“Kau marah sama aku? Kau boleh sebal sama aku, tapi kau nggak boleh marah. Nggak boleh,” berkatalah sang pemuda kepada si gadis.
Si gadis tak acuh, diam seribu bahasa, pergi menjauhi sang pemuda.
Persahabatan antara laki-laki dan perempuan memang laksana air dengan minyak. Keduanya tak bisa bercampur, tapi bisa saling bersinggungan; bersentuhan. Entah kapan sang pemuda dan si gadis bisa saling mengerti.
Kesalahpahaman memang wajar terselip di antara jalinan persahabatan. Tinggal bagaimana kita mengolah kesalahpahaman tersebut agar tidak menimbulkan perpecahan. Uraikanlah kesalahpahaman tersebut sehingga bisa kita tarik benang merahnya. *sigh*
“Ada seorang anak kecil laki-laki (TK) yang pintar, penurut. Baik hati, suka menolong, tak suka usil. Makanya ia disukai guru dan teman-teman, terlebih teman-teman perempuannya. Berbanding terbalik dengan salah seorang temannya yang nakal. Suka usil, terlebih dengan anak-anak perempuan. Suka menarik-narik rok, lah. Menyembunyikan bekalnya, lah. Bandel, bandel sekali. Coba tebak, aku yang mana?” ujar sang pemuda.
“Kau anak yang roknya sering ditarik-tarik!” jawab si gadis ketus. Ia membalikkan badan, mengacungkan telunjuknya ke arah sang pemuda.
“Aku anak kecil laki-laki yang pertama itu. Tapi sekarang aku malah pengen jadi anak kecil yang nakal itu. Keisengan anak kecil, aku pengen. Dan aku pengen kau sebagai partner mainku…” jelas sang pemuda dengan tenang.
“Ga usah ngomong yang nggak penting!” sergah si gadis.
Sang pemuda terkejut. Bukan oleh kerasnya volume suara si gadis. Tapi lebih karena penekanan si gadis pada kata-kata “nggak penting”.
“Padahal kau yang udah bikin aku seperti begini. Kau yang bangkitkan masa kecilku lagi. Tapi kau malah tak mau bermain denganku. Betapa curangnya! Bagaikan ditantang main gundu, belum main malah sudah kau rampas gundu-gunduku,” ucap sang pemuda terbata-bata.
“Kau bilang nggak penting. Padahal semua yang kuucapkan kepadamu penting. Penting. Penting. PENTING! Aku pengen tahu diriku yang sebenarnya, lewat kau! Sebagian diriku ada di dirimu. Yah, semua gara-gara ‘nggak pengen dewasa’!” sang pemuda nyaris terisak. Sebagaimana biasa, si gadis berhasil membuat sang pemuda sedih.
Si gadis semakin menjauhi sang pemuda. Dalam hati ia berkata, “Padahal aku pengen jadi dewasa dengan cara lain. Dengan kau sebagai partner bermainku. Tak tahukah itu? Kau yang membuatku seperti ini. Kau! Kenapa juga jalan kita menjadi rumit??”
“Padahal kata orang-orang dewasa itu pilihan. Aku aja yang terpaksa. Aku yang maksain diri kalau dewasa itu sebuah keharusan. Yang benar yang mana? Kenapa aku nggak seperti orang-orang? Kenapa aku malah ikut kau?!” sang pemuda semakin meninggikan nada bicaranya.
Kemudian sang pemuda meneruskan, “Kenapa? Bisa kau jawab? Pasti tidak. Tidak. Tak bisa, lah. Anak kecil seperti dirimu, bisa apa? Bisanya cuma nangis pas bekalnya diumpetin. Cuma bisa ngadu pas roknya ditarik-tarik. Aku? Cuma bisa nyesal telah membuat kau sebal!”
Hening.
+ + +
Postingan yang kemungkinan terkait:
Egoisme: Pemuda vs Gadis
Pesimisme: Gadis vs Pemuda
Ye houdt van mij?
RSS - Posts
Posted by Hyper_mu on 22 Mei 2008 at 7:16
Sang pemuda kayaknya ga bisa terlepas dari si gadis ya?!?!?!
Dewasamu sebenarnya ga tergantung dari siapapun. Kmu pgn maen sepuasmu, itu hakmu, ga ada yang melarang.
Fer, orang yang kayak anak kecil musti diimbangi sama orang yang dewasa, bukan malah ngikutin dia jadi anak kecil juga, gimana sih kamu!?!?
Posted by yellashakti on 22 Mei 2008 at 13:55
ini pembicaraan antara kamu dan pacarmu ya?
Posted by fauziah85 on 22 Mei 2008 at 14:08
Mundur menjadi kanak-kanak itu tidak enak kok! Saat tubuh kita makin menua, saat umur kian bertambah saja, justru kita dituntut semakin dewasa. Aku sendiri merasakan diriku yang semakin mundur menjadi kekanakan, semua jadi serba susah. (Mungkin ada yang salah dengan perkembanganku, tapi aku tak bisa mencegahnya.) Percayalah, jauh lebih baik menjadi dewasa daripada menjadi anak-anak…
Posted by yellashakti on 22 Mei 2008 at 14:38
ini pembicaraan antara kamu dan pacarmu ya?
Posted by fauziah85 on 22 Mei 2008 at 16:16
Kekanakan: ga mau ngalah, ngotot, sak enaké dhewe, mau menang sendiri, egois, cepet marah (susah nahan emosi), ga bisa jaga omongan…
Lainnya: suka merajuk, mengeluh, bermanja yang bukan pada tempatnya.
Yah, inilah “kekanakan” versiku.
Posted by edratna on 22 Mei 2008 at 16:23
Suatu ketika seorang isteri bangun tengah malam, mendengarkan suara-suara yang dirasa aneh, dia mengendap-endap…ternyata suaminya sedang main mobil-mobilan. Setelah itu si isteri tidur lagi, dia memahami kenapa suami nya seneng main mobil-mobilan, karena saat masa kecilnya, tak punya cukup uang, dan saat itu mobil mainan kurang bervariasi. Kebetulan kedua anaknya perempuan, jadi tak bisa diajak main mobil-mobilan.
Jadi paling tidak harus saling memahami….
Posted by Hyper_mu on 23 Mei 2008 at 12:25
dewasa itu menurutku adalah saat kita bisa menghadapi segala fase dalam hidup ini dengan bijaksana. Jadi menurutku, bukan kedewasaan yang tidak mau menyapamu Fer, tapi kamu yang selalu menjauh darinya…Kmu masih suka ngeluh, ngerengek, mo menangnya sendiri, dsb. Jadi, gimana mungkin kamu akan bijaksana (karena sudah dewasa), kalo kamunya sendiri, memang tidak mau melaluinya?!?!
Posted by fairuzdarin on 23 Mei 2008 at 17:23
Pokoknya bayar royalti. Kupegang omongan Feris###
Dewasa? Kekanak-kanakan? Siapa? Si Pemuda apa Si Gadis? Dua-duanya?
Posted by Gadis vs Pemuda: Sensitivitas « semangat! on 11 Juni 2008 at 10:38
[...] Egoisme: Pemuda vs Gadis Pesimisme: Gadis vs Pemuda Ye houdt van mij? Dewasa Itu… [...]
Posted by monggo dibaca… « setegar karang, secerah pelangi… on 15 Juni 2008 at 20:15
[...] b [...]
Posted by silayoan on 6 Januari 2009 at 22:33
mirip obrolan ringanku dengan teman curhat…hehe
Posted by Gadis vs Pemuda: Kanibal « semangat! on 12 April 2009 at 22:04
[...] Dewasa Itu… [...]
Posted by Gadis vs Pemuda: Sebal-Sebal Sambal « semangat! on 4 Juni 2009 at 23:21
[...] Dewasa Itu… [...]