Tadi malam aku potong rambut di gerai potong rambut dekat kos. Inilah untuk ketiga kalinya aku potong rambut di “tempat pengeksekusian rambut”. Pengalaman pertama kali aku potong rambut di tempat seperti ini adalah tepat sehari sebelum ujian kompre, yaitu Senin, 13 Agustus 2007. Inilah pertama kali dalam sejarah hidup rambut seorang Feriska Drajat Asiyanto dicukur atau dipotong di tempat pemotongan rambut semacam ini. Semacam apa? Ya semacam barber shop; salon. Di Jalan Ceger Raya Jurangmangu itu, para algojo rambut yang orang Sunda itu, kubiarkan mencabik-cabik rambutku. Bahkan sesudahnya malah aku kasih uang. Rp7k! Yah, begitulah hidup. Kita harus bisa percaya kepada orang lain.
Pengamalan kedua kualami di daerah sekitar Fatmawati. Tepatnya di Jalan Kirai, sewaktu aku masih ngekos di daerah tersebut. Awal November 2007. Kejadiannya hampir sama, yaitu para algojo rambut yang adalah orang Sunda kubiarkan mengoyak-koyak dan memenggal rambutku yang gondrong-kribo waktu itu. Sama, sesudahnya kukasih uang Rp7k. Yah, hidup memang harus demikian. Percayakan saja pada orang lain.
Sementara pengalaman ketiga yang kuamali ini, dengan para algojo masih orang Sunda, namun dengan upah eksekusi lebih mahal, Rp8k! Padahal fungsi yang diberikan sama: potong rambut plus pijat. Malah yang tadi malam tidak pakai minyak urut. Yah, berkurang fitur tapi kok malah lebih mahal. Waduhaduh™….
Entah mengapa, kebanyakan barber shop di Jakarta dan sekitarnya ini dikuasai oleh orang Sunda. Yah, sama halnya dengan supir metromini yang kebanyakan orang Batak. Rumah makan Padang dimiliki oleh orang Minang. Meski ada pengecualian di Jalan Purnawarman yang mana ada Warung Makan Padang-Jawa, kepunyaan pasutri orang Jawa, suami dari Wonogiri dan istri dari Tegal! Welehweleh™….
Tadi kusebut dua kali tentang keharusan percaya kepada orang lain. Mengapa? Dan mengapa pula kusebutkan ini pengalaman ketiga kalinya aku potong rambut? Memangnya selama ini aku tidak potong rambut? Atau bagaimana? Untuk mengetahui jawabannya, tanyakanlah pada rumput yang bergoyang. (^_^)v
Sejak kecil rambutku selalu dipotong di rumah. Waktu masih bayi dipotong oleh Nenek Dukun Bayi. Waktu balita oleh ummi atau abi. Sewaktu zaman SD (kelas 2 atau kelas 3), ada tetanggaku yang dipotong rambutnya oleh ibunya. Malang nasibnya, telinganya berdarah! Terkena gunting cukur. Anak itu lari sambil menangis (atau menangis sambil lari?). Sejak saat itu yang tertanam dalam benakku adalah untuk tidak membiarkan siapapun yang tidak kupercaya untuk memotong rambutku. Bahkan ummi! Beliau tidak kupercaya lagi memotong rambutku. Hanya abi seorang yang kupercaya.
Begitulah awal mulanya, hanya abi yang memotong rambutku. Bahkan sampai memasuki perkuliahan sekalipun, abi yang memotong rambutku. Setiap rambutku gondrong, aku pulang kampung. Cukur rambut! Atau sebaliknya: setiap aku pulang kampung, pasti cukur rambut. Pulang ke rumah dalam keadaan gondrong, kembali lagi ke kampus dalam keadaan rambut tipis.
Pernah suatu ketika, sewaktu masih tingkat satu, pas akan Ujian Akhir Semester 2, rambutku gondrong. Waktu itu tidak memungkinkan untukku pulang kampung. Aku ketakutan. Takut nanti sewaktu ujian mendapatkan sanksi dari pengawas ujian karena kegondrongan rambutku. Karena pernah terdengar selentingan kabar yang mengatakan bahwa pernah kejadian ada mahasiswa yang berambut gondrong disuruh menghadap. Yah, maklum saja. Masih belum mafhum waktu itu, jadi masih takut.
Mau potong rambut di salon atau barber shop, tidak berani. Takut. Masih belum percaya dengan orang lain. Yah, begitulah diriku. Namun bukanlah diriku kalau tidak memiliki ide kreatif nan brilian. Segera kubeli minyak rambut, krim rambut, atau apalah namanya. Agar tidak ketahuan gondrong, kuoleskan minyak rambut sejenis wax agak banyak ke rambut. Kemudian rambut kusisir rapi dan kutekan agar tidak mengembang dan kelihatan gondrong. Klimis sekali jadinya. Kulakukan begitu selama dua minggu.
Memang dasar diriku. Padahal sebelumnya aku paling anti dengan yang namanya minyak atau krim rambut atau yang sejenis. Namun sesuatu yang “anti” tadi berhasil ku-antikan (antinya anti = tidak anti) hanya lantaran takut dipotong rambutnya oleh orang lain selain abi.
Pengalaman yang pertama tadi juga kulakukan dengan terpaksa sekali. Karena besoknya akan ujian komprehensif. Ujian penentuan kelulusan. Sudah banyak teman yang menyuruhku potong rambut, sementara waktu tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah. Jadi kuberanikan diri untuk potong rambut di barber shop.
Dari ketiga barber shop, yang paling nyaman adalah yang tadi malam. Entah mengapa, nyaman saja. Setelah shalât maghrîb aku ke barber shop itu. Sembari menunggu waktu Isya’ kupikir. Ternyata ada dua pelanggan, ayah dan anak. Terpaksa menunggu. Eh, hujan turun secara tiba-tiba dengan derasnya. Ya sudah, sekalian menunggu hujan reda. Yang ayah sudah selesai. Giliranku ke kursi eksekusi. Aku duduk di kursi tersebut dengan tenang. Mas algojo (Kok mas? Bukannya orang Sunda? Ah, sebodo teuing.) meletakkan handuk di punggungku serta membentangkan kain penutup ke seluruh badanku.
“Ditipisin aja, Mas,” begitu orderku. OK. Mas algojo segera melaksanakan pengeksekusian. Mula-mula rambutku disemprot biar basah, kemudian disisir. Mesin pencukur pun dikeluarkan, dan “zzzzzzzsssss…crerrrrrcrerrrrrr” mesin tersebut memenggal rambut-rambutku. Tak cukup dengan itu, mas algojo kemudian mengeluarkan gunting. Dibabat pula rambutku dengan gunting itu. “Kressskresssss” rambutku pun berjatuhan tak berdaya. Terus mas algojo mengganti guntingnya. Lho, lho, ah…rambutku disasak. Tidak…! Yah, biarlah. Semoga menjadi lebih baik.
Mas algojo mengolesi cairan sabun di tepian garis rambut. Mengeluarkan pisau cukur, kemudian dengan bengisnya membabat habis sisa-sisa rambut yang tadi dipenggal. Seakan-akan belum cukup terpenggal rambut-rambutku tadi. “Jambangnya dipotong, Mas?” tanya mas algojo memecah kesunyian malam, menggantikan bunyi desingan mesin pencukur di kursi sebelah. Aku berpikir keras. “Dipotong atau tidak, ya?” bingung aku jadinya. Setelah bergelut dengan logika, “Dipotong saja.” Tak mau aku dikatakan seperti Rhoma Irama, pikirku. Atau lebih-lebih seperti si abang Arham Kendari.
“Tapi ati-ati, jangan sampai kena jenggot, ya Mas.” Sudah tahu orang sunda, masih saja kupanggil Mas.
Jenggot ini adalah kebanggaanku sebagai seorang laki-laki. Tidak akan kucukur jenggot ini. Walau apapun yang terjadi. Bahkan sekalipun ummi yang menyuruh. Memang ummi berulang kali menyuruhku mencukur jenggotku ini. Alasannya kelihatan lebih tua lah, jadi jelek lah, nanti ga ada cewek yang ngelirik lah, mirip bung Haji lah. Ah, basi. Alasan-alasan seperti itu dapat segera kumentahkan, tak kugubris. Kutahu kalau sejatinya ummiku khawatir kalau-kalau diriku termasuk ke dalam kelompok “Islam Jenggot”, yang terlibat gerakan-gerakan tidak baik di antaranya bom bali, dsb. Karena di kelurahanku ada seorang yang kemudian ditangkap polisi waktu sedang marak-maraknya aksi antiterorisme. Yah, ummi memang berlebihan. Tak hanya ummi sebenarnya. Nenek, paman, bibi, bahkan adikku menyuruhku mencukur jenggot kebanggaanku ini.
Yah, apa kata dunia jikalau seorang Feriska Drajat Asiyanto tidak berjenggot??
(^_^)v
Kembali ke topik utama, tahun baru penampilan baru. Hari ini mulai masuk kantor kembali. Rambut sudah berpenampilan baru, muka pun demikian halnya. Kumis manisku tadi pagi kupotong, hingga tambah manislah diriku.
(^_^)v