Talking Taboo: Writing About Sensitive Topics

Seringkali aku merasa takut untuk beropini atas sesuatu yang sensitif begini. Seperti misalnya perkara pilih-memilih capres-cawapres kemarin. Atau perkara siapa yang paling ganteng di antara Anjasmara, Rano Karno, aku, dan Rhoma Irama.

Bukan lantaran takut akan dicerca dan dinafikan orang-orang, sih. Tetapi lebih kepada kurang berani berekspresi dan takut salah. Padahal ya makhluk yang disebut sebagai manusia itu memang tempatnya luput dan salah, ya. Tinggal pilihan kita saja selanjutnya yang akan menentukan kita ini termasuk manusia agung ataukah rendahan. Yang tersebut pertama kali tentu akan bertanggung jawab atas semua kesalahannya. Kan?

“Dos” yang terakhir di tulisan ini tadi menurutku sangatlah penting, Saudara. Sebab dalam sekian waktu saja barangkali kita mendapatkan informasi tambahan yang dapat mengubah opini kita. Tentu hal ini amatlah memungkinkan mengingat kita sekarang hidup di era informasi sangat gampang didapat dan disebarluaskan.

Atau dengan begitu kita memiliki tambahan waktu untuk mengolah opini yang hendak kita publikasikan. Sekian.

The Daily Post

Over in the Commons for Writing 201, we’ve been working on finding our angles as writers. I’ve found myself responding to the same question from several bloggers: “I want to write about X, but I don’t want to seem too opinionated. What should I do?”

Hanging your opinion out on a global laundry line can be scary, especially when you’re writing about potentially contentious topics. We often tiptoe around those stalwarts of family dinner table arguments, politics and religion, but any issue on which two reasonable bloggers can differ can be divisive — and therefore scary — to tackle publicly. Human sexuality. Parenting decisions. Food choices. Who should win The Bachelor.

Today, let’s look at some dos and don’ts for writing about sensitive topics in ways that are both constructive and true to you.

First, a deep breath.

Before we delve into specifics, a pause and a deep breath for…

Lihat pos aslinya 783 kata lagi

Selamat Idulfitri 1435 H

Subuh ini ayam tidak berkokok
Matari tidak mengintip malu dari balik cakrawala timur
Hanya hujan yang bergemerencik
Mengiringi gema takbir bertalu-talu

Aku terbangun mendapati kasur dan kakiku basah. Barangkali aku memang harus mulai memakai diaper. Atau genting kamarku saja yang harus disusun ulang.

Dalam keadaan demikian aku patut bersyukur. Sebab barangkali aku mendapati kemenangan sebagaimana orang-orang lain melewati Ramadan. Maka aku pun berucap syukur Alhamdulillah, bahwa segala puji adalah milik Allah, Tuhan pencipta jagad raya.

"Selamat Idulfitri 1435 Hijriah"
Taqabbal Allahu Minna Wa Minkum
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Hujan Gelombang

Hujan.
Genting kaubuat berteriak. Dedaunan kaubuat menangis. Tanah kaubuat mengompol. Sedang jantungku kaubuat semakin kencang berdebar.

Jantung.
Dadaku kaubuat was-was. Ketekku kaubuat keringatan. Anuku kaubuat hampir mengompol. Sedang mulutku kaubuat tersimpul senyum.

Mulutku tak sempat berucap. Tetapi jantung ini, hati ini memancarkan gelombang unik. Berharap bisa terbaca oleh hati lain yang setingkat.

Kita

Berada di sini adalah siksaan. Tentu kau tahu. Kisah kita selalu diceritakan ulang. Tangisanmu. Juga tangisanku. Mengapa dan bilamana kita berpisah adalah pertanyaan yang selalu menyerang. Bagai ribuan anak panah melesat tepat ke jantungku. Harus bagaimanakah kujawab? Barangkali mereka berpikir kita baik bersama. Aku pun selalu heran mengapa kita tidak lagi bersama atau tidak mencoba lagi untuk bersama. Aku dan kau memang tidaklah sempurna. Aku tahu itu. Kau pun tahu. Terlebih kuakui, aku tidaklah sesempurna yang kaukira. Kita bersama pun tidaklah sempurna. Tetapi kita bisa mengubah kedelai menjadi tahu. Kita sudah sama-sama tahu apa yang salah dari resep kita. Kita bisa menggantinya, mencoba lagi. Sekali lagi kita mencoba, tentu hasilnya bisa lebih baik. Dan memang tidak akan langsung menjadi sempurna. Kita punya waktu untuk itu. Dan aku percaya bahwa kita bisa. Aku berharap kau pun percaya. Kita jkshjsk sjsbd sjs d kaiggfjieube jxiwuow I bxhiskahhf djidhhauiwb dohsjkxogbao djsbs ksksbsb s sjsjsbsjsojwbd d d d dj yg hndks. Dbdishbwodjdb d dbdjdjd dvucukdje dodukwkfdpbd d dkdhddbdo dh bejshsk

Hujan.
Tangan basah. Oleh keringat.
Jantung becek. Oleh darah.
Mata kering. Tanpa tangisan.

Duhai engkau rel yang selalu berpasangan. Sudikah tempatmu sebentar kugantikan? Aku lelah ingin rebahan. Berharap kereta api melindasku dengan tenang. – at Stasiun Gambir

See on Path

Rambut yang Melelahkan

Sudah dari kemarin-kemarin ingin kutunjukkan video ini kepada kalian. Tahu Alaa Wardi, kan? Nah, di video ini dia curhat mengenai rambut gondrongnya. Haha!

Seandainya aku lebih kreatif, barangkali aku pun ingin membuat semacam lagu tentang rambutku begitu, Saudara. Haha!

Si Alaa Wardi ini katanya sering dikata-katai seperti kera atau seperti manusia gua gara-gara rambutnya yang “begitu”. Haha. Sejatinya aku ingin rambutku gondrong seperti rambutnya. Tetapi kata si Alaa rambutnya yang begitu itu sungguh melelahkan. Meski begitu, tetapi dia tidak ingin mencukur rambutnya. Haha!

Jadi lewat video itu si Alaa meminta kita mencari solusi perkara rambutnya yang sering mengganggunya itu. Haha. Bagaimana? Kalian ada ide?

That’s Life, Allegedly

Kupikir lagu paling cocok untuk bulan Juli ini adalah lagunya Eyang Frank Sinatra berjudul “That’s Life”, Saudara.

That’s life (that’s life), that’s what all the people say
You’re ridin’ high in April, shot down in May
But I know I’m gonna change that tune
When I’m back on top, back on top in June

I said that’s life (that’s life), and as funny as it may seem
Some people get their kicks stompin’ on a dream
But I don’t let it, let it get me down
‘Cause this fine old world, it keeps spinning around

Sudah sejak empat hari lalu lagu ini kuputar-putar terus berulang kali, \seperti bumi ini yang terus menerus berputar, kan?\ kudengarkan dan kunyanyikan tiada bosan-bosannya. Memang benar apa kata orang, oldies never die.

I’ve been a puppet, a pauper, a pirate, a poet, a pawn and a king
I’ve been up and down and over and out and I know one thing
Each time I find myself flat on my face
I pick myself up and get back in the race

Dalam hidup, kadang kita merasa sedang di atas, kadang pula kita di bawah. Kadang kita buka puasa dengan sekuali spageti, kadang pula hanya dengan sebiji kurma. Tetapi seperti kawanku si Imam, mari kita mengusahakan agar selalu berbuka dengan si yang manis.

That’s life (that’s life), I tell you I can’t deny it
I thought of quitting, baby, but my heart just ain’t gonna buy it
And if I didn’t think it was worth one single try
I’d jump right on a big bird and then I’d fly

Lanjutkan membaca “That’s Life, Allegedly”