Karena tidak mendapatkan banyak tanggapan dari tulisan Bahasa Semua Bangsa yang terdahulu, ada baiknya aku kritiki sendiri.
Ada sedikit perubahan pemikiran atau sudut pandang dalam diriku yang menjadikan aku menerima mereka yang latah berbahasa asing. Aku kemudian memahami bahwa sebagian dari mereka itu menggunakan bahasa asing di dalam negeri adalah dalam rangka belajar dan memperdalam keahlian berbahasa asingnya. Sebagian dari mereka memiliki alasan agar pengetahuannya akan bahasa asing tidak menurun atau bahkan hilang begitu saja karena lupa dan tidak terbiasa.
Alah bisa karena biasa, bukan? Practice makes perfect, kan begitu?
apapun bahasanya. yang penting tidak lupa sama akar budayanya
Wah, betul juga itu.
hmmm sebetulnya ngga selalu begitu. Justru otak kita harus dibiasakan berkata dengan bahasa yang tepat untuk orang/masyarakat yang tepat. Bahasa sama dengan berenang, sebetulnya tidak akan menurun kemampuannya, hanya perlu “refreshment” saja
Haha. Maksud tulisan yang Bahasa Semua Bangsa ya begitu, Bu, salah satunya. Harus tepatlah kita dalam berbahasa.
Bahasa, kalau sudah lama tidak dipakai, terkadang banyak yang dilupakan juga, Bu. Lama meninggalkan Pekalongan, beberapa kata “bahasa” Pekalongan pun banyak yang terlupakan. Ketika menemukan kembali kata yang terlupakan itu pada saat pulang kampung, saya benar-benar seakan baru tahu arti kata tersebut, Bu. Tapi memang berbahasa itu semacam berenang atau bersepeda. Tinggal “dipanasin” lagi saja kalau sudah lama tidak digunakan.