Saudara-saudara, setujukah kalian kalau semangka itu hijau?
Kembali aku menemukan sebuah jargon penyemangat baru: “Karena semangka itu hijau, Bung!” Semangka hijau? Terang saja, pernyataan ini langsung banyak mengundang protes. “Semangka itu merah, malah sekarang ada yang kuning,” begitu kata mereka yang kontra. Kalau semangka itu merah, lantas apakah apel itu putih?? ![]()
Jargon baru ini sejalan dengan pemikiranku yang lain, yang juga mungkin berseberangan dengan pemikiran kebanyakan orang. Alih-alih “don’t judge the book by its cover”, aku lebih memilih “judge the book by its cover”. Hakimilah buku dari sampulnya. Secara harfiah pemikiran ini bisa langsung kuterapkan. Saat di toko buku, aku cenderung membeli buku-buku yang memiliki sampul menarik. Sampul buku akan menarik bagiku jikalau ia simpel namun elegan, terdapat proses kreatif di dalamnya. Untuk hal ini sudah tentu selera masing-masing orang berbeda. Isi dan tema buku adalah hal ketiga yang kunilai setelah kulihat juga layout atau perwajahan.
Penerapannya dalam hal lain adalah nilailah orang dari fisiknya. Bukan maksudnya aku penganut paham lebih mementingkan fisik semata, namun aku ingin menerapkan sebuah falsafah dalam kehidupanku. Bahwa untuk menjadi seseorang yang bagus, bagusilah penampilanmu dulu. Orang akan menilai dari penampilanmu lebih dulu. Setuju?
Aku ingin terlihat dewasa. Makanya aku memelihara jenggot. /Kok malah jadi mirip kambing kurban, yak?
/ Aku ingin terlihat lebih dewasa lagi. Aku pelihara juga kumis. /Kok malah jadi kek bapak-bapak, yak?
/ Biarlah dikata orang aku ini tua. Tapi inilah aku. Inilah pangeran dombaku.
Karena itulah, sekarang aku mencoba untuk lebih memerhatikan penampilan. Tak lagi acuh tak acuh cenderung kemproh seperti dulu lagi. Kucoba memilih baju yang bagus. Kucocokkan warna baju dengan celana, biar matching. Kucoba untuk tampil maksimal, tak harus apa adanya. Yah, semoga usahaku ini berhasil. Doakan ya, Saudara-saudara! ![]()
===
Buset, dah. Puasa panas-panas gini ngomongin semangka. Jadi aus… ![]()

Watermelon from 4photos.net
===
Glosarium:
- Pangeran Domba = Prince Sheep = prinsip
- Kemproh = tidak rapi
RSS - Posts
Posted by Takodok! on 15 September 2009 at 18:10
Soal buku, sedikit banyak setuju. Cover jadi salah satu pertimbangan, termasuk ringkasan kan ada di cover
Jadi bukan masalah thok penampilan saja, tapi pengejawantahan isi yg baik ke penampilan yg pas
Posted by Farijs van Java on 15 September 2009 at 21:07
yah, betul. seperti itulah maksudku. pengejawantahan!
v(^_^)
jadi berasa kek bung karno aja bilang pengejawantahan. hwehe…
Posted by coretanpinggir on 15 September 2009 at 19:57
“sekarang aku mencoba untuk lebih memerhatikan penampilan. Tak lagi acuh tak acuh cenderung kemproh seperti dulu lagi”
Aku dukung, tapi jenggot dan kumis dicukur juga biar lebih rapi
Posted by Farijs van Java on 15 September 2009 at 21:11
mungkin gak dicukur aja kali, yak. pan ada maksud di balik eksistensi jenggot ama kumis. dirapiin aja, cukuplah. jangan kek si peppy ato ahmad dhani itu. kalo ditata dan dirapikan juga bakalan terlihat bagus. gitu gak, sih?
v(^_^)