Hari Menyenangkan vs Saat Menyebalkan

Lagu Girlfriend-nya Avril Lavigne mengalun pelan, kudengar melalui earphone iPod Touch yang kuberi nama iRhyme. Sudah menjadi kebiasaan bahwasanya setiap gadget yang kupunya selalu kuberi mereka nama. Adalah Kyoko, nama komputer kesayanganku. Ada pula Sonia, handphone favoritku yang kini sedang mati suri. Dan mengapa aku namai iPod Touch itu dengan nama yang tadi sudah kusebut, tak lain tak bukan adalah agar seorang gadis di pelosok sana menjadi bahagia. Sungguh aku adalah seorang lelaki yang romantis.

Maka lagu tadi yang sudah aku beri tahu kepada kalian apa judulnya dan siapa penyanyinya itu aku putar di pagi hari yang cerah di Pekalongan menggunakan iRhyme kesayangan gadis itu. Adapun lagu itu sudah pernah aku sunting ulang liriknya hingga kira-kira bunyinya berubah menjadi seperti ini:

Hey hey you you
I don’t like your husband
No way no way
I think you need a new one
Hey hey you you
Well, I could be your husband

Maka dengan begitu awal hariku sungguh syahdu karena selain mendengarkan lagu itu aku juga mengunyah kwaci bunga matahari. Kwaci yang renyah itu aku kunyah dengan rakus layaknya seekor hamster yang terkurung di kandang sempit dengan roda-roda jogging track di tengah kandang yang berfungsi agar si hamster tak lagi merasa kandang itu semakin sempit meski makan melulu. Sambil sesekali menghirup kopi robusta yang kutubruk di dalam mug hijau sisa ekspor, kubaca ayat demi ayat dari kitab yang tidak suci dan tidak menyucikan hasil pemikiran mendalam seorang filsuf jadi-jadian asal kota kembang bernama Pidi Baiq.

Adapun aku bisa melihat tulisan-tulisan ngawur asbun (asal bunyi) yang tinggal dibaca tanpa perlu bersusah payah menulis berkat kebaikan hati Kang Pidi Baiq ini adalah lantaran secercah sinar mentari pagi masuk ke dalam kamarku melalui jendela kayu yang memang sengaja aku buka dengan maksud begitu. Maka secercah sinar tadi mengenai almari bajuku yang langsung ditampiknya hingga sinar yang tadinya secercah lantas pecah menjadi beberapa cercah.

Cercah-cercah sinar ini kemudian berpencar ke segala penjuru kamar. Ada yang mengenai meja, kursi, bingkai foto, kalender meja, gantungan kaos kaki, gambar warna-warni mahakarya adik bungsuku perempuan yang sudah kelas satu (tertempel miring di dinding), travel bag, dan lain-lain. Kesemua cercah itu lantas dipencarkan kembali hingga terbagi menjadi beberapa cercah yang menyebar lagi ke segenap penjuru ruang. Malah ada pula yang menyasar masuk ke dalam kolong ranjang. Maka di sanalah tempat ia terkubur selama-lamanya dan takkan pernah kembali meski kiamat sudah tiba. Jadilah kolong ranjang adalah tempat tergelap di dalam kamar, sedang di atasnya adalah tempat yang paling terang. Karena alasan itulah maka kitab ini aku letakkan di atas kasur untuk aku baca sedang aku duduk menghadapinya.

Sesekali aroma kopi yang semerbak memasuki lubang hidungku. Maka dengan begitu mug hijau itu ingin mengingatkanku bahwa ia masih menderita sakit panas lantaran cairan kopi masih memenuhi perutnya dan ia ingin agar aku segera mengeringkannya. Demi menghidu bau harum kopi dan demi meringankan penderitaan mug hijau itu, kuseruputlah kopi sang penyemangat. Aku pun kembali bergairah dalam melahap ilmu-ilmu baru yang termaktub di dalam kitab-nya KangPidi. Seketika itu juga Avril Lavigne turun dari panggung dan digantikan oleh The Penampakanz Band yang lantas segera membawakan single “I’m Lost Without You”. Sesungguhnya sudah aku katakan bahwa aku ini adalah seorang lelaki romantis.

I’m lost without you
I’m so lost without you
I can’t see the future
I’m so blind without you near me

Bersamaan dengan masuknya kunyahan biskuit kayu manis ke dalam kerongkonganku, sampailah aku membaca ayat ketujuh dari surat kesembilan kitab tidak suci dan tidak menyucikannya Kang Pidi. Aku adalah orangnya yang akan mengutip perkataan Bang Pidi kepada Bahal, salah seorang dari beberapa orang yang memanggilnya Guru:

Katakanlah kepada istrimu, Bahal, katakanlah kepada istrimu, setiap hari. Katakan kepada istrimu olehmu setiap hari bahwa dia terlihat cantik kalau dia sedang marah.

Siap grak, Guru, tetapi sebab apakah sehingga aku harus mengatakannya?

Agar saat istrimu marah kepadamu, engkau akan tahu, semata-mata bukan karena dia marah padamu, melainkan karena dia ingin terlihat cantik olehmu, dan katakanlah juga hal itu kepadanya, mudah-mudahan dengan begitu dia akan merasa malu apabila marah padamu.

Angin semilir dengan mudahnya melewati sela-sela dedaunan pohon mangga di samping kamarku. Sesungguhnya kamarku adalah bagian dari rumah yang menjorok ke luar, masuk ke dalam kebun buah-buahan. Adalah kesejukan sepoi-sepoi yang dibawa angin itu masuk ke dalam kamarku melewati jendela kayu yang sama yang dilewati oleh secercah sinar mentari tadi. Tak kusadari bahwa telah banyak kesejukan sepoi-sepoi yang dibawa sang angin di saat aku sedang merenungi sabda Kang Guru Pidi kepada Bahal di atas. Tak kusadari pula bahwa ternyata mug hijau sisa ekspor yang tadinya kepanasan sekarang sudah tidak menderita lagi sehingga kopi di dalam perutnya sudah tak senikmat tadi. Lagi pula ternyata The Penampakanz Band telah lama turun panggung digantikan berturut-turut oleh Soko, Sheila on 7, Brown Eyed Girls, dan beberapa grup band yang tidak (belum) tenar, masing-masing membawakan hits andalannya.

Di saat masih merenungi sabda-sabda magis Kang Pidi tadi, handphone-ku bergetar dengan hebatnya disertai desahan falsnya yang meresahkan. Nukiyem adalah dia handphone-ku yang sedang menerima panggilan. Kurengkuh Nukiyem, lalu kuletakkan kepalanya di dekat telinga kananku. Tak lama berselang, terdengar tangisan lirih berasal dari kepala Nukiyem. Suara tangisan itu bercampur dengan dendangan lagu “Give Me Some Sunshine”, soundtrack-nya 3 Idiots, yang kudengar melalui earphone iRhyme di telinga kiri. Syaraf pendengaran di telinga kananku seketika menghantarkan suara tangisan itu menuju otakku yang kecil. Otakku yang memang kecil tidaklah mengalami kesulitan yang berarti untuk mengerti bahwa dialah orangnya, gadis dari pelosok yang telah kusebutkan di awal tadi, yang sedang menangis tersedu-sedu.

Demi mempertahankan predikat sebagai seorang lelaki yang romantis, aku menyimak dengan saksama segala yang gadis itu utarakan ataupun tenggarakan. Pada intinya, gadis yang berwajah manis meski tak semanis gula jawa itu telah menemukan apa yang ia cita-citakan. Ia ingin mengajar putra-putri ibu pertiwi di segala pelosok tanah air demi memenuhi amanat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Ia menangis lantaran terharu telah menemukan cita-citanya ataukah karena sedang memotong bawang bombai favoritku, sungguh tidak pernah aku pedulikan. Aku hanya peduli akan niat tulusnya, dan aku akan selalu memastikan terus mendukung dan mendoakan cita-cita luhurnya. Kemudian aku adalah orangnya yang menyuruhnya menuliskan cita-cita mulianya itu dengan huruf besar dan terang di atas selembar kertas putih seraya mengusulkan:

“Tempelkanlah itu di dinding toiletmu agar supaya engkau melihatnya di pagi buta setiap kali engkau hendak menunaikan hajatmu. Maka dengan begitu hari-harimu akan selalu diawali dengan tekad mewujudkan apa yang engkau cita-citakan itu. Demikianlah kiranya apa yang aku katakan.”

Sudah kukatakan kepada kalian bahwa aku adalah seorang lelaki yang romantis. Maka kuseruput kembali kopi yang sudah tidak lagi hangat itu, dan ajaib, rasanya sudah kembali nikmat. Bersamaan dengan itu, Suraj Jagan dan Sharman Joshi mengakhiri nyanyian mereka setelah tiga kali berturut-turut mendendangkan lagu yang sama:

Give me some sunshine
Give me some rain
Give me another chance
I wanna grow up once again

Sungguh merdu lagu itu kudengar di kedua telinga. Oh, alangkah indah pagi ini kurasa. Merasakan kebahagiaan karena orang lain bahagia betul-betul gaya hidup yang positif, sama betulnya dengan empat kali empat sama dengan enam belas. Itu kata adik bungsuku yang sekarang sudah kelas satu dan pintar matematika itu.

Ah, cita-cita a.k.a. mimpi. Sungguh beruntung gadis itu telah menemukan mimpinya. Sedang aku, apa mimpiku? Tiap malam yang kudapati hanyalah kenyenyakan, meski nyamuk-nyamuk betina yang ganas menggerogoti tubuhku sekalipun. Sesungguhnya akulah orangnya yang sedang mencari mimpi untuk diwujudkan. Maka, dari manakah datangnya mimpi?

A dream is a wish your heart makes
When you’re fast asleep
In dreams you will lose your heartaches
Whatever you wish for, you keep

Have faith in your dreams and someday
Your rainbow will come smiling through
No matter how your heart is grieving
If you keep on believing
The dream that you wish will come true

Ya, itulah mimpi, kata Tomiko Van dalam lagu yang diputar iRhyme ini. Duh, jadi ingin lekas terjatuh dalam tidur agar segera beroleh mimpi.

Berbicara soal mimpi, tahukah kalian apa mimpiku sewaktu kecil? Sudah pasti kalian tidak tahu karena tidak kuberi kalian tahu. Demi menjaga predikat sebagai seorang lelaki romantis lagi pula baik hati, baiklah akan kuberi kalian tahu. Sesungguhnya dahulu aku pernah bermimpi untuk meminta kepada Allah Tuhan sekalian alam seperangkat peralatan Doraemon ketika sudah berada di surga nanti. Mengapa di sini aku katakan surga? Tak lain tak bukan adalah karena Pak Ustadz waktu itu berkata bahwa ketika kita di dalam surga segala apa yang kita pinta akan keturutan. Maka ketahuilah hai kalian semua bahwa ketika itu aku hanyalah seorang anak kecil yang imut lagi pula lucu namun tidak ingusan.

Adalah grup band ska Tipe-X yang menggantikan biduanita cantik asal Jepang Tomiko Van setelah ia turun panggung untuk rehat makan bakso.

Aku terpukul jatuh
Saat kau mengajakku
Dan saat kaukenalkan
Ku pada pacar baUmu

Aku cuma terdiam
Tak sanggup kubertahan
Karena dalam hatiku
Masih ada kamu

Ketika memasuki melodi, ketika itu pula satu kucing seekor-ekornya masuk ke dalam kamarku dengan berjalan santai melenggang melalui pintu. Adalah adikku laki-laki yang hitam kulitnya yang memelihara itu kucing dan memberinya nama Ndeso. Sungguh, bagiku nama tersebut adalah cerminan dari kekatrokan sang pemberi nama. Maka kupandangi ia seperti memandang kucing menyebalkan. Sedang ia pun balik memandangku seakan-akan ia-lah seekor cat peragawan yang sedang walk melewati catwalk. Bagiku pandangannya itu menambah tingkat kesebalanku padanya.

Kucing itu lantas melakukan gerakan berjalan memutar laiknya ia sudah mencapai ujung catwalk. Tiba-tiba dengan sigap dan gesit ia memasang kuda-kuda lantas seketika kedua kakinya yang paling belakang sudah berada di udara sedang kedua kakinya yang paling depan tetap bertumpu di lantai kamarku. Aku terkejut dan sempat berdecak kagum melihat aksi akrobatik di hadapan sebelum melihat sekilas cairan bening mengucur lancar ke tembok kamar. Adalah si Ndeso kucingnya yang mengucurkan cairan bening tersebut lewat perkakas kecilnya. Segera aku tersadar kalau cairan bening tersebut adalah air seni yang dikeluarkan secara tidak berseni. Aku pun bengong dibuatnya. Dalam kebengonganku, melengganglah si Ndeso, masih dengan langkah-langkah gontai seolah ia adalah peragawan, lantas keluar kamar melewati pintu juga. Maka sesungguhnya aku tak habis pikir mengapa hariku yang diawali dengan syahdu harus diisi dengan “saat-saat menyebalkan” semacam itu.

Tidakkah kau rasakan
Berapa sakitnya aku
Meski ku pria jantan
Aku punya perasaan

Aku sekuat hatiku
Mencoba bertahan
Mencoba melawan
Dan harus kau tahu
Yang kuingin saat ini
Aku pergi

Aku sekuat hatiku
Tak boleh menangis
Tak boleh bersedih
Dan harus kau tahu
Jika boleh jujur
Ingin kupukul KUCINGMU!

20 pemikiran pada “Hari Menyenangkan vs Saat Menyebalkan

  1. hahahaha *ngakak guling2*

    tulisanmu tetep “aneh” seperti biasa. aku belum punya kitab keempat-nya bang haji pidi baiq. Bliin donk! πŸ˜›

    Cie cie…sayang bener sama rhyme. Moga langgeng ya dek..

    ehem, percayalah suatu saat kau akan menemukan impianmu. Tunggu sampai hatimu terasa “klik”, dan tiba2 kau sudah berlari untuk meraihnya.

    Cheers!! ^-^v

    Suka

  2. Menangis karena terharu atau memotong bawang bombay?
    Ahh Farijs, memotong bawang bombay tak bisa menyebabkan menangis..tapi yang lebih tepat memotong bawang merah.
    Dan jika tahan tak menangis saat memotong bawang merah, katanya tahan dimadu…huhuhu…jadi menangislah wahai cewek…

    Suka

    1. oh, gitu ya bu? maklum, anak bawang. gak pernah motong bawang bombay. hwehe…

      hah? tahan dimadu?? bisa gitu ya? hahaha. kalo laki-laki, tandanya tahan memadu gitu ya?

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s