Seni Kepercayaan yang Lunglai

Kutarikan jempol-jempolku di atas deretan tombol pada tubuh Kak Ria. Susah payah padahal. Karena sebatang tubuhku tak lagi kaku melainkan seperti bencong tulang lunak: lunglai.

Sudah pukul satu dini hari lewat sekian menit mataku susah terpejam. Kuyakin bukan karena kopi hitam pahit yang kutelan tadi pagi. Pun sungguh tidak mungkin gara-gara burger kecil yang kukunyah tadi siang.

Selepas maghrib tadi aku menatap layar monitor komputerku tanpa jemu. Memerhatikan sekuntum dokumen Word yang hampir mekar. Aku tak bisa beranjak karena penuh dengan permainan Gaya dan penomoran. Ternyata memang besok di kantor barulah ia akan mekar.

Apakah kalian sudah memasuki alam barzah, eh, mimpi, Saudara? Sungguh beruntunglah kalian yang tidak pernah dijebak oleh insomnia. Kuceritakan kepada kalian bahwa dahulu kala insomnia berteman akrab dengan begadang. Agaknya kekariban mereka merenggang manakala insomnia tidak terpilih dijadikan sebuah judul lagu.

Kalian tahu tidak kalau ternyata menahan seni di selangkangan itu tidak baik buat ginjal? Karena itu kusarankan sebelum kalian tidur, lepaskanlah segala kesenian kalian itu laksana rintik-rintik hujan. Sebelum tidur tadi kalian sudah membuangnya, bukan? Jangan tuntut diriku jikalau kalian mengompol, ya. Sudah kuperingatkan pokoknya.

Rajin sekali WordPress, dini hari begini sudah mengirimiku surat. Isinya adalah topik Post a Day untuk hari ini:

How do you recover lost trust? In a person? In an idea?

Bonus: If someone lets you down or betrays you, how do you learn to forgive? And can you possibly learn to trust them again? Why or why not?

Jujur kukatakan kepada kalian yang sedang menjahit mimpi, bahwa aku adalah orang yang tidak mudah sembuh dari penyakit dikecewakan. Sekali seseorang berkhianat kepadaku, sekali itu pula aku percaya bahwa orang seorang itu telah menancapkan paku di hatiku yang tak bisa dicabutnya lagi.

Di hatiku telah banyak tertancap paku yang mayoritas sudah karatan, membuatku harus ekstrausaha menjaga ginjal. Maka daripada itu, izinkanlah aku untuk sejenak saja mengguyur Mister Toto dengan segayung dua gayung air. Terima kasih.

2 pemikiran pada “Seni Kepercayaan yang Lunglai

  1. kau meninggalkan ku begitu saja tanpa sepatah kata perpisahan pun hanya karena seni

    • Karena seni itu indah, Pin. Tiada perlu untuk dipertontonkan apa lagi dirasakan. :D

Silakan berkomentar sesuka hati

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s