What’s in a name…

Salah satu inti kalimatku sewaktu berbincang-bincang dengan seorang kawan adalah begini, Saudara: memangnya jikalau dia mempunyai anak dia akan merelakan aku menjadi pemilih nama untuk anaknya itu.

Beberapa kawan sering menggantungkan keputusannya menggunakan sesuatu pada preferensiku. Misalnya ketika hendak menamai kucing-baru-lahir-nya, si kawan menanyakan apa warna kesukaanku. Maka apabila jawabanku adalah merah jambu, si kawan tadi akan menamakan kucing-baru-lahirnya dengan Pinky.

Misalnya lagi ketika hendak membuat blog pada layanan WordPress.com, si kawan menanyakan apa makanan kesukaanku. Ketika kujawab dengan kebab, aku pikir dia akan membelikanku seporsi besar kebab atau paling tidak membuatkannya. Maka aku pun kecewa ketika kemudian dia melanjutkan dengan memintaku memilihkan tema untuk blog-baru-akan-dibuat-nya.

Tulisan ini sejatinya bukan untuk mengabarkan bahwa aku menyukai warna merah jambu dan makanan kebab, akan tetapi mengenai penyandaran preferensiku dalam menentukan pilihan seseorang. Sejujurnya aku tidak berkeberatan terhadap hal tersebut \toh karena badanku sendiri sudah sedemikian berat\.

Aku hanya sedikit terbebani manakala preferensiku akan menjadi pengaruh besar bagi kehidupan seseorang. Lagi pula, bukanlah seseorang akan merasa lebih puas bilamana keputusannya dalam hal tertentu tidak dipengaruhi oleh preferensi apalagi tekanan dari luar dirinya?

Kepada si kawan sebagaimana kusebutkan di alinea awal, aku menekankan bahwa membuat blog di WordPress.com jauh lebih keren daripada sekadar membuat tulisan-tulisan aneh di titik-titik lain. Sekian.

Hanyut Rasa

Sebagai manusia, tentu kita punya perasa. Tanpa kita sadari, segala kelakuan kita tersaring oleh perasa tersebut. Suatu ketika kita merasa tidak ingin bangun tidur, maka terjadilah istilah sebutan bangun kesiangan. Begitulah, seperti tadi pagi tadi aku alami.

Terkadang pula kita merasa tidak ingin tidur, maka terjadilah istilah amnesia insomnia. Kalau ini sudah sering aku alami. Kalian?

Gambar apakah ini?

Gambar apakah ini?

Aku menyebutnya dengan istilah terhanyut perasa. Itulah keadaan di mana kita, baik sadar maupun tak sadar, seolah-olah, merasa tidak ingin menjadi bagian ataupun melakukan sesuatu. Alasannya? Cari tahulah sendiri!

Menjawil Layar Jawil

Apabila kalian adalah pengikut sesat setia blog semangat ini sejak semula, tentunya mafhum bahwa aku telah beberapa kali menyinggung perihal teknologi hubungan. Seperti halnya pernah kutuliskan dalam “Tangan = Masa Depan Kita“, “Teknologi Visual Semakin Maju“, maupun “Interaksi Digital“, aku berpikiran bahwa masa depan dunia ini akan semakin aneh.

Berkaitan dengan perihal di atas, semenjak ulen-ulen \yaitu istilahku untuk menyebutkan bagian trackpad\ pada BeriBeri-ku rusak sehingga dengan demikian menyebabkanku dengan sangat terpaksa menggunakan layar jawilnya untuk melakukan pengarahan alias navigasi, maka aku pun kembali memikirkan bahwa masa depan akan semakin aneh.

Betapa tidak, segala perangkat komunikasi, dekak-dekak modern alias komputer, perangkat hiburan penglihatan, hampir memang akan tetapi mesti, segala pengembangannya lebih banyak diarahkan untuk melatih keterampilan jari-jari kita dalam menjawil. Kan?

Padahal aku tahu dengan pasti \karena aku mengalaminya sendiri\ bahwa menggunakan ulen-ulen untuk melakukan pengarahan sudah jelas-jelas lebih mudah dan lebih menghemat tenaga dibandingkan dengan menggunakan keseluruhan bidang luas pada layar jawil. Dengan ulen-ulen maka seluruh pelosok layar dapat “kujawil” dengan jauh lebih sedikit pergerakan jempol dibandingkan dengan menjawil seluruh pelosok layar tersebut secara nyata.

Aku memang pencinta kemudahan. Siapa tidak menyukai kemudahan dan keindahan, coba? Bagiku, berdiam diri jauh lebih menghemat energi daripada bergerak. Kan?

Itulah sebabnya, alih-alih menggunakan landasan jawil pada Nova, aku lebih suka menggunakan jendol-jendol merah di tengah-tengah papan ketiknya. Karena bagiku hal itulah pangkal “kedayagunaan adalah cermin penghematan.” Lagipula, bukankah hemat pangkal kaya?

Penampang Papan Ketik pada Nova

Penampang Papan Ketik pada Nova

dd

Geli-geli Basah

Jika kalian mengorek lubang hidung dengan pentol kapas \\cotton bud, maksudnya\\ ketika kalian sedang pilek, maka terjadilah geli-geli basah. Dengan demikian kalian akan merasakan sebuah sensasi kenikmatan sekaligus penderitaan.

Lain lagi jikalau kalian terlalu banyak minum kopi. Bisa jadi jantung kalian akan berdetak semakin kencang. Maka kalian pun menjadi penderita geli-geli basah.

Geli-geli basah, atau dapat kita singkat sebagai gelisah, adalah perasaan sedikit tidak tenteram karena sesuatu cairan. Bagi diriku sekarang, misalnya, perasaan gelisah ini adalah akibat menahan air seni di bagian tertentu.

Jika kalian mengalami ketidakenakan geli-geli basah, hendaklah kurangi segala kebasahan terkait. Apabila akibat terlalu banyak minum kopi, maka kurangilah kadar kopinya dengan cara minum air putih sebanyak-banyaknya sehingga dapat dikeluarkan menjadi air seni.

Mungkin di antara kalian kemudian akan menanyakan, “Bagaimana apabila geli-geli basah akibat menanti ketidakpastian?” Aku akui pertanyaan tersebut adalah bagus. Maka jawabanku tetaplah sama, yakni kurangilah kadar kebasahan terkaitnya.

Gelisah akibat menanti ketidakpastian adalah diakibatkan oleh meningkatnya kelembaban di sekitar paru-paru dan jantung. Itulah sebabnya apabila kalian mengalami hal demikian maka kalian akan pula mengalami sesak napas. Lantas bagaimana mengurangi tingkat kelembaban di area ini?

Kalian tahu gas oksigen, bukan? Ialah nama lain dari udara api, unsur penting dalam proses pembakaran. Nah, segala kebasahan apabila dibakar akan menjadi uap panas sehingga dapat dikatakan menghilang.

Jadi, apabila kalian mengalami geli-geli basah akibat menanti ketidakpastian tadi, perbanyaklah bernapas. Sekian.

Klem Kertas

Klem Kertas (Binder Clip)

Klem Kertas (Binder Clip)

Klem kertas (binder clip) sering dianggap sebagai benda remeh-cemeh karena tersedia banyak di kantor. Padahal fungsinya sebagai pemersatu lembar demi lembar kertas tidak dapat digantikan oleh benda lain. Apabila lembaran kertas tidak begitu banyak, boleh saja menggunakan klip kertas (paper clip). Akan tetapi kalau ingin menyatukan lembaran kertas bertumpuk-tumpuk sehingga tebal, tentulah klip kertas tak sanggup mengerjakannya. Kan begitu?

Klem kertas sering digunakan untuk menggabungkan lembaran-lembaran naskah kontrak atau dokumen lainnya sebelum kemudian dijilid atau dikokot (staple). Bisa juga digunakan untuk menjepit kertas atau tumpukan kertas pada sebuah papan landasan menulis (writing pad) sehingga bisa dibawa ke mana-mana dan mudah untuk ditulisi. Apabila sedang tidak dibawa bepergian, boleh juga disimpan dengan cara digantung di dinding karena klem kertas memiliki dua buah tangkai berlubang sebagai kaitannya. Demikianlah sehingga fungsi klem kertas dapat dikatakan semipermanen.

Akan tetapi, fungsi klem kertas dapat menjadi permanen apabila tidak ada keinginan dari pemakainya untuk menjilid atau mengokot naskah kontrak atau dokumen tersebut. Atau bisa jadi apabila pemakainya sedang menghemat dana penjilidan atau sekadar malas. Dengan begitu klem kertas kemudian menjadi satu bagian dengan naskah kontrak atau dokumen tersebut. Harap baca tulisan selanjutnya agar tidak tersesat!

Analogi Manis

Dalam beberapa kasus, kekerasan dapat diperlunak dengan kelembutan. Akan tetapi dalam kasus-kasus khusus kekerasan dapat diperlunak hanya dengan kemanisan.

Apabila kekerasan hati atau kepala tidak dapat diluluhkan menggunakan kelembutan perasaan, itulah tanda bagi kita untuk menggunakan senjata alternatif yaitu kemanisan senyum dan sikap.

Kalian tak percaya dengan teoriku ini? Bagaimana bisa kalian tidak memercayainya padahal gigi-gigi kerasku telah dapat dilubangi oleh manis senyumnya dan gula-gula pemberiannya!?

Posted from WordPress for BlackBerry.

Yang

Sejarah telah membuktikan bahwa perkembangan bahasa Indonesia tidak terlepas dari penggunaan kata “yang”. Bahkan penjelasan mengenai arti kata tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak bisa tidak menggunakan kata “yang”. Bagaimana ini bisa terjadi, Saudara? Ditambah lagi, sistem ejaan yang kita pakai sekarang juga disebut EJAAN “YANG” DISEMPURNAKAN. Kan begitu?

Tanpa menafikan ketergantungan kita akan kata “yang” dalam berbahasa, akan kumulai mengurangi penggunaannya dalam postingan-postingan di masa yang akan datang. Tidak adakah di antara kalian (yang) berkeberatan? Terima kasih.

Ide: Jam Dinding

Ide ini tercetus begitu saja, Saudara.

Adalah jam dinding berbentuk piringan bundar, seperti standarnya jam dinding zaman sekarang. Tidak ada angka. Hanya ada satu jarum, yaitu jarum penunjuk hitungan jam. Tidak ada jarum penunjuk menit maupun detik.

Papan bundar sebagai latar belakang satu-satunya jarum yang ada tersebutlah yang dapat menunjukkan menit. Papan akan berubah warna tergantung menit keberapa pada saat itu. Warna merah adalah penunjuk menit pertama, demikian seterusnya warna berubah mengikuti spektrum hingga warna biru sebagai penunjuk menit keenam puluh atau kenol.

Sekian. Selamat berimajinasi.