What’s in a name…

Salah satu inti kalimatku sewaktu berbincang-bincang dengan seorang kawan adalah begini, Saudara: memangnya jikalau dia mempunyai anak dia akan merelakan aku menjadi pemilih nama untuk anaknya itu.

Beberapa kawan sering menggantungkan keputusannya menggunakan sesuatu pada preferensiku. Misalnya ketika hendak menamai kucing-baru-lahir-nya, si kawan menanyakan apa warna kesukaanku. Maka apabila jawabanku adalah merah jambu, si kawan tadi akan menamakan kucing-baru-lahirnya dengan Pinky.

Misalnya lagi ketika hendak membuat blog pada layanan WordPress.com, si kawan menanyakan apa makanan kesukaanku. Ketika kujawab dengan kebab, aku pikir dia akan membelikanku seporsi besar kebab atau paling tidak membuatkannya. Maka aku pun kecewa ketika kemudian dia melanjutkan dengan memintaku memilihkan tema untuk blog-baru-akan-dibuat-nya.

Tulisan ini sejatinya bukan untuk mengabarkan bahwa aku menyukai warna merah jambu dan makanan kebab, akan tetapi mengenai penyandaran preferensiku dalam menentukan pilihan seseorang. Sejujurnya aku tidak berkeberatan terhadap hal tersebut \toh karena badanku sendiri sudah sedemikian berat\.

Aku hanya sedikit terbebani manakala preferensiku akan menjadi pengaruh besar bagi kehidupan seseorang. Lagi pula, bukanlah seseorang akan merasa lebih puas bilamana keputusannya dalam hal tertentu tidak dipengaruhi oleh preferensi apalagi tekanan dari luar dirinya?

Kepada si kawan sebagaimana kusebutkan di alinea awal, aku menekankan bahwa membuat blog di WordPress.com jauh lebih keren daripada sekadar membuat tulisan-tulisan aneh di titik-titik lain. Sekian.

Hidup Menghidupi

Aku adalah orangnya yang tidak sependapat dengan kalian yang:

  1. menjadi anggota Gerombolan Penumpas Kebajikan; dan atau
  2. memiliki pemikiran bahwa kehidupan di dunia maya terlepas sama sekali dari dunia nyata.

Kan kalian tidak membuka Facebook di dunia mimpi? Kan si Pocong itu tidak lantas membuka Twitter di dunia kubur?

Seperti topeng, karakter orang itu bisa dibuka-pasang berkali-kali, berulang kali berganti. Seperti bunglon pula terkadang, tabiat orang bisa berubah tergantung lingkungannya.

Kawan pun demikian: di taman berbaikan, di lapangan menjadi lawan. Mereka itu datang dan pergi silih berganti, seperti musim layangan yang sebentar lagi tampaknya akan digeser oleh musim gundu. Persahabatan sejati, itulah yang kurindu.

Ada kalanya aku terlalu berusaha keras membangun sebuah persahabatan. Apakah ia sewujud dengan permen karet yang makin sering dikunyah makin keras jadinya?

“Hidup itu harus menghidupi,” begitu kata seorang kawanku almarhum.

Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 4

Iseng melihat-lihat Draft Posts. Eh nemu tulisan ini. Tak terasa, sudah lebih dari tiga tahun. Revisi terakhir tulisan ini kulihat tanggal 10 Juli 2008 pukul 16:58.

Sebenarnya dulu sudah punya ide jalan cerita dan pengkhataman kisahnya. Akan tetapi… Ya sudahlah. Berikut ini adalah sebuah tulisan tak-terselesaikan dari rangkaian kisah garing nan lapuk (langsung dari kotak draft tanpa disunting):

===

Ini adalah episode terakhir dari tetralogi kisah “Perjalanan The-Penampakanz Band”. Setelah dua bulan lebih beberapa hari akhirnya penulis menyelesaikannya juga. Untuk itu pertama-tama penulis ingin mengucapkan puji syukur Alhamdulillâh kepada Allâh Subhânahu wata’âla. Tak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, adik-adik, handai taulan. Juga kepada para guru yang telah berhasil mengantarkan penulis hinga menjadi gak-genah writer seperti sekarang ini. Dan yang lebih penting, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pembaca sekalian, para fans The-Penampakanz Band, atas segala cacian dan makiannya yang sungguh menusuk kalbu serta segala sambitan yang ditujukan kepada penulis. Thank you very much. Ateng ngguyu makan tomat. Syukran jiddan. Ahlan wa sahlan. Ilal-liqa’. (^_^)v

Seperti telah dijanjikan dalam ¼ episode sebelumnya, pada episode terakhir ini nantinya akan diceritakan kehidupan pribadi masing-masing personil The-Penampakanz Band, mulai bagaimana karier copetnya FARIJS, kisah cintanya AANK, KRISNAAA dengan sepeda kesayangannya, IRRR dan para babysitter-nya, serta BNGKY dan gitar tuanya. Pada episode ini juga akan dikisahkan awal mula The-Penampakanz Band menampakkan diri di tengah gegap gempita panggung hiburan dunia demitz, bagaimana mereka mulai memasuki dapur rekaman hingga dapur warteg, dst. Jadi tunggu apa lagi, anak muda serta kaum perempuan kudu gabung dan kudu menang! //Yah, kek kampanye salah satu parpol baru bikinan Mister Sys Ente aja. Buru atu Bang Penulis, segera ceritakan kepada kami!// Lanjut membaca

Pertemanan

Memang pertemanan itu tak ada yang abadi. Terlalu banyak dinamika. Dulu waktu SD sudah bersohib karib, akrab sekali. Bisa ke toilet bareng, main bareng, makan satu piring, dsb. Kalau ada si A, pasti ada si B. Waktu kuliah masing-masing merantau ke luar kota. Sampai sekarang tak tahu kemana rimbanya.

Nikah … Katanya kalau satu nikah bakal rame, karena bawa anggota pertemanan baru. Eh nyatanya pas udah mulai pada nikah satu-satu udah mulai hilang dari lingkaran pertemanan. Masing-masing sibuk dengan pasangannya, masing-masing sibuk dengan lingkaran pertemanan baru yang diakibatkan oleh pernikahannya itu.

Derita lajang sisa pertemanan memang, senantiasa sendirian, dengan memegang penuh prinsip-prinsip status quo.

Mohon maaf, hari ini sedang galau gundah gulana bin bambang.

Kawin Dulu Baru Selingkuh

Selamat pagi, Saudara!

Ahad pagi yang cerah, matahari yang bergegas terbit, membuatku jadi tak nyaman tidur sampai siang. Hoho. Ya sudah, tunaikan hajat saja.

Nanti siang hendak pergi ke walimahan nikahnya seorang kawan. Sebaris teks dalam otakku dapt dibaca sebagai: Beruntung sekali dia, dalam hidupnya mulai hari ini akan ada yang mengurus.

Oh, Alhamdulillah. Ada seorang (maksudnya sepasang) lagi yang lulus dari predikat tunaasmara. Lantas bilakah aku?

Baru saja kututup telepon. Tadi berbincang cukup lama dengan seorang kawan yang sudah lama di kampuang nan jauh di mato. Isi perbincangan pun tak jauh-jauh dari pernikahan.

Berceritalah kami tentang bagaimana si fulan menikah, kapan si fulanah melahirkan, dan semacamnya. Rupa-rupanya sudah banyak pula kawan-kawan kami yang berumah tangga, sebagian sudah pula berkembang biak. Lantas giliran kami kapan?

Menikah itu tidak perlu terburu-buru. Kalau sudah waktunya, segerakanlah. Begitu nasehat seorang ustadz kepadaku beberapa tahun yang lalu.

Maka aku pun kembali berpikir, sudah waktunyakah bagiku untuk dapat menyegerakan? Lama kupikir, sembari membuang semua hajatku di pagi yang cerah ini, lantas kudapatkan sebuah jawaban. Adalah bagi mereka yang sudah, sudahlah memang waktunya, dan bagiku waktu belum sampai hingga tak perlulah aku bersegera.

Sudahlah. Takkan lari pula gunung dikejar. Baiknya nanti kupuas-puaskan diri di kondangan nanti. Kalau perlu kubawa serta rantang agar sepulangku dari sana aku tidak bertangan kosong.

:D

Buku-buku itu…

Saudara-saudara, coba perhatikan foto di bawah ini:

 

Buku-bukuku kini...

Buku-bukuku kini...

 

 

Hoho. Foto di atas memang sengaja dibuat gelap, agar segi artistiknya kelihatan. //Halah, bilang aja kagak bisa moto, Bang!//

Buku-bukuku kini
Entah siapa nanti yang akan mengopeni

Buku-bukuku. Sebagian telah berhasil kubaca sampai khatam. Sebagian belum sempat aku berikan kepada beberapa kawan. Sebagian sudah berhasil aku jamah sebagian. Sebagian baru bisa kulihat-lihat beberapa halaman.

Nasibmu kini, buku-bukuku. Tiada tempat yang layak untuk menampungmu di dalam kamar kecilku.

Saudara-saudara, masalah mendasar bagi orang-orang yang gemar membeli buku namun tidak terlalu gemar membaca buku layaknya aku ini adalah tidak terlalu memikirkan bagaimana nasib atau masa depan buku-buku yang dibelinya kelak. Ada solusi?

Pembasmi-Kecoak Berjenggot

farijsvanjava tadi menjadi pahlawan pembasmi kecoak di kosan cewek. hwahaha…!

Ya, Farijs Rider kembali beraksi, Saudara-saudara. Kali ini musuhnya adalah para kecoak alias kakerlak alias kepuyuk alias Lipasjorokus corois. Awalnya sang Farijs Rider mendapat callingan-needed-help dari teman perempuannya karena kamar mandi kosannya diserang segerombolan lipas yang ganas. Sang teman yang kecoafobia itu nyaris putus asa menghadapi segerombolan lipas tersebut hingga akhirnya Farijs Rider datang dengan tiba-tiba. Wusssssh! Farijs Rider dengan gagah perkasa segera menunjukkan kejantanannya.

Layaknya para jagoan film sebelum bertarung melawan tokoh jahat, terjadilah perang kata-kata antara Farijs Rider dengan gerombolan Lipasjorokus corois.

Farijs van Java: Pegi lu lu pade! Jangan mangkal di marih lagi! Ini daerah kekuasaan gue!
Lipasjorokus corois: miwmiwwwkk nuwkkwik mwiiik //translate please// Enak aje! Siape elu??
Farijs van Java: Kalau begitu, bersiaplah untuk menerima seranganku. Hiaaaaaaaattt!

Karena omongan Farijs van Java tak digubris, diindahkan, maupun difitrikan //korban sinetron mode on// akhirnya ia menunjukkan kedigdayaannya. Diluncurkannyalah serangan demi serangan bertubi-tubi ke arah para Lipasjorokus corois. Kaboooomm!! Kapow!! Deziii..iingg!! Plakk!! Pok ame-ame belalang kupu-kupu… Para Lipasjorokus corois tak dapat menahan serangan membabi-bisu dari Farijs van Java tersebut. Mereka pun takluk. Terbuktilah bahwa Farijs Rider memang sakti mandragade!

Senang rasanya berbuat suatu kebaikan. Meskipun itu hanyalah membasmi kecoak di kosan cewek. Di samping kita mendapatkan pahala dari Yang Maha Kuasa //Insyâ Allâh//, kita juga mendapat traktiran makan malam. Hwehe.

Sembari menyembuhkan trauma dan tekanan batin akibat gangguan para lipas, kutemani dia membeli segala perlengkapan antikecoak. Mulai dari semprotan antiserangga, kapur barus, hingga kapur ajaib antikecoak ia beli sekaligus. Meski telah kuyakinkan padanya bahwa para kecoak itu takkan datang lagi, ia bersikeras untuk mempersenjatai dirinya dengan benda-benda itu. Tak apalah, kupikir. Hitung-hitung mengurangi beban mentalnya. Bertekadlah ia untuk menjadi orang yang paling tidak jorok di dunia agar para kecoak tak datang lagi menghampirinya. Wuih, ternyata ada manfaatnya pula kecoak diciptakan di dunia ini. Sesungguhnya Allâh tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia….

Setelah puas membeli segala macam amunisi antikecoak, makanlah kami sate padang. Sate padang pun kami makan. Akhirnya kami makan sate padang. Berceritalah ia tentang asal muasal kecoafobia yang dideritanya. Rupanya ketakutan akan kecoak dimulainya sedari SD. Waktu itu, ketika sedang //maaf// pup, hinggaplah seekor dua sungut kecoak di kakinya. Perasaan merasa terancam nyawa dan jiwanya oleh makhluk kecil mungil menggelikan waktu itu terbawa hingga kini. Duh duh kasihan….

Di saat menikmati sate padang yang baru pertama kali itu kumakan //sungguh, ndak enak banget//, datanglah seorang pengelana bergitar alias pengamen jalanan. Jreng ejreng ejreeeng, jreng jrenggg! Kuberikan selembar rupiah. Terima kasih, Kak//memandang ke arah kawanku//, terima kasih, Om//memandang ke arahku//, ucap si pengamen pamitan. Begitu si pengamen ngeluyur pergi, aku langsung syok! Lemas. Apa?? Dia dipanggil “kakak” sementara aku dipanggil “Oom”??! Tidaaaaaaaakk!

Sebegitu boroskah mukaku memakan usia?? Semirip inikah aku dengan oom-oom yang sedang berkencan dengan gadis abege?? Di saat aku mengutuk mukaku sendiri itu ia tertawa terpingkal-pingkal. Makin lemaslah aku. Huh!

Katanya sih itu gara-gara jenggotku. Jenggotlah yang membuatku tampak belasan tahun lebih tua. Apakah iya, Saudara-saudara? Apakah benar? Sepertinya sih memang ada benarnya juga. Sudah banyak yang berkata seperti itu. Teman-temanku, bos-bosku, pakdhe-budheku. Bahkan ummiku sendiri pernah menyuruhku mencukur jenggotku lantaran takut orang-orang nanti menyangka aku suaminya ketika aku pergi dengannya. Waduhaduh™….

Jenggot, sesungguhnya lewat jenggotlah aku ingin membangkitkan kepercayaan diriku. Bahwa aku dapat menjadi dewasa. Bahwa aku bukan anak kecil lagi. Bahwa aku bisa mulia. Bahwa aku tak butuh orang lain tempat bergantung. Dan yang lebih penting adalah untuk meneguhkan bahwa aku seorang laki-laki. Aku adalah laki-laki! Kalian boleh mencukur kumisku atau membabat habis jambangku. Tapi janganlah sekali-kali kalian memaksaku mencukur jenggotku. Karena ia adalah kelaki-lakianku. Harga diriku!

Dalam kolam ada berudu
Dalam hati ada rindu
Bukan perasaan cemburu atau terharu
Bukan mau berucap I Miss You
Bukan pula I Love You
Cuma ingin berpesan sesuatu
Kalau mau bubu
Pipis dulu!

Ayo laki-laki, tidooooorr…!

v(^_^)

Jualan Mbok-mbok Jamu!

Jamu… jamu…. Siapa yang mau beli mbok-mbok jualan jamu….

(^_^)v

sbg minuman tradisional, beras kencur dikenal sbg mnmn yg brmnfat unt mngtasi pegal2, perut kembung, pghngt badan, dan pnmbh nfsu mkn.

Message delivered to:
(banyak banget orang!)
08-Aug-2008 20:08

SMS dikirim….

SMS diterima….

Beragam balasan SMS kuterima. Ada yang menanyakan ini semacam kuis atau apa. Ada yang menambahkan khasiat beras kencur itu sendiri. Ada yang terbengong-bengong. Ada yang cekikikan sembari berpikiran jorok. Ada yang perhatian kepadaku, menanyakan kesehatanku. Ada yang menanyakan apakah ini semacam promosi MLM. Ada yang memesan jamu. Ada yang memesan mbok-mbok yang jualan jamu. Ada yang … ini yang paling lucu. Ada yang … //nahan ketawa// … bilang kalau diriku ini sudah gila! Hwahaha…. Ups, nggak lucu, ya? Hoho. Maap kalo jayus. Hwehe….

(^_^)v

Suwe ora jamu
Jamu godhong telo
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe gelo

Suwe ora njamu
Njamu gendhong rondho
Suwe orang ketemu
Ketemu pisan ora kondho

Busyet! Jenuh banget. Buhuhu….

Hari ini aku sedang menjalankan sebuah misi yang teramat berbahaya. Sebuah misi dalam rangka menyelamatkan keuangan negara. Sebuah misi yang jika tidak dilaksanakan … halah! Nama misi tersebut cukup keren: Operasi Penghapusan GAME di Seantero Pusdiklat BC!

Ya, ini diriku sedang lembur. Menjalankan titah Surat Tugas yang merujuk kepada Surat Edaran yang teramat aneh. Bahwa dalam rangka melakukan efisiensi keuangan negara, memerintahkan segala bentuk GAME dalam komputer maupun laptop inventaris kantor. Hoho. Jadi tugasku ini teramat mulia sekali. Menghemat uang negara yang sedang dilanda krisis “koruptor” ini. Dan karena bahwasanya GAME itu juga merusak moral pelakunya, maka diriku juga melaksanakan sebuah misi sosial yang sangat besar. “Masa depan negara ini terletak di pundak Saudara,” begitulah mungkin yang disampaikan Ibu Menteri seandainya aku bertemu dengan beliau. Hwaha….

(^_^)v

Dah ah, makin siang makin lapar makin ngaco saja. Segera tuntaskan misimu, anak muda!

Semangat!

Farijs van Java gaat naar Parijs van Java

Yo!

Ahad kemarin. Dua hari kemarin. Oh, hari Ahad tanggal 8 kemarin. |sigh|

Ahad itu aku ke Bandung, bersama teman-teman. Kami bertiga, dengan menunggangi travel, berangkat jam 7.30 dari Bintaro Trade Center (BTC) menuju Cihampelas, Bandung. //Sempat melewati BTC juga. Bandung Trade Center. Hoho.// Jalan-jalan? Rekreasi? Tamasya? Piknik? Atau studi banding? Bukan! Tapi untuk suatu urusan yang wajib: menghadiri walimah pernikahan saudara kami, Kudang Boro Suminar. Mengapa ke Bandung? Ya karena memang resepsi pernikahannya di Bandung. Tepatnya di Jalan Asia-Afrika 114, Bandung. Lebih tepatnya di Gedung Keuangan Negara (GKN), Bandung. Di depan Hotel Grand Preanger persis.

Pukul 9.58 sampailah kami di Cihampelas. Menurut petunjuk si Gendut yang kutanya tadi malamnya, kami bisa naik angkot hijau jurusan Ledeng-Kalapa arah Kalapa untuk sampai di GKN. Naiklah kami dalam salah satu angkot hijau yang kami temui. Kejadian meng-uwâw-kan pertama: //Catatan: uwâw = kagum. Jadi meng-uwâw-kan = mengagumkan, mencengangkan. Kata “uwâw” diucapkan secara cepat di huruf “u”-nya kemudian diteruskan dengan melafalkan “wâ”-nya diucapkan secara halus sepanjang tiga ketukan dan akhirnya jatuh di huruf mati “w” dengan empuk. Ayo ucapkan bersama-sama: uwâw….//

“Ke Asia-Afrika, Pak?”

“Iya. Naik….”

Naiklah kami; dengan perasaan takjub akan kota Bandung. Uwâw…. Jalan-jalan raya yang tidak terlalu raya. Sempit. Merupakan jalan satu arah. Benar-benar meng-uwâw-kan. Tibalah kami di suatu jalan. Jalan Tamblong. Aku melihat gedung bertuliskan GRAND PREANGER.

“Loh, bukannya kata si Gendut GKN itu di depan Hotel Preanger?” kataku dalam hati.

“Eh, itu Hotel Preanger. Berarti GKN di situ, dong,” kataku pada kedua kawan sembari menunjuk ke arah yang berlawanan dengan GRAND PREANGER.

“Oh, iya ya. Tapi kok…masak itu GKN sih?” jawab kawan A.

“Iya, masak GKN berterali tertutup gitu…” timpal kawan B.

“Mbak, tahu Jalan Asia-Afrika nggak?” tanya kawan B kepada seorang penumpang.

“Ini Asia-Afrika,” jawab si Teteh. //Mbak = Teteh//

“Mas, kalau GKN di sebelah mana?” tanya kawan A kepada si supir angkot.

“Itu, di depan,” jawab kang supir. //Kang = Mas//

Kami bertiga berdecak “Oh….” dengan memalukannya.

Turunlah kami dari angkot setelah melihat sebuah gedung bertuliskan “Gedung Keuangan Negara”. Oh, ternyata Jalan Tamblong itu memotong Jalan Asia-Afrika menjadi dua blok. Sementara GKN ada di tepi perpotongan Jalan Tamblong dan Jalan Asia-Afrika. Grand Preanger tepat di depannya, di tepi perpotongan kedua jalan itu juga.

Waktu baru menunjukkan pukul 10 lewat beberapa menit. Sementara acara resepsi dimulai pukul 11. Jadilah kami menunggu di depan masjid kompleks GKN tersebut. Pas hampir pukul 11, rombongan pengantin keluar dari masjid tersebut. Akad nikahnya memang dilaksanakan di masjid tersebut, pada pukul 8.30-nya. Dan sebelum resepsi dimulai rombongan berdiam di dalam masjid. Waktu kedua mempelai keluar //yang notabene mempelai laki-laki adalah teman kami// uwâw…! Gagah sekali teman kami itu. Di sampingnya itu siapa, ya? Kok berani-beraninya merangkul tangan teman kami? Oh, iya benar. Dia istri teman kami. Istri-baru-jadinya. Hoho. Kami hanya bisa melongo di belakang rombongan.

Rombongan menaiki mobil menuju ruang resepsi. Tak berselang lama kami pun mengikuti. Di depan ruang resepsi…kejadian meng-uwâw-kan kedua berlangsung. Mojang-mojang Bandung, saudara-saudara! Bertindak sebagai penerima tamu! Uwâw…! Cantik-cantik nian. Berjilbab hijau, berkebaya hijau. Wah, semua hijau. Hijau itu memang indah! //Mau dong dilamarin. Hwehe….//

BERSAMBUNG

//Hwehe. Lagi sibuk, saudara-saudara. Belum sempat melanjutkan. Nantilah kapan-kapan kulanjutkan kisah Farijs van Java gaat naar Parijs van Java ini. Dijamin seru, pokoknya jaminan mutu, lah. Hoho. Semangat!//