My First Online Experience

Selamat malam, Saudara pendengar sekalian. Jumpa lagi dengan penyiar kesayangan Anda, FARIJS MANIJS. Masih di gelombang 168.22.0.1 FM, Radio CEMANGAT, radionya para pemeras keringat!

Saudara pendengar dimanapun Anda berada. Malam ini tampaknya sang purnama tengah merekah di keheningan malam. Cahaya terangnya tampak semakin memesona di antara bintang-bintang yang berpendar-pendar cantik di langit kelam.

Berbicara masalah bintang-bintang, marilah kita simak sejenak sebuah judul lagu djadoel berikut ini. Sebuah nomor manis yang kiranya akan menambah ketenteraman hati Anda sekalian dalam beristirahat bersama sang juwita malam.

FAHMI SHAHAB – KOPI DANGDUT

kala kupandang kerlip bintang nun jauh di sana
saat kudengar melodi cinta yang menggema
terasa kembali gelora jiwa mudaku
kar’na tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut

api asmara yang dahulu pernah membara
semakin hangat bagai ciuman yang pertama
detak jantungku seakan ikut irama
kar’na terlena oleh pesona alunan kopi dangdut

irama kopi dangdut yang ceria
menyengat hati menjadi gairah
membuat aku lupa akan cintaku yang telah lalu

api asmara yang dahulu pernah membara
semakin hangat bagai ciuman yang pertama
detak jantungku seakan ikut irama
kar’na terlena oleh pesona alunan kopi dangdut

Kopi dangdut. Semoga kopi yang satu ini sama ajaibnya dengan secangkir kopi hangat yang dapat menenangkan jiwa Anda tatkala beristirahat pada malam hari ini. Sembari menatap bulan purnama yang sungguh indah di langit, bagi Anda yang ingin kirim-kirim salam atau kirim-kirim lagu, silakan langsung saja SMS ke sini.

dag dig dug detak jantungku
ser ser ser bunyi darahku
dag dig dug detak jantungku
ser ser ser bunyi darahku

na na na mengapa kamu
datang lagi menggodaku
dulu hatiku membeku
bagaikan segumpal salju

‘ku tak mau peduli
biar hitam biar putih
melangkah berhati-hati
asal jangan nyebur ke kali

api asmara yang dahulu pernah membara
semakin hangat bagai ciuman yang pertama
detak jantungku seakan ikut irama
kar’na terlena oleh pesona alunan kopi dangdut

Saudara pendengar sekalian yang kiranya sedang berbahagia. Internet dewasa ini telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Semakin hari rasanya semakin tak bisa kita hidup tanpa internet. Mulai dari situs web layanan informasi, e-mail penunjang kerja, sampai kepada jejaring sosial, rasa-rasanya akan susah kita menjalani keseharian tanpa itu semua.

Nah, Saudara pendengar. Sebuah lagu yang akan kami putarkan berikut ini sepertinya cukup menggambarkan bagaimana internet telah menjadi sebuah kebutuhan dalam kehidupan kita. Selamat mendengarkan.

SAYKOJI – ONLINE

siang malam ‘ku selalu
menatap layar terpaku
untuk online online, online online

tidur telat bangun pagi-pagi
nyalain komputer online lagi
bukan mau ngetik kerjaan
e-mail tugas diserahkan

tapi malah buka facebook
padahal face masih ngantuk
beler kayak orang mabuk
pala naik turun ngangguk-ngangguk

sambil ngedownload empitri
colok ipod usb kiri
ngecekin postingan forum
apa ada balesannye belum

biar belum sikat gigi belum mandi
tapi kalo belum online paling anti
liat friendster, myspace, youtube
me and him, everybody you too

siang malam ‘ku selalu
menatap layar terpaku
untuk online online, online online

jari dan keyboard beradu
pasang earphone dengar lagu
aku online online, online online

Online. Sebuah adjective yang sepertinya akan sulit terpisahkan dari tiap hembusan nafas kita.

Nah, Saudara-saudara. Bagaimanakah pengalaman online pertama Anda? Sejak kapankah Anda mulai berkenalan dengan internet? Silakan share pengalaman Anda mengenai online pertama Anda kepada kami dengan cukup mengirimkan sebuah e-mail ke alamat kami di cemang@radio.coy.

nah udah mandi siap berangkat
langsung cabut takut terlambat
tak lupa flashdisk gantung di leher
malah lupa sepatu jadi nyeker

flashdisk isinya bokep atau lagu
kalau ada kerjaan pun gue ragu
kalo emang berani coba pada ngaku
cek isi foldernya satu-satu

di kantor online pakai proxy
walau diblok server bisa dilolosi
namanya udah ketagihan internet
produktivitas pun kepepet

jam kerja malah chatting ym
ngobrol online sama ehehem
atasan lewat langsung klik data
pura-pura kerja di depan mata

makan siang pun aku cari sinyal wi-fi
mengapa ‘ku kecanduan oh why why
kadang terasa bagai tak berdaya
ingin ‘ku berubah.. eh ada e-mail dah dulu ya

cek e-mail spam semua
e-mail benerannya cuma dua
yang satu e-mail lama
yang satu forward-an yang sama

ngarep komentar buka friendster
loading, gue tinggal beser
pas balik ngecek komputer
kok lagi maintenance server

ya udah download lagu
bajakan gratis gak pake ragu
Saykoji satu album
setengah jam bisa rampung

sore-sore bosen hambar
ide nakal cari-cari gambar
download video dengan sabar
ketahuan pacar digampar

Online di internet, sepertinya semakin banyak orang sudah kecanduan akan hal itu.

Oke. Sudah ada e-mail yang masuk, Saudara-saudara. Sebuah e-mail datang dari Saudara FERISKA di RAWAMANGUN. Akan kami bacakan untuk Anda sekalian.

«

Pengalaman online pertamaku? Coba kuingat-ingat dulu….

Oh, ya. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 1 SMA di Pekalongan dulu. Masih gaptek banget aku. Belum pernah sama sekali pegang yang namanya komputer. Nah, ada satu teman yang sama-sama gaptek, tapi sedikit banyak tahu soal internet. Teman yang satu itu ngajakin ke warnet. Coba-coba ngoperasiin komputer, katanya, sekalian bikin e-mail.

What?? E-mail? Makanan apaan pula itu?

Karena penasaran, akhirnya aku ikut dia menggoes sepeda ke warnet dekat sekolah. Dengan sok pedenya kami masuk ke salah satu bilik di warnet.

“Wuih, ini toh yang namanya komputer? Ada tivinya, terus ada semacam mesin ketiknya. Loh, apa ini? Kok kek tikus, ada buntutnya? Terus ini, kotak apaan ini? Kok ada lampu kecil kedip-kedipnya?” Begitulah kesan pertamaku saat berada di dalam bilik. Memang waktu itu aku katrok banget. Cuma tahu komputer dari film-film Barat yang ditayangkan di televisi. Sedangkan temanku yang satu ini, seenggaknya lebih pintar dariku. Ditekan-tekannya tombol-tombol di mesin ketik dan dielus-elusnya pula barang putih yang kek tikus itu. Aku cuma bisa duduk melongo.

“Nah, ini Fer. Komputer ini sudah nyambung ke internet,” kata temanku sok tahu.

Internet? Makanan apa pula itu? Indomie, telor, dan kornet??

“Lewat komputer ini, kita bisa berkomunikasi dengan orang-orang di seluruh penjuru dunia,” lanjutnya sok tahu.

“Oh, gitu?” aku cuma bisa masang muka polos sambil manggut-manggut.

“Kata temennya Bapakku, kita sekarang itu bisa ngirim surat pake komputer ini,” ceramahnya sok pintar.

“Kok iso? Emang di komputer ini ada Tukang Posnya?”

“Ya katanya sih begitu. Cuman aku juga nggak tahu, Bapak Posnya itu ada di mana, ya?”

Yo mbuh yooo…

“Katanya itu, kita ngirim suratnya pake e-mail.”

E-mail itu apa?”

“Aku juga nggak tahu. Tapi katanya kalo kita pake e-mail, surat kita itu bisa nyampe secepat kilat.”

“Welehweleh™…. Kok iso ngono, ya?”

“Namanya juga jaman edan, Fer.”

Nah, dari situlah awal mula teori tentang e-mail dan internet sampai ke otakku. Mulai hari itu pula aku jadi mulai melek teknologi, tidak lagi gaptek alias gagap teknologi.

Dikarenakan wangsit yang diperoleh temanku dari temannya bapaknya itu tidak menjabarkan hal-hal yang sifatnya teknis, akhirnya kami dengan malu-malu meoong meminta petunjuk dari yang empunya warnet. Untung saja sang empunya warnet berbaik hati dan dengan sabar mau memandu kami membuat account e-mail. Diajarinya pula mengenai dasar-dasar mengoperasikan komputer dan sedikit tambahan teori tentang internet.

Di kemudian hari aku pun berpikir, mengapa si operator warnet waktu itu bersedia mengajari kami yang gaptek segaptek-gapteknya ini. Oh, ternyata tak lain tak bukan yang dipraktikkan si operator warnet itu adalah salah satu bagian dari metode pemasaran modern yang mungkin Robert Kiyosaki pada waktu itu belum pernah sama sekali memikirkannya. Jadi dengan semakin pandainya kami berinternet, maka kami akan semakin rajin ke warnetnya, dan itu akan memperlebar margin laba bisnis warnetnya.

Betapa senangnya kami setelah berhasil memiliki sebuah account e-mail. Tapi sekarang, account e-mail ini akan kami gunakan untuk apa? Katanya si empunya warnet, untuk mengirimkan surat pakai e-mail, terlebih dahulu kita harus tahu alamat e-mail orang yang dituju. Karena kami tidak tahu alamat e-mail selain alamat e-mail punya kami, jadilah kami saling berkirim surat menggunakan e-mail. Aku ngirim surat ke alamat e-mail temanku itu, demikian pula sebaliknya, dia ngirim surat ke alamat e-mail-ku. Duh, aneh banget, yak? Walaupun terkesan aneh dan njelehi /memalukan/, kami sangat senang ketika e-mail yang kami kirimkan berhasil terkirim dan sampai ke inbox kami masing-masing.

Sejak hari itu kami berdua menjadi sering bertandang ke warnet. Sedikit demi sedikit kami mulai mengerti akan internet. Kami semakin ingin merambahi luasnya cyberworld, menguak keajaiban dunia maya. Kami menjadi tahu apa itu browsing, membuka-buka situs web yang pada waktu itu masih bersifat satu arah. Hingga kami pun rajin mencatat alamat-alamat situs yang kami jumpai, entah itu di televisi, di selebaran-selebaran, koran, atau pun majalah. Satu per satu alamat-alamat situs itu kami buka. Semakin antusias kami tatkala menemukan alamat situs baru yang berisi hal-hal menarik bagi kami, seperti situs yang membahas tentang fisika, astronomi, teknologi baru, peralatan militer, dan sebagainya.

Dari internet kami semakin mengerti betapa banyaknya pengetahuan yang belum kami ketahui, betapa luasnya alam semesta yang telah diciptakan Tuhan hanya untuk kita, manusia. Kami pun semakin hari semakin mengerti, bahwa berinternet itu mengasyikkan!

Masih ingat aku, waktu itu sudah memasuki bulan puasa. Kegiatan mengunjungi warnet pun masih kami galakkan di samping kegiatan mengunjungi masjid. Temanku yang satu itu mendapat ilmu baru dalam berinternet: chatting!

Chatting?? Makanan apa lagi ini? Apa bedanya dengan ceting /tempat nasi/?

Masih mengandalkan wangsit dari teman bapaknya, temanku ini mencoba mengoprek aplikasi chatting berprotokol Internet Relay Chat (IRC) client yang pada waktu itu sangat populer di kalangan onliner. Berbekal nekad, sok tahu, dan insting seorang manipulator sejati, akhirnya dia berhasil online dan masuk ke dalam salah satu channel!

Sekali lagi, dengan berbekal insting manipulator sejati, kami pun mengelabuhi beberapa mitra chatting kami. Kami mengaku bahwa kami adalah seorang gadis kecil berusia 8 tahun bernama Tasya. Kami pun pernah mengaku sebagai seorang pria berusia 23 tahun yang sedang kuliah S1 di salah satu universitas di Jakarta. Betapa naifnya.

Dengan chatting, kami bertemu dengan beragam orang di dunia maya. Meski orang-orang tersebut sangat diragukan keaslian identitasnya, kami dengan tanpa acuhnya merespons segala pertanyaan dan pernyataan mereka secara positif. Kami pun merasakan bahagia dengan segala kebohongan yang dibuat dan timbul dalam perbincangan ini. Sekali lagi: betapa naifnya.

Dari chatting kami sedikit mengenali bahasa-bahasa gaul ala netter, semisal ASL PLS. ASL PLS itu singkatan dari Age, Sex, Location Please. Maksudnya kita ditanya perihal usia dan jenis kelamin kita, serta kita sedang berada di mana pada saat perbincangan terjadi. Karena waktu itu masih tergolong newbie di dunia saiber, dengan lugunya kami mengartikan ASL PLS itu sebagai sebuah ringkasan ketik dari ASaL PLiS. Asal Anda darimana. Sebuah tebakan untung-untungan, karena ternyata tidak terlalu melenceng dari makna aslinya.

Agar lebih menambah kejagoan kami dalam hal berinternet, kami pun sepakat mengajak seorang teman yang sudah sangat melek teknologi, terutama dalam bidang perkomputeran, untuk berinternet bersama. Selepas jam sekolah, kami bertiga pun segera meluncur ke warnet terdekat.

Berharap mendapat pengetahuan tentang tata cara berinternet yang baik dan benar, kami malah mendapatkan suatu pengetahuan yang lebih condong kepada pemerosotan akhlaqul karimah. Kami malah “dijerumuskan” ke dalam area kegelapan dunia maya: p*rn*grafi! Astaghfirullâhal ‘azhiym, teman kami yang pandai ini malah membuka situs p*rn*! Yâ Allâh, Yâ Rabb. Ampunilah kami yang terlalu naif ini.

Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku berkenalan dengan sisi negatif internet. Ternyata dunia maya tak semuanya menyajikan sari-sari manis ilmu pengetahuan. Dunia maya pula menyediakan beragam kekejian yang berbalutkan kenikmatan sesaat!

Demikianlah pengalaman pertamaku daring /online/ di internet.

Semakin maju teknologi, janganlah kita menjadi korbannya. Pergunakanlah teknologi itu secara bijak, jangan malah kita terjebak dan menjadi hancur karenanya.

Marilah kita berinternet dengan aman!

»

Saudara-saudara, bagaimana pengalaman Saudara FERISKA ini? Sungguh inspiratif sekali, bukan?

Nah, bagi Anda yang ingin share mengenai pengalaman pertama online Anda, masih kami tunggu. Silakan kirim e-mail saja ke sini.

24 pemikiran pada “My First Online Experience

  1. Hebaat ternyata lucu juga pengalaman masing² individu ketika pertama kali internet, ada yg dimulai dari Chatting, Email bahkan dari pornografi
    Bagus Ris cuman lebainya tetep :p
    dijamin acara termehek-mehek bisa terbengek-bengek baca postinganmu ini :p

    ha ha kita rival sekarang :p
    fair play……..:D

    Suka

    1. loh, lebai gimananya, jek?

      hwehe… jangan lebai gitu ah, jek. aku pengennya acara duit kaget aja, ah.

      v(^_^)

      oke, kita rival sekarang. pameran bermain, yak!

      Suka

  2. Lucu juga… keren abis kikikikikik 🙂 pertama-tama lagi rame-ramenya chatingan di mirc, tapi sekarang kayakna udah banyak yang pindah ke face book. thnks alot udah berkunjung ke blog saya… keep blog

    Suka

  3. Kenalan sama internet? Kapan ya? Kayaknya udah lama banget…dulunya cuma sekedar untuk search pengetahuan….dan yang utama email, karena bos sering mengirim email dimanapun berada.

    Suka

  4. wah, seru
    kalo aku juga dulu mengenal internet saat SMA
    Tapi bener2 dunia maya mania tuh sekitar 2 tahunan lalu
    ya semenjak mengenal blog lah 😀

    Suka

    1. wuih, kenal internet waktu masih muda juga, tho kang? hwehe…

      v(^_^)

      kalo aku sebelum ngenal blog pun dah jadi dunia maya mania. ya pas jaman2 SMA itu. nyari2 artikel2 tentang astronomi, lah. tentang islam. tentang macem2 pokoknya.

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s