X: Kowe kapan kawin? //Kamu kapan menikah?//
Y: Setu //Hari Sabtu//
X: Setu sesuk? //Hari Sabtu besok?//
Y: Setutuké //Sekenanya/sebisanya//
Lagi-lagi sedang lagi menghadapi agenda permasalahan besar yang menanti. Menikah. Eh, bukan. Maksudku menghadapi pernikahan. Eh, bukan begitu maksudku. Tolong Saudara-saudara jangan salah paham. Bukan, bukan aku yang akan menikah. Ya, aku sih memang ingin menikah. Tapi nanti, nanti sajalah. Kapan-kapan. Hwehe. (^^);
Sebegitu sulitkah menikah? Iya, iya. Menikah memang mahal untuk ukuran orangtua zaman sekarang. //Orangtua? Iyalah. Pesta pernikahan kan memang acaranya orangtua. Kita mah jadi penggembira saja, jadi pajangan di pelaminan. Kalau aku mah, asal selesai ijab-qabul, terus malam pertama, selesai dah. Bukan begitu, Saudara-saudara? Hoho.// Yang ingin kubahas di sini bukan tentang itu. Tapi tentang siap-tak siapnya menikah, sudi-tak sudinya menikah. Itu.
Siap-tidaknya menikah, kira-kira dari mananya, ya? Sekali lagi, kesampingkan masalah dana, ya. Coba kita tengok dari sisi ketahanan mental seseorang dua orang yang akan menikah. Siapkah mereka membina sebuah mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah? Sebenarnya aku tidak berkompetensi untuk membahas masalah ini. Karena apa? Karena Farijs belum laku! Hwehe….
Sedang malas membicarakan kapan pernikahanku akan berlangsung. Gara-gara mudik lebaran kemarin dijodohin lagi. Dasar budhe-budhe itu, tak ada kerjaan lain apa, selain menjodohkan diriku? Waduhaduh™….
Ada lagi masalah kawanku seorang itu. Patah hatinya mendengar gadis pujaannya hendak dilamar orang. Remuk redam semangatnya, nyaris tak mau makan. Kukatakan saja padanya sebuah pepatah yang dahsyat tentang hal ini:
“Tenang saja, kawan. Selama janur kuning belum melengkung, teruslah engkau berusaha mendapatkannya. Pantanglah berputus asa, teman. Tak ingatkah kau kata pepatah nenek moyang para supir truk itu, kawan? ‘Kutunggu jandamu’!”
Setelah mendengar petuah dari orang tak belum laku ini, dia pun termanggut-manggut. Damailah hatinya. Hoho. Padahal sebenarnya ada satu kalimat pusaka lagi yang ingin kusampaikan kepadanya, namun urung kuucapkan. Kalimat apakah gerangan? Sebuah kalimat yang berasal dari pepatah betawi kuno ini sebenarnya agak sedikit mengerikan. Bunyinya begini:
“Selama bendera kuning belum berkibar, masih tersedia banyak kesempatan.”
(^_^)v
Aha! Ngomong-ngomong soal janur kuning, aku memiliki sebuah ide yang menarik, Saudara-saudara. Sudah lama kutemukan inovasi yang cukup cerdas ini. Hwehe. /Bergaya ala pahlawan bertopeng setelah memenangkan pertarungan./ Saudara-saudara sudah pernah menikah? Ada pesta resepsinya? Di gedungkah atau di rumahkah? Pasti ada janur kuning, kan? Bukan janur kuning pas perang kemerdekaan itu. Bukan pula janur kuning yang dibuat menjadi bungkus ketupat pada lebaran kemarin. Tapi yang kumaksud adalah janur kuning yang ada dalam istilah “selama janur kuning belum melengkung, masih ada kesempatan buatku untuk merebutnya” yang telah kusebutkan tadi. Atau janur kuning yang termaktub dalam lirik lagunya Desi Ratnasari yang berjudul “Tenda Biru”:
tak sengaja kulewat depan rumahmu
‘ku melihat ada tenda biru
dihiasi indahnya janur kuning
hati bertanya pernikahan siapa
Sekarang sudah mengerti bukan, janur kuning yang kumaksud? Kalau memang Saudara-saudara belum mengerti juga, silakan lihat foto di bawah ini! Dasar, gitu aja ndak ngerti-ngerti. Simelekete…. (^_^)

Djanoer Koening
Sebagaimana terpampang dalam foto di atas, terlihat jelas bahwa janur kuning telah berubah menjadi kecoklatan. Janur kuning ‘lah layu. Karatan, kalau istilah dalam dunia pertukangannya. Mengapa oh mengapa? Lulusan IPB mungkin bisa menerangkan dengan lebih gamblang. Yang jelas, janur kuning sebagai perlambang pernikahan itu tidaklah berpanjang usia. Tidak awet. Terang aja banyak pasangan suami-istri yang pernikahannya nggak awet belakangan ini, ya. //Hwehe. Ini mah kagak ada hubungannya ama janur kuning layu, kaleee.// Padahal pernikahan adalah sebuah peristiwa yang sakral. Diagung-agungkan. Suci. Kalau bisa sekali saja seumur hidup. Jadi perlambangannya harus yang awet, dong. Tapi kenyataan yang terjadi sekarang ini? /Senyum-membawa-luka mengembang/ Inilah ide dasarnya, Saudara-saudara.
Lantas, inovasi apa yang ditawarkan oleh seorang Farijs van Java? Simpel saja, Saudara-saudara. Awetkan si janur kuning. Bilamana? Pertanyaan selanjutnya yang muncul: bahan apa yang mudah dibentuk, mudah didapat, murah, yang awet tak teruraikan selama seratus tahun? Tepat sekali, Saudara-saudara. Jawabannya adalah plastik. /Ngasih standing applause buat para pemirsa./
Tidak adakah seseorang yang berinisiatif membuat janur kuning sang perlambang pernikahan suci-mulia itu dengan bahan dasar plastik?
(^_^)v
===
Postingan terkait:
Menikah Itu Indah?
Pacaran