My belly is dancing in this rainy day

Titik-titik hujan masih membasahi
Kala kau menyapa pelangiku

Ingin kuberlari jumpa bidadari
Bawalah aku pergi bersamamu

(Sherina – Pelangiku)

Hwehe. Rawamangun baru saja terguyur hujan rintik-rintik, Saudara-saudara. Setelah beberapa hari ini Jakarta panas membara. Terasa segar sekali tatkala aku berlarian ke arah kantor dari masjid. Bau semerbak aspal berdebu yang diguyur hujan yang menusuk menjadikanku kembali merasakan lapar. Ya, aku lapar. My belly is dancing in the rainy day. Perutku keroncongan.

Tadi pagi sudah sarapan, sih. Lontong Pecel. Lumayan. Makan siang? Malas aku. Beberapa hari ini malas makan siang. Malas, malas membeli makanan di luar sana. Karena panas? Mungkin. Yah, malas makan ini berlanjut sampai malam. Malas makan malam karena warteg langgananku nyaris habis makanannya ketika waktu makan malam tiba. Sepertinya dampak krisis keuangan global yang bermula dari Amerika Serikat itu sudah sampai ke sini. Mungkin karena kehabisan modal, warteg itupun berganti kepemilikan. Membuat bisnis warteg tak lagi langgeng sampai malam. Yah, dunia kapitalis….

Lapaaaaaaaaar! Adakah yang ingin mengirimkan makanan kepadaku? Would you like to lunch with me?

(^_^)v

7 pemikiran pada “My belly is dancing in this rainy day

  1. sayang jauh..klo engga gue undang buat makan siang sama-sama.. :p
    kenapa kok tiba2 malas makan? jangan-jangan ini pertanda….

    Farijs van Java berkata,
    pertanda apa, nie? ah, lo jangan nakut2in gw, dong.

    (^_^)v

    makanya nie, kirim ke sini dong makanannya. “mentahnya” juga gapapa. hwehe…

    Suka

  2. Tadi siang saya ada di rawamangun pas hujan, makan bebek hijau yang pedas itu …. kamu koq gak sms saya?

    Farijs van Java berkata,
    yah, rindu gmn sih? mustinya rindu yg sms farijs, dong. ngajak farijs makan siang. lagian, nmrnya kn aku tak tahu. mana? katanya pgn ditelepon? hwehe.

    (^_^)v

    Suka

  3. amerika yang krisis. saking dahsyatnya pedagang warteg jadi ngga bisa bisnis. apa perlu kita menangis. apa perlu kita mengemis. apa perlu kita pulang buka blog dan nulis.
    ya emang perlu tuh berselancar dan telusur milis. biar kita ngga ketinggalan dan akal kita habis. sampai saya nulis artikel yang pengennya sih populis. walau saya bukan seorang analis. ya sekedar mek a wis. yo wis.
    kunjungin dan kasih komentar, plis…

    http://trendibandung.wordpress.com/2008/10/16/this-is-the-american-crisis-untuk-indonesia-menangis/

    Farijs van Java berkata,
    indonesia tak perlu menangis. meski perekonomian kita sedang kembang-kempis. namun tak perlulah kita pesimis. tenang, ada bu sri mulyani yang optimis. yah, meskipun beliau sedikit narsis. si karyo pergi ke ciamis. yo wis.

    (^_^)v

    ayo siapa yg mau nraktir farijs?

    Suka

  4. heuheuheu..saya suka sama tren di bandung dan jawaban farijs. Farijs ni ada-ada aja.
    Kemaren cm isi polling aja..
    Jadi, kapan mau nraktir? Wakakaka..

    Farijs van Java berkata,
    ye, bukannya esa yang nraktir kalo farijs nanti ke bandung?

    (^_^)v

    beli tiket bis, musti ngantre sambil berbaris.
    esa yang manis, sudikah dikau menraktir farijs?

    Suka

  5. […] tentang hujan, Saudara-saudara. Hujan itu beragam bentuknya. Ada gerimis, ada hujan deras, ada pula hujan rintik-rintik. Selain itu, ada pula hujan air, hujan salju, hujan duit, hujan monyet, hujan lokal, hujan kritik, […]

    Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s