Pacaran

“Cinta memang memberikan arti yang sangat istimewa bagi pasangan pria dan wanita.” Begitulah kata Project Pop dalam lagunya yang berjudul “Salah”. Sebuah lagu yang menceritakan kisah pengkhianatan akan cinta //yang entah mengapa sering diistilahkan orang dengan sebutan “pertikungan”//. Kisah salah seorang dari pasangan muda-mudi yang menjalin hubungan kemudian merajut jalinan cinta dengan orang lain. Sebuah hubungan yang salah, setidaknya menurut Project Pop.

Oke. Kita balik lagi fokus ke judul. Pacaran. Saudara-saudara tahu pacaran? Pengen pacaran? Pernah pacaran? Kalo aku sih baal menjawab nggak, nggak, dan nggak. Nggak pertama, nggak tahu pacaran itu sebenarnya buat apa, pentingnya apa, urgensinya apa. Nggak kedua, sedari dulu aku nggak pengen pacaran, tuh. Sekalipun nggak ada pernah terlintas dalam benakku untuk berpacaran. So, sori ya bagi gadis-gadis di luar sana yang sudah dan akan kutolak mentah-mentah. //Hehe…kegeeran banget, sih.// Dan nggak yang ketiga, sedari dulu nggak pernah ada dalam sejarah hidupku aku pacaran. Ya, ya…pacaran di kukuku sih pernah sekali. Dulu. Itu pun bukan atas kehendakku. Sewaktu masih tidur, kukuku dikasih pacar sama ummiy. Buhuhu….

Yah, pacaran tuh intinya apa, sih? Sebelum melanjutkan, mari kita tinjau dulu istilah-istilah pendahuluannya. Yang pertama, “nembak”. Pertama kali laku ngerti kalo nembak memiliki arti yang sungguh berlainan dengan yang tertulis di KBBI adalah ketika aku kelas 3 SMA.

“Kemarin aku ditembak ama si LM,” kata seorang gadis teman sekelas pada suatu hari.

“Hah? Ditembak? Ditembak gimana? Emang si LM punya senapan? Dapet dari mana dia? Trus kau, kena mana? Meleset, ya?” beginilah komentar bego cap luguku.

Ow ow ow, ternyata oh ternyata, yang dia maksud adalah ia kemarin ditembak panah-panah asmara oleh si LM. Walah…kalo maksudnya itu, bilang aja kek gini:

“Kemarin si LM datang nyamperin aku yang pas itu lagi nongkrong di kantin nyeruput es cendol bareng temen-temen. Trus dia muji-muji mataku yang katanya bak bintang kejora. Padahal aku nggak tahu bintang kejora itu yang seperti apa. Dia bilang kalo udah sejak lama dia naksir aku, dia suka aku, dia jatuh cinta ma aku. Trus dia berlutut di depan meja. Otomatis aku nutup rokku dong, biar nggak keliatan. Malu, kan. Trus dia bilang ke aku, nanyain aku, mau nggak jadi pacarnya.”

Bilang kek gini aja repot banget. Ucapan sesimpel dan segamblang ini malah diperumit dengan istilah “nembak”. Nembak apaan? Nembak burung?? Duh, Gusti….

Selanjutnya ada istilah lagi, “jadian”. Watdemaksudz!? Serigala jadi-jadian? Yah, bumi gonjang-ganjing…. Ternyata itu istilah dimaksudkan untuk sepasang, sejoli, pasangan muda-mudi yang sedang di mabuk //inget kata pak ustadz, yang memabukkan itu haram ^^// asmara memberikan pernyataan resmi di sebuah konferensi pers bahwa mereka resmi berpacaran. Tunai! Duh, Pengeran….

Nah, sekarang pacaran itu intinya apa? Kejadian yang diawali dengan acara tembak-menembak kemudian diikuti dengan pernyataan terbuka bahwa dirinya berdua adalah makhluk jadi-jadian? Trus dengan begitu bisa sah bergandengan tangan, berpelukan, berduaan di tengah jalan? //Yang terakhir ini mah kagak. Mo bunuh diri, ape?// Jujur, aku belum paham. Nggak dong. Kagak ngarti dah gua. Nyerah!

Yah, mungkin ini karena aku dari dulu selalu “damai” berteman. Teman-temanku kebanyakan adalah jojoba, alias jomblo-jomblo bahagia. Bahkan kami sempat akan mendirikan sebuah organisasi bernama IJO LUMUT alias Ikatan Jomblo Lucu dan Imut sebelum akhirnya didemo massa. Dari dulu tuh, untungnya, syukur Alhamdulillâh, aku lebih akrab berteman dengan orang-orang yang terkenal “alim”. Si Einstein, lah. Si Ustadz, lah. Si Cupu, lah. //Yah, aku emang rada alergi berteman ama laki-laki yang menjadi pabrik asap berjalan yang sebagian besar emang jauh dari tiga kriteria tersebut.//

Pas kuliah, aku malah “terjerumus” ke dalam pergaulan yang menurutku iklimnya amat sesuai dengan hampir semua pemikiran-pemikiranku sedari dulu. Banyakan aku bergaul ama si anak pengurus rohis, lah. Si anak masjid, lah. Aktivis dakwah kampus, lah. //Meski aku tetap berusaha berteman dengan kalangan mana aja. Yah, meski tak sedikit ada yang kemudian tak suka denganku.//

Lewat teman-temanku itu aku semakin memperkuat argumen dan tekadku untuk tidak berpacaran. //Di saat banyak orang menyerukan “Say no to drugs” aku sudah sejak lama berkata “Say no to pacaran”.// Ditambah lagi dengan kultur atau kebiasaan dari para lulusan almamaterku yang kebanyakan nikah muda tanpa proses pacaran terlebih dahulu. Makin mantaplah aku dengan idealisme itu. Ayo nikah! //Loh?//

“Islam tidak mengenal pacaran.” Begitulah kalimat yang kupegang. Terus terang aku tidak setuju dengan ucapan beberapa orang yang menyerukan, menyosialisasikan “pacaran setelah menikah”. Yah, itu namanya ngajak untuk selingkuh, dong. Kalo yang dimaksud itu adalah dengan istri sendiri, itu namanya bukan pacaran lagi, Bung. Suami-istri dah halal mo bermesraan modal apa aja. Ganti aja istilahnya dengan “enaknya bermesraan-seperti-pacaran bersama istri.” Gitu baru bener….

Pengenkah aku pacaran? Tak irikah melihat orang-orang di sekelilingku yang punya pacar? Saling bercumbu rayu dengan pacar masing-masing? Bermesraan? Absolutely, nggak sama sekali. Kenapa? Ya, mungkin aku keras kepala, kali, dalam mempertahankan ego dan pemikiranku.

Yah, akankah aku akan tetap seidealis seperti sekarang ini?

Yâ Allâh, perkuatkanlah iman hamba!

Kembali ke pertanyaan pernahkan aku punya pacar? Jawabannya masih tetep: nggak. Never. InsyâAllâh, dan semoga. Meski kejadian-kejadian aku “ditembak” sebagaimana kuceritakan dalam tulisan “Ye houdt van mij?” masih saja kualami sampai hari ini. Hatiku ‘kan kujaga selalu. Demi “‘Âisyahku”…. ^_^)v

jagalah hati
jangan kau kotori
jagalah hati
lentera hidup ini

jagalah hati
jangan kau nodai
jagalah hati
cahaya Ilahi

jagalah istri… //Loh?//

v(^_^)v

NB. Jangan pada sewot ye, saudara-saudara. Tulisan di atas cuma pemikiranku aja. Nggak benci kok aku ama orang pacaran. Terserah mereka, lah. Aku cuma nggak pengen pacaran aja. Hwehe….

5 Tanggapan to this post.

  1. Setiap zaman punya ceritanya sendiri…sekarang istilah nya pacaran, zaman dulu Yang-yang an….kata ibuku..”Anak sekarang, kerjaannya Yang-yang an aja, tapi bolak balik putus, ganti lagi…” Lho! ternyata ibu dan ayahku pacaran selama 10 tahun, teman seangkatan saat sekolah, mengalami zaman Belanda, Jepang, sampai masa revolusi…melalui perjuangan karena sempat tak disetujui keluarga.

    Saat ada acara pelatihan bagi para calon purnakarya (diadakan bagi orang-orang yang mau pensiun min 5 tahun lagi)….kebetulan saya mengajak si bungsu, dan karena masih mahasiswa dia sangat kritis saat seorang dokter salah menjelaskan (dalam acara ini ada ceramah dari psikolog, dokter kandungan, psikiater sampai para wirausahawan). Apa kata dokter tsb saat break? ..”Mbak, anakmu itu pinter, tapi juga keras kepala (nurun ibunya mungkin)…jadi biarkan dia berteman, pacaran, putus tak masalah, dan jangan sampai segera memutuskan menikah…karena perlu proses yang lebih lama bagi dia untuk bisa berbagi dengan seseorang.” Saya ketawa aja…karena saya menikah hampir mendekati umur 30 tahun, entah berapa kali ganti pacar (yang antara lain, putus karena dia ingin isterinya hanya di rumah saja)…sampai akhirnya menemukan seseorang yang mau menerima saya apa adanya, dan mendorong saya tetap berkarir di luar rumah tangga, teman diskusi yang hebat, suka buku dsb nya.

    Masalahnya, pacaran, teman atau apapun adalah ajang untuk mengenal karakter calon pasangan, untuk berdiskusi dan berdebat, untuk mengetahui apakah pandangan dalam tujuan berumah tangga sama,…tentu saja harus diatur agar pacaran tak melebihi batas.

    Farijs van Java berkata,
    wah, bener banget tuh, Bu. jangan sampai melebihi batas. hehe….

    (^_^)v

    saya takut aja sih sebenernya. kadang-kadang anak perempuan tuh “menyeramkan”. hoho…

    Balas

  2. Posted by Hyper_mu on 22 Mei 2008 at 7:26

    Emg ga ngerti, kamu ngomong sama siapa sih, ato kamu emg send smsmu ke aku dan dia???
    Wah… kamu emg membingungkan. Ga paham aku sama tulisanmu itu.

    Farijs van Java berkata,
    hehe… emang membingungkan tulisan-tulisanku.

    (^_^)v

    sebenarnya semua postinganku ada suatu maksud dan tujuan tertentu, tiap-tiapnya. beberapa ada yg merupakan gabungan dari kejadian2 yg kualami. yah, banyak gejolak batin, lah.

    (^_^)v

    maaf kalo bikin saudara-saudara bingung. tergantung saudara-saudara memandang, lah.

    Balas

  3. Posted by iyok on 24 Mei 2008 at 19:21

    aku termasuk yang merasa pacaran gak ada gunanya.. emang sih kalo liat cewek pengennya goda’in, hihi… tapi abis itu ya udah, selese, ga usah diterusin lagi.. soalnya pernah ngalamin pacaran, capek bung.. kan bukan istri, mau diapa2in juga ga bisa, la blum jadi istri. Mana si cewek juga tuntutannya macem2.. hahaha.. pusyiiiiing..

    ya pada akhirnya aku pacaran lagi sih.. cuman sekarang harus lebih dewasa, kalo kagak mau dewasa.. tinggalin aja..

    Farijs van Java berkata,
    welehweleh™…. ternyata bung iyok punya bakat plaiboi juga, toh….

    (^_^)v

    dewasa yang gimana, tuh bung? dewasa yang “dewasa” itu? wah, malah bahaya dong? hwehehe….

    (^_^)v

    Balas

  4. Posted by yola on 12 Juni 2008 at 11:21

    ass…
    siang..,afwan mu tanya…
    gimana sih kamu bisa mempertahankan pegangan mu itu. Yola juga memilki prinsip yang sama tapi…
    yola suka mikir kalo kita gk pacaran kita gk bisa nikah..

    Farijs van Java berkata,
    wa’alaykumussalâm, yola.

    ya pertahankan aja. kata siapa kalo kita gak pacaran kita ga bisa nikah. buktinya, teman2ku yang menikah itu, ga pacaran dulu sebelumnya.

    yg penting percaya aja, kalo jodoh dah ada yg ngatur.

    (^_^)v

    Balas

  5. [...] lanjut beliau bertutur: Saat ada acara pelatihan bagi para calon purnakarya (diadakan bagi orang-orang yang mau pensiun [...]

    Balas

Tanggapi posting ini