Gertak Preman

Sejurus kemudian dia datang kembali. Kali ini dengan membawa segerombolan preman bermuka sangar. Aku ketakutan. Tungkaiku gemetaran. Tanganku tak bisa diam. Gigi-gigiku gemertak bertubrukan. Aku benar-benar ketakutan setengah modar!

Preman-preman itu bertubuh kekar. Seorang ada yang lengannya ditato gambar naga, ada pula yang lehernya ditato sisik ular kobra. Ada satu yang bertelanjang dada, hingga terpampang jelas tato gambar pisau seakan menikam dadanya. Preman yang paling depan malah punya codet di pelipis kanannya. Di pinggangnya tersarung sebuah golok. Mimpi buruk apa aku semalam didatangi para monster Kampung Rambutan?

Dia yang bercodet itu dengan santai mendekatiku. Ditariknya kerah bajuku, didekatkannya mulutnya ke telinga kananku. Bulu kudukku sudah berdiri, dan bunyi gemertak itu makin menjadi-jadi. Dibisikkanlah olehnya:

“Jadi elu yang nyelametin adek gua? Tengs berat, ya.”

Terinspirasi dari postingan beberapa bulan yang lalu dan sedikit kisah nyata. :D

Kucing Pekalongan Mencontreng (Bagian 1)

Jakarta, hari ini kuketuk pintu gerbangmu…

Yo, Saudara-saudara! Terima kasih atas sambutan dan sambitannya.

Aku kembali, Jakarta! Hari demi hari ke depan aku akan setia menghirup polusimu, menapaki jalan-jalan berlumpurmu, juga mendengar suara-suara bisingmu!

Alhamdulillâh aku bisa berlibur sejenak dari penatnya melakukan aktivitas dunia kerja. Alhamdulillâh, aku bisa selamat kembali ke Jakarta untuk merantau, mengais rezeki, demi sesuap nasi dan sepotong kebab.

Wanna handfruit, beibeh? Oleh-olehnya dongeng saja, ya. Dongeng selama aku di bawah naungan langit Kota Batik. Anggap saja semacam dongeng sebelum tidur, Saudara-saudara. Untuk lebih membuat tenang membuat nyaman laiknya dongeng pengantar tidur betulan, kuputarkan lagu angkles nan lembut ini:

yo! vidi! drop your voice, c’mon!

oh, tiada yang hebat dan mempesona
ketika kau lewat di hadapanku
biasa saja

waktu perkenalan lewatlah sudah
ada yang menarik
pancaran diri terus mengganggu

mendengar cerita sehari-hari
yang wajar tapi tetap mengasyikkan

kini terasa sungguh
semakin engkau jauh
semakin terasa dekat

akan kukembangkan
kasih yang engkau tanam
di dalam hatiku

VIDI ALDIANO – NUANSA BENING …

Aku berangkat pada Ahad malam, 5 April 2009. Sampai di Pekalongan pada Senin subuh keesokan harinya. Karena terlalu keasyikan facebooking dan plurking, rumahku terlewatkan hingga aku bablas sampai ke terminal Pekalongan. Padahal aku seharusnya berhenti jauh sebelum terminal. Rumahku berada di bagian paling barat kota sementara terminal di bagian paling timur kota. Terbayang, kan, betapa bodohnya diriku? (doh)

Ternyata memang benar, kecanduan internet membawa dampak negatif! Lanjut membaca

Tahun Baru Penampilan Baru

Tadi malam aku potong rambut di gerai potong rambut dekat kos. Inilah untuk ketiga kalinya aku potong rambut di “tempat pengeksekusian rambut”. Pengalaman pertama kali aku potong rambut di tempat seperti ini adalah tepat sehari sebelum ujian kompre, yaitu Senin, 13 Agustus 2007. Inilah pertama kali dalam sejarah hidup rambut seorang Feriska Drajat Asiyanto dicukur atau dipotong di tempat pemotongan rambut semacam ini. Semacam apa? Ya semacam barber shop; salon. Di Jalan Ceger Raya Jurangmangu itu, para algojo rambut yang orang Sunda itu, kubiarkan mencabik-cabik rambutku. Bahkan sesudahnya malah aku kasih uang. Rp7k! Yah, begitulah hidup. Kita harus bisa percaya kepada orang lain.

Pengamalan kedua kualami di daerah sekitar Fatmawati. Tepatnya di Jalan Kirai, sewaktu aku masih ngekos di daerah tersebut. Awal November 2007. Kejadiannya hampir sama, yaitu para algojo rambut yang adalah orang Sunda kubiarkan mengoyak-koyak dan memenggal rambutku yang gondrong-kribo waktu itu. Sama, sesudahnya kukasih uang Rp7k. Yah, hidup memang harus demikian. Percayakan saja pada orang lain.

Sementara pengalaman ketiga yang kuamali ini, dengan para algojo masih orang Sunda, namun dengan upah eksekusi lebih mahal, Rp8k! Padahal fungsi yang diberikan sama: potong rambut plus pijat. Malah yang tadi malam tidak pakai minyak urut. Yah, berkurang fitur tapi kok malah lebih mahal. Waduhaduh™….

Entah mengapa, kebanyakan barber shop di Jakarta dan sekitarnya ini dikuasai oleh orang Sunda. Yah, sama halnya dengan supir metromini yang kebanyakan orang Batak. Rumah makan Padang dimiliki oleh orang Minang. Meski ada pengecualian di Jalan Purnawarman yang mana ada Warung Makan Padang-Jawa, kepunyaan pasutri orang Jawa, suami dari Wonogiri dan istri dari Tegal! Welehweleh™….

Tadi kusebut dua kali tentang keharusan percaya kepada orang lain. Mengapa? Dan mengapa pula kusebutkan ini pengalaman ketiga kalinya aku potong rambut? Memangnya selama ini aku tidak potong rambut? Atau bagaimana? Untuk mengetahui jawabannya, tanyakanlah pada rumput yang bergoyang. (^_^)v

Sejak kecil rambutku selalu dipotong di rumah. Waktu masih bayi dipotong oleh Nenek Dukun Bayi. Waktu balita oleh ummi atau abi. Sewaktu zaman SD (kelas 2 atau kelas 3), ada tetanggaku yang dipotong rambutnya oleh ibunya. Malang nasibnya, telinganya berdarah! Terkena gunting cukur. Anak itu lari sambil menangis (atau menangis sambil lari?). Sejak saat itu yang tertanam dalam benakku adalah untuk tidak membiarkan siapapun yang tidak kupercaya untuk memotong rambutku. Bahkan ummi! Beliau tidak kupercaya lagi memotong rambutku. Hanya abi seorang yang kupercaya.

Begitulah awal mulanya, hanya abi yang memotong rambutku. Bahkan sampai memasuki perkuliahan sekalipun, abi yang memotong rambutku. Setiap rambutku gondrong, aku pulang kampung. Cukur rambut! Atau sebaliknya: setiap aku pulang kampung, pasti cukur rambut. Pulang ke rumah dalam keadaan gondrong, kembali lagi ke kampus dalam keadaan rambut tipis.

Pernah suatu ketika, sewaktu masih tingkat satu, pas akan Ujian Akhir Semester 2, rambutku gondrong. Waktu itu tidak memungkinkan untukku pulang kampung. Aku ketakutan. Takut nanti sewaktu ujian mendapatkan sanksi dari pengawas ujian karena kegondrongan rambutku. Karena pernah terdengar selentingan kabar yang mengatakan bahwa pernah kejadian ada mahasiswa yang berambut gondrong disuruh menghadap. Yah, maklum saja. Masih belum mafhum waktu itu, jadi masih takut.

Mau potong rambut di salon atau barber shop, tidak berani. Takut. Masih belum percaya dengan orang lain. Yah, begitulah diriku. Namun bukanlah diriku kalau tidak memiliki ide kreatif nan brilian. Segera kubeli minyak rambut, krim rambut, atau apalah namanya. Agar tidak ketahuan gondrong, kuoleskan minyak rambut sejenis wax agak banyak ke rambut. Kemudian rambut kusisir rapi dan kutekan agar tidak mengembang dan kelihatan gondrong. Klimis sekali jadinya. Kulakukan begitu selama dua minggu.

Memang dasar diriku. Padahal sebelumnya aku paling anti dengan yang namanya minyak atau krim rambut atau yang sejenis. Namun sesuatu yang “anti” tadi berhasil ku-antikan (antinya anti = tidak anti) hanya lantaran takut dipotong rambutnya oleh orang lain selain abi.

Pengalaman yang pertama tadi juga kulakukan dengan terpaksa sekali. Karena besoknya akan ujian komprehensif. Ujian penentuan kelulusan. Sudah banyak teman yang menyuruhku potong rambut, sementara waktu tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah. Jadi kuberanikan diri untuk potong rambut di barber shop.

Dari ketiga barber shop, yang paling nyaman adalah yang tadi malam. Entah mengapa, nyaman saja. Setelah shalât maghrîb aku ke barber shop itu. Sembari menunggu waktu Isya’ kupikir. Ternyata ada dua pelanggan, ayah dan anak. Terpaksa menunggu. Eh, hujan turun secara tiba-tiba dengan derasnya. Ya sudah, sekalian menunggu hujan reda. Yang ayah sudah selesai. Giliranku ke kursi eksekusi. Aku duduk di kursi tersebut dengan tenang. Mas algojo (Kok mas? Bukannya orang Sunda? Ah, sebodo teuing.) meletakkan handuk di punggungku serta membentangkan kain penutup ke seluruh badanku.

“Ditipisin aja, Mas,” begitu orderku. OK. Mas algojo segera melaksanakan pengeksekusian. Mula-mula rambutku disemprot biar basah, kemudian disisir. Mesin pencukur pun dikeluarkan, dan “zzzzzzzsssss…crerrrrrcrerrrrrr” mesin tersebut memenggal rambut-rambutku. Tak cukup dengan itu, mas algojo kemudian mengeluarkan gunting. Dibabat pula rambutku dengan gunting itu. “Kressskresssss” rambutku pun berjatuhan tak berdaya. Terus mas algojo mengganti guntingnya. Lho, lho, ah…rambutku disasak. Tidak…! Yah, biarlah. Semoga menjadi lebih baik.

Mas algojo mengolesi cairan sabun di tepian garis rambut. Mengeluarkan pisau cukur, kemudian dengan bengisnya membabat habis sisa-sisa rambut yang tadi dipenggal. Seakan-akan belum cukup terpenggal rambut-rambutku tadi. “Jambangnya dipotong, Mas?” tanya mas algojo memecah kesunyian malam, menggantikan bunyi desingan mesin pencukur di kursi sebelah. Aku berpikir keras. “Dipotong atau tidak, ya?” bingung aku jadinya. Setelah bergelut dengan logika, “Dipotong saja.” Tak mau aku dikatakan seperti Rhoma Irama, pikirku. Atau lebih-lebih seperti si abang Arham Kendari.

“Tapi ati-ati, jangan sampai kena jenggot, ya Mas.” Sudah tahu orang sunda, masih saja kupanggil Mas.

Jenggot ini adalah kebanggaanku sebagai seorang laki-laki. Tidak akan kucukur jenggot ini. Walau apapun yang terjadi. Bahkan sekalipun ummi yang menyuruh. Memang ummi berulang kali menyuruhku mencukur jenggotku ini. Alasannya kelihatan lebih tua lah, jadi jelek lah, nanti ga ada cewek yang ngelirik lah, mirip bung Haji lah. Ah, basi. Alasan-alasan seperti itu dapat segera kumentahkan, tak kugubris. Kutahu kalau sejatinya ummiku khawatir kalau-kalau diriku termasuk ke dalam kelompok “Islam Jenggot”, yang terlibat gerakan-gerakan tidak baik di antaranya bom bali, dsb. Karena di kelurahanku ada seorang yang kemudian ditangkap polisi waktu sedang marak-maraknya aksi antiterorisme. Yah, ummi memang berlebihan. Tak hanya ummi sebenarnya. Nenek, paman, bibi, bahkan adikku menyuruhku mencukur jenggot kebanggaanku ini.

Yah, apa kata dunia jikalau seorang Feriska Drajat Asiyanto tidak berjenggot??

(^_^)v

Kembali ke topik utama, tahun baru penampilan baru. Hari ini mulai masuk kantor kembali. Rambut sudah berpenampilan baru, muka pun demikian halnya. Kumis manisku tadi pagi kupotong, hingga tambah manislah diriku.

(^_^)v