Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 3

Pada setengah episode sebelumnya, diceritakan bahwa AANK telah terlepas dari keputusasaannya dan bertekad akan menjadi pengamen yang terkenal. Yah, setidaknya itulah yang sekarang ini menjadi obsesinya, menjadi pengamen terkenal. Mengapa tidak sekalian menjadi penyanyi terkenal? Penulis pun tidak bisa menjelaskan. Suka-suka dia, lah. Terserah AANK sendiri, lah. AANK-lah yang paling berhak menentukan jalan hidupnya.

BNGKY-lah yang waktu itu memberikan semangat kepada AANK. BNGKY-lah yang meyakinkan AANK bahwa dirinya bisa menjadi pengamen terkenal. Dengan tepukan-tepukannya ke punggung AANK, BNGKY berusaha membuktikan bahwa dirinya care kepada AANK. AANK pun merasa nyaman akan tepukan-tepukannya itu. Sebenarnya BNGKY tidak tulus melakukannya. BNGKY berbuat demikian tak lain agar AANK menurunkan suku bunga pinjamannya sewaktu membeli tiket masuk Monas sebagaimana diceritakan dalam setengah episode sebelumnya. //Di Jakarta, mana ada nyang gratis!?//

“Ayo BNG. Kita beraksi. Ayo kita mengamen. Kita tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa. Kita tunjukkan pada ITEMZ bahwa inyong bisa jadi artis. Meski hanya sekadar artis dalam bis.”

“Ayo, ANK. Kita segera turun. Kita cari bus yang kosong, trus kita ngamen di dalamnya.”

“Loh, kok bus kosong?”

“Iya, agar kita lebih leluasa mengembangkan bakat bermusik kita.”

“Ah, bilang aja kowe malu, BNG.”

“Yah, ketahuan deh. Iya sih, ambo malu. Emang dikau tidak malu?”

“Sebeneré inyong juga malu kalo musti ngamen di depan khalayak rame.”

Sementara percakapan kedua pemuda tersebut masih berlangsung, KRISNAAA yang sedari tadi mengikuti BNGKY dan AANK kecewa akan keputusan AANK yang tidak jadi bunuh diri.

Krisnaaa di Puncak Monas

Namun demikian, KRISNAAA kemudian mendapatkan gagasan baru. Gagasan untuk bergabung dengan grup pengamen BNGKY dan AANK yang baru saja terbentuk.

“Keknya gw musti gabung ama ni orang bedua. Sebab kata Aa’ Jimmy, apabila ada dua orang bukan mahram berkumpul, yang ketiga adalah setan. Loh, gw nyang jadi setannya, dong. Ah, sebodo teuing. Yang penting gw bisa dapat pekerjaan yang lebih bermartabat dibandingkan menjadi pengemis. Meskipun Ustadz Ucup Manjur sering menganjurkan ama orang-orang untuk bersedekah kepada para pengemis kek gw, tapi Ustadz UYe juga pernah bilang bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan kalo tidak salah, maksud perkataan Ustadz UYe adalah bahwa kita hendaknya mengamen daripada mengemis. Tapi setelah dipikir-pikir, keknya kesimpulanku itu salah deh. Ah, bodo amat. Amat aja ga bodo. Pokoknya gw musti bisa gabung ama ni orang bedua. Gw juga pengen jadi pengamen terkenal! Biar emak gw bangga punya anak kek gw. He he he….”

Sejurus kemudian, KRISNAAA pun menghampiri AANK dan BNGKY.

“Sori nih. Gw dari tadi ga sengaja dengerin obrolan lo lo pade. Lo bedua pade mo bikin grup ngamen, ye? Gimane kalo gw gabung?”

“Anda ingin bergabung dengan grup pengamen kami? Coba tolong sebutkan apa saja kemampuan dan kelebihan Anda.”

“Kelebihan saya antara lain muka yang besar dan lebar serta rata seperti tembok, sehingga tidak akan habis malu saya. Tampang saya juga menyedihkan, sehingga dapat mendatangkan iba dari orang-orang yang menjadi target amenan kita. Saya juga mempunyai suara yang nge-bass. Grup pengamen kita nantinya bisa menjadi grup pengamen yang fenomenal sekaligus pioner dalam hal penggunaan bass sebagai instrumen mengamennya. Sekarang ini, sudah tidak zaman lagi penggunaan drum mini sebagai instrumen mengamen.”

“Selain kelebihan tadi, Anda sepertinya mempunyai kelebihan yang lain, yaitu pintar ngomong dan omong besar. Baiklah, Anda kami terima sebagai karyawan tetap kami. Anda ingin gaji berapa?”

“Sesuai dengan beban kerja saya, saya ingin gaji sebesar sepuluh juta rupiah per bulan. Selain itu, saya ingin fasilitas berupa mobil mewah, rumah dinas, dan laptop.”

“Dasar cah edan! Gemblung! Pengamen kok fasilitasnya sudah seperti anggota DPR saja!”

“Hehe. Sori, bos. Keseringan ngehayal soalnye. Gimane kalo kita betiga masing-masing dapet 30 persen dari penghasilan mengamen?”

“Ah, ambo satuju-duabelas. Tapi jangan lupo kita sebagai warga negara yang baik, kita membayar PPh Pasal 21 sesuai ketentuan yang berlaku.”

“Dan ojo klalen, dua setengah persennya buat zakat penghasilan. Ingat apa kata Pak Ustadz JAIMuddin Emjet, sebagian dari harta kita terdapat harta para fakir-miskin, orang-orang jompo, janda-janda yang tidak mampu, dan anak yatim.”

“Jangan lupe juge buat infak ma sedekah, coy. Ingat ape nyang suka dibilang Ustadz Ucup Manjur tentang dahsyatnya sedekah.”

Begitulah asal-muasal mereka bertiga bergabung membentuk sebuah grup pengamen. Grup pengamen yang merupakan cikal-bakal The-Penampakanz Band. Meski kini mereka mengamen, cita-cita mereka untuk menjadi tenar tak terpatahkan. Walau ada aral melintang, banyak duri bertebaran di muka jalan, ribuan rintangan menghadang, jalanan yang terjal, semangat mereka tak tergoyahkan. Tanpa mereka sadari, sebuah masa depan yang cerah telah menanti mereka di hadapan. Buah manis dari perjuangan pahit yang kini mereka jalani. //Dan kini BNGKY tidak perlu lagi malu tampil mengamen di dalam bus yang ramai, karena sekarang ia didampingi oleh dua sosok makhluk yang lebih memalukan. Pis!//

Bngky, Krisnaaa, dan Aank sewaktu rehat mengamen

AANK, BNGKY, dan KRISNAAA kini menjadi tiga sekawan //Loh, bukannya sekawan itu artinya empat?//. Kemana-mana tak terpisahkan. Bahkan untuk ke toilet pun mereka bersama. Alasannya adalah agar membayar uang kepada penjaga toiletnya cukup untuk ongkos satu orang. “Ini namanya penghematan,” sangkal mereka bertiga membela diri.

Dalam menekuni pekerjaan mengamennya, mereka memegang satu prinsip yaitu “rawe-rawe rantas, malang-malang putung.” Yang artinya kalau tidak salah adalah “korupsi diberantas, pengamen jadi untung.” //Betul tidak ya? Pembaca, betul nggak tuh artinya?// Ketiga pemuda ini rupanya memiliki idealisme yang tinggi. Bahkan lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh para mahasiswa saat ini yang doyannya nge-drugs dan cuma hepi-hepi. Mereka memiliki semangat empat lima enam dalam memberangus tindak pidana korupsi. Mereka bertiga mendukung tindakan-tindakan Bapak Antasari Azhar dalam memusnahkan korupsi di negara kita ini. Karena itu, dalam salah satu session mengamen mereka, diselipkan iklan layanan masyarakat sebagai berikut:

Korupsi… (auw!) meracuni keimanan….
Korupsi… (auw!) merusakkan masa depan….

Korupsi dapat menyebabkan insomnia //bagi pelakunya//, kelaparan //bagi rakyat Indonesia//, kerugian negara, bibir pecah-pecah, dan susah buang air besar.

Korupsi tidak menyebabkan kantuk. Baca aturan pakai. Jika sakit berlanjut, hubungi dokter.

Seperti biasa, pagi-pagi mereka sudah rapi-jali. Setelah mandi dan menggosok gigi, mereka bertiga bergegas ke terminal Blok M untuk memulai aksi mengamennya. Terminal Blok M pagi itu masih lengang. Masih sedikit orang dan kendaraan yang berlalu-lalang. Hasil survei membuktikan bahwa dari seratus orang yang memberikan polling, terdapat 5 orang yang mengaku sebagai penumpang betulan, 18 orang pengamen, 23 pedagang asongan, dan sisanya copet. //Wuih, kok banyakan copetnya, yak?//

Sementara menunggu bus yang ramai penumpang //ye…sekarang dah waras// AANK, BNGKY, dan KRISNAAA memakan sepotong roti untuk sarapan pagi. //Sepotong roti bertiga? Mana kenyang, bo’….// Sedang enak-enaknya menikmati santapan pagi, tiba-tiba tangan KRISNAAA yang sedang memegang roti ditabrak oleh orang bertopeng yang berlari sangat kencang. Secara otomatis rotinya pun terlempar kemudian jatuh tepat di atas eek kucing. Sontak sang KRISNAAA pun mewek, menangis meraung-raung laksana bayi macan yang sakit gigi.

Sementara itu, ada seorang pemuda yang berlari pelan sekali searah dengan larinya orang bertopeng tadi. Seiring dengan gerakannya yang slow motion, pemuda tersebut berteriak dengan pelan sekali, nyaris tak terdengar. Persis seperti ARJUNA saat berperang melawan RAHWANA memperebutkan SHINTA. //Loh, kok campur-campur ceritanya?//

“Jambreeeeet…. Ealah tolong…. Tas kulo dijambreeeeet…. Dasar tukang jambreeeeet…. Yen mlayu mbok yo ojo rikat-rikat…. Alon-alon wae tho yo…. Alon-alon asal klakon, mas….”
<Translation: “Dasar jambret sialan! Kampret! Kutu busuk! Kalo berani, jangan lari! Seenaknya aja ngambil tas orang! Kagak punya tas, ya? Beli sendiri, dong! Dasar babi ngepet! Kutu kupret! Sejuta topan badai! Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu! Kucing dalam karung!”>
//Wah, sepertinya ber-le-bih-han ini tukang penerjemahnya. Ter-la-lu….//

Pemuda yang belakangan diketahui bahwa ia adalah IRRR tersebut rupanya sedang mengejar seseorang yang telah menjambret tas berisi obat panu dagangannya. Karena memang sejak dari leluhurnya menerapkan kaidah “alon-alon asal kelakon”, tak ayal IRRR tak mampu mengejar si penjambret. Ia hanya bisa meratapi nasibnya.

“Ya Alloh, Gusti Pengeran ingkang Mohoagung…. Opo salah kulo dumatheng Panjenengan? Sampung kapirang-pirang kulo dijambret, dicopet, dikepret. Nopo salah kulo, Pengeran??”

Sudah seperti adegan dalam wayang saja melihat tingkah laku IRRR tersebut. Kemudian karena mengetahui bahasa ghaib yang diucapkan oleh IRRR, AANK mengerti keputusasaan yang sedang dialami IRRR. Untuk menghibur hati IRRR, kemudian AANK berkata:

“Wis, tha. Sira aja kayak kuwèk. Sira mustiné istigpar. Astaghfirullohal ajim…. Sira mustiné inspèksi //maksudnya introspeksi//. Gusti Alloh lagi nguji ira. Gusti Alloh tidak bakal menguji hamba-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya tersebut. Lâ tahzan. Inna ma’al ‘usri yusrâ…. Jangan bersedih. Sesungguhnya dibalik batu itu ada udang. Eh, salah. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Begitulah nasihat AANK, mengutip apa yang sering didengarnya di pengajian-pengajian sewaktu masih di kampung dulu. Berbakat juga rupanya si AANK menjadi dai.

“Iye, Bro. Yang lalu biarlah berlalu. Ibarat pepatah Sunda mengatakan ‘past gone by gone’. Itu artinye lo kudu minum baygon. Eh, salah ye. Hehe. Ibarat kate orang Betawi ‘pucuk dicinta, ulam tiba’. Tas hilang, rejeki datang. Kalo emang rejeki mah kagak kemane, Bro.”

“Ambo satuju-duabelas. Tumben dikau benar, KRISNAAA. Benar itu, Kisanad. Ibarat orang Minang bilang ‘men sana in korpore sano’. Biarlah tas itu pergi ke sana, dikau ikhlaskan sajo. InsyaAllâh nanti ada gantinyo.”

“Tapi…tapi…. Tapi kulo saiki tidak punya pekerjaan jadinya, é…. Kulo nantinya makan paké apa?”

“Kalo indak punyo sendok dan garpu, makannyo pake tangan sajo. Ato biar ambo sajo yang nyuapin. Bagaimano?”

“Huss! Ngawur baèn! Wis, tha. Sira gabung baèn bareng grup ngamen kita. Piyé?”

“Iye, Bro. Mending ngikut kita aja. Ayo gabung ama kita-kita.”

Begitulah, akhirnya IRRR pun bergabung dengan grup pengamen tersebut. Sekarang personil grup pengamen tersebut genap sudah: Empat.

BERSAMBUNG

===

10 pemikiran pada “Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 3

  1. nanti dong, mBak rhe. di episode selanjutnya. semoga seru. tapi keknya ga jamin ya. soalnya komputer kekasihku udah meninggal. jadi kadang ga da ide.

    (^_^)v

    Suka

  2. wah…bagus mas alur cerita na…!
    kapan nih lanjutan na
    semoga sukses ya perjalanan na the penampakanz band

    tetep semangat jalani hari…!

    Suka

  3. #arto
    tunggu aja, lah. sebenernya endingnya dah ada, cuman lom ada alur buat ke sana. jd tunggu aja. hehe….

    (^_^)v

    tp sayang komputerku meninggal, jd mungkin rada lama selesainya.

    semangat!

    Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s