Ternyata manusia memang tak sepenuhnya bisa mandiri, Saudara-saudara…
…
Kadar keimanan si manusia jalang ini memang sering naik-turun. Berulang kali ia melakukan tindakan paling konyol: berseteru dengan Tuhannya! Paling konyol memang, karena tak ada lagi perbuatan yang lebih konyol selain mendebat Dzat yang mencipta seluruh jagad.
Semuanya bermula tatkala si manusia jalang kurang menyukuri nikmat dari Tuhannya. Egonya mampu mengalahkan taat yang sedari kecil terpatri dalam jiwanya. Dirinya berontak, berbuat kerusakan demi kerusakan, karena ia merasa dikecewakan. Ia tidak terima Tuhannya menentukan hal lain dalam kehidupannya. Tak semua yang ia pinta terturuti, tak semua yang ia inginkan terkabul. Marahlah ia. Padahal Tuhannya jauh lebih tahu apa-apa yang baik baginya dan apa-apa yang buruk baginya. (QS Al Baqarah: 216)
Ia sering tersadar. Kerusakan demi kerusakan yang ia buat justru mengakibatkan kehidupannya semakin buruk. Tak ada hal lain yang menghinggapi kalbunya melainkan rasa sesal dan bersalah.
Kemudian ia mencoba melakukan pembenaran demi pembenaran atas kelakuannya tempo lalu. Hal ini tidaklah membawa perubahan ke arah kebenaran, karena lagi-lagi ia berseberangan dengan Tuhannya. Dalam pembenaran itu ia merasa bahwa dirinyalah yang benar. Ia menginginkan sesuatu, maka ia pun mengusahakan sesuatu tersebut. Maka bila usahanya tidak membuahkan sesuatu itu, murkalah ia. Ia kemudian memusuhi Tuhannya yang ia pikir tidak menghargai segala jerih payahnya. Padahal, Tuhannyalah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Ia selanjutnya bersikap acuh tak acuh terhadap Tuhannya. Ia berpikir bahwa ia tidak membutuhkan lagi pertolongan dari-Nya. Dan benar, beberapa kali Tuhannya tak lagi menolongnya. Tentu hal ini untuk mengingatkannya, bahwa Tuhannyalah yang paling berkuasa atas kehidupannya. Dalam sujud ia menyesal, memohon ampunan atas tindak sombongnya. Ia menyadari bahwa sikap berontaknya tempo lalu adalah sebentuk perwujudan dari kesombongan. Dengan kesombongannya ia dihardik oleh Tuhannya karena Tuhannya amatlah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Tuhannya tentu saja memaafkannya, karena Ia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
…
Kadang kita merasa kitalah yang paling menderita di dunia ini. Kita yang paling nelangsa, dan kita merasa hina akan kenelangsaan kita. Padahal di mata Tuhan, kita tidaklah hina selama dalam penderitaan kita masih bersujud kepada-Nya.
Maka dari itu, jagailah aku. Jagalah shalatku, wahai saudara-saudaraku. Kumohon. Karena sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. (QS Al ‘Ankabuwt: 45)
I listen to the wind, to the wind of my soul
where I’ll end up well I think, only God really knows
I’ve sat upon the setting sun
but never, never never never
I never wanted water once
No, never, never, never
I listen to my words but they fall far bellow
I let my music take me where my heart wants to go
I’ve swam upon the devil’s lake
but never, never never never
I’ll never make the same mistake
No, never, never, never
THE WIND – CAT STEVENS