Limabelas Mei Tigabelas

Allâhu Akbar! Allâhu Akbar! Lâ ilâha illallâh!

Samar-samar kudengar suara itu. Iqamat.

“Hah? Mengapa aku ada di sini? Aku ini siapa? Apa hal terjadi dengan diriku?”
Seperti itulah barangkali kalau aku hidup di dalam sinetron.

Sepertinya ada sesuatu di kakiku dan sesuatu itu bergerak-gerak. Apakah?
Kugerakkan kakiku. Oh, ternyata masih bisa.
Tiba-tiba mak srantal, sesosok makhluk menjauhiku;
seperti kaget bahwa ternyata aku masih bernyawa.
Betul, Saudara. Makhluk itu ternyata adalah sesuatu bergerak-gerak di kakiku tadi.
Rupa-rupanya tikus. Sudah hitam, dekil, besar pula.

Tanpa perlu pendahuluan “kurasakan”, kaki sakit. Perutku jauh lebih sakit.
Apalagi kepalaku: pening dan pusing menyatu.
Aku hanya punya dua tangan. Maka tangan kiriku kupegangkan ke kepala.
Sementara itu lengan kananku tak bisa kugerakkan.
Pantaslah, Saudara, karena ia tergencet gajah badanku.
Lengan kananku lecet.

Tanganku lecet. Entah bagaimana.

Tanganku lecet. Entah bagaimana.

Kalian masih belum mengerti? Lanjut membaca

Pena Lama Ditemukan

Akhirnya aku menemukan pena lamaku.

Kalian tahu ia ada di mana? Ternyata ia bersembunyi di laci meja kantor. Aku bilang pernah punya pena murah dengan kondisi patah di sambungan dan batangnya, kan? Nah, ternyata tidak patah melainkan longgar di sambungannya itu, Saudara.

Awan mendung tidak jadi datang sore ini karena ada banyak hal bisa kuceritakan mengenai ini pena. Ujung penanya tajam, sama sekali tidak lembut kalau digunakan untuk menulis. Maka jangan sekali-kali berpikiran menggunakan ujung penanya untuk kerokan. Terukir tulisan semacam Sailor dan F-8. Sailor si pembuat pena itu? Tetapi tanpa logo jangkar. Aneh, bukan? F barangkali untuk tiFis. Lanjut membaca

Pena

Sudah semenjak kecil aku tertarik dengan pena.

Waktu kecil, pertama kali aku tahu bahwa alat tulis tak hanya pulpen dan pensil. Ada pula pena. Pamanku memperkenalkannya.

Waktu membesar \beranjak besar, maksudnya\ ada seorang kawanku sekelas membawa tinta ke mana-mana. Rupa-rupanya dia pakai pena.

Kemudian aku pun membesar dan semakin besar. Suatu hari aku melihat pena di deretan pulpen-pulpen dan pensil. Langsung aku beli pena itu. Pena murah itu kupakai beberapa waktu untuk kemudian patah di sambungan pegangan dan batangnya.

Aku kemudian membeli pena baru. Kali ini pena untuk menulis indah alias kaligrafi. Dengan pena ini aku pun sukses mengguratkan tulisan-tulisan aneh dan mencoret beberapa baju.

Hari berganti hari, bulan berubah tahun. Sebulan lalu aku pun membeli pena baru (untuk menulis). Bentuknya mirip dengan pena murah waktu itu. Aku pun lantas mulai mempelajari perihal pena. Ternyata pena itu beraneka ragam, beraneka bentuk, dan beraneka tingkat kemahalan.

Karena penasaran, maka aku pun memutuskan untuk membeli pena lagi. Akhir pekan kemarin aku pun memutuskan untuk membeli pena baru. Maka betapa sungguh beruntung aku di saat membeli pena itu karena aku mendapatkan kesempatan mengambil undian. Ternyata aku memenangkan sebuah pena lagi. Oh, oh~

Pena-penaku

Pena-penaku

Begitulah kisah pena-penaku. Bagaimana dengan penamu?