Gadis vs Pemuda: Kado Koi

Alkisah di sebuah negeri antah berantah yang tanahnya gemah ripah loh jinawi namun masih banyak musibah, hiduplah seorang pemuda yang seganteng pangeran. Si Pemuda tidaklah hidup sendirian di negeri itu, karena selain dia hiduplah pula seorang gadis nan elok rupawan bagai tuan puteri di negeri dongeng. Selain mereka, hidup pula para tukang bakso, tukang kerupuk, tukang mi ayam, tukang nasi goreng, tukang sate, dan pengamen jalanan, sehingga mereka berdua tidak pernah kesepian dan kelaparan.

Hatta pada suatu pagi yang cerah, duduklah Sang Gadis sejarak satu meter di samping kanan Si Pemuda pada sebuah bangku di taman. Mereka berdua sedang terhanyut dalam perbincangan mengenai persiapan pesta ulang tahun ibu Sang Gadis.

Sang Gadis: “Udah, beliin itu aja buat kadonya.”

Si Pemuda: “Emangnya ikan koi bisa dipitain gitu ya, Neng?”

Sang Gadis: “Bungkusnya kan bisa, Mas.”

Si Pemuda: “Iya juga, yak. Trus enaknya ntar kertas kadonya yang motif apaan, dong?”

Sang Gadis: “Motifnya sih terserah Mas. Tapi koinya yang warna putih, ya. Ibu pasti heboh tuh.”

Demikianlah sebuah kisah di negeri antah berantah pada pagi hari. Di sini gunung, di sana gunung. Di tengah-tengahnya Pulau Jawa. Yang baca bingung, yang nulis juga bingung. Yang paling ganteng Farijs van Java.

6 pemikiran pada “Gadis vs Pemuda: Kado Koi

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s