Buncit Dulu, Buncit Kemudian

Memiliki perut buncit membuatku berpikir maju ke depan. Seperti misalnya ketika sedang rapat di pagi hari ini, aku memikirkan kira-kira makan siang apa hendaknya harus kusantap nanti agar aku bisa berkonsentrasi dalam rapat ini. Kalian begitu juga, bukan?

Sini aku kabarkan kepada kalian. Berperut buncit itu memiliki banyak sekali kelemahan, Saudara. Kalian akan kesulitan untuk memotong kuku jari-jari kaki seorang diri. Kalian akan kesusahan duduk tahiyat akhir dengan baik dan benar. Kalian akan kerepotan mencari celana pendek maupun celana panjang. Kalian pun tidak akan gampang jongkok di pojokan toilet lagi.

Apapun itu, Saudara, mari kutunjukkan kepada kalian satu rahasia penting. Betapapun banyaknya kelemahan berperut buncit, tetapi semua itu akanlah sirna karena satu saja kelebihannya. Ingin tahu apa itu kelebihannya? Yaitu kalian akan senantiasa tampil seksi. :D

What’s in a name…

Salah satu inti kalimatku sewaktu berbincang-bincang dengan seorang kawan adalah begini, Saudara: memangnya jikalau dia mempunyai anak dia akan merelakan aku menjadi pemilih nama untuk anaknya itu.

Beberapa kawan sering menggantungkan keputusannya menggunakan sesuatu pada preferensiku. Misalnya ketika hendak menamai kucing-baru-lahir-nya, si kawan menanyakan apa warna kesukaanku. Maka apabila jawabanku adalah merah jambu, si kawan tadi akan menamakan kucing-baru-lahirnya dengan Pinky.

Misalnya lagi ketika hendak membuat blog pada layanan WordPress.com, si kawan menanyakan apa makanan kesukaanku. Ketika kujawab dengan kebab, aku pikir dia akan membelikanku seporsi besar kebab atau paling tidak membuatkannya. Maka aku pun kecewa ketika kemudian dia melanjutkan dengan memintaku memilihkan tema untuk blog-baru-akan-dibuat-nya.

Tulisan ini sejatinya bukan untuk mengabarkan bahwa aku menyukai warna merah jambu dan makanan kebab, akan tetapi mengenai penyandaran preferensiku dalam menentukan pilihan seseorang. Sejujurnya aku tidak berkeberatan terhadap hal tersebut \toh karena badanku sendiri sudah sedemikian berat\.

Aku hanya sedikit terbebani manakala preferensiku akan menjadi pengaruh besar bagi kehidupan seseorang. Lagi pula, bukanlah seseorang akan merasa lebih puas bilamana keputusannya dalam hal tertentu tidak dipengaruhi oleh preferensi apalagi tekanan dari luar dirinya?

Kepada si kawan sebagaimana kusebutkan di alinea awal, aku menekankan bahwa membuat blog di WordPress.com jauh lebih keren daripada sekadar membuat tulisan-tulisan aneh di titik-titik lain. Sekian.

Hanyut Rasa

Sebagai manusia, tentu kita punya perasa. Tanpa kita sadari, segala kelakuan kita tersaring oleh perasa tersebut. Suatu ketika kita merasa tidak ingin bangun tidur, maka terjadilah istilah sebutan bangun kesiangan. Begitulah, seperti tadi pagi tadi aku alami.

Terkadang pula kita merasa tidak ingin tidur, maka terjadilah istilah amnesia insomnia. Kalau ini sudah sering aku alami. Kalian?

Gambar apakah ini?

Gambar apakah ini?

Aku menyebutnya dengan istilah terhanyut perasa. Itulah keadaan di mana kita, baik sadar maupun tak sadar, seolah-olah, merasa tidak ingin menjadi bagian ataupun melakukan sesuatu. Alasannya? Cari tahulah sendiri!

Menjawil Layar Jawil

Apabila kalian adalah pengikut sesat setia blog semangat ini sejak semula, tentunya mafhum bahwa aku telah beberapa kali menyinggung perihal teknologi hubungan. Seperti halnya pernah kutuliskan dalam “Tangan = Masa Depan Kita“, “Teknologi Visual Semakin Maju“, maupun “Interaksi Digital“, aku berpikiran bahwa masa depan dunia ini akan semakin aneh.

Berkaitan dengan perihal di atas, semenjak ulen-ulen \yaitu istilahku untuk menyebutkan bagian trackpad\ pada BeriBeri-ku rusak sehingga dengan demikian menyebabkanku dengan sangat terpaksa menggunakan layar jawilnya untuk melakukan pengarahan alias navigasi, maka aku pun kembali memikirkan bahwa masa depan akan semakin aneh.

Betapa tidak, segala perangkat komunikasi, dekak-dekak modern alias komputer, perangkat hiburan penglihatan, hampir memang akan tetapi mesti, segala pengembangannya lebih banyak diarahkan untuk melatih keterampilan jari-jari kita dalam menjawil. Kan?

Padahal aku tahu dengan pasti \karena aku mengalaminya sendiri\ bahwa menggunakan ulen-ulen untuk melakukan pengarahan sudah jelas-jelas lebih mudah dan lebih menghemat tenaga dibandingkan dengan menggunakan keseluruhan bidang luas pada layar jawil. Dengan ulen-ulen maka seluruh pelosok layar dapat “kujawil” dengan jauh lebih sedikit pergerakan jempol dibandingkan dengan menjawil seluruh pelosok layar tersebut secara nyata.

Aku memang pencinta kemudahan. Siapa tidak menyukai kemudahan dan keindahan, coba? Bagiku, berdiam diri jauh lebih menghemat energi daripada bergerak. Kan?

Itulah sebabnya, alih-alih menggunakan landasan jawil pada Nova, aku lebih suka menggunakan jendol-jendol merah di tengah-tengah papan ketiknya. Karena bagiku hal itulah pangkal “kedayagunaan adalah cermin penghematan.” Lagipula, bukankah hemat pangkal kaya?

Penampang Papan Ketik pada Nova

Penampang Papan Ketik pada Nova

dd

Geli-geli Basah

Jika kalian mengorek lubang hidung dengan pentol kapas \\cotton bud, maksudnya\\ ketika kalian sedang pilek, maka terjadilah geli-geli basah. Dengan demikian kalian akan merasakan sebuah sensasi kenikmatan sekaligus penderitaan.

Lain lagi jikalau kalian terlalu banyak minum kopi. Bisa jadi jantung kalian akan berdetak semakin kencang. Maka kalian pun menjadi penderita geli-geli basah.

Geli-geli basah, atau dapat kita singkat sebagai gelisah, adalah perasaan sedikit tidak tenteram karena sesuatu cairan. Bagi diriku sekarang, misalnya, perasaan gelisah ini adalah akibat menahan air seni di bagian tertentu.

Jika kalian mengalami ketidakenakan geli-geli basah, hendaklah kurangi segala kebasahan terkait. Apabila akibat terlalu banyak minum kopi, maka kurangilah kadar kopinya dengan cara minum air putih sebanyak-banyaknya sehingga dapat dikeluarkan menjadi air seni.

Mungkin di antara kalian kemudian akan menanyakan, “Bagaimana apabila geli-geli basah akibat menanti ketidakpastian?” Aku akui pertanyaan tersebut adalah bagus. Maka jawabanku tetaplah sama, yakni kurangilah kadar kebasahan terkaitnya.

Gelisah akibat menanti ketidakpastian adalah diakibatkan oleh meningkatnya kelembaban di sekitar paru-paru dan jantung. Itulah sebabnya apabila kalian mengalami hal demikian maka kalian akan pula mengalami sesak napas. Lantas bagaimana mengurangi tingkat kelembaban di area ini?

Kalian tahu gas oksigen, bukan? Ialah nama lain dari udara api, unsur penting dalam proses pembakaran. Nah, segala kebasahan apabila dibakar akan menjadi uap panas sehingga dapat dikatakan menghilang.

Jadi, apabila kalian mengalami geli-geli basah akibat menanti ketidakpastian tadi, perbanyaklah bernapas. Sekian.

Jangan Melenguh, Eh, Mengeluh

Ternyata mengeluh itu memang banyak bermuatan negatif, ya. Bahkan kalau judul postingan ini tidak ditambahi kata bermuatan negatif yaitu “jangan”, maka secara sekilas postingan ini akan diduga sebagai tulisan bermuatan negatif. Kan begitu?

Jadi, Saudara, begini ceritanya. Tadi malam adalah malam Senin ketika aku duduk di samping pak kusir supir sebuah angkutan kota. Tentu saja hal ini mengenakkan karena aku bisa duduk dengan nyaman karena bisa bersandar. Akan tetapi menjadi tidak mengenakkan ketika aku mengetahui bahwasanya pak supir di samping kananku tersebut adalah pribadi pengeluh.

“Aaaah… Nggak di sini, nggak di sana, kapan aja maceeet, maceeeeet!”

Begitulah keluhannya ketika di hadapan angkotnya berjajar mobil-mobil dan motor-motor sedang berhenti karena lampu merah. Ketika ada pejalan kaki menyeberang persis di hadapannya, keluhannya pun berubah menjadi: “Eeegh! Nyebrang langsung nyelonong aje. Nggak bisa sabar dikit, napa?!”

Belum lagi kalau ada sepeda motor ngebut lantas menyalipnya, pak supir pun berkeluh kesah sebagai berikut:

“Ini lagi! Ugal-ugalan banget dah! Kalau ketabrak gimana coba?!”

Padahal dirinya sendiri menyetir secara ugal-ugalan juga.

Sepanjang masa empat puluhan menit itu aku merasa banyak sekali dihinggapi muatan energi negatif; membuat badanku melemas. Begitu sampai aku ke tempat tujuan, aku pun turun dari angkot dengan lega seraya berucap syukur di dalam hati: Alhamdulillah!

Maka ini adalah tulisan sebagai pengingat diri sendiri bahwa dengan mengeluh energi negatif dalam tubuh tidak akan berkurang melainkan beranak pinak untuk kemudian menjadi banyak lantas menyebar dan hinggap kepada lingkungan sekitar. Jangan mengeluh, ya! :D

Usaha Bohong

Di atas bumi ini, di mana tumbuh di hamparannya beragam tanaman indah semacam flamboyan dan kamboja, ternyata ada orang memiliki pendapat tidak sama dengan pendapatku perihal berbohong. Mengherankan, memang.

Orang-orang ini adalah mereka dengan pendapatnya sendiri bahwa berbohong adalah sebuah usaha. Apabila mereka menghendaki dirinya aman dan tenteram, berbohong merupakan salah satu cara berusahanya. Maka di antara mereka inilah profesi penipu ditekuni sebagai sebuah penghidupan.

Ada satu hal pembuat keherananku menjadi berlebih, Saudara. Yaitu apabila orang-orang ini meminta usaha berbohong mereka diapresiasi sehingga tak hanya harus segera diampuni dan dimaafkan melainkan pula layak untuk dipuji. Orang-orang inilah sejatinya berbohong hanya demi melindungi diri mereka pribadi meskipun dilisankan bahwa usaha mereka ini untuk melindungi kekasihnya.

Dengan habisnya batagor dalam piringku, berakhir pula kesan dan pesanku mengenai usaha bohong ini. Kita jumpa lagi di lain kesempatan. Selamat sore.

Analogi Manis

Dalam beberapa kasus, kekerasan dapat diperlunak dengan kelembutan. Akan tetapi dalam kasus-kasus khusus kekerasan dapat diperlunak hanya dengan kemanisan.

Apabila kekerasan hati atau kepala tidak dapat diluluhkan menggunakan kelembutan perasaan, itulah tanda bagi kita untuk menggunakan senjata alternatif yaitu kemanisan senyum dan sikap.

Kalian tak percaya dengan teoriku ini? Bagaimana bisa kalian tidak memercayainya padahal gigi-gigi kerasku telah dapat dilubangi oleh manis senyumnya dan gula-gula pemberiannya!?

Posted from WordPress for BlackBerry.

Like & Reblog: Spam Gaya Baru?

Belakangan ini predikatku sebagai orang yang disayang Tuhan beberapa kali teruji, Saudara. Di antaranya adalah karena masuknya banyak pos-el (email) secara sekaligus akibat adanya notifikasi dari WordPress.com bahwa beberapa postinganku di blog ini ada yang menyukai (like) atau memosting ulang (reblog).

Misalnya baru saja masuk sebanyak 31 pos-el secara sekaligus ke dalam kotak masukku karena beberapa orang menyukai beberapa postinganku.

Postinganku banyak yang menyukai

Postinganku banyak yang menyukai

Karena aku mengaktifkan fitur notifikasi melalui pos-el, sudah barang tentu setiap ada orang yang menyukai maupun memosting ulang postinganku di blog ini pihak WordPress.com akan mengirimiku pos-el yang memberitahukan hal dimaksud. Lanjut membaca