Batik

Barangkali hari ini hari-hariku penuh dengan batik. Serba batik.

1. Pakai baju batik:

Pulpen Parker Frontier-ku tersangkut di saku kemeja batik. Kalian lihat, kan, ujung klipnya masuk ke dalam jahitan di saku. Ujung anak panah yang menjadi khas pulpen Parker menusuk ke situ.

2. Membasahi map batik dengan tumpahan kopi:

Aku sedang asyik memotong dan menempel kertas motif bunga-bunga di suatu bidang balok tadi pagi. Tak sengaja siku kiriku menyenggol gelas besar penuh kopi panas. Tumpahlah itu kopi. Haha.

3. Ke kota penghasil batik?

Kalau tak ada aral melintang dan gendala menghadang, malam ini aku berangkat ke salah satu kota penghasil batik. Sampai jumpa di sana, Saudara!

Puisi Ketimus

Jadi ceritanya aku sedang menganggut-anggut sendiri, membenarkan bahwa sekarang ide-ide sportif kreatif dalam hal berpuisi sudah banyak terkikis dari otak.

Lantas seorang kawan yang tidak perlu kita sebut namanya dan tunjuk batang hidungnya pun berkata bahwa menulis (puisi) adalah sebentuk cara untuk meluapkan emosi dan perasaan, dan apabila tidak punya emosi serta perasaan lebih baik tidak menulis (puisi) karena hasilnya akan jelek.

Karena pada siang tadi perasaanku adalah lapar dan emosi karena kelaparan, jadilah puisi ini:

View this post on Instagram

Puisi ketimus #poem

A post shared by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Tertulis seribu pesan untukmu
Aku menuliskannya pada daun pisang
Lalu kubungkus dan kukukus
Maka jadilah ketimus

Bagi yang belum tahu makhluk apakah gerangan ketimus itu, silakan penasaran. Seingatku ketimus adalah penganan yang dibungkus oleh daun pisang seperti halnya lemper. Hanya saja ketimus tidak terbuat dari ketan melainkan parutan singkong.

Cara membuatnya aku kira gampang, Saudara. Pertama-tama, carilah terlebih dahulu kebun singkong. Lantas pilih kira-kira mana yang singkongnya sudah matang. Kemudian cabut, ambil singkongnya, bersihkan. Setelah itu kupaslah hingga telanjang. Baru setelah itu singkong bisa diparut menggunakan parutan. Lanjutkan membaca “Puisi Ketimus”

Pembuat Tawa Sore Ini: Wanita

Sore ini pun rupa-rupanya ada saja yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.

The Panasdalam Bank – Wanita

Wanita.. wanita.. karenamu lahirlah manusia
Wanita.. wanita.. menirumu jadilah waria
Wanita.. wanita.. karenamu lahir majalah dewasa
Wanita.. wanita.. tidak semua pakai mukena

Tetapi tanpa wanita Adam hidupnya sunyi
Tetapi karena wanita aku ada di bumi

Wanita.. wanita.. tidak semua aktif PKK
Wanita.. wanita.. pahlawanmu harum namanya
Wanita.. wanita.. tidak semua Dharma Wanita
Wanita.. wanita.. punya toilet khusus wanita

Tetapi tanpa wanita Adam hidupnya sunyi
Tetapi karena wanita aku ada di bumi

Wanita.. wanita.. tahu banyak soal tetangga
Wanita.. wanita.. atur-atur soal belanja
Wanita.. wanita.. ibuku juga seorang wanita
Wanita.. wanita.. istriku juga seorang wanita

Tetapi tanpa wanita Adam hidupnya sunyi
Tetapi karena wanita aku ada di bumi

Ada pula sore ini membuatku senang. Tiba-tiba saja terdapat sepucuk surat, yang katanya dari Kantor Pos Kotagede Yogyakarta, ini di atas meja kerjaku. Wanita, terima kasih atas sore yang menyenangkan.

Pelikano

Jadi Sabtu kemarin itu aku pergi ke sebuah mal. Sebut saja Mall Kelapa Gading. Barangkali memang karena ada di kawasan Kelapa Gading maka mal tersebut diberi nama demikian. Apa yang menjadi tujuanku datang ke situ tidaklah kujumpai. Akan tetapi beruntunglah aku karena ketika aku iseng memasuki toko buku berlogo klip kertas di situ aku menemukan pulpen Pelikan Pelikano ini! Yey!

Pelikan Pelikano di toko alat tulis
Pelikan Pelikano di toko alat tulis

Barangkali aku terkejut karena kupikir tidak akan ada pulpen-pulpen semacam ini di sini (Indonesia). Aku sudah cukup terkejut ketika pergi ke toko alat tulis di Malang beberapa pekan lalu kudapati tinta botol Pelikan 4001 di situ.

Pulpen Pelikan Pelikano yang kutemukan Sabtu kemarin ini barangkali adalah model lama. Karena di situs resminya Pelikan Pelikano tidaklah berbentuk demikian.

Sampai saat ini pulpen inilah yang menjadi pulpen (fountain pen) yang paling murah yang kupunyai. “Cuma” Rp65k. Sudah termasuk 6 tinta “peluru”.

Di toko alat tulis ini aku pun menemukan mata pena berikut:

View this post on Instagram

Mata pena baru. Nikko Pen. G. Made in Japan.

A post shared by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Senangnya akhir pekan lalu…

My Recent Acquisition

Jadi, Saudara. Tadi malam itu aku ke MOI. Niat janjian dengan kawan-kawan nonton The Internship. Itu loh, filmnya Owen Wilson yang magang di kantornya Google.

Sebelum ke bioskop aku sempatkan mampir dulu ke Gramedia. Ternyata persis di bawahnya bioskop. Aku pun lihat-lihat di bagian pulpen. Setelah lihat sana lihat sini, aku pun tertarik dengan pulpen Sheaffer warna merah bening. Pulpen yang kumaksud di sini tentu saja adalah vulpen atau fountain pen.

Entah Sheaffer seri apa, yang jelas bukan produk keluaran baru. Ringan sekali pulpen ini. Terkesan murahan. Akan tetapi berhubung aku menyukai warna merah transparannya (belum punya pulpen yang transparan), aku beli pulpen ini. Aku rasa harganya Rp265k, tanpa converter.

Si Mbak Pramuniaga aku tanya tentang tinta. Dikeluarkanlah beberapa tinta cartridge dan beberapa tinta botolan. Aku tidak tertarik dengan tinta cartridge, maka aku tidak membelinya. Aku lebih tertarik dengan tinta botolan yang diperlihatkan oleh si Mbak. Karena ada dua botol yang merupakan tinta produk lama Sheaffer. Botolnya unik, seperti botol selai dengan tutupnya yang kaleng.

Aku tanya harga tinta botol itu berapa, si Mbak jawab Rp60k. Aku tahu harga tinta botol Sheaffer yang baru, yang bentuk botolnya mengerucut itu, memang segitu. Tetapi ini kan produk lama, dan di salah satu botol masih tertera label harganya pula. Tertera Rp24k, bukan Rp60k!

Aku coba protes dong ke si Mbak. Si Mbak kemudian BBM ke “bos”-nya. Lama sekali aku menunggu balasan. Aku pikir terlalu mahal membeli tinta “biasa” seharga Rp60k begitu. Tinta Pelikan 4001 lama yang kubeli di Malang dua pekan lalu saja harganya Rp17,3k. Belum lagi tinta Parker Quink harganya cuma Rp27k. Maka tentulah harga tinta Sheaffer Skrip ini memang benar cuma sebesar Rp24k.

Akhirnya si “bos” membalas, dan harga kedua botol tinta ini Rp60k masing-masing. Aku pun mengalah dan membelinya seharga segitu. Lumayanlah untuk menambah koleksi.

Jadi, inilah koleksiku terbaru:

Pulpen Sheaffer dan Botol Tinta Sheaffer Skrip
Pulpen Sheaffer dan Botol Tinta Sheaffer Skrip

Foto Tersisa Malang

Baiklah, Saudara. Akan kuperlihatkan kepada kalian dua buah foto pada hari ini.

Foto pertama kuambil pada suatu pagi dari jendela kamar hotel tempatku menginap di Malang pekan lalu. Indah, bukan?

Pemandangan dari Jendela Kamar Hotel di Malang
Pemandangan dari Jendela Kamar Hotel di Malang

Foto kedua kuambil beberapa saat sebelum aku memasuki pesawat yang akan menerbangkanku kembali ke Jakarta, dari Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Bagus, bukan?

Pemandangan dari Bandara Abdul Rachman Saleh Malang
Pemandangan dari Bandara Abdul Rachman Saleh Malang

Merindu Pulang

Barangkali ini hanya pengalamanku saja, Saudara. Ketika hendak pergi ke suatu tempat, biasanya aku gelisah. Hal ini karena aku akan meninggalkan sesuatu atau sesiapa yang akan kurindukan di kala bepergian. Tetapi dalam suatu waktu aku pun akan merasa gembira dan penuh kegairahan sehingga tidak sabar untuk segera berangkat karena di tempat tujuanku pergi tersebut ada sesuatu atau sesiapa yang sudah kurindukan. Bisa jadi perasaan yang begitu bercampur tersebut membuatku enggan dan malas untuk berkemas.

Kemarin, sesampainya aku di Jakarta setelah enam hari berada di Malang, barangkali karena aku tak punya sesuatu atau sesiapa yang kurindukan di sini, atau barangkali sesuatu atau sesiapa itu tidak pagi atau tidak bisa segera aku jumpai, maka wajarlah jikalau ternyata sesampainya aku di Jakarta sini hatiku hampa.

image

Nalub Amanrup

Purnama di balik dedaunan di Malang
Purnama di balik dedaunan di Malang

Relung Semeru mengintip dari balik semak. Dilihatnya Purnama berpilu. Rona wajahnya memucat dan semakin berjerawat.

Berkatalah Relung Semeru kepada Pohon Angsana di atasnya: “Apatah hal kiranya penyebab Sang Purnama gundah gulana demikian, wahai Angsana?”

Angsana menjawab sembari menyibak-nyibak rambutnya yang tertiup angin: “Kukira adalah kesepian gerangan penyebabnya, duhai Relung Semeru.”

“Bagaimana kesepian, kiranya ia sudah dikelilingi banyak bintang?”

“Kurasa Purnama merindu bidadarinya.”

\Pengennya mau bikin narasi puitis-puitis gitu, kok dapetnya malah dialog beginian. Hadeuh~\

Nuansa malam di Malang saat purnama
Nuansa malam di Malang saat purnama