Menulis vs Membaca

Saudara-saudara, ternyata memang ada keterkaitan antara kemampuan menulis dengan kebiasaan membaca, ya. Coba saja kita tengok sang penyair ulung kebanggaan Indonesia, Taufik Ismail. Kemampuannya dalam menulis lahir karena beliau sejak kecil gemar membaca. Ditambah beliau sewaktu muda pernah menjadi penjaga perpustakaan Pelajar Islam Indonesia Pekalongan. Sembari menjaga perpustakaan, beliau dengan leluasa membaca. Tak hanya buku sastra yang beliau baca, melainkan juga sejarah, agama, dan agama.

Kemudian tengok juga Andrea Hirata, sang penulis tetralogi “Laskar Pelangi” yang termasyhur itu. Beliau pun menyenangi membaca. Dengan membaca, pengetahuannya pun bertambah. Wawasannya menjadi luas. Coba saja baca tetralogi “Laskar Pelangi”-nya. Banyak sekali istilah-istilah ilmiah yang jarang kita //kita?? lo aja kaleee// dengar.

Kualami sendiri betapa sulitnya menulis karena ketidakgemaranku membaca. Entah itu menulis paper, makalah, artikel, hingga postingan di blog ini pun terhalang karena kurang banyaknya bahan. Penulisan menjadi terhambat karena terbentur, biasanya, oleh istilah-istilah tertentu yang tidak kutemukan sebagai representasi dari ideku //kata “ide” ini contohnya yang sebenarnya tidak kuinginkan untuk dipakai pada kalimat ini//. Misalnya ketika akan menulis kalimat-kalimat penjelas maupun pelengkap atas ide pokok suatu tulisan, seringkali aku mengalami kebuntuan lantaran tidak kutemukan bahan pelengkap ataupun istilah yang tepat sehingga kalimat-kalimat tersebut urung kulanjutkan.

Meskipun pepatah lama “membaca ibarat membuka jendela dunia” sempat terpatahkan oleh pepatah baru “banyak baca banyak lupa”, namun agaknya pepatah yang lama tersebut mampu mempertahankan eksistensi dirinya di zaman yang serba berubah seperti sekarang ini. Betul tidak, Saudara-saudara?

Pertanyaan yang tertinggal dalam benakku adalah: bagaimana agar kita menyukai membaca?

6 pemikiran pada “Menulis vs Membaca

  1. bagaimana agar kita menyukai membaca?

    Jadikan buku sebagai teman. Saat ada ketergantungan padanya, maka kita tak akan mau pisah darinya.

    Farijs van Java berkata,
    teman? ketergantungan? makin bingung aku, mbak. hwehe…

    (^_^)v

    itulah pertanyaan yang mengikuti. kata “seseorang”, buku adalah sebaik-baiknya teman duduk. tapi gimana caranya jadiin buku sebagai teman? kenalan dulu, gitu?

    Suka

  2. klo aku susah menulis postingan karena volume kerjaan lagi seabrek alah mak…. makanya sempet vakum

    Farijs van Java berkata,
    ye, sapa yg nanya, pan?

    (^_^)v

    kau kn punya hp bgs, pan. jd bs ngeblog kapan aja dan dimana aja, lah. ayo semangat ngeblog!

    Suka

  3. betulbetulbetul -ipin mode : on-

    gw wkt kcil suka nulis -coret2 maksud’y- eh,skarang jd suka bca :mrgreen:

    Farijs van Java berkata,
    woi, ipin. ayam panggang ama ayam goreng enakan mana? hwehe.

    (^_^)v

    jah, gw jg dulu suka bgt coret-coret, ir. mpe skrg malah. hwehe. tp ttp aja ga doyan baca. apa karena skrg msh suka coret-coret, ya?

    betul betul betul

    Suka

Tinggalkan Balasan ke fauziah85 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s