Dewasa

Pagi ini aku lebih lama menatap cermin kamar mandi; tidak seperti biasa. Kuamati bayangan diriku di dalam sana. Rambutku masih acak-acakan. Bulu mataku tidak bertambah panjang meski sudah lewat tiga tahun sejak terakhir kupangkas. Hidungku pun masih besar. Di atas bibirku tampak kulit bekas cukuran. Kumisku menghilang. Jenggot lebatku masih menempel di dagu, sedikit terlihat indah setelah kemarin kugunting dan kurapikan.

Kutatap lekat-lekat bayangan wajahku di cermin. Benar juga dia yang berkata bahwa aku lebih tampan dengan kumis. Ibuku juga benar, bahwa aku akan terlihat lebih muda tanpa kumis dan jenggot. Lagi-lagi ibukulah yang paling benar dan aku tidak akan pernah memotong jenggot agar membuatnya lebih merasa benar.

Kerutan di dahi antara dua alis membuatku makin garang. Lingkaran di sekitar mata menghitam akibat ulah insomnia. Bulu hidungku tampak semakin lebat dan panjang. Pipi bakpao berusia empat tahun itu semakin tirus dimakan zaman. Membuat tulang pipiku terlihat lebih seksi dan menawan.

Perubahan-perubahan ini baru kusadari. Tak terasa sudah hampir tiga windu lamanya mukaku eksis di bumi. Namun aku tahu bahwa di dunia ini tak ada yang abadi. Maka sampai kapankah aku akan setampan ini?

Beberapa hari telah terlewat dari kala ketika aku sedang melewati sebuah taman. Terdapatlah seorang gadis kecil yang lucu memintaku sebuah pertolongan. Katanya: “Oom, bica minta tolong ndak? Lepacin cepatu aku ini dong, Oom. Cucah nih.” Maka aku segera melepaskan sepatunya hingga gadis kecil itu berlari menghampiri teman-temannya yang berkumpul di sudut lain taman. “Makacih, OOM,” teriak si gadis kecil padaku, disambut koor “makacih, OOM” dari teman-temannya.

Lain lagi peristiwa pada suatu hari ketika aku sedang memesan secangkir kopi di sebuah kedai bersama seorang gadis yang disinyalir berasal dari negeri dongeng. Si barista berjenis kelamin perempuan itu memanggilnya “kakak” dan memanggilku “pak”. Terang saja sang gadis geli menahan tawa demi melihat ekspresi “tersambar petir”-ku. Si barista yang sok tahu itu sepertinya menganggap wajar seorang ayah membelikan segelas es green tea untuk anaknya.

Kemudian pada suatu hari yang telah berlalu, sebuah tempat salat di dalam pusat perbelanjaan ibukota menjadi TKP. Seorang eksekutif muda berusia kisaran 30-an dan seorang pramusaji restoran cepat saji yang diperkirakan mendekati usia 30 tahun melakukan persekongkolan. Mereka berdua secara serempak membaiatku menjadi imam salat. “Silakan, PAK,” kata mereka sembari mempersilakanku memakai sajadah di bagian ruangan paling depan. Karena sudah sering dihakimi massa seperti itu, tanpa membantah aku pun maju dan memerintahkan mereka untuk meluruskan barisan. Tentu saja rasa kesal di hati langsung kutukar dengan rasa ikhlas yang lebih sedap.

Di depan cermin kamar mandi itu aku mengingat sesuatu. Yakni pada suatu hari Ahad yang cerah, tatkala aku sedang mengunjungi pameran bersama seorang gadis dari negeri antah berantah, terdapatlah peristiwa itu. Kami berhasil menangkap balon hijau yang terlepas dari genggaman seorang gadis kecil yang imut sebelum balon itu meledak. Gadis kecil yang belakangan kami ketahui bernama Nisa itu langsung tersenyum gembira dan menghentikan isak tangisnya. Mamanya yang cantik itu lantas memberikan kuis kepada Nisa: “Ayo bilang apa sama Kakak sama Oom-nya?” Maka Nisa yang pintar kemudian menjawab dengan berkata kepada kami: “Makasih, Kak. Makasih, OOM.”

Kejadian-kejadian itu memang sungguh tragis. Namun hal itu tidak lantas membuat cermin di kamar mandi kuhantam hingga pecah berkeping-keping. Sejalan dengan makna peribahasa “buruk cermin, muka dibelah” maka aku kembali menatap bayangan wajahku sendiri di cermin itu. Aku kembali membenarkan pernyataan Ibu. Aku yakin kejadian-kejadian tragis itu takkan kembali terulang. Maka aku pun senang hingga bibirku menyunggingkan sebuah senyuman.

Namun ketika aku teringat bahwa tadi malam bulan di langit berbentuk seperti kantong ajaibnya Doraemon, singgung senyum itu berputar 180 derajat. Aku menyadari bahwa Lebaran Haji sebentar lagi. Tanpa kumis, nyawaku terancam. Ingin segera aku berlari keluar kamar mandi, mencabut kumis kucing pertama yang kujumpai. Lalu dengan sigap segera memasangkan kumis itu pada wajahku hingga sempurna sudah penyamaranku. Maka aku akan terlihat lebih tampan seperti apa yang selalu ia katakan.

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s