Kalian tahu bunga? Konotasinya bagus, bukan? Bunga anggrek, bunga melati, bunga rampai, dan bunga desa.
Lantas mengapa ada bunga pasir? Siapa pencipta ungkapan (idiom) ini? Hayo, siapa, Saudara?
Kalian tahu bunga? Konotasinya bagus, bukan? Bunga anggrek, bunga melati, bunga rampai, dan bunga desa.
Lantas mengapa ada bunga pasir? Siapa pencipta ungkapan (idiom) ini? Hayo, siapa, Saudara?
Kutuliskan postingan ini dalam keadaan selangkangan menahan beban air kecil. Sementara di luar sana hujan turun tak berkesudahan seperti kasih ibu kepada beta, karena tak terhingga sepanjang siang ini. Telingaku tidak saja khusyuk mendengarkan orkestra alam ini melainkan juga Simfoni Nomor 7-nya Beethoven (Beethoven’s Symphony No. 7, Opus 92 opening). Adapun teh tubruk di gelas sudah pada masanya mendekati satu tegukan terakhir.
Di hadapanku tergeletak satu buah salak sehingga aroma segarnya terhidu dengan sedapnya. Di sampingnya terdapat buku catatan tempatku mencatatkan kata-kata arkais dan segala hal mengenai Org Mode dan LaTeX. Itulah sejatinya rencanaku dari semula. Sehingga apabila di lain hari buku catatan itu tiada lagi mencatat hal-hal tersebut melainkan hal-hal lain, maka jangan salahkan anjing menggonggong.
Semenjak hari pertama aku memiliki buku catatan itu, semenjak itu pula aku kecewa. Buku catatan semahal itu seharusnya menyenangkan untuk ditulisi, bukan? Akan tetapi kenyataan telah berkata lain, Saudara. Buku catatan tersebut tidak menyenangkan apalagi mengasyikkan karena kertasnya gampang berdarah (bleed-through) alias tertembusi oleh tinta merahku. Haruskah aku menderita karenanya? Oh, tentu saja tidak perlu.
Izinkanlah aku untuk sejenak bercerita, Saudara. Dalam rehatku bolak-balik ke toilet, Saudara.
Kalian tahu bukan kalau aku tidak tahan dengan makanan pedas? Sejak kecil, kalau menyantap makanan pedas, maka aku akan bereaksi begini: mulut megap-megap menggumamkan “huah huah” sambil lidah sedikit dijulur-julurkan, mata merem-melek-melotot, lalu kedua tangan menutup kedua telinga.
Karena menderita semacam itu, aku pun menolak makan makanan pedas. Tentunya dengan sedikit pengecualian. Sesungguhnya aku adalah pencinta sambal kacang. Maka segala makanan bersambal kacang, betapapun pedasnya, aku tak menolak. Lanjut membaca
Malam tak lagi purnama. Angin pesisir pun hijrah dari kota. Aku duduk seorang diri di sebuah bangku peron. Pengeras suara stasiun mempermaklumkan keterlambatan datangnya kereta apiku. Dalam keadaan demikian telingaku menyimak senandung radio:
Telah putus cinta kini patah hati ♪
Mau bunuh diri di rel kereta api ♫
\Haha! Ha yo kok bisa pas begitu, ya? Lagi nyawang rel, eladalah lagunya beginian.\
Itulah Rabu malam kemarin, Saudara, kelakuanku ketika hendak beranjak dari tanah kelahiran kembali ke Jakarta.
Kalau disimak-simak, ternyata nada lagunya Jaja Miharja berjudul Putus Cinta tadi mirip dengan lagu zaman kanak-kanakku dulu:
Aduh duh, aduh duh, sakit sekali ♪
Kesandung, kesandung, kesandung batu ♫
Kalian tahu lagu itu?
Ngendat. Artinya bunuh diri, Saudara. Pertama kali tahu kata ini ketika masih SMP, kalau tak salah ingat. “Ngendat” waktu itu adalah judul sebuah cerpen di Majalah Krida. Barangkali karena anggota KORPRI, Bapakku berlangganan majalah ini. Tiap kali beliau pulang kantor bawa majalah ini, langsung kubaca-baca. Pas itu kan lagi zaman-zamannya krismon. Jadi semua isinya hampir bersinggungan dengan krisis moneter itu. Ya beritanya, ya komik Kang Dakri-nya, ya cerpennya. Lanjut membaca
Saudara, kalian pernah merasakan hal di bawah ini?
Orang lain makan banyak sambal, tetapi kita terberak-berak sementara dia tidak. Kan kita tidak makan sambal?
Seperti itulah perasaanku sekarang ini. Terkhianati.
Allâhu Akbar! Allâhu Akbar! Lâ ilâha illallâh!
Samar-samar kudengar suara itu. Iqamat.
“Hah? Mengapa aku ada di sini? Aku ini siapa? Apa hal terjadi dengan diriku?”
Seperti itulah barangkali kalau aku hidup di dalam sinetron.
Sepertinya ada sesuatu di kakiku dan sesuatu itu bergerak-gerak. Apakah?
Kugerakkan kakiku. Oh, ternyata masih bisa.
Tiba-tiba mak srantal, sesosok makhluk menjauhiku;
seperti kaget bahwa ternyata aku masih bernyawa.
Betul, Saudara. Makhluk itu ternyata adalah sesuatu bergerak-gerak di kakiku tadi.
Rupa-rupanya tikus. Sudah hitam, dekil, besar pula.
Tanpa perlu pendahuluan “kurasakan”, kaki sakit. Perutku jauh lebih sakit.
Apalagi kepalaku: pening dan pusing menyatu.
Aku hanya punya dua tangan. Maka tangan kiriku kupegangkan ke kepala.
Sementara itu lengan kananku tak bisa kugerakkan.
Pantaslah, Saudara, karena ia tergencet gajah badanku.
Lengan kananku lecet.
Kalian masih belum mengerti? Lanjut membaca
Memiliki perut buncit membuatku berpikir maju ke depan. Seperti misalnya ketika sedang rapat di pagi hari ini, aku memikirkan kira-kira makan siang apa hendaknya harus kusantap nanti agar aku bisa berkonsentrasi dalam rapat ini. Kalian begitu juga, bukan?
Sini aku kabarkan kepada kalian. Berperut buncit itu memiliki banyak sekali kelemahan, Saudara. Kalian akan kesulitan untuk memotong kuku jari-jari kaki seorang diri. Kalian akan kesusahan duduk tahiyat akhir dengan baik dan benar. Kalian akan kerepotan mencari celana pendek maupun celana panjang. Kalian pun tidak akan gampang jongkok di pojokan toilet lagi.
Apapun itu, Saudara, mari kutunjukkan kepada kalian satu rahasia penting. Betapapun banyaknya kelemahan berperut buncit, tetapi semua itu akanlah sirna karena satu saja kelebihannya. Ingin tahu apa itu kelebihannya? Yaitu kalian akan senantiasa tampil seksi.
Setelah kudalami bidang perpulpenan, ternyata tidak banyak pulpen tersedia di tanah air. Di Gramedia Matraman saja, hanya ada Montblanc, Cross, Parker, Sheaffer, dan Faber-Castell. Rotring ada, tetapi pulpen kaligrafi saja.
Di luar sana, ternyata banyak pulpen beraneka rupa dan beragam rasa. Dari rasa jambu biji hingga stroberi. Dari pisang hingga durian. Sementara di sini? Diejeknya aku pakai pulpen. (doh)
Sekadar iseng ingin kubertanya kepada kalian. Jikalau kalian hendak mengenakan celana, lebih dahulu mana kalian lakukan: memasukkan pengaitnya atau menutup ritsleting?
Tiba-tiba pengen rujak. Ngiler~ Ces ces~