
Di tengah sabana yang luas sana telah tampak olehku sebuah pohon kehidupan. Indah dipandang; sungguh menyejukkan. Kudekati sang pohon kehidupan dengan langkah tergontai-gontai. Kakiku lunglai, kemudian kubersimpuh di hadapan sang pohon kehidupan. Dari dekat ia terlihat kokoh.
Kuamati bagian per bagian dari sang pohon kehidupan. Teguh kakinya mencengkeram bumi pertiwi. Batangnya kuat menahan hantaman sang bayu. Dahan dan ranting tampak menjulur rapi. Tapi entah mengapa, semakin lama kuamati ia, semakin aku tahu keganjilan padanya. Ia tak punya daun! Pahamlah aku bahwa daun-daunnya telah rontok; berguguran. Kusaksikan daun-daun layu berserakan di pangkuan sang pertiwi. Mengering.
Kusaksikan dengan mata telanjang sang pohon kehidupan itu telah gundul. Mahkota kepalanya tanggal, luruh karena zaman. Zaman memakan segalanya. Kerakusannyalah yang membuat sang pohon kehidupan menderita. Ketabahannya saja yang membuat ia bertahan.
Pelajaran dari sang pohon kehidupan. Zaman sangatlah perkasa. Takkan terkalahkan. Ketabahanlah yang membuat kita sebanding dengan sang zaman.
===
LIHAT JUGA:
“Pohon Kehidupan?” di Kacamata Semangat!
RSS - Posts
Posted by tintin on 1 Juli 2008 at 22:18
weleh itu photonya ambil di halaman mana ..??
Posted by adi isa on 2 Juli 2008 at 8:11
bener tuh,….ambilnya dimana sih?
katanya ditengah sabana yang luas,..tapi koq kayak di depan kantor elo
bro..he..he..he..,
but maknanya tetap ada, gue ngerti.
Posted by fairuzdarin on 2 Juli 2008 at 8:32
ngangguk-ngangguk… (sok paham ^^)
geleng-geleng… (sebenere ga paham ^^)
“angguk bukan, geleng ia”
Posted by fauziah85 on 2 Juli 2008 at 8:40
Wah, belum pernah ke pusdiklat BC. Kayaè nyaman ya, bersih gitu. BTW, aku suka pohonnya.
Zaman mungkin menyebabkannya menua, merontokkan daun-daunnya, mengeringkan dahan dan rantingnya. Namun zaman juga yang telah mendewasakannya.
^^
Posted by gunawanwe on 2 Juli 2008 at 12:59
pohonnya rindang banget.. apalagi ditambah tulisan di postingan dgn bahasa yang indah plus puitis
bener2 deh.. Pendekar Syair Berdarah
Posted by nie on 2 Juli 2008 at 13:20
itu puunnya asri bener..
kayaknya enak tuh klo duduk dibawahnya sambil minum kopi n makan pisang goreng. hehehe..
Situ kok pinter sih nulis2 yang gaya gituan (puitis.red) ajarin laa
Posted by fauziah85 on 2 Juli 2008 at 13:55
ingat mbak, mbak dah tua. tapi…. hoho.
Tapi apa Ris ?!
Posted by fairuzdarin on 4 Juli 2008 at 12:41
puitis banget…