Pocong yang Beneran

//Hoho. Judul yang menyeramkan!//

Kejadian kemarin yang akan kuceritakan kepada Saudara-saudara ini adalah kejadian paling konyol setelah bertahun-tahun peradaban perfilman Indonesia kembali bangkit dan berkembang. Sebuah kejadian tentang sisi gelap bioskop, tentang ketololan, dan tentang keserakahan.

Terdapatlah seorang kawan yang sangat antusias dan bernafsu untuk menonton segala film buatan anak negeri. Mulai film drama romantis, drama tragedi, drama komedi, komedi romantis, komedi sok romantis, komedi berbalut horor, horor berbalut komedi, komedi dewasa, komedi dewasa berbalut horor, horor dewasa berbalut komedi, hingga film horor yang berbalutkan sehelai kain kafan seperti film “The Real Pocong” yang kami tonton kemarin itu.

Sejatinya aku termasuk orang yang sangat enggan untuk menonton film horor. Tetapi mengapa…mengapa kemarin aku sudi menonton film tersebut? Tak lain tak bukan adalah karena ketololan dan kenaifanku sendiri, Saudara-saudara.

Pada suatu sore, yaitu sore hari kemarin itu, setelah bersantap siang gratis di aula kantor yang sedang dijadikan tempat resepsi pernikahan anak dari mantan orang kantor, kami bermaksud pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Sejatinya aku hanya berniat hendak mengambil kembali ponsel yang telah kuservis dua pekan yang lalu di sebuah service center di pusat perbelanjaan tersebut. Sedangkan dia, kawanku si antusias itu, hendak menonton sebuah film buah karya pribumi di sebuah bioskop milik kapitalis asing di pusat perbelanjaan dimaksud.

Ketika ia hendak mengantre membeli tiket bioskop, ia memintaku untuk menemaninya menonton. Aku yang sedang tidak berminat menonton, terang saja langsung menolak. Tapi kemudian ia melancarkan jurus bujuk-rayu ke arahku. Meski bisa kutangkis, namun ia segera mengenai titik lemahku. Kelemahanku itu berhasil ditohoknya, Saudara-saudara! Ia menawarkan segelas besar Pepsi Blue jika aku bersedia menemaninya menonton. Tak kuasa mengelak dari daya tarik magis akan kesegaran segelas besar Pepsi Blue, aku “terpaksa” mengatakan bersedia. Tanpa sadar aku pun telah masuk ke dalam perangkap iblis si antusias itu. //Bangs*t!//

Perhatian, perhatian! Pintu teater dua telah dibuka. Bagi penonton yang telah memiliki karcis silakan memasuki pintu teater dua. Sedangkan penonton yang belum memiliki karcis silakan membelinya di loket-loket terdekat. Terima kasih.

Sebagaimana para penonton yang lain, kami pun berserabutan memasuki pintu studio. //Jah, yang benar itu “studio” atau “teater”, sih?// Dengan segelas besar Pepsi Blue di genggaman, tentu saja, aku melangkah pasti memasuki ruangan temaram. Sungging senyumku melihat biru-segarnya Pepsi Blue tak lama kemudian akan berubah menjadi mimik wajah penuh kekagetan. Kita lihat saja nanti.

Tayangan pun dimulai. Sebuah iklan partai politik yang terbang menyasar ke layar lebar bioskop. Rupanya sang parpol ingin mencengkeram hati para pemilih pemula yang memang merupakan penghuni sebagian besar kursi di ruangan tersebut.

Lampu bioskop pun kemudian meredup. Meredup, kian meredup, hingga matilah ia. Tanpa pantulan sinar proyektor ke layar di depan, niscaya ruangan tersebut gelap gulita. Dari pancaran sinar proyektor tersebut kemudian bermunculan trailer film baru yang akan segera tayang. Terowongan Rumah Sakit! Hantu Kereta Manggarai! Kuntilanak Kamar Mayat! Mati Suri! Loh, sebentar, sebentar! Mengapa kesemuanya film-film horor?!

“Woi, film apaan sih yang bakalan kita tonton?”

“Film The Real Pocong.”

“Oh. … … … Apa?!!”

Tidaaaaaaaak! Mengapa hal ini terjadi padaku, Saudara-saudara? Mengapa hal sedemikian memilukan ini terjadi dalam kehidupan seorang baik budiman seperti diriku?

Aku harus keluar! Bagaimanapun aku harus segera keluar dari ruangan penuh aura kegelapan itu. Tapi bagaimana? Bagaimana bisa aku berjalan di tengah kegelapan? Bagaimana mungkin si traumatis ini berani berjalan seorang diri melewati koridor kelam yang seram?

Aku pun hanya terduduk pasrah.

//Brrr…angkai, Lae!//

14 pemikiran pada “Pocong yang Beneran

  1. Hahahaha…kok bisa?
    Saya pilih nonton sendiri, jika si sulung pengin menonton film yang auranya gelap (bukan horor sih). Bagiku nonton film untuk membuat semangat, kalau horor apa sih enaknya.
    Dan menyebalkan televisi juga banyak sinetron begituan…akibatnya saya mendingan mendengarkan radio daripada nonton TV.

    Suka

  2. Tips untuk mengatasi tragedi seperti di atas :

    Bahan-bahan yang perlu dibawa :
    1. Selembar syal atau sapu tangan
    2. MP3 player (bisa juga pake HP yang ada music playernya.
    3. Selimut (bila diperlukan)

    cara kerja :
    Saat lampu-lampu belum dimatikan, segeralah buka/nyalakan Music Playernya.
    Pasang headsetnya.
    Genggam gelas pepsi dengan posisi sedotan sudah nempel di bibir.
    Tutup mata anda dengan syal/saputangan.
    Kalo tidak kuat dingin selimuti diri anda dengan selimut yang telah disiapkan sebelumnya.
    Dianjurkan menyanyikan lagu-lagu dark-slow, seperti Pupus. Insya-Allah Anda akan segera terlelap seperti di rumah sendiri.

    TERBUKTI.

    Suka

    1. jah, repot amat untuk sesuatu yang “terjebak” dan “terkezut” seperti ini, ring. cukup dengan memejamkan mata di saat adegan “berbahaya”, ring. hwehe…

      v(^_^)

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s