Renungan Ramadan #3

Terakhir Tak Selamanya

Ahad pagi menjelang siang.
Cuaca sedikit terik meski langit berawan.
Aku duduk sendirian.
Kunikmati secangkir kopi sembari mengetik sebuah tulisan.
Tulisan ini tentu saja, kawan.
Memangnya tulisan yang mana lagi, ‘kan?

Duduk santai pada Ahad pagi menjelang siang di toko donat seperti sekarang ini sepertinya tidak bisa lagi aku lakukan. Karena bulan ini telah pun hampir habis dan segera digantikan oleh Ramadan. Kemudian Syawal yang mana di situ terdapat lebaran.

Selama Sya’ban ini banyak sekali yang kupikirkan. Barangkali itulah mengapa postingan di blog ini menjadi jarang-jarang. Adakah dari kalian yang keberatan?

Aku tersadar bahwa selama setahun ini banyak sekali mengalami penurunan. Mulai penurunan daya ingat hingga pengharapan. Terkecuali berat badan.

Tentu saja hari demi hari semakin bertambahlah pengalaman. Namun apa arti pengalaman jikalau tidak tahu bagaimana ia diterapkan? Begitu, bukan?

Edja Meng-edja Ejaan

Ternyata perkara eja-mengeja itu begitu pelik, Saudara.

Kalau boleh menilik sejarah masa lampau, dapatlah kita tengok bahwa asal-usul ejaan bahasa Indonesia yang sekarang diawali dari Ejaan Van Ophuijsen kemudian menjelma menjadi Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi lantas menjelma lagi menjadi Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

Menyadari bahwa diri bukanlah seorang ahli bahasa, saya di sini hanya ingin memberikan bahan-bahan untuk direnungkan perihal ejaan.

Ejaan bahasa linggis adalah bisa jadi yang terkacau. Sejarahnya menunjukkan bahwa kesalahkaprahan akan terus abadi dan berwujud di dunia fana ini. Para warga berbahasa linggis inilah yang awal mula menemukan sistem pengecek ejaan. Mereka pulalah yang menyelenggarakan lomba aneh semacam Lomba Mengeja.

Lain ladang lain belalang. Lain bahasa linggis, lain pula bahasa Jawa. Banyak orang Jawa yang tidak tahu mengenai aturan transliterasi bahasanya ke dalam huruf-huruf latin. Banyak pula orang Jawa yang tidak sependapat dengan pakem yang telah menjadi hasil konsensus dalam Kongres Bahasa Jawa III. Kalau sudah demikian, apa boleh buat?

Bahan renungan:

Kesimpulanku hanyalah satu: ejaan itu penting untuk diperkarakan!

:D

Tertipu Kiranya

Kalian tahu? Sepertinya aku telah tertipu oleh pengharapanku sendiri.

Kupikir malam ini akan terang bulan. Karena tadi sekitar pukul 18 sesampainya aku pulang kulihat di langit timur bulan benar-benar cerah benderang. Kalian juga pasti akan berpikir kalau malam harinya akan terang bulan, bukan? Maka kupikir akan sangat menyenangkan bagiku berjalan kaki malam-malam melihat keramaian; juga melihat langit dengan pesona bulan.

Ternyata semua hanya perkiraan, Saudara. Di atas langit sekarang ada terang bulan yang diselimuti awan-awan; nyaris tak kelihatan!

Tapi tak mengapalah, Saudara. Toh aku masih bisa mengamati bumi permukaan. Kusaksikan beberapa warung tenda mulai menutup dan mengemas warungnya. Beberapa gerobak pun sudah mulai didorong pulang. Dan satpam supermarket langganan sudah menutup pintu setengah tiang, tanda pelanggan tidak lagi diperbolehkan masuk dan hanya boleh untuk keluar.

Kutahu mataku masih sehat karena kulihat dari jarak yang tidak dekat di depan supermarket itu berderet lelaki-lelaki penunggang sepeda motor mati. Kuduga mereka adalah para suami yang dengan setia ataupun terpaksa menjemput istri-istri mereka dari tempat kerja. Mereka adalah para suami kasir-kasir, sales promotion girls, dan mbak-mbak customer service.

Kubayangkan apa jadinya kalau aku jadi salah satu dari mereka. Apa kiranya akan kulakukan seandainya aku menjadi suami dari salah satu kasir \oh, please God she’s Mbakasircakep\ yang datang menjemput istri pulang kerja? Tentu aku tidak akan melakukan hal membosankan laiknya mereka dengan menunggangi sepeda motor yang diam belaka. Tentu akan kulakukan hal tak membosankan seperti misalnya membayangkan apa jadinya aku seandainya aku adalah seorang penyendiri yang suka berjalan kaki di malam hari demi menikmati indahnya bulan purnama dan iri melihat aku yang sedang menjemput istri. Lanjut membaca

Ahad Tekad dan Keluar Jawa

Masih pegal-pegal karena tadi malam pulang nyaris tengah malam. Alhamdulillah tidurku nyenyak, meski terakhir-terakhirnya bermimpi aneh. Lagi.

Oke. Selamat pagi menjelang siang, Saudara sekalian. Selamat berlibur dan bersenang-senang.

Di sini langit cerah. Berawan sedikit, ding. Eh, tapi tetap bisa dikatakan cerah, kok. Yah, begitulah pokoknya.

Dalam perjalanan pulang tadi malam aku merenungkan banyak hal. Dalam keadaan terantuk-antuk karena terkantuk-kantuk itu aku memikirkan masa yang akan datang. Di antaranya adalah mengenai pernikahan. Lanjut membaca

God is the Light

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” [QS Fushshilat (41): 37]


YUSUF ISLAM
GOD IS THE LIGHT

how great the wonders of the heavens
and the timeless beauty of the night
how great, then how great the Creator?
and its stars like priceless jewels
far beyond the reach of kings
bow down for the shepherd guiding him home

but how many eyes are closed
to the wonder of this night?
like pearls, hidden, deep
beneath a dark stream of desires
but like dreams vanish with the call to prayer
and the dawn extinguishes night
here too are signs
God is the Light, God is the Light

how great the beauty of the Earth
and the creatures who dwell on her
how great, then how great the Creator?
as its mountains pierce the clouds
high about the lives of men
weeping rivers for thousands of years

but how many hearts are closed to the wonders of this sight?
like birds on (in?) a cage, asleep with closed wings
but as (like?) work stops with the call to prayer and the birds recite
here too are signs
God is the Light, God is the Light

how great the works of man and the things he makes
how great, then how great the Creator?
though he strives to reach the heavens
he can barely survive
the wars of the world he lives in

yet, how many times he’s tried, himself to immortalise?
like his parents before him in the Garden of Eden
but like the sun sets with the call to prayer
and surrenders to the night
here too are signs
God is the Light Everlasting
God is the Light Everlasting
God is the Light Everlasting
God is the Light Everlasting

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS An-Nuwr (24): 35]

Ternyata sudah lumayan lama juga aku tidak memosting. Maafkan, maafkan…

Jagalah Aku

Ternyata manusia memang tak sepenuhnya bisa mandiri, Saudara-saudara…

Kadar keimanan si manusia jalang ini memang sering naik-turun. Berulang kali ia melakukan tindakan paling konyol: berseteru dengan Tuhannya! Paling konyol memang, karena tak ada lagi perbuatan yang lebih konyol selain mendebat Dzat yang mencipta seluruh jagad.

Semuanya bermula tatkala si manusia jalang kurang menyukuri nikmat dari Tuhannya. Egonya mampu mengalahkan taat yang sedari kecil terpatri dalam jiwanya. Dirinya berontak, berbuat kerusakan demi kerusakan, karena ia merasa dikecewakan. Ia tidak terima Tuhannya menentukan hal lain dalam kehidupannya. Tak semua yang ia pinta terturuti, tak semua yang ia inginkan terkabul. Marahlah ia. Padahal Tuhannya jauh lebih tahu apa-apa yang baik baginya dan apa-apa yang buruk baginya. (QS Al Baqarah: 216)

Ia sering tersadar. Kerusakan demi kerusakan yang ia buat justru mengakibatkan kehidupannya semakin buruk. Tak ada hal lain yang menghinggapi kalbunya melainkan rasa sesal dan bersalah.

Kemudian ia mencoba melakukan pembenaran demi pembenaran atas kelakuannya tempo lalu. Hal ini tidaklah membawa perubahan ke arah kebenaran, karena lagi-lagi ia berseberangan dengan Tuhannya. Dalam pembenaran itu ia merasa bahwa dirinyalah yang benar. Ia menginginkan sesuatu, maka ia pun mengusahakan sesuatu tersebut. Maka bila usahanya tidak membuahkan sesuatu itu, murkalah ia. Ia kemudian memusuhi Tuhannya yang ia pikir tidak menghargai segala jerih payahnya. Padahal, Tuhannyalah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Ia selanjutnya bersikap acuh tak acuh terhadap Tuhannya. Ia berpikir bahwa ia tidak membutuhkan lagi pertolongan dari-Nya. Dan benar, beberapa kali Tuhannya tak lagi menolongnya. Tentu hal ini untuk mengingatkannya, bahwa Tuhannyalah yang paling berkuasa atas kehidupannya. Dalam sujud ia menyesal, memohon ampunan atas tindak sombongnya. Ia menyadari bahwa sikap berontaknya tempo lalu adalah sebentuk perwujudan dari kesombongan. Dengan kesombongannya ia dihardik oleh Tuhannya karena Tuhannya amatlah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Tuhannya tentu saja memaafkannya, karena Ia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kadang kita merasa kitalah yang paling menderita di dunia ini. Kita yang paling nelangsa, dan kita merasa hina akan kenelangsaan kita. Padahal di mata Tuhan, kita tidaklah hina selama dalam penderitaan kita masih bersujud kepada-Nya.

Maka dari itu, jagailah aku. Jagalah shalatku, wahai saudara-saudaraku. Kumohon. Karena sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. (QS Al ‘Ankabuwt: 45)

I listen to the wind, to the wind of my soul
where I’ll end up well I think, only God really knows
I’ve sat upon the setting sun
but never, never never never
I never wanted water once
No, never, never, never

I listen to my words but they fall far bellow
I let my music take me where my heart wants to go
I’ve swam upon the devil’s lake
but never, never never never
I’ll never make the same mistake
No, never, never, never

THE WIND – CAT STEVENS