Kawan Berjalan: A Self Reflection

Alangkah beruntungnya mereka yang menemukan kawan berjalan yang panjang langkahnya sama. Lebih beruntung lagi apabila langkah keduanya seirama.

Postingan yang kutulis pada 30 November 2014 di atas adalah yang paling berkesan karena barangkali bisa menjadi refleksi atas segala perasaan hati dan pemikiranku selama setahun belakangan ini. Memanglah benar betapa susah mendapatkan kawan berjalan yang semacam itu. Dengan cara yang keras/ susah kusadari hal demikian; memang benar pula bahwa kita baru akan menyadari arti pentingnya keberadaan seseorang bagi kita setelah kita kehilangan dia.

Tadi malam aku menonton lagi film “Doraemon: Stand By Me” untuk kedua kalinya. Lalu kusadari kembali akan satu hal: bahwa barangkali aku seperti Nobita, yang baik sadar maupun tak sadar menyabotase diri sendiri karena beranggapan bahwa seseorang bisa jadi akan lebih baik dan bahagia ketika kita tidak bersamanya. Rasa-rasanya aku ingin menangis pada saat adegan itu, kawan, tetapi…

♪ Malu sama kucing.. ♪ Meong ♪ meong ♪ meoong.. ♪

Andai saja sudah sejak lama aku mengikuti serial Modern Family, barangkali kutipan dari salah satu episodenya bisa membuatku bertindak lain: Lanjutkan membaca “Kawan Berjalan: A Self Reflection”

Indonesia di Mata Orang Jepang

Baru saja kubeli sebuah buku. Kubeli buku ini di toko buku, bukan toko donat apalagi toko bayi. Judulnya “Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang” buah karya seorang peneliti tentang Indonesia asal Jepang bernama Hisanori Kato.

Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang (karya Hisanori Kato)
Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang (karya Hisanori Kato)

Tentang apa buku ini? Sesuai dengan judulnya, tentu saja, yaitu tentang pandangan orang Jepang terhadap (orang) Indonesia. Adalah seorang Hisanori Kato, yang berbagi pengalaman pribadinya ketika hidup di Indonesia di buku ini.

Aku baru baca sebagian saja, Saudara. Tetapi aku ingin menceritakan sedikit pengalaman si penulis buku dan bagaimana pemikirannya. Pernah Pak Kato berbincang dengan seorang tukang parkir di Yogyakarta bahwa dia capek dan kurang tidur karena melakukan penelitian. Pak Kato ini terheran dengan tanggapan si tukang parkir, karena tukang parkir menyarankannya untuk beristirahat sebentar, bukannya menyemangati layaknya orang Jepang pasti bereaksi dalam situasi demikian.

Begini pernyataan dari Pak Kato:

Waktu itu saya berpikir bahwa ada tempat bagi saya untuk pulang. Di saat yang sama saya teringat realitas di Jepang bahwa setiap tahun ada 30.000 orang yang mengakhiri hidup mereka.

Di sini juga Pak Kato menanggapi perkara sifat sangat pemaklum dan pemaafnya orang Indonesia mengenai ketepatan waktu. Ada pula tentang agama Islam dalam masyarakat kita. Makanya aku pikir buku ini sangat layak untuk kita baca dan kita renungkan. Tentu bagi kita yang mengaku sebagai orang Indonesia. Haha.

Dian Tak Kunjung Padam

Sementara itu hari bertambah lama bertambah terang jua. Pada beberapa tempat kelihatan tangan y*ng putih mengulurkan timba ke air dari dalam rumah. Pagi-pagi serupa itu ialah waktu perawan-perawan Palembang mandi. Menurut adat mereka tidak boleh memperlihatkan dirinya, tak boleh keluar rumah. Dan kalau mereka mesti keluar rumah misalnya hendak pergi ziarah ke kubur atau mengunjungi sanak-saudara, maka gadis itupun seolah-olah dibungkus dengan bermacam-macam kain y*ng indah-indah sampai ke kepalanya. Hanya kakinya dan ujung tangannyalah y*ng kelihatan.

Sutan Takdir Alisjahbana, dalam “Dian y*ng Tak Kunjung Padam”

\Mohon maaf, Saudara, penyebutan kata ‘y*ng’ tiadalah dapat kuhindarkan. Demi tegaknya cerita, berpura-puralah bahwa aku tidak mengetikkan sama sekali kata ‘y*ng’ tersebut. Terima kasih.\

Kalian tahu, bukan, bahwa ketika SMP aku pernah didaulat untuk mewakili sekolah dalam perlombaan menulis resensi novel lawas ini? Pada waktu itu aku tidak tahu kata-kata, terlebih kata-kata kemelayuan. Maka aku pun tak tahu harus bagaimana, harus berbuat apa, demi menuliskan resensinya. Apabila sekarang, tentunya akan lebih mudah bagiku melakukannya karena aku punya akses untuk menemukan arti kata per kata.

Beruntunglah, karena Sabtu kemarin aku membeli buku ini demi mengutipkan satu paragraf di atas khusus untuk kalian, para pembaca budiman.

Buku "Dian y*ng Tak Kunjung Padam"
Buku “Dian y*ng Tak Kunjung Padam”

Lanjutkan membaca “Dian Tak Kunjung Padam”

Kabar Malam Keesokan Harinya

Jadi, Saudara, seperti yang pernah kujanjikan kemarin dalam Kabar Pagi, akan kuceritakan kisah perjalananku selanjutnya.

Kemarin siang aku jadi pergi ke toko buku langganan yang gemar memotong harga sekian persen. Di sana ternyata tak ada Jejak Langkah! Betapa menyebalkannya, Saudara. Jauh-jauh berpanas-panas pergi ke situ, ternyata tak ada barang yang diidamkan. Ini sesuai dengan perkataan Antho Hiu bahwa toko buku yang tidak punya persediaan buku yang kita cari laksana warteg yang kehabisan nasi.

Walhasil, belilah aku buku yang keempat dari Tetralogi Buru: Rumah Kaca. Dengan tangan menenteng buku itu dan muka sedang dalam kondisi tampan seadanya, aku pun berbaris di depan kasir. Ketika sedang mengantre untuk membayar, kulihat tumpukan buku yang menarik perhatian. Judulnya: Mozart’s Last Aria buah karangan Matt Rees. Jadilah kubeli juga buku itu. Jadi ada berapa buku yang kubeli di toko buku langgananku kemarin siang itu, Saudara? … Pintaaaaar! Lanjutkan membaca “Kabar Malam Keesokan Harinya”

Bahasa Semua Bangsa

Akhirnya kulanjutkan kembali membaca Anak Semua Bangsa buah karya Pramoedya Ananta Toer. Setelah kubaca halaman demi halaman, kubalik lembar demi lembar, otakku terpancang pada perkara bahasa.

Kubaca di situ betapa Jean Marais sangat menganjurkan Minke untuk menulis dalam bahasa Melayu, yang dikatakannya sebagai bahasa bangsa Minke sendiri. Kemudian datang pula Kommer kepada Minke yang juga menganjurkan hal yang sama. Mereka sama-sama berdalih betapa bahasa Belanda hanya dimengerti oleh kelompok tertentu, tetapi bahasa Melayu dimengerti oleh bangsa Pribumi. Minke, bagaimanapun, haruslah berbicara kepada bangsanya sendiri yang tentu saja menggunakan bahasa yang dimengerti khalayak ramai. Dalam lain kesempatan, Bunda malah menyuruh Minke menulis dalam bahasa Jawa, bahasa leluhurnya sendiri yang harus pula dilestarikan dan dijunjung tinggi.

Perkara berbahasa ini telah lama menggelitik pikiranku. Betapa telah lama kusaksikan banyak orang Indonesia lebih dapat mencurahkan perasaan dan mencetuskan pikirannya dengan bahasa asing. Bukan dengan bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerahnya. Untuk sekadar menyerapah saja misalnya, alih-alih menggunakan kata ‘*ucing’ atau ‘*angsat’, sekarang orang-orang menggunakan kata ‘*hit’ atau ‘*uck’. Banyak pula yang masih latah menggunakan kata ‘*erdomme’. Lanjutkan membaca “Bahasa Semua Bangsa”

Buku Mahal

Oke. Sekarang mari kita bahas mengenai jawaban postingan kemarin.

Bagi yang menduga buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer lebih mahal daripada buku Teori Semantik (Edisi Kedua) karya Jos Daniel Parera, aku ucapkan selamat karena kalian betul. Namun bagi yang menduga sebaliknya, janganlah berkecil hati dahulu, karena tidak sepenuhnya kalian salah.

Buku Bumi Manusia aku beli seharga Rp76.500,00 dari harga awal Rp90.000,00 dipotong diskon 15%. Sementara itu, buku Teori Semantik aku beli seharga Rp75.225,00 dari harga awal Rp88.500,00 dipotong diskon 15%. Jadi harga kedua buku ini cuma selisih Rp1.275,00.

Dilihat dari sampul bukunya, tentu saja aku dapat mengatakan kalau sampul buku Bumi Manusia lebih bagus daripada buku Teori Semantik. Bukan hanya tentang desainnya, dari bahan dan segi pengerjaannya pun lebih bagus yang Bumi Manusia. Sampul Bumi Manusia kertasnya lebih tebal, dan ada cetak timbulnya segala. Sementara buku Teori Semantik serasa standar sebagaimana buku teks pada umumnya. Lanjutkan membaca “Buku Mahal”

Hakimilah Buku dari Sampulnya

Hari Ahad kemarin aku menyempatkan diri menghadiri Klub Buku yang diadakan oleh Goodreads Indonesia. Temanyalah yang menarikku untuk pergi ke TMBookstore Detos, Depok, pada hari itu. Adapun tema pertemuan kali itu adalah “Arti dan Peranan Sebuah Sampul Buku”.

Menghadirkan seorang editor merangkap penulis dan seorang desainer sampul buku dari dua penerbit (penerbit kakak beradik, sepertinya), aku rasa sudah cukup untuk memuaskan rasa penasaranku mengenai sampul buku. Sekalian pada hari itu aku juga berencana berbelanja buku. Maka di toko buku itulah aku Ahad kemarin itu (dan membolos tugas piket).

Dari acara itu aku beroleh kesimpulan bahwasanya setiap sampul buku memiliki proses kreatifnya hingga menjadikannya sedemikian rupa. Tak ubahnya seperti hasil karya desain visual lainnya semacam poster atau pamflet.

Yang membuatku tercengang adalah ternyata untuk buku-buku terjemahan, karena lisensi sampulnya relatif mahal, maka yang dibeli adalah lisensi isi buku. Sampulnya kemudian dibuat ulang dengan konten yang berbeda. Memang ada beberapa buku terjemahan yang dibeli lisensinya oleh penerbit sekalian dengan sampulnya. Itu pun kalau sampul dari luar negeri tersebut dirasa tidak akan ada yang lebih bagus lagi kalau dibuat baru, dan sudah sesuai dengan tren sampul di pasar Indonesia.

Nah, Saudara. Dari dua sampul buku yang kubeli hari Ahad itu juga, manakah kira-kira yang harganya lebih mahal?

Sampul Buku: Teori Semantik & Bumi Manusia

Sampul Buku: Teori Semantik & Bumi Manusia

Arok dan Dedes Khatam Riwayat

Alhamdulillah. Senang sekali. 😀
Di Sabtu siang berangin sepoi-sepoi ini akhirnya aku berhasil mengkhatamkan buku Arok Dedes buah karya Pramoedya Ananta Toer.

Seru sekali kubaca buku ini. Sudah berbulan-bulan, baru hari ini selesai. Memang berat. 😛

Sedikit kecewa karena dalam buku ini tidak dikisahkan mengenai keris legenda buatan Empu Gandring. Keris yang katanya akan membunuh nyawa tujuh orang itu tidak tersebutkan. Lanjutkan membaca “Arok dan Dedes Khatam Riwayat”

Sepi

Duduk seorang diri di sebuah toko donat. Ah, kok tiba-tiba jadi sepi?

Pas sekali, karena sekarang aku sedang membaca bukunya Happy Salma dan Pidi Baiq “Hanya Salju dan Pisau Batu” tepat pada halaman 98. Haha.

SEPI: PIDI BAIQ

Ada yang ingin dirinya berada di tempat yang sepi, salah satunya tentu saja adalah maling. Bagi maling keadaan dan situasi yang sepi adalah justru emas. Adalah kesempatan untuk menunaikan niat jahatnya. Selain maling, ada lagi yang ingin dirinya berada di tempat sepi, yaitu dua orang yang sedang berpacaran […]. Selain itu ada lagi, yaitu orang yang melakukan tapa. […]

Di tempat sepi, maling justru tidak pernah merasa kesepian. Di tempat sepi, dua orang yang berpacaran justru tidak merasa kesepian. Di tempat yang sepi, yang tapa justru mendapati gairah diri yang menggelora, dia tidak merasa kesepian. Di tempat yang sepi, seekor undur-undur justru mendapati dirinya begitu nyaman, dia tidak merasa kesepian. […]

Tidak pernah merasa kesepian di tempat yang sepi, disebabkan oleh karena mereka menikmati dan menghendaki saat-saat seperti itu, sebagai suatu keadaan yang justru menyenangkannya. […] Karena yang tapa malah berharap tak ada orang yang mengganggu konsentrasinya.

Saya sendiri juga ada saatnya suka di tempat yang sepi, salah satunya kalau sedang buang air besar di toilet, tetapi bukan untuk mendapati diri merasa kesepian. Kalau cuma mau merasa kesepian, sih, tidak harus berada di tempat yang sepi. Di tengah keramaian juga bisa, […], syaratnya gampang, yaitu harus mau merasa sedang dijauhkan dari orang-orang yang selalu memperhatikan, yaitu orang-orang yang sedang tidak bersamamu dan jauh, di tempat lain yang berbeda, tidak kumpul bersama-sama denganmu. […] Syarat lainnya, yaitu harus merasa terkucil, harus merasa tersisih, padahal biasanya tidak. […] Harus merasa diabaikan.

Seorang maling sampai kapan pun tidak akan merasa kesepian selama dia berani mengambil keputusan memanfaatkan keadaan. Itu sama dengan ketika saya berada di dalam toilet sendirian, menjadi tidak merasa kesepian ketika fokus pada apa yang sedang saya lampiaskan.

[…]

HANYA SALJU DAN PISAU BATU, halaman 98-99.

Entah mengapa tulisan ini seperti ingin menasihatiku. Haruskah aku ternasihati?

Aku sedang merasa sepi. Aku sedang ingin merasakan kesepian.

Sampai jumpa, hari-hari yang ceria.