Sesungguhnya aku bukanlah katak, yang menanti-nanti hujan turun. Pun aku bukanlah tukang ojek payung yang tak ingin hujan segera reda. Aku hanyalah lelaki biasa yang menanti hujan berhenti karena lupa membawa payung. Harap maklum.

View on Path

Tubin, Tulat, Lusa, lalu Esok

Saudara, pernahkah selama semalaman mulut kalian tidak berhenti menyunggingkan senyum?

Entah siapa yang melukis, tetapi semalaman ini bibirku melebar sejadi-jadinya mengembangkan senyuman termanisku. Entah pula apa yang menyebabkannya, aku tak mau repot-repot menyelidikinya.

Dari harus berlari-larian di bawah gerimis mencari ojek, ngotot-ngototan rebutan kursi, terpaksa menyimak orang bertengkar, sampai susah tidur karena posisi tidak memungkinkan tidak menyurutkan mulutku untuk selalu tersenyum lebar.

Kerajaan

Daily Post mengatakan, “Open your nearest book to page 82. Take the third full sentence on the page, and work it into a post somehow.”

Maka kuambil saja buku “Mahabharata”-nya Nyoman S. Pendit yang sedari tadi berada di samping kepalaku yang sedang rebahan lantas kubuka di halaman yang dimaksud:

“BEGITU KERAJAAN INI ADA DI TANGAN KITA, MEREKA AKAN KEHILANGAN KEKUASAAN,” bisik Kera kepada Kancil. Si Kancil pun lantas berpikir, “Tetapi bagaimana mungkin kita bisa merebut Kerajaan Hutan ini dari Raja Semut dan para pengikutnya yang sakti mandraguna?”

Aha!

Si Kancil pun bersemangat karena telah mendapatkan ilham lantas mendekatkan mulutnya kepada telinga Kera seraya berbisik, “Mari kita culik saja Sang Ratu.”