Hujan belakangan ini kembali mendera jalanan Jakarta, seakan-akan tumpah ruah begitu saja setelah kira-kira dua bulan lamanya tertahan di angkasa. Agaknya musim penghujan yang datang terlambat ini telah membawa serta kumpulan uap air dari lautan dimana-mana untuk sekonyong-konyong dikucurkan semua ke atas kota megapolitan ini.
Hujan di bulan November ini agaknya memang perlu diwaspadai karena kehadiran hujan yang serentak di kota-kota sekeliling Jakarta sungguh mungkin akan membawa ancaman banjir kiriman. Beberapa hari belakangan ini hampir tiap malam hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah, membawa ancaman datangnya banjir karena sistem saluran air yang belum tertata dengan baik.
Begitu pula yang terjadi pada malam hari ini. Langit malam begitu hitam, tidak saja karena bulan mati, tetapi mega mendung yang sudah sedari sore berkumpul tak jua beranjak pergi, seolah-olah ingin mencurahkan segala air yang dikandungnya sampai habis meski itu berarti akan membutuhkan waktu hingga esok pagi.
Di saat malam kelam lebam tanpa bintang maupun sinar rembulan ini, seorang pemuda mulai menangis. Suara rintik hujan di luaran seolah-olah menelan rintih tangisnya. Kutahu ia bukanlah orang yang dengan gampangnya meneteskan airmata. Ia dibesarkan di dalam lingkungan yang tidak memperbolehkan anak laki-laki manapun membasahi pipinya dengan airmata, bahkan jikalau orangtua terkasihnya meninggal sekalipun. Namun entah mengapa, malam ini begitu gampang airmata pemuda itu meleleh, meski sudah belasan tahun lamanya airmata tak sekalipun merembes ke luar dari matanya. Malahan ia sendiri mengira kantung airmatanya telah kering dengan sendirinya sedari lama.
Apa yang membuat seorang pemuda yang telah lama tidak menangis itu lantas tiba-tiba menangis? Sudah pasti karena perkara yang sedang menimpanya teramatlah berat untuk ia tanggung; suatu perkara yang telah menggoyahkan kekokohan hatinya begitu rupa. Bagaimanapun tegarnya pemuda itu, toh airmatanya keluar juga.
Ternyata pemuda itu sedang menangisi dirinya sendiri, menangisi betapa kelemahan hatinya telah membuat ia sebegitu merana. Ia merasa hatinya tidak mampu memendam cukup dalam sebuah rasa. Rasa apakah gerangan?
Rasa ini telah hinggap di hati sang pemuda cukup lama. Sudah enam tahun lamanya rasa ini mendiami hatinya dan kemudian berkembang. Adalah semacam rasa rindu yang bergelora yang telah tertambat dalam hati sanubarinya itu.
Enam tahun yang lalu pemuda itu berjumpa dengan sesosok gadis belia. Pada perjumpaan pertama dengan gadis itu, sang pemuda begitu terpesona. Dalam kenangnya, gadis itu begitu anggun penuh daya tarik yang memikat. Tak ayal sepertinya kalau ia kemudian jatuh hati kepada si gadis.
Ia mencintai seorang gadis yang hanya pernah ia temui sekali dalam mimpinya itu! Ya, gadis itu hanya muncul dalam mimpinya, muncul dengan begitu saja dengan begitu rupa pada suatu malam saat ia masih duduk di bangku SMA. Kalau hanya dalam mimpi, bukankah gadis itu sebenarnya tidaklah nyata? Bahkan, tidak pantas kiranya kalau sesosok dalam mimpinya itu disebut sebagai seorang gadis. Karena segala sesuatu yang terjadi di dalam mimpi seseorang bukanlah kejadian nyata yang senyata-nyatanya benar-benar terjadi. Pemuda itu pun tahu akan hal ini. Namun toh ia menganggap gadis itu ada pada dunia nyata, hidup entah di belahan bumi bagian mana, dan pasti akan ia jumpai kembali dalam kehidupannya di masa depannya. Kupikir pemuda itu sudah nyaris gila!
Begitulah selama enam tahun sang pemuda menjalani kehidupan sebagaimana biasa. Setelah lulus dari SMA, ia pun melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi, sama seperti halnya teman-temannya yang lain. Setelah menamatkan pendidikannya, ia kemudian bekerja. Tak banyak beda jalan kehidupannya dengan orang-orang kebanyakan. Namun dalam kehidupannya selama enam tahun ini ia masih memendam rasa itu. Dengan penuh sungguh ia berharap menemui si gadis yang ia temui di dalam mimpinya terdahulu. Sebenarnya ia bahkan telah lupa akan rupa gadis itu, namun rasa itu tidak begitu mudah ia lupakan juga. Dengan rasa rindu yang membuncah itu, penuh harap ia berdoa agar dipertemukan “kembali” dengan si gadis pujaan. Atau mungkin lebih tepat bisa disebut sebagai gadis impian, karena si gadis tercipta dalam mimpinya.
Meski telah lupa akan rupa gadis impian itu, sang pemuda takkan pernah lupa akan namanya. Dalam mimpinya waktu itu, ia berulang kali memanggil-manggil si gadis: “Ais! Ais!”
…
RSS - Posts
Posted by Joko on 16 November 2009 at 9:53
Aisyah (thinking)
Posted by Farijs van Java on 16 November 2009 at 10:38
halah, sok kakean mikir barang…
Posted by achoey on 16 November 2009 at 10:51
Ais kalo di balik jd Sia
Hehehe
Posted by Farijs van Java on 16 November 2009 at 20:54
sia saha atuh kang?
Posted by itikkecil on 16 November 2009 at 15:11
kirain manggil Farijs… cuma karena cedal jadinya ais
*maksa banget*
Posted by eliabintang on 16 November 2009 at 20:42
memang laki2 ga akan jatuh karena kekerasan tapi justru karena keindahan.. eiya ujannya bikin bete tapi. banjir, macet, lampu merah mati.. pemerintah ga becus ngatur kota dan apalagi ibukota loh..
salam kenal yah!
Posted by Farijs van Java on 16 November 2009 at 21:09
ah, kak ia bisa aja… :p
Posted by Farijs van Java on 16 November 2009 at 21:17
salam kenal…
waspada juga ama sakit. jaga daya tahan tubuh supaya kita bisa menikmati keindahan. hwehe…
Posted by coretanpinggir on 19 November 2009 at 18:59
“Apa yang membuat seorang pemuda yang telah lama tidak menangis itu lantas tiba-tiba menangis?”
Selain masalah wanita, ya… mungkin mikirin kosan yg nunggak 6 bulan… he..he…he…he….
(cuma di mimpi he…he..he…)
Semoga Ais muncul lagi di mimpi-mimpi berikutnya…..
Posted by Farijs van Java on 21 November 2009 at 14:12
hwehe… jadi malu… (blush)
jah, jangan di mimpi doang dong doainnya. moga bisa ketemu di dunia nyata…