Tentang Farijs van Java

Tiada hari tanpa secangkir semangat dan setetes kopi!

Ide: Jam Dinding

Ide ini tercetus begitu saja, Saudara.

Adalah jam dinding berbentuk piringan bundar, seperti standarnya jam dinding zaman sekarang. Tidak ada angka. Hanya ada satu jarum, yaitu jarum penunjuk hitungan jam. Tidak ada jarum penunjuk menit maupun detik.

Papan bundar sebagai latar belakang satu-satunya jarum yang ada tersebutlah yang dapat menunjukkan menit. Papan akan berubah warna tergantung menit keberapa pada saat itu. Warna merah adalah penunjuk menit pertama, demikian seterusnya warna berubah mengikuti spektrum hingga warna biru sebagai penunjuk menit keenam puluh atau kenol.

Sekian. Selamat berimajinasi.

Interaksi Digital

Kalian punya tangan, kepala, dan perangkat komputer, Saudara?

Senada dengan postinganku beberapa waktu lalu mengenai Tangan = Masa Depan Kita dan Teknologi Visual Semakin Maju, berikut ini aku beritakan kepada kalian bahwa telah ada cara baru untuk berinteraksi.

Disebut sebagai Leap, alat ini dikatakan sebagai alat untuk berinteraksi dengan komputer secara benar-benar baru, tidak perlu lagi menggunakan tetikus, papan tik, bahkan layar sentuh. Silakan menyaksikan video berikut untuk melihat demonstrasinya, atau untuk mengetahui lebih lanjut, hubungi saja situs resminya.

Setelah melihat video di atas, yang kubayangkan adalah layar-layar transparan dalam film The Avengers atau Iron Man. Bisa jadi alat ini adalah sebuah awalan menuju ke arah sana. Kan begitu?

Akan tetapi, Saudara, tetap saja aku masih saja berpikir bahwa cara berinteraksi semacam itu sungguh akan melelahkan tangan. Kan lebih mudah mengetik atau bermain sebuah permainan menggunakan tetikus dan papan tik sehingga lengan dapat disandarkan di atas meja?

Nah, satu lagi yang ingin aku beritakan kepada kalian, Saudara. Lanjut membaca

Biang Keringat: Antara Mitos dan Lainnya

Saudara tahu apa itu biang keringat? Silakan jelaskan definisi masing-masing dari kalian mengenai biang keringat. Cukup di dalam hati saja, tidak perlu keras-keras.

Aku dahulu sering dilarang oleh orang-orang tua agar jangan mandi ketika sedang berkeringat. Katanya dengan begitu akan tumbuh biang keringat pada sekujur tubuhku. Apakah ini benar? Ataukah hanya sebuah mitos?

Bagi kalian yang diberkahi dengan akal budi yang baik atau sekadar akses untuk mencapai ilmu pengetahuan, silakan untuk mencari tahu kebenarannya. Aku sendiri sempat berpikir seandainya mitos tersebut benar, petunjuk yang mungkin antara lain keringat, pori-pori, penyumbatan, minyak, dan suhu badan.

Berhubung kulitku pada perih dan gatal-gatal, aku hanya dapat menyimpulkan bahwa biang keringat adalah juga biang kesal ingin menggaruk. Kan begitu?

Remaja

Adalah seorang James T. Siegel (yang entah memiliki hubungan kekerabatan dengan Steven Siegel atau tidak) yang mengatakan bahwa seseorang tidak serta merta menjadi remaja karena berusia muda, tetapi karena memiliki selera dan aspirasi yang menandakan bahwa dirinya seorang remaja.

Maka remaja masjid adalah mereka yang hati dan jiwanya selalu terpaut dengan masjid; senantiasa meramaikan toilet masjid, mengadakan rapat di beranda masjid, memarkir sepedanya di pelataran masjid, dan melaksanakan salat Jumat di dalam masjid.

Sedangkan remaja masa kini adalah mereka yang hati dan jiwanya selalu terpaut dengan masa kini; senantiasa menutupi masa lalu, tidak pernah memikirkan masa depan, dan menjalani kehidupannya di masa kini, karena toh kita selalu berada di masa kini yang hari sebelum ini selalu disebut sebagai kemarin dan hari sesudah ini selalu disebut sebagai esok hari.

-

Farijsvanjava,
Dalam upaya rehat ketika membaca buku “Dilarang Gondrong!: Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an” buah karya Aria Wiratman Yudhistira yang diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Sayap Kanan vs Sayap Kiri

Sejatinya, apakah makna sebenarnya dari pembedaan istilah golongan sayap kanan dan sayap kiri, karena toh ternyata golongan sayap kiri ada juga yang antikomunis dan yang kanan ada yang antiliberal? Pembedaan yang tegas sangat diperlukan mengingat tuntutan dari para penggemar ayam yang bingung ketika harus menentukan pilihan di kedai-kedai ayam goreng, apakah memilih sayap kanan atau yang kiri.

What a name?

Selamat berpulang ke asal atau ke kampung halaman, Saudara. Tentu saja bagi kalian yang melaksanakannya.

Ada seorang klien meminta dicarikan nama untuk anak perempuannya yang belum lahir. Dalam hati aku bertanya: Bagaimana itu nama bisa hilang kalau si anak belum pun lahir di dunia?

Aku usulkan sebuah nama yang indah: Laras Permata Dewi. Kan menurut kalian juga itu sebuah nama yang bagus? Namun si klien menolak usulanku dengan alasan takut anaknya diejek dengan sebutan “Senjata Laras Panjang”.

Baiklah, aku usulkan kemudian sebuah nama yang tak kalah bagusnya: Amanda Kartika Sari. Kan kalian juga tidak bertentangan denganku akan nama yang bagus itu? Si klien lagi-lagi menolak, Saudara. Ia beralasan nama tersebut terlalu beraroma kue dan hidangan kecil.

Si klien lalu memberikan instriksi yang lebih spesifik, yaitu dicarikan nama yang modern dan terdengar berteknologi tinggi. Untuk itu aku sampaikan sebuah nama indah kepadanya: Sinyal Parabola. Klien yang satu ini menyukai nama yang belakang. Terdengar seperti bintang telenovela, katanya. Akan tetapi ia tidak menyukai nama yang depan karena takut dipelesetkan menjadi “Siyal”. Dengan demikian gugur pula hasratku untuk mengusulkan nama Eksponensial Algoritma. Lanjut membaca