Dewasa Itu…

“Kau marah sama aku? Kau boleh sebal sama aku, tapi kau nggak boleh marah. Nggak boleh,” berkatalah sang pemuda kepada si gadis.

Si gadis tak acuh, diam seribu bahasa, pergi menjauhi sang pemuda.

Persahabatan antara laki-laki dan perempuan memang laksana air dengan minyak. Keduanya tak bisa bercampur, tapi bisa saling bersinggungan; bersentuhan. Entah kapan sang pemuda dan si gadis bisa saling mengerti.

Kesalahpahaman memang wajar terselip di antara jalinan persahabatan. Tinggal bagaimana kita mengolah kesalahpahaman tersebut agar tidak menimbulkan perpecahan. Uraikanlah kesalahpahaman tersebut sehingga bisa kita tarik benang merahnya. *sigh*

“Ada seorang anak kecil laki-laki (TK) yang pintar, penurut. Baik hati, suka menolong, tak suka usil. Makanya ia disukai guru dan teman-teman, terlebih teman-teman perempuannya. Berbanding terbalik dengan salah seorang temannya yang nakal. Suka usil, terlebih dengan anak-anak perempuan. Suka menarik-narik rok, lah. Menyembunyikan bekalnya, lah. Bandel, bandel sekali. Coba tebak, aku yang mana?” ujar sang pemuda.

“Kau anak yang roknya sering ditarik-tarik!” jawab si gadis ketus. Ia membalikkan badan, mengacungkan telunjuknya ke arah sang pemuda.

“Aku anak kecil laki-laki yang pertama itu. Tapi sekarang aku malah pengen jadi anak kecil yang nakal itu. Keisengan anak kecil, aku pengen. Dan aku pengen kau sebagai partner mainku…” jelas sang pemuda dengan tenang.

“Ga usah ngomong yang nggak penting!” sergah si gadis.

Sang pemuda terkejut. Bukan oleh kerasnya volume suara si gadis. Tapi lebih karena penekanan si gadis pada kata-kata “nggak penting”.

“Padahal kau yang udah bikin aku seperti begini. Kau yang bangkitkan masa kecilku lagi. Tapi kau malah tak mau bermain denganku. Betapa curangnya! Bagaikan ditantang main gundu, belum main malah sudah kau rampas gundu-gunduku,” ucap sang pemuda terbata-bata.

“Kau bilang nggak penting. Padahal semua yang kuucapkan kepadamu penting. Penting. Penting. PENTING! Aku pengen tahu diriku yang sebenarnya, lewat kau! Sebagian diriku ada di dirimu. Yah, semua gara-gara ‘nggak pengen dewasa’!” sang pemuda nyaris terisak. Sebagaimana biasa, si gadis berhasil membuat sang pemuda sedih.

Si gadis semakin menjauhi sang pemuda. Dalam hati ia berkata, “Padahal aku pengen jadi dewasa dengan cara lain. Dengan kau sebagai partner bermainku. Tak tahukah itu? Kau yang membuatku seperti ini. Kau! Kenapa juga jalan kita menjadi rumit??”

“Padahal kata orang-orang dewasa itu pilihan. Aku aja yang terpaksa. Aku yang maksain diri kalau dewasa itu sebuah keharusan. Yang benar yang mana? Kenapa aku nggak seperti orang-orang? Kenapa aku malah ikut kau?!” sang pemuda semakin meninggikan nada bicaranya.

Kemudian sang pemuda meneruskan, “Kenapa? Bisa kau jawab? Pasti tidak. Tidak. Tak bisa, lah. Anak kecil seperti dirimu, bisa apa? Bisanya cuma nangis pas bekalnya diumpetin. Cuma bisa ngadu pas roknya ditarik-tarik. Aku? Cuma bisa nyesal telah membuat kau sebal!”

Hening.

+ + +

Postingan yang kemungkinan terkait:

Egoisme: Pemuda vs Gadis
Pesimisme: Gadis vs Pemuda
Ye houdt van mij?

13 Tanggapan to this post.

  1. Posted by Hyper_mu on 22 Mei 2008 at 7:16

    Sang pemuda kayaknya ga bisa terlepas dari si gadis ya?!?!?!
    Dewasamu sebenarnya ga tergantung dari siapapun. Kmu pgn maen sepuasmu, itu hakmu, ga ada yang melarang.
    Fer, orang yang kayak anak kecil musti diimbangi sama orang yang dewasa, bukan malah ngikutin dia jadi anak kecil juga, gimana sih kamu!?!?

    Farijs van Java berkata,
    iya, bener. tapi kadang kita pengen jadi kek anak kecil. keknya iya, kan? kita seneng main games, kita seneng lari-larian. “dewasa”. sebenernya apa sih dewasa itu?

    (^_^)v

    Balas

  2. ini pembicaraan antara kamu dan pacarmu ya?

    Farijs van Java berkata,
    yah, mbak. baca dong tulisanku yang “Pacaran“.

    (^_^)v

    ini cuma sekadar drama, yang “barangkali” terjadi di kehidupan nyata. hwehehe….

    terserah saudara-saudara menanggapinya.

    Balas

  3. Mundur menjadi kanak-kanak itu tidak enak kok! Saat tubuh kita makin menua, saat umur kian bertambah saja, justru kita dituntut semakin dewasa. Aku sendiri merasakan diriku yang semakin mundur menjadi kekanakan, semua jadi serba susah. (Mungkin ada yang salah dengan perkembanganku, tapi aku tak bisa mencegahnya.) Percayalah, jauh lebih baik menjadi dewasa daripada menjadi anak-anak…

    Farijs van Java berkata,
    emang iya sih, mbak. bilang kek gitu juga noh, ma si gadis.

    (^_^)v

    emang permisalannya apa, mbak? serba susah gimana?

    Balas

  4. ini pembicaraan antara kamu dan pacarmu ya?

    Farijs van Java berkata,
    loh, mbak. kok dobel?

    (^_^)v

    Balas

  5. Kekanakan: ga mau ngalah, ngotot, sak enaké dhewe, mau menang sendiri, egois, cepet marah (susah nahan emosi), ga bisa jaga omongan…
    Lainnya: suka merajuk, mengeluh, bermanja yang bukan pada tempatnya.
    Yah, inilah “kekanakan” versiku.

    Farijs van Java berkata,
    waduhaduh™…. banyak versinya juga ternyata.

    (^_^)v

    mungkin perlu ditambah: suka manyun. hwehe…

    Balas

  6. Suatu ketika seorang isteri bangun tengah malam, mendengarkan suara-suara yang dirasa aneh, dia mengendap-endap…ternyata suaminya sedang main mobil-mobilan. Setelah itu si isteri tidur lagi, dia memahami kenapa suami nya seneng main mobil-mobilan, karena saat masa kecilnya, tak punya cukup uang, dan saat itu mobil mainan kurang bervariasi. Kebetulan kedua anaknya perempuan, jadi tak bisa diajak main mobil-mobilan.

    Jadi paling tidak harus saling memahami….

    Farijs van Java berkata,
    Waduhaduh™….

    (^_^)v

    Ternyata memang nyata adanya. Aku jadi inget iklan salah satu ponsel. Dulu. Pas belum jaman2nya ponsel layar warna. Bintang iklannya dulu presiden AS yg masih menjabat waktu itu, Bill Clinton. Ponsel pertama yang ada aplikasi game di dalamnya. Sebuah inovasi yang dahsyat! Menggebrak! Diiklan tsb disebutkan bahwa ada jiwa anak-anak di dalam diri kita. Kurang lebih begitu.

    Hidup jiwa anak-anak!

    (^_^)v

    Balas

  7. Posted by Hyper_mu on 23 Mei 2008 at 12:25

    dewasa itu menurutku adalah saat kita bisa menghadapi segala fase dalam hidup ini dengan bijaksana. Jadi menurutku, bukan kedewasaan yang tidak mau menyapamu Fer, tapi kamu yang selalu menjauh darinya…Kmu masih suka ngeluh, ngerengek, mo menangnya sendiri, dsb. Jadi, gimana mungkin kamu akan bijaksana (karena sudah dewasa), kalo kamunya sendiri, memang tidak mau melaluinya?!?!

    Farijs van Java berkata,
    waduhaduh™…. jadi makin bingung. hwehe….

    (^_^)v

    yah, dewasalah segera. semangat!

    Balas

  8. Pokoknya bayar royalti. Kupegang omongan Feris###
    :)

    Dewasa? Kekanak-kanakan? Siapa? Si Pemuda apa Si Gadis? Dua-duanya?

    Farijs van Java berkata,
    royalti? emang hak paten, mbak?

    (^_^)v

    yah, pikirkan sendiri. ga gamblang, mbak. ga gamblang…

    Balas

  9. [...] Egoisme: Pemuda vs Gadis Pesimisme: Gadis vs Pemuda Ye houdt van mij? Dewasa Itu… [...]

    Balas

  10. [...] b [...]

    Balas

  11. Posted by silayoan on 6 Januari 2009 at 22:33

    mirip obrolan ringanku dengan teman curhat…hehe

    Farijs van Java berkata,
    hayo, temen apa temen, neh?

    v(^_^)

    Balas

  12. [...] Dewasa Itu… [...]

    Balas

  13. [...] Dewasa Itu… [...]

    Balas

Tanggapi posting ini