Bahas A Asing B Barat C Cina D Dongkrak

Beberapa waktu lalu aku menjumpai ada sebentuk surat perjanjian aneh. Ianya berbahasa linggis. Padahal perjanjian tersebut adalah antara dua perusahaan dalam negeri, \dimiliki orang Jawa pula,\ sama-sama penganut hukum Indonesia dan kalau makan memakai tangan alias tidak pakai sikil.

Pekerjaan sebagaimana disebut dalam surat perjanjian akan dilaksanakan di dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentu kalian juga tahu apabila bahasa resmi di sini adalah bahasa Indonesia, segala peraturan perundangan pun dibuat dalam bahasa Indonesia \kecuali barangkali hukum peninggalan masa kolonial masih berbahasa Belanda atau Melayu lama\. Maka sungguhlah aneh apabila surat perjanjian untuk melaksanakan pekerjaan tersebut menggunakan bahasa linggis untuk lantas wajib diterjemahkan oleh si penerima pekerjaan ke dalam bahasa Indonesia karena berurusan dengan dinas terkait setempat. Kan aneh?

Setelah ditelaah lebih lanjut, rupa-rupanya keanehan ini terjadi akibat si perusahaan pemberi pekerjaan telah melakukan perjanjian dengan perusahaan asing pengguna bahasa linggis. Tentu surat perjanjian mereka ini berbahasa linggis hingga membuatku berkomentar begini:

“Daya tawar bahasa Indonesia sungguhkah selemah ini terhadap bahasa asing? Bukankah jauh lebih murah membuat kedua surat perjanjian dalam bahasa Indonesia? Perusahaan asing itu, silakan dia menyewa penerjemah.”

Mantan

Dulu ketika SMA pernah diberi tahu mengenai nilai rasa suatu kata. Entah oleh guru bahasa entah oleh siapa, aku lupa. Mengenai peyorasi, ameliorasi, penyempitan makna, juga perluasan makna, dst.

Mengenai kata “mantan” dan “bekas”, Saudara. Dulu itu aku diberi tahu bahwa kata “mantan” digunakan untuk menggantikan kata “bekas” tertentu agar nilai kepantasannya lebih tinggi. Lantas baru saja aku membaca artikel pada laman Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan tajuk “Dari Manakah Asal Dan Makna Kata Mantan?“. Artikel ini membenarkan penggunaan kata “mantan” untuk menggantikan kata “bekas” apabila untuk menyebut profesi-profesi terhormat semisal mantan presiden, sementara kata “bekas” tetap dipakai untuk menyebut profesi-profesi kurang terhormat semisal bekas penjahat.

Sementara itu, aku baca hariandetik.com edisi sore kemarin, ada tertulis “Ajal Brutal Wanita Paling Berani: Bekas Wali Kota Tiquecheo…”. Bagaimanakah ini?

Dorongan Menarik

Sedikit ulas bahasa saja.

Kalian tahu apa itu motivasi? Semua dari kalian bisa jadi menjawab bahwa motivasi itu adalah dorongan penyebab seseorang tergerak melakukan sesuatu demi mencapai tujuan tertentu. Kan begitu?

Kalau pertanyaannya “apa motivasinya sehingga kalian bekerja?” apakah jawaban kalian? Kalian bebas menjawab uang, demi menafkahi anak-anak dan istri-istri, kedudukan terhormat, dan sebagainya.

Dengan demikian aku akan berujar: tetapi bukankah itu semua adalah hal-hal capaian atau tujuan raihan kita?

Pernahkah kalian merenungkan apa itu makna dorong-mendorong-dorongan? Sesungguhnya “dorong” itu lebih dekat kepada “tolak”, Saudara. Mendorong adalah menolak sesuatu sehingga sesuatu tersebut bergeser kedudukan dari tempatnya semula.

Maka apabila motivasi adalah sebuah dorongan, bukankah termotivasinya seseorang berarti ia akan menjadi semakin jauh dari motivasinya itu?

Mengapa tidak kita gunakan saja kata “tarikan”, misalnya?

Damayanti Berbicara

Sudahkah kalian membaca postingan Cukur Prihatin, yaitu postinganku tadi malam? Jikalau belum dan sedang malas membacanya, merasalah untuk nyaman karena Damayanti dapat membacakannya untuk kalian:

Damayanti adalah suara berbahasa Indonesia dalam fitur Text To Speech di sistem operasi Mac OS X \semenjak Lion kiranya\. Untuk mengaktifkannya, kalian para pengguna Mac harus mengunduhnya terlebih dahulu. Masuk saja di pengaturan Speech pada System Preferences. Pada tab Text to Speech di pilihan System Voice, pilih Customize. Dari situ, cari saja Damayanti.

Aku pun lantas bertanya-tanya, Saudara. Gerangan bilamanakah namanya adalah Damayanti? Siapa pula pemberi namanya? Damayanti adalah nama seorang tokoh pada cerita Mahabharata. Jadi nama itu tidaklah bernuansa Indonesia. Mengapa tidak menamakannya dengan Sari, misalnya? Atau Bunga, Melati, Rima, atau Putri barangkali? Nama-nama itu lebih bernuansa bahasa Indonesia, kan begitu?

Sekadar referensi mengenai text-to-speech, silakan membaca postingan Google Tukang Omong. Sekian.

Lingkungan Sekitar

Teruntuk para ahli bahasa di mana pun berdiam dan berdikari, adakah yang bisa menjelaskan kepadaku perihal istilah “lingkungan sekitar” atau “lingkungan dan sekitarnya“?

Menurutku istilah-istilah itu rancu saja. Berlebihan. Lingkungan itu bukankah sudah sekitar? Atau adakah penjelasan lain mengapa istilah-istilah ini benar demi hukum? Terima kasih. Sekian.

Why? Menggugat Logat

Kalian pernah menonton serial televisi dari Amerika Serikat? Semisal Friends, barangkali? Pernah juga menonton serial televisi dari Kerajaan Linggis? Semisal Hustle, barangkali?

Kan kalau kalian perhatikan, perkara aksen atau logat ini seringkali muncul di dalamnya? Logat ala Amerika terdengar berbeda dengan logat ala Kerajaan Linggis. Begitu, katanya? Mungkin kalau di Jawa, logat Mangkunegaran berbeda dengan logat Jawa Timuran, apalagi logat Banyumasan.

Why Do Americans and Brits Have Different Accents? | When Did American and British Accents Diverge? | English Pronunciation | LifesLittleMysteries.com.

Kalau kalian baca artikel dari tautan di atas berikut komentar-komentar yang ada, kan kita jadi bingung, sebenarnya logat mana yang mendekati “asli”-nya?

Kompromi

Kulihat di aplikasi kamus di Mac (New Oxford American Dictionary), kata “compromise” berasal dari:

ORIGIN: late Middle English (denoting mutual consent to arbitration): from Old French compromis, from late Latin compromissum ‘a consent to arbitration,’ neuter past participle of compromittere, from com- ‘together’ + promittere (see promise)

Kemudian kulihat pada lema “promise”, tersebutlah bahwa ia berasal dari:

ORIGIN: late Middle English : from Latin promissum ‘something promised,’ neuter past participle of promittere ‘put forth, promise,’ from pro- ‘forward’ + mittere ‘send.’

Apakah kesimpulanku ini tepat mengenai asal-usul kata kompromi, Saudara?

Kompromi itu bisa jadi berarti bersama-sama melakukan pengiriman menuju masa depan.

Jadi, apabila ingin melangkah menuju masa depan bersama-sama, yang mana itu berarti tidak sendirian, kita harus mengamalkan apa yang disebut sebagai kompromi. Kan begitu?