Pohon Kehidupan (updated)

Pohon Kehidupan

Di tengah sabana yang luas sana telah tampak olehku sebuah pohon kehidupan. Indah dipandang; sungguh menyejukkan. Kudekati sang pohon kehidupan dengan langkah tergontai-gontai. Kakiku lunglai, kemudian kubersimpuh di hadapan sang pohon kehidupan. Dari dekat ia terlihat kokoh.

Kuamati bagian per bagian dari sang pohon kehidupan. Teguh kakinya mencengkeram bumi pertiwi. Batangnya kuat menahan hantaman sang bayu. Dahan dan ranting tampak menjulur rapi. Tapi entah mengapa, semakin lama kuamati ia, semakin aku tahu keganjilan padanya. Ia tak punya daun! Pahamlah aku bahwa daun-daunnya telah rontok; berguguran. Kusaksikan daun-daun layu berserakan di pangkuan sang pertiwi. Mengering.

Kusaksikan dengan mata telanjang sang pohon kehidupan itu telah gundul. Mahkota kepalanya tanggal, luruh karena zaman. Zaman memakan segalanya. Kerakusannyalah yang membuat sang pohon kehidupan menderita. Ketabahannya saja yang membuat ia bertahan.

Pelajaran dari sang pohon kehidupan. Zaman sangatlah perkasa. Takkan terkalahkan. Ketabahanlah yang membuat kita sebanding dengan sang zaman.

===

LIHAT JUGA:

“Pohon Kehidupan?” di Kacamata Semangat!

8 Tanggapan to this post.

  1. weleh itu photonya ambil di halaman mana ..?? :)

    Farijs van Java berkata,
    itu foto diambil di kompleks kantorku. di tengah2 gedung kelas. hoho. entah itu pohon apaan.

    (^_^)v

    Balas

  2. bener tuh,….ambilnya dimana sih?
    katanya ditengah sabana yang luas,..tapi koq kayak di depan kantor elo
    bro..he..he..he..,
    but maknanya tetap ada, gue ngerti.

    Farijs van Java berkata,
    hohoho. maklum, ga pernah ke sabana. jadi ga bisa ngambil poto poon di sono. hwehe.

    (^_^)v

    Balas

  3. ngangguk-ngangguk… (sok paham ^^)
    geleng-geleng… (sebenere ga paham ^^)
    “angguk bukan, geleng ia” :)

    Farijs van Java berkata,
    dasar adek ni…

    (^_^)v

    Balas

  4. Wah, belum pernah ke pusdiklat BC. Kayaè nyaman ya, bersih gitu. BTW, aku suka pohonnya.

    Zaman mungkin menyebabkannya menua, merontokkan daun-daunnya, mengeringkan dahan dan rantingnya. Namun zaman juga yang telah mendewasakannya.

    ^^

    Farijs van Java berkata,
    sekarang sih dah lumayan terawat, terlihat bersih dan rapi. pas awal2 masuk sini, lom gitu, mbak. sekarang dah ada banyak perbaikan. ada dibikin taman. tanaman2 hias banyak. bagus2 pula penataannya. banyak plang2 tulisan dipasang. banyak, lah.

    (^_^)v

    mungkin juga zaman telah mendewasakannya. tapi yang jelas, zaman telah membuatnya tua. hwehe. ingat mbak, mbak dah tua. tapi…. hoho.

    (^_^)v

    Balas

  5. pohonnya rindang banget.. apalagi ditambah tulisan di postingan dgn bahasa yang indah plus puitis :mrgreen:
    bener2 deh.. Pendekar Syair Berdarah

    Farijs van Java berkata,
    iya, emang bener2 rindang.

    (^_^)v

    wah, serem banget dibilang pendekar syair berdarah. hoho.

    (^_^)v

    Balas

  6. Posted by nie on 2 Juli 2008 at 13:20

    itu puunnya asri bener..
    kayaknya enak tuh klo duduk dibawahnya sambil minum kopi n makan pisang goreng. hehehe..
    Situ kok pinter sih nulis2 yang gaya gituan (puitis.red) ajarin laa :mrgreen:

    Farijs van Java berkata,
    welehweleh™…. ni aku lagi minum kopi ma makan pisang goreng. beneran. kok bisa nebak, sih? hoho.

    (^_^)v

    mustinya emang di bawah situ dikasih kursi taman. cuman sayang, kagak boleh. cuma jadi pajangan doang. sayang.

    (^_^)v

    ajarin apaan, ni? kan ga bisa farijs mah.

    Balas

  7. ingat mbak, mbak dah tua. tapi…. hoho.

    Tapi apa Ris ?!

    :(

    Farijs van Java berkata,
    tapi…tapi apa ya, enaknya? hwehehe. becanda, mbak.

    (^_^)v

    Balas

  8. puitis banget…

    Farijs van Java berkata,
    yah, baru bilang…

    (^_^)v

    Balas

Tanggapi posting ini