Fenomena Film Ayat Ayat Cinta

Heboh film Ayat Ayat Cinta! Seantero Indonesia memperbincangkannya. Tak terkecuali di dunia maya. Telah banyak kubaca tulisan-tulisan mengenai ulasan film tersebut. Kebanyakan mengritik dan kecewa kepada film yang diangkat dari novel Ayat Ayat Cinta karya Kang Abik ini. Mulai dari cerita yang tidak sesuai dengan novelnya, lah. Tokoh yang kurang, lah. Watak karakter yang kurang, lah. Sampai kepada pesan dakwah yang ada dalam novelnya tidak tersampaikan dalam film ini. Penasaran juga aku jadinya untuk menonton film ini.

Akhirnya kesempatan menonton film Ayat Ayat Cinta datang juga kemarin. Kami, sebanyak 20 orang, kemarin siang berangkat dari kantor //bolos sebentar// ke Atrium Mal. Tujuannya tak lain tak bukan untuk menonton film tersebut. Di kantor memang fenomena film ini sudah menyebar. Banyak yang membicarakannya. Kebanyakan sih memuji. Kami pun menonton, meski datang terlambat sekitar lima menit setelah film diputar.

Poster Film Ayat Ayat Cinta

Aku memang datang ke bioskop dengan hati yang penuh kecewa terhadap film ini. Kekecewaan itu timbul setelah membaca banyak tulisan mengenai ulasan mengritik film ini. Namun karena penasaran, aku menjadi ingin menontonnya. Semoga tidak bertambah kecewa.

Beberapa menit kutonton, gelitik di hati pun muncul. Mengapa sering memperlihatkan tasbih? Aisha memegang tasbih, orang di metro memegang tasbih, ayah Fahri memegang tasbih, dll. Kebanyakan orang awam memang sering menjadikan tasbih sebagai simbol kealiman. Seseorang yang memegang tasbih dianggap alim dalam ilmu agama, dan dekat dengan Tuhannya. Padahal setahuku, Rasulullâh SAW tidak pernah berdzikir menggunakan biji-biji tasbih. Tidak ada tuntunan dalam Islam tentang tasbih. Bahkan ada segelintir orang yang mengatakan bahwa tasbih itu bid’ah.

Film Ayat Ayat Cinta memang berbeda dengan novelnya. Ceritanya banyak yang ditambah. Semisal Fahri yang memimpin rapat organisasi di awal film, serta kehidupan poligaminya Fahri yang di dalam novel tidak sempat dilalui karena keburu Maria ke “surga”. Memang, sebagaimana halnya Harry Potter dan The Da Vinci Code, film dan novel boleh beda. Film dan novel merupakan dua produk yang berbeda. Sah-sah saja kalau ceritanya dibuat agak berbeda. Namun aku kecewa, karena banyak pesan-pesan dakwah yang ada pada novel tidak tersampaikan di film tersebut. Pesan dakwah yang terselipkan lewat karakter-karakter para tokohnya, banyak yang berkurang.

Karakter Aisha yang di dalam novel yang sangat shalihah, di film ia terlalu “nakal” menurutku. Lancang sekali ketika ia membuang komputer Fahri, suaminya, tanpa izin. Kemudian ia hendak kabur dari rumah, tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya.

Kekecewaan lain tentang setting dalam film tersebut. Proses syuting memang tidak dilakukan di Mesir melainkan di India dan Indonesia. Namun untuk mencitrakan bahwa itu seolah-olah terjadi di Mesir, menurutku kurang //meski aku belum pernah ke Mesir//. Adegan ketika Fahri akan pergi talaqi, debu-debu yang beterbangan kulihat tidak natural.

Ada lagi sewaktu adegan di rumah Paman Eqbal. Mikrofon yang dipakai untuk mengambil suara para pemain terlihat dalam film. Menurutku itu sangat besar pengaruhnya dalam menilai profesionalisme pembuatan film tersebut. Film layar lebar, ini. Kok bisa-bisanya Mas Hanung mengambil scene ini?

Terus ada lagi, tentang pemunculan produk makanan dan minuman sponsor. Aneh saja kupikir, ada minuman tersebut di Mesir. //Meski aku tak tahu produk tersebut diekspor ke Mesir atau tidak.//

Setelah keluar dari bioskop, banyak yang masih memperbincangkan film ini. Film yang bagus, kata mereka. Malah beberapa mengaku menangis sewaktu adegan-adegan sedihnya. Yah, film ini memang tentang kisah percintaan dan drama agaknya. Lumayan lah, daripada film ber-genre horor yang masih marak belakangan ini.

Yah, tulisan ini sebatas pendapat pribadiku. Semoga pendapatku dihargai sebagaimana aku menghargai orang-orang yang memuji film ini. Yang telah membaca novelnya sekaligus menghayati makna yang terkandung di dalamnya, sepertinya memang bakal kecewa dengan film ini. Setidaknya itu menurut penilaianku. Hehe. Peace!

(^_^)v

[UPDATE]

Setidaknya dari film ini orang-orang kebanyakan tahu bahwa Islam tidak mengenal sistem pacaran. ^^

9 pemikiran pada “Fenomena Film Ayat Ayat Cinta

  1. aq sangat suka sama karya2 kang habib,apalagi AAC. . .
    sebagai wanita banyak hal2 yang bisa aq ambil dari novel tersebut.Klo menurut aq,g ada masalah tuh ma film AAC.Stiap orang punya pandangan masing2 akan suatu hal.mungkin saja yang anda ambil hikmah dari novel belum tentu pa yang ingin disamapaikan si penulis.begitu pula dengan sang sutradara ingin menyamapaikan hikmah yang lain.
    film tu bgus2 aja asalkan tidak melenceng jauh dr pa yang diceritakan.

    Suka

  2. Menurut gw, di DA VINCI CODE, ceritanya udah sama dgn di novel tuh.

    “Ada lagi sewaktu adegan di rumah Paman Eqbal. Mikrofon yang dipakai untuk mengambil suara para pemain terlihat dalam film.”
    > inget ris, namanya bukan “mikrofon” tapi Boom. kru yang pegang boom namanya Boomer, doski ga kenal ama mulan jameela kali, makanya minder ama keteknya, yang harus diangkat-angkat biar boomnya ga masuk screen.
    hehehehe

    Terus ada lagi, tentang pemunculan produk makanan dan minuman sponsor. Aneh saja kupikir, ada minuman tersebut di Mesir.
    > “built in product”/pemunculan product dalam tayangan lazim ada. tp klo kita teliti lagi, di scene pertama tuh pas fahri lagi ngebenerin tesisnya, temen-temennya yang kacamata sama yang satunya (bukan saiful) dpt kiriman mie ABC dan Nu Tea itu dari tanah air. jd emang produk itu ga didapat di Mesir

    tapi .. emang, FILM AYAT-AYAT CINTA=FILM INDIA. males nontonnya

    Suka

  3. #neng lala
    oh, namanya boom. baru tau aku.

    soal produk, iya emang bener. iya emang dpt kiriman dr tanah air. tp…. tetep aja menurutku jadi ganjil.

    oya, satu lagi yg aku kritisi dari film itu. agaknya itu film memperbolehkan untuk makan dan minum sambil berdiri, apalagi berjalan. yah, jadi kecewa dah.

    (^_^)v

    Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s