Radio Melahap Buku

Tadi malam iseng-iseng kunyalakan radio pada Kak Ria, ponselku. Sudah lama sekali sepertinya aku tidak melakukannya.

Dulu waktu kuliah aku sering mendengarkan radio. Sembari menanti waktu kuliah, atau ketika malam harinya. Utamanya acara Delta Siesta yang kemudian berubah nama menjadi Indonesia Siesta di Radio Delta FM Jakarta. Setiap hari kerja, pukul 10.00 s.d. 14.00 WIB kalau tidak salah.

Penyiar utamanya Shahnaz Haque. Kalau awal-awal ada pula Miing Bagito yang menemaninya. Lantas ada reportase dari penyiar-penyiar Delta FM beberapa kota, seperti misalnya Gilang Pambudi dari Delta FM Bandung. Aduh, kocak sekali orang itu.

Waktu awal-awal kerja, untunglah seruangan dengan ibu bos penggemar Indonesia Siesta pula. Jadi kalau waktu-waktu segitu ya di ruangan bisa menyimak ocehan-ocehannya Shahnaz Haque dan kawan-kawan via radio si ibu bos. Oke, kuakui memang seleraku beberapa tingkat di atas sewajarnya usiaku. ๐Ÿ˜€

Jadi kangen masa-masa itu. Sekarang sih sepertinya acara itu sudah tidak ada. Atau masih ada dan pindah waktu siar saja? Entahlah.

Kembali lagi di awal. Semalam iseng saja kuhidupkan radio. Loncat gelombang sana loncat gelombang sini, eh tersangkut di gelombang 92.0 FM Radio Sonora Jakarta. Sedang ada acara Lagu Legenda Nusantara, kalau tidak salah ingat.

Betul sekali, di acara itu diputarlah lagu-lagu Koes Plus dan Koes Bers. Khusus malam tadi lagu-lagu yang diputarkan semua berhubungan dengan wanita. Memperingati Hari Kartini barangkali.

Aduh, langsung merasakan nostalgila ketika lagu Oh Lala diputarkan.

Tanda mata darimu untukku
Akan selalu mengingatkanmu
Oh Lala
Oh Lala

Koes Plus – Oh Lala

Kemudian ada lagi lagunya Koes Plus dalam bahasa Jawa:

Ih, cah ayu
Yen nyayur opo sayur asem
Ih, cah ayu
Yen matur ojo mesam-mesem

Ih, cah ayu
Yen masak opo masak kerik
Ih, cah ayu
Yen nyedak ojo plirak-plirik

Koes Plus – Sayur Asem

Merasa bahagia sekali. Mendengarkan lagu-lagu Koes Plus sembari melahap buku-buku yang kubeli kemarin dan pekan kemarin.

Baiklah, Bu. Akan kusenaraikan saja buku-buku baruku itu.

Ada “Iluminasi dalam Surat-Surat Melayu Abad ke-18 dan ke-19”. Sudahlah, kebanyakan orang mungkin tidak menyukai buku semacam ini. Lantas ada “Entrok”, sebuah novel karya Okky Madasari.

Beberapa waktu lalu seorang kawan pernah kubelikan buku ini. Bagus, katanya. Lantas sewaktu kubaca-baca sekilas sambil berjongkok di samping raknya \dilarang duduk di lantai soalnya\ kupikir-pikir bagus juga. Kubelilah untukku sendiri.

Kemudian ada “Burung-Burung Manyar” karangan Y. B. Mangunwijaya alias Romo Mangun yang beberapa hari lalu kuunggah fotonya di blog ini. Buku ini sudah lewat tiga per empat kulahap. Bagus sekali. Sebuah roman yang berlatar tahun 1930-an hingga 1970-an.

Lalu kemarin itu kubeli pula buku “Sjahrir”. Karena di “Burung-Burung Manyar” tokoh nasional Sutan Sjahrir, sang Bung Kecil ini masuk dalam cerita meski cuma sekilas, tertariklah aku untuk lebih mengetahui tentang sepak terjang beliau.

Kuberikan buku itu langsung kepada seseorang yang berkacamata. Segera dilahapnya buku itu, habis dalam sehari. Tadi malam ketelepon dia, kuminta dia menceritakan apa saja yang ditulis dalam buku itu. Perihal Sutan Sjahrir. Dan dia menceritakannya dengan bersemangat.

Kupikir-pikir boleh jugalah lain kali kubelikan dia buku lagi. Lantas kusuruh saja dia menceritakan apa yang tertulis. Tak perlu repot-repot jadinya aku membaca. Hoho. ๐Ÿ˜€

Kemudian kemarin akhirnya aku menemukan buku yang kucari-cari sepekanan itu. “Hanya Salju dan Pisau Batu” karangan Happy Salma “yang manis” dan Pidi Baiq “yang mana?” akhirnya kudapatkan, Saudara! Untuk melengkapi koleksi, kubeli pula “Drunken Monster” dan “Al Asbun Manfaatulngawur”.

Buku terakhir itu sudah pernah kubeli. Dua kali. Dua-duanya kuberikan. Jadilah aku membelinya lagi untuk kuimpan sendiri.

Hoho. Baru saja kubaca dua bab novel kolaborasian “Hanya Salju dan Pisau Batu” itu. Tidak kusangka-sangka, ternyata Kang Pidi bisa menulis semacam itu pula. Sangat feminim! Teruntuk Ce’ Happy Salma, kuacungkan empat jempol dan satu lidahku untukmu.

Oke. Lanjut ke buku berikutnya. Kubeli pula “Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia” versi resmi Pusat Bahasa. Sebetulnya aku sudah punya “Tesaurus Bahasa Indonesia” versi Eko Endarmoko. Kubeli yang versi Pusat Bahasa itu juga karena meskipun lebih tebal, tapi lebih ringan (bobotnya) dibandingan versi Eko Endarmoko itu.

Kemudian yang terakhir adalah novel barunya Tere Liye yang berjudul “Ayahku (Bukan) Pembohong”.

Sekian senarai buku baruku. Tidak ada kubeli buku Kamasutra atau semacamnya. Demikian, teriak masih. Sedang berusaha melahap segala buku-buku itu dengan segera. Doakan, semoga terbaca. Semangat!

4 pemikiran pada “Radio Melahap Buku

  1. aku punya โ€œTesaurus Bahasa Indonesiaโ€ versi Eko Endarmoko, tapi tidak puas sama sekali. Apa bedanya dgn yg kamu beli barusan itu?
    Tesaurus kan mestinys membahas arti/definisi dan kapan dipakainya sebuah kata. Aku ingin yg seperti itu, bagus bagus kalau ada yg mencantumkan berasal dr bhs apa.

    EM

    Suka

    1. Kalau yang membahas arti/definisi mah ada kamus, atuh Bu. Kalau tesaurus versi Eko Endarmoko (EE) bukannya ada beberapa yang mencantumkan berasal dari bahasa apa gitu, Bu. Yang versi Pusat Bahasa (PB) malah gak ada.

      Kalau versi PB ada antonimnya, versi EE hanya sinonim. Versi PB sudah memasukkan akronim yang sudah lazim sebagai lema, sementara versi EE tidak.

      Versi EE disertakan label kata serapan, berasal dari bahasa mana. Ada Arab, Bali, Belanda, Cina, Jakarta, Jawa, Minangkabau, Sunda, dan Sansekerta. Sementara versi PB tidak ada label ini. Versi EE juga disertakan label bidang kehidupan dan bidang ilmu, sementara versi PB tidak ada.

      Kalau Ibu mencari yang mencantumkan suatu kata berasal dari bahasa apa, mungkin lebih ada di versi EE. Ya, meski cuma sebatas itu. Tidak mendetail semisal sejarah suatu kata bagaimana bisa diserap, bagaimana perjalanannya, dsb.

      Secara sekilas saya bandingkan sih isi sinonimnya sama, Bu. Versi PB seolah-olah hanya melengkapi antonim untuk beberapa kata yang berantonim, gitu. Yang jelas tebal bukunya nyaris sama (ternyata). Aduh, lupa pula melihat nomor halaman. Tapi versi PB lebih panjang dan lebih lebar. Begitu… ๐Ÿ˜€
      Kalau saya sih beli yang versi PB juga karena itulah yang versi resmi. Kata-kata di dalamnya merupakan kata-kata yang terjamin baku.

      Suka

  2. Hei, jaman SMP-SMA saya cukup sering dengerin radio. ๐Ÿ˜€
    Biasa lah, dengerin radio anak muda, muter musik2 mulu…
    Masuk kuliah, saya jadi ga suka dengerin radio. Udah cukup hiburan dari game2 PC dan musik dari kompie.
    Baru2 ini, saya tertarik dengerin radio lagi karena ada rubrik kesehatan favorit saya di salah satu radio di Bandung. ๐Ÿ™‚

    Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s