“Hati-hati loh menggunakan fasilitas hidup. Sebab waktu, perbuatan, harta, ilmu, akan ditanyakan pertanggungjawabannya,” berkata sang pemuda kepada si gadis. Sebuah nasihat yang bijak.
“Ada apa?” tanya si gadis di ujung telepon.
“Ga ada apa-apa. Aku CUMA ingat kau pernah bilang kek gitu ke aku. Sekarang aku balikin,” jawab sang pemuda dengan menyunggingkan sebuah senyuman.
“Emang kenapa?” si gadis kembali bertanya polos. Rupanya si gadis belum bisa menangkap apa maksud sang pemuda.
Sang pemuda menjawab, “Ya MUNGKIN kau sekarang sedang butuh nasihat seperti itu.” Senyum sang pemuda semakin mengembang.
“Kenapa? Ga kok,” si gadis berkata singkat. Sepertinya si gadis sedang malas berbicara. Semua perkataan sang pemuda yang panjang dijawabnya dengan sangat pendek. Yah….
“Oh, ya udah. Simpen aja nasihatnya kalau gitu,” kata sang pemuda sedikit kecewa. Kemudian ia melanjutkan, “Belakangan ini kau itu kenapa, sih?”
“Belakangan gimana?” tanya si gadis masih dengan nada datar khasnya.
“Akhir-akhir ini ga pernah kuliat pelangi di wajahmu lagi. Pelanginya mana? Ayo dong, tunjukin pelangimu,” jelas sang pemuda dengan tetap berusaha tersenyum dan terdengar ceria meski dirinya sedikit kecewa dengan tanggapan-tanggapan si gadis di atas.
“Ya gimana cara bikin pelanginya?” si gadis bertanya.
“Dulu, kau sering ngeliatin pelangimu. Dah lama aku ga ngeliat pelangimu itu. Kemana pelanginya? Lom turun ujan, ya? Ato ujan lagi deras-derasnya, lom reda?” sang pemuda makin memperjelas apa maksudnya, dengan bahasa kiasan tentunya.
“Paan gw kagak ngerti. Bodo ah,” tanggap si gadis pasrah dan tak acuh.
“Dasar lu bodo. Gitu aja kagak ngerti. Bego lu…. Hehe,” ejek sang pemuda dengan cengengesan, mencoba untuk tidak menyinggung si gadis. Sang pemuda tahu kalau si gadis adalah tipe orang yang kurang sensitif //dalam hal-hal tertentu// tapi sekaligus pemarah.
Si gadis hanya terdiam. Entah ia marah atas ejekan sang pemuda tadi, entah ia masih mencerna kata-kata sang pemuda tentang pelangi di wajahnya, atau entah bagaimana.
Sang pemuda seperti paham akan kekurangsensitifan si gadis dalam mencerna kata-kata kiasannya kemudian menjelaskan, “Ya maksudku keceriaanmu. Mana?”
Hening sejenak. Sang pemuda menunggu si gadis angkat bicara.
“Dalam sepekan ini aku dapat tiga tawaran menikah. Gila gak?” berkata si gadis seakan-akan melenceng dari arah pembicaraan. Padahal mungkin inilah salah satu jawaban mengapa si gadis kehilangan pelanginya.
“Wah, kalau si Romi maju, jadi empat dong. Hehe…” canda sang pemuda mencoba mencairkan suasana karena tidak ditanggapi si gadis. Kemudian sang pemuda bertanya, “Tawaran dari mana emang? Terus kau gimana?”
Senyap. Hening kembali menyapa. Si gadis terdiam tak menjawab. Agak kesal karena tidak ditanggapi, sang pemuda kemudian menyergah, “Woi, jawab dulu, woi!”
Takut membuat si gadis marah sang pemuda buru-buru berkata dengan lebih lunak, “Tawaran dari mana itu? Dari keluargamukah, dari gurumukah, atau dari mana? Ya kau istikharah aja, mantap ato ga.”
Lagi-lagi hening menyapa. Kali ini agak lama. Si gadis baru menjawab setelah beberapa lama terdiam. Sebuah jawaban singkat namun berarti sangat dalam bagi sang pemuda. Sebuah jawaban yang menyakitkan, dan si gadis berkata dengan santainya, “M-T-A. Mau Tau Aja.”
Hati sang pemuda bergemuruh. Darah naik ke kepala sang pemuda dengan cepat. Pitamlah ia.
“Awas kau ngomong gitu lagi! Aku benar-benar marah kali ini!” teriak sang pemuda marah.
Keduanya kembali berdiam. Hening menyapa sekali lagi. Sang pemuda memang terlalu sensitif untuk hal-hal yang dianggapnya sebagai penghinaan. Si gadis tidak menyadari hal itu. Tak tahu, dan tak ingin tahu.
Dengan emosi masih meluap-luap sang pemuda berkata, “Aku itu suka nanya. Penanya! Hal-hal yang membuatku penasaran, pasti kutanya. Kucari jawabannya! Lagian, siapa dulu yang bikin aku penasaran?? Belakangan ini aku lebih moody darimu. Jadi tolong, jangan bilang MTA kek gitu lagi. Kumaafkan kau. Tolong kaumaafkan aku juga.”
Setelah terluap, emosi sang pemuda mereda. Setelah menghela nafas panjang, sang pemuda melanjutkan, “Yah, jadi ilang deh nafsu makanku.”
Si gadis kemudian angkat bicara. Berkatalah ia, “Banyak banget yang bilang aku suram belakangan ini. Emang iya apa?”
“Gelap kau tu, tau!” gurau sang pemuda. Rupanya kemarahannya sudah benar-benar hilang. Kemudian ia melanjutkan dengan bertanya karena penasaran, “Emang kau tu kenapa? Ada apa denganmu? Kalau ga pengen ditanya-tanya, jangan bikin aku penasaran….”
“Ya udah.”
“Ya udah apa? Yah, kalau kau mo ngurusin badanku jangan kek gini caranya, dong. Kek gini, bukan hanya badanku yang bakal kurus, jiwaku juga.”
Si gadis tak tanggap, sang pemuda kemudian melanjutkan, “Emang susah ngomong ama manusia yang udah rusak indra perasanya. Bak bicara dengan tembok!”
Kemarahan sang pemuda kembali muncul.
“Susah ternyata. Orang stres menghadapi orang stres. Tambah parah,” si gadis juga mulai emosi.
“‘Kalau CUMA bikin aku kesel, kenapa hadir di hidupku? Enyah aja dari hidupku.’ Kubalikkan lagi kata-katamu, hai manusia tak berhati,” kali ini sang pemuda benar-benar kehilangan kontrol. Ucapannya semakin menyakitkan.
“Udah hentikan kalau cuma mau bicara yang menyakiti hatiku,” si gadis mulai terisak.
“Dari tadi hatiku tu juga sakit, tau! Ditambah perutku laper. Parahan mana??” sang pemuda merasa dirinya tidak diperhatikan. Perutnya lapar, sementara nafsu makannya sudah hilang gara-gara si gadis tadi. Dan sepertinya si gadis tidak menyadari hal ini, menyadari bahwa sang pemuda minta perutnya diperhatikan.
“Alangkah baiknya kau terima tiga tawaran nikah itu. Semuanya. Ga bakal bisa kau diurus ama satu orang. Tiga baru cukup!” sang pemuda kembali meluncurkan kata-kata menyakitkan.
“Laper, tau!” sergah sang pemuda. Lagi-lagi sang pemuda ingin perutnya diperhatikan si gadis.
“Orang laper ngadepin orang stres! Kau tu emang ga tau diuntung kalau orang Melayu bilang. Pagar makan tanaman kau tu,” makin kacau saja omongan sang pemuda.
Akhirnya si gadis angkat suara, “Ya sudah. Tidak perlu diperpanjang.” Si gadis tersedu dalam hatinya.
Klik. Tut tut tuuuut. Si gadis menutup telepon.
===
Postingan yang kemungkinan terkait:
Egoisme: Pemuda vs Gadis
Pesimisme: Gadis vs Pemuda
Ye houdt van mij?
Dewasa Itu…
RSS - Posts
Posted by fairuzdarin on 11 Juni 2008 at 10:48
apa sih yang sedang Anda bicarakan?
sungguh, aku tak mengerti.
Posted by ratutebu on 11 Juni 2008 at 12:55
inni curhatan pribadi yahhhh?? hohohohoho.. seperti pengalaman sendiri gituuuuuuuhhhh..
Posted by pro djblogger on 11 Juni 2008 at 13:48
saya lagi semangat, tolong bantu dukung saya dengan semangat anda … *nyambung atau tidak tak berpengaruh* makasih
Posted by Arif on 11 Juni 2008 at 14:28
Ingin rasanya melihat PELANGI sang gadis
Posted by Internet's Freedom on 12 Juni 2008 at 1:38
salam kenal semua….
Posted by fauziah85 on 12 Juni 2008 at 7:45
Kalo menurutku, si gadis dan si pemuda sama-sama kekanakannya deh…
Posted by edratna on 12 Juni 2008 at 11:37
Dalam dunia nyata berarti kedua orang itu tak cocok. Seharusnya pemuda tadi hanya diam, dan menjawab jika ceweknya lagi ngomong…kadang cewek cuma pengin ditemani, tak ditanya-tanya kalau lagi bete…heheh jadi ingat anakku yang suka moody. Bapaknya suka kawatir, padahal kalau sama-sama diam ntar baik sendiri.
Saya pernah tanya, sesudah acara diam selesai…”Kenapa sih nduk, kok serumah ga diajak ngomong? Marah?” Jawabnya…”lagi bosen aja ngomong, nggak marah kok..”
Huahuahua….susah ya tahu pikiran cewek?
Posted by arsyah on 21 Juni 2008 at 21:52
kok aku n’gak maksud2 ya tolong doain aku ya bentar lagi aku mau mencalonkan diri menadi wali kota di tempat kami key
Posted by Rahim Rasyid on 24 Juni 2008 at 15:18
cerita yang bagus mas..saya sebenarnya bingung siapa yang salah dari cerita itu. klo dibilang si cowok, ga juga. soalnya kan si cowok wajar aja nanya ama ceweknya. tapi si cowok terlalu banyak make kata2 kiasan. mending dia ngomong secara to the point aja. nah si cewek juga ga bisa disalahin. mungkin dia tidak terlalu mengerti tujuan si cowok dengan menggunakan kata2 kiasan. jadi sebenarnya yang penting itu saling pengertian dan saling mempelajari sifat dan sikap masing2.
Posted by Gadis vs Pemuda: Kanibal « semangat! on 12 April 2009 at 22:04
[...] Gadis vs Pemuda: Sensitivitas [...]
Posted by Gadis vs Pemuda: Sebal-Sebal Sambal « semangat! on 4 Juni 2009 at 23:21
[...] Gadis vs Pemuda: Sensitivitas [...]