Yo!
Ahad kemarin. Dua hari kemarin. Oh, hari Ahad tanggal 8 kemarin. |sigh|
Ahad itu aku ke Bandung, bersama teman-teman. Kami bertiga, dengan menunggangi travel, berangkat jam 7.30 dari Bintaro Trade Center (BTC) menuju Cihampelas, Bandung. //Sempat melewati BTC juga. Bandung Trade Center. Hoho.// Jalan-jalan? Rekreasi? Tamasya? Piknik? Atau studi banding? Bukan! Tapi untuk suatu urusan yang wajib: menghadiri walimah pernikahan saudara kami, Kudang Boro Suminar. Mengapa ke Bandung? Ya karena memang resepsi pernikahannya di Bandung. Tepatnya di Jalan Asia-Afrika 114, Bandung. Lebih tepatnya di Gedung Keuangan Negara (GKN), Bandung. Di depan Hotel Grand Preanger persis.
Pukul 9.58 sampailah kami di Cihampelas. Menurut petunjuk si Gendut yang kutanya tadi malamnya, kami bisa naik angkot hijau jurusan Ledeng-Kalapa arah Kalapa untuk sampai di GKN. Naiklah kami dalam salah satu angkot hijau yang kami temui. Kejadian meng-uwâw-kan pertama: //Catatan: uwâw = kagum. Jadi meng-uwâw-kan = mengagumkan, mencengangkan. Kata “uwâw” diucapkan secara cepat di huruf “u”-nya kemudian diteruskan dengan melafalkan “wâ”-nya diucapkan secara halus sepanjang tiga ketukan dan akhirnya jatuh di huruf mati “w” dengan empuk. Ayo ucapkan bersama-sama: uwâw….//
“Ke Asia-Afrika, Pak?”
“Iya. Naik….”
Naiklah kami; dengan perasaan takjub akan kota Bandung. Uwâw…. Jalan-jalan raya yang tidak terlalu raya. Sempit. Merupakan jalan satu arah. Benar-benar meng-uwâw-kan. Tibalah kami di suatu jalan. Jalan Tamblong. Aku melihat gedung bertuliskan GRAND PREANGER.
“Loh, bukannya kata si Gendut GKN itu di depan Hotel Preanger?” kataku dalam hati.
“Eh, itu Hotel Preanger. Berarti GKN di situ, dong,” kataku pada kedua kawan sembari menunjuk ke arah yang berlawanan dengan GRAND PREANGER.
“Oh, iya ya. Tapi kok…masak itu GKN sih?” jawab kawan A.
“Iya, masak GKN berterali tertutup gitu…” timpal kawan B.
“Mbak, tahu Jalan Asia-Afrika nggak?” tanya kawan B kepada seorang penumpang.
“Ini Asia-Afrika,” jawab si Teteh. //Mbak = Teteh//
“Mas, kalau GKN di sebelah mana?” tanya kawan A kepada si supir angkot.
“Itu, di depan,” jawab kang supir. //Kang = Mas//
Kami bertiga berdecak “Oh….” dengan memalukannya.
Turunlah kami dari angkot setelah melihat sebuah gedung bertuliskan “Gedung Keuangan Negara”. Oh, ternyata Jalan Tamblong itu memotong Jalan Asia-Afrika menjadi dua blok. Sementara GKN ada di tepi perpotongan Jalan Tamblong dan Jalan Asia-Afrika. Grand Preanger tepat di depannya, di tepi perpotongan kedua jalan itu juga.
Waktu baru menunjukkan pukul 10 lewat beberapa menit. Sementara acara resepsi dimulai pukul 11. Jadilah kami menunggu di depan masjid kompleks GKN tersebut. Pas hampir pukul 11, rombongan pengantin keluar dari masjid tersebut. Akad nikahnya memang dilaksanakan di masjid tersebut, pada pukul 8.30-nya. Dan sebelum resepsi dimulai rombongan berdiam di dalam masjid. Waktu kedua mempelai keluar //yang notabene mempelai laki-laki adalah teman kami// uwâw…! Gagah sekali teman kami itu. Di sampingnya itu siapa, ya? Kok berani-beraninya merangkul tangan teman kami? Oh, iya benar. Dia istri teman kami. Istri-baru-jadinya. Hoho. Kami hanya bisa melongo di belakang rombongan.
Rombongan menaiki mobil menuju ruang resepsi. Tak berselang lama kami pun mengikuti. Di depan ruang resepsi…kejadian meng-uwâw-kan kedua berlangsung. Mojang-mojang Bandung, saudara-saudara! Bertindak sebagai penerima tamu! Uwâw…! Cantik-cantik nian. Berjilbab hijau, berkebaya hijau. Wah, semua hijau. Hijau itu memang indah! //Mau dong dilamarin. Hwehe….//
BERSAMBUNG
//Hwehe. Lagi sibuk, saudara-saudara. Belum sempat melanjutkan. Nantilah kapan-kapan kulanjutkan kisah Farijs van Java gaat naar Parijs van Java ini. Dijamin seru, pokoknya jaminan mutu, lah. Hoho. Semangat!//