Buncit Dulu, Buncit Kemudian

Memiliki perut buncit membuatku berpikir maju ke depan. Seperti misalnya ketika sedang rapat di pagi hari ini, aku memikirkan kira-kira makan siang apa hendaknya harus kusantap nanti agar aku bisa berkonsentrasi dalam rapat ini. Kalian begitu juga, bukan?

Sini aku kabarkan kepada kalian. Berperut buncit itu memiliki banyak sekali kelemahan, Saudara. Kalian akan kesulitan untuk memotong kuku jari-jari kaki seorang diri. Kalian akan kesusahan duduk tahiyat akhir dengan baik dan benar. Kalian akan kerepotan mencari celana pendek maupun celana panjang. Kalian pun tidak akan gampang jongkok di pojokan toilet lagi.

Apapun itu, Saudara, mari kutunjukkan kepada kalian satu rahasia penting. Betapapun banyaknya kelemahan berperut buncit, tetapi semua itu akanlah sirna karena satu saja kelebihannya. Ingin tahu apa itu kelebihannya? Yaitu kalian akan senantiasa tampil seksi. :D

Buah Jeruk Buah Delima

Setelah kudalami bidang perpulpenan, ternyata tidak banyak pulpen tersedia di tanah air. Di Gramedia Matraman saja, hanya ada Montblanc, Cross, Parker, Sheaffer, dan Faber-Castell. Rotring ada, tetapi pulpen kaligrafi saja.

Barangkali...

Buah jeruk buah delima. Tulisan buruk jangan dihina.

Di luar sana, ternyata banyak pulpen beraneka rupa dan beragam rasa. Dari rasa jambu biji hingga stroberi. Dari pisang hingga durian. Sementara di sini? Diejeknya aku pakai pulpen. (doh)

Pena Lama Ditemukan

Akhirnya aku menemukan pena lamaku.

Kalian tahu ia ada di mana? Ternyata ia bersembunyi di laci meja kantor. Aku bilang pernah punya pena murah dengan kondisi patah di sambungan dan batangnya, kan? Nah, ternyata tidak patah melainkan longgar di sambungannya itu, Saudara.

Awan mendung tidak jadi datang sore ini karena ada banyak hal bisa kuceritakan mengenai ini pena. Ujung penanya tajam, sama sekali tidak lembut kalau digunakan untuk menulis. Maka jangan sekali-kali berpikiran menggunakan ujung penanya untuk kerokan. Terukir tulisan semacam Sailor dan F-8. Sailor si pembuat pena itu? Tetapi tanpa logo jangkar. Aneh, bukan? F barangkali untuk tiFis. Lanjut membaca

Perasaan~

Perasaan ~ Sudah sering aku memosting tulisan lewat pos-el dari ponsel.

Perasaan ~ Sudah banyak aku unggah foto ke sini lewat pos-el dari ponsel.

Perasaan ~ Aku sudah makan tetapi tetap saja masih lapar.

Perasaan ~ Aku sudah mandi kemarin pagi tetapi tetap saja sekarang bau.

Perasaan ~ Ah, itu hanya perasaanku saja.

Pena

Sudah semenjak kecil aku tertarik dengan pena.

Waktu kecil, pertama kali aku tahu bahwa alat tulis tak hanya pulpen dan pensil. Ada pula pena. Pamanku memperkenalkannya.

Waktu membesar \beranjak besar, maksudnya\ ada seorang kawanku sekelas membawa tinta ke mana-mana. Rupa-rupanya dia pakai pena.

Kemudian aku pun membesar dan semakin besar. Suatu hari aku melihat pena di deretan pulpen-pulpen dan pensil. Langsung aku beli pena itu. Pena murah itu kupakai beberapa waktu untuk kemudian patah di sambungan pegangan dan batangnya.

Aku kemudian membeli pena baru. Kali ini pena untuk menulis indah alias kaligrafi. Dengan pena ini aku pun sukses mengguratkan tulisan-tulisan aneh dan mencoret beberapa baju.

Hari berganti hari, bulan berubah tahun. Sebulan lalu aku pun membeli pena baru (untuk menulis). Bentuknya mirip dengan pena murah waktu itu. Aku pun lantas mulai mempelajari perihal pena. Ternyata pena itu beraneka ragam, beraneka bentuk, dan beraneka tingkat kemahalan.

Karena penasaran, maka aku pun memutuskan untuk membeli pena lagi. Akhir pekan kemarin aku pun memutuskan untuk membeli pena baru. Maka betapa sungguh beruntung aku di saat membeli pena itu karena aku mendapatkan kesempatan mengambil undian. Ternyata aku memenangkan sebuah pena lagi. Oh, oh~

Pena-penaku

Pena-penaku

Begitulah kisah pena-penaku. Bagaimana dengan penamu?