukurlah, bersyukurlah, bersyukurlah….

  5. fauziah85 berkata,

    16 Mei 2008 pada 7:24

    Sepertinya kebiasaan burukmu “menghina orang” itu harus segera dihilangkan.
    Untuk sekedar diketahui, buku Cak Nun yang kubaca adalah kumpulan kolom yang pernah terbit secara kontinyu di sebuah koran di Surabaya pada era 1990-1993 (kemungkinan besar Koran Surya).
    Mengingat bahwa kolom bisa membahas apa saja, selalu ter-up date pada setiap penerbitannya, dan mengikuti peristiwa terkini yang sedang hangat, maka mungkin saja Cak Nun pernah menjadikan dunia periklanan sebagai salah satu topiknya.

    Farijs van Java berkata,
    yaelah, mbak. segitu aja marah….

    (^_^)v

    mbak yang musti ngembangin positive thinking-nya dan berhenti ber-suuzhon. balasan komentarku atas komentar mbak sebelumnya ga bermaksud “menghina”. aku tu ga percaya aja, mana mungkin cak nun bahas soal sejarah periklanan. dah pasti dia bahasnya akibat-akibat dari iklan, itu kemungkinan yang menurutku masuk akal.

    ini mbak malah ga ngasih aku bukti kalo cak nun bisa bahas soal sejarah periklanan. “mungkin” dan “mungkin” yang mbak bilang. yah….

    (^_^)v

Tinggalkan Komentar