Dear semangat!
Aku sekarang sedang menyesap secangkir kopi hitam di sebuah toko donat. Nikmat sekali. Kukunyah pula beberapa potong muffin.
Kau ingin kuceritakan kejadian tadi malam? Malam tadi itu aku pulang naik angkot dari membeli sepatu baru di tempat yang jauh. Aku duduk di belakang, di sisi kiri. Di hadapanku sudah ada seorang kakak (perempuan) berkerudung hitam. Jendela di belakangnya dibiarkannya terbuka, sementara jendela di belakangku kututup agar supaya aku tidak masuk angin.
Maka menerpalah aroma si kakak itu ke arahku. Harum semerbak kuhidu aroma mewangi itu. Wangi kamboja!
Iseng kusebarkan kabar ini kepada beberapa orang kawan via SMS. Bermacam-macam tanggapan dari mereka. Kebanyakan menyuruhku untuk menginvestigasi si kakak itu apakah benar dia manusia ataukah arwah gentayangan. Ada-ada saja.
Seorang kawan menanyakan apakah kaki si kakak menyentuh lantai mobil ataukah tidak. Kujawab bahwa kakinya menyentuh sandal dan rok hitam panjangnya saja. Lantas kutanyakan apakah itu berbahaya.
Kuperhatikan kakak itu tertidur. Manis sekali kulihat ia dari samping. Hidungnya mancung, pipinya subur. Di tengah pipi kirinya terdapat jerawat merah yang makin menambah manis wajahnya.
Bulu matanya begitu panjang; lentik. Mulutnya kecil. Entah bagaimana si kakak ini kalau makan; apakah bisa?
“Tunggu sampai dia turun, menyentuh tanah atau tidak.” SMS datang.
Entah mengapa aroma kakak ini mirip aroma kamboja. Bukannya merinding, badanku malah menjadi segar.
“Punggungnya bolong nggak?” Sebuah SMS yang lain lagi masuk ke kotak masuk Kak Ria (ponselku).
Kuperhatikan bagaimana ia tidur. Dengkurannya nyaris tak terdengar. Entah mengapa waktu terasa begitu lambat berjalan. Hatiku nyaman dan tenteram. Dan tidak sampai-sampai angkot ini ke tempat pemberhentian terakhir. Tentu saja, karena jalanan macet. Oke.
“Tangannya nempel di dinding gak?” SMS ini kubalas saja begini: “Sepertinya dia belum menguasai jurus tokek merapat di dinding bersama cicak. Jadi tangannya duduk di pangkuannya saja.”
“Lantas **kongnya duduk dimana?” (doh)
Angkot berhenti. Kakak itu pun terbangun. Rupanya angkot berhenti karena ada penumpang baru yang akan naik: tiga orang dan satu monyet. Ya, monyet yang suka memakai topeng itu. Jadilah sekarang angkot itu penuh.
Si kakak tersenyum geli melihat si monyet itu. Begitu pula seorang ibu di sebelahnya. Juga seorang bapak di sebelahnya lagi. Juga seorang kakak berkerudung yang lain lagi di sebelahnya. Rupa-rupanya semua penumpang angkot tersenyum melihat monyet itu. Lucu, barangkali.
Tapi tidak denganku. Aku tersenyum karena melihat kakak di hadapanku itu tersenyum. Manis sekali.
Monyet memang makhluk kontroversi. Kadang disiksa, kadang dianggap lucu. Kadang dihina, kadang menjadi bahan hinaan. Kasihan terkadang monyet itu, sering dipersamakan dengan manusia.
Sering kudengar orang memaki orang lain dengan perkataan “Monyet lu!” dan kemudian berpikir barangkali monyet pun kalau memaki memakai kata-kata: “Dasar orang lu!” dengan bahasa mereka sendiri. Tentu saja aku tidak pernah mendengar ada monyet memaki semacam itu karena memang tidak tahu bahasa mereka.
Tidakkah orang-orang yang memakai monyet sebagai makian itu sadar bahwa di beberapa belahan bumi sana terdapat pula orang-orang yang memuja dan menyembah monyet? Mereka percaya bahwa monyet-monyet di segala penjuru bumi itu adalah kawanan dan bala tentara seekor monyet albino yang sangat hebat itu. Anoman pernah membantu Rama menyelamatkan Sinta! Hebat sekali monyet. Janganlah dijelek-jelekkan.
Si monyet yang seangkot denganku itu cukup lincah. Habis dapat uang banyak rupanya dia.
Naiklah seorang pengamen menggenjrengkan gitar dan bersenandung (atau bergumam?). Setelah selesai melakukan tugasnya, tak seorang pun (dan seekor monyet pun) di dalam angkot memberinya uang, kecuali kakak manis di hadapanku. Maka aku pun tersenyum demi melihatnya yang semakin manis dan beraroma kamboja.
Kedua telingaku sudah ditutup rapat oleh earphone iRhyme-ku. Maka aku merasa tidak perlu membayar atas segala suara yang dikeluarkan pengamen itu.
Pikir pikir apanya apanya apanya dong
Yang sebelah mana
Sesuatu yang sangat menarikPikir pikir apanya apanya apanya dong
Dia punya apa
Sungguh mati aku tertarikMungkin itu rambutnya, dahinya
Semuanya biasa saja
Coba aku lihat lagi
Yang mana yang menarikMungkin itu matanya, hidungnya
Semuanya biasa saja
Makin aku memandangnya
Makin aku jatuh hatiSeurieus – Apanya Dong
From Us to U
Ya, kudengarkan lagu Apanya Dong ini pada saat itu. Tidak sengaja. Oh, betapa tepat sekali dengan keadaanku saat ini. Sungguh aku adalah orang yang penuh cinta dan lemak.
Lantas masuklah seorang kakak berambut panjang yang beraroma melati. Benar-benar wangi melati. Melati yang sering digunakan pada acara tabur bunga itu. Maka kutunggu saja mana tahu sebentar lagi akan masuk seorang kakak beraroma wangi kemenyan. (doh)
Kusesap sesekali secangkir kopi hitam yang nikmat ini. Sudah tidak panas lagi sekarang.
Hari ini, saat ini, seharusnya aku tidak berada di sini, semangat!. Kau tahu kan, hari ini ada kondangan. Sebuah resepsi pernikahan seorang kawan. Ya, seorang. Kawan.
Lalu mengapa aku malah di sini, di toko donat ini? Entahlah, aku juga bingung. Entah pula aku dibutuhkan di sana ataukah tidak. Entah pula aku secara resmi diundang untuk makan di sana ataukah tidak. Aku memutuskan untuk tidak berangkat.
Memang kelakuanku ini tidak patut kau tiru. Aku juga merasa malu kepada diriku sendiri. Tapi memang begitulah keputusanku.
Saat ini mungkin kawan-kawanku sedang mengantre di suatu stand makanan atau mungkin sedang berfoto. Sedang aku hanya menyesap secangkir kopi. Oh ya, tak lupa sebuah muffin cokelat yang lezat ini.
Aku kecewa. Kepada diriku. Kepada celana jins ini pula, yang begitu sesak menyiksa pahaku. Mereka pasti kecewa pula kepada diriku. Tapi barangkali tidak kecewa dengan celana jinsku.
Oh iya, harusnya di sana aku bisa bertemu dengan anak-anak kawan-kawanku yang lucu-lucu. Tentunya yang lucu adalah anak-anaknya. Bisa pula bertemu dengan dia yang sedang mengandung itu. Tentulah yang dikandungnya itu akan menjadi anak yang lucu pula.
Entah kapan aku punya anak yang lucu.
Aku merasa senang menjadi seorang diri seperti saat ini. Dengan earphone iRhyme di kedua telinga. Dengan lagu-lagunya The Panasdalam yang kocak dan menghibur. Entah kapan lagi aku akan merasa senyaman ini.
Di atas sana langit berawan. Sama seperti di dalam hatiku.
Maafkan aku, semangat! Kau terpaksa harus mendengarkan celotehanku ini.
aih aih…bagaimanakah kiranya bila tulisan ini dibaca oleh sang calon istri?!
Tulisan yang mana? Sang calon istrinya siapa?