Antara Gosong, PNS, dan Bidadari

Saudara-saudara, maafkan aku. Tak lagi bisa sering-sering ngeblog. Tak bisa terus-terusan blogwalking //jalan-jalan di atas blog//. Internet kantor sedang ditutup aksesnya untuk sementara waktu. Hanya bisa internetan memakai ponsel. Itupun tak bisa sering-sering. Tak bisa gencar-gencar. Kena apa? Karena…koneksi GPRS operator selularku yang masih ngos-ngosan. Kembang kempis bikin hati bagai teriris dan mata menangis. Yah, padahal katanya nggak usah mikir. Tapi kok…kok aku disamain ama monyet??!

Oh ya! Saudara-saudara pasti akan merasa pangling melihatku sekarang. Kena apa? Karena aku sekarang gosong! TT

Bagaimana tidak gosong? Selama empat hari ini aku serasa digoreng di penggorengan. Penggorengan Jakarta! Jakarta demikian terik selama empat hari ini. Dan selama empat hari ini pula aku harus berjemur di bawah siraman hujan ultraungu yang sedang deras-derasnya. Betapa tidak gosong badanku? Hah?! Masih ada esok dan lusa pula diriku ini harus digosongkan! Buhuhu….

Selama empat hari ini aku menjadi instruktur atau penguji tes kebugaran penerimaan CPNS Departemen Keuangan RI. Seharian harus berada di lapangan sepak bola, di bawah naungan awan-awan pengkhianat yang bersebaran menghindari matahari. Uh, mengapa tak ada awan yang berusaha melindungiku dari tikaman sinar UV? Apakah mereka takut dirobek sang UV sebagaimana lapisan ozon dirobek hingga menjadi compang-camping seperti sekarang itu? Ah, tak tahulah aku.

Aku tak tahu
Kau sudah punya kekasih
Mana kutahu
Kau yang tak jujur padaku

(Ari Lasso – Mana Kutahu)

Sebagian besar peserta tes adalah perempuan. Kena apa? Ya, selain karena saat ini lebih banyak perempuan yang sanggup bertahan hidup di dunia dibandingkan laki-laki, mungkin pula karena para perempuan memiliki hoki berlebih. Duh, mengapa para lelaki hanya memiliki keringat berlebih??

Yang menarik lainnya adalah bahwa hampir semua peserta tes telah bekerja. Beberapa ada yang malah sudah bekerja di bank sentral negeri ini, perusahaan minyak internasional, perusahaan telekomunikasi, hingga atlet sepak bola. Lantas mengapa mereka masih saja mencari pekerjaan? Bukankah gaji sebagian dari mereka sekarang masih lebih tinggi dibandingkan gaji yang akan mereka dapatkan nanti ketika sudah menjadi pegawai negeri? Meski setelah remunerasi Departemen Keuangan, gaji mereka sekarang toh masih lebih tinggi. Kena apa? Fenomenal! Ya, selalu fenomenal apa yang sedang terjadi di negeri ini. Para sarjana berebut kerja. Para buruh takut PHK. Para pejabat takut KPK. Para muda hilang perjaka. Para syekh menikahi gadis belia. Hwahaha!

PNS, PNS…. Riwayatmu kini. Hwehe. (^_^)v

Saudara-saudara, bukankah malam ini purnama? Purnama sempurnakah? Tapi mengapa kemarin siang aku sudah berjumpa dengan seorang bidadari nan rupawan, cantik jelita, mengikuti tes? Bukankah hal yang aneh seorang bidadari keluyuran di tengah siang bolong? Bukankah bidadari turunnya ketika purnama tiba? Anehnya lagi, bidadari itu sedang hamil besar pula. Empat setengah bulan! Kok bidadari hamil? Siapa yang menghamili? Jaka Tarub-kah? Tidak…! Ah, andai aku lebih cepat daripada Jaka Tarub dalam mencuri selendang malam kala itu.

Aduhai, betapa elok bidadari kemarin siang ini. Sungguh. Andaikan aku menjadi awan, pasti takkan kukhianati ia. ‘Kan kunaungi dia ketika harus berjalan mengelilingi lapangan sepak bola sepanjang 387 meter selama 12 menit tadi. Atau, andaikan aku menjadi payung. ‘Kan selalu kukembangkan badanku di atasnya. Biarlah aku yang melindunginya dari amukan sang mentari. Biarkan aku yang tertusuk UV-nya. Biarlah.

Biarlah…
Kurela melepasmu
Meninggalkan aku
Berikanlah aku kekuatan
Untuk melupakanmu

(Nidji – Biarlah)

Dan rasa-rasanya oedipus complex-ku takkan pernah sembuh, nih. Bagaimana ini, Saudara-saudara?

(^_^)v

Notabene:
Sayang nih, Saudara-saudara. Tak bisa memperlihatkan foto di sini. Padahal banyak foto-foto bagus dan seru untuk diperlihatkan. Oh ya, nggak jadi berpartisipasi dalam Pesta Blogger Photo Contest juga, dong. Waduhaduh™…. Padahal pengen banget ngikut.

8 pemikiran pada “Antara Gosong, PNS, dan Bidadari

  1. Apakah mereka takut dirobek sang UV sebagaimana lapisan ozon dirobek hingga menjadi compang-camping seperti sekarang itu?

    Bentar, yang merobek ozon itu emang UV ya?!

    Eh, kasihan ik Mbaknya, hamil2 gitu disuruh keliling lapangan?!

    Para muda hilang perjaka.
    Ckck, kata2mu itu lho…

    Farijs van Java berkata,
    iya, tau. yg ngelubangin itu co3, bukan uv. ini cm perlebayan aja, mbak. hwehe.

    (^_^)v

    ya gapapa, biar bayinya nt sehat. siapa tau kl dah gede nt jd atlet. hoho.

    Suka

  2. saya cuma mau koment soal, nggak bisa ngenet gara2 aksesnya diblokir oleh kantor….
    “..kemana aja tuh gaji PNS-nya? harusnya pake speedy aja di rumah…heheheh…”

    Farijs van Java berkata,
    waduhaduh… jgn gitu dong, kang. apalah saya ini? cuma pns rendahan. tak seberapa gaji yg saya peroleh. hwehe.

    (^_^)v

    pengen sih pake im2 yg prabayar itu.

    Suka

  3. ketauan deh pake provider apa. Klo gt, knp masih dipake? Hehe..
    Aih..puitis kali abangku ini. Tak mampu aku menandingimu sepertinya Bang. Janganlah kau menyuka wanita yg tengah berbadan dua sementara ia bukanlah pendampingmu Bang. Ia tlah berdua :mrgreen:

    Farijs van Java berkata,
    aih… adek esa ini bisa aja… /nyentil esa pake bulu shuttlecock/

    v(^_^)

    hwehe. aku cuma kagum atas perjuangan ibu2 hamil itu, sa. keren.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Esa Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s