InCoWriMo

… adalah singkatan dari International Correspondence Writing Month atau yang boleh kita istilahkan sebagai Bulan Menulis Korespondensi Internasional alias Bulan Berkirim Pos Sedunia. Buliskoin atau Burimposnia ini akan diselenggarakan selama satu bulan penuh di Februari ini.

Bulan apakah ini? Semangat yang terkandung di dalamnya adalah menulis (dengan tulis tangan) dan mengirimkan surat atau kartu pos setiap hari selama satu bulan. Seru dan menarik, bukan?

Sudah ada beberapa alamat yang kukantongi untuk kukirimkan surat dan kantor pos pada bulan depan ini. Bagaimana, Saudara, adakah di antara kalian yang berminat untuk memenuhi kantongku demi keperluan ini?

NB.
Kalian bisa mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai InCoWriMo di incowrimo.org.

Batik

Barangkali hari ini hari-hariku penuh dengan batik. Serba batik.

1. Pakai baju batik:

Pulpen Parker Frontier-ku tersangkut di saku kemeja batik. Kalian lihat, kan, ujung klipnya masuk ke dalam jahitan di saku. Ujung anak panah yang menjadi khas pulpen Parker menusuk ke situ.

2. Membasahi map batik dengan tumpahan kopi:

Aku sedang asyik memotong dan menempel kertas motif bunga-bunga di suatu bidang balok tadi pagi. Tak sengaja siku kiriku menyenggol gelas besar penuh kopi panas. Tumpahlah itu kopi. Haha.

3. Ke kota penghasil batik?

Kalau tak ada aral melintang dan gendala menghadang, malam ini aku berangkat ke salah satu kota penghasil batik. Sampai jumpa di sana, Saudara!

Pengaruh Hobi Pulpen

Apabila kalian sedang “menganggur”, cobalah menyimak video berikut ini:

Tuh, kan. Si Brian Goulet aja bilang kalau kaos berkerah juga nyaman dikenakan. Tak mengapalah kalau terkesan kebapak-bapakan atau keom-oman. 😀

Perhatikanlah pertanyaan pertama tentang bagaimana meyakinkan orang-orang bahwa pulpen (fountain pen) itu berharga dan layak.

Kalau aku, biasanya aku coba pamerkan pulpen-pulpenku. Aku biarkan mereka memeganginya, mencobanya untuk menulis. Ah, andaikan ada tersedia banyak pulpen-pulpen murah di sini, tentu aku takkan enggan untuk memberikannya cuma-cuma kepada orang yang benar-benar antusias. Bagaimana?

Pelikano

Jadi Sabtu kemarin itu aku pergi ke sebuah mal. Sebut saja Mall Kelapa Gading. Barangkali memang karena ada di kawasan Kelapa Gading maka mal tersebut diberi nama demikian. Apa yang menjadi tujuanku datang ke situ tidaklah kujumpai. Akan tetapi beruntunglah aku karena ketika aku iseng memasuki toko buku berlogo klip kertas di situ aku menemukan pulpen Pelikan Pelikano ini! Yey!

Pelikan Pelikano di toko alat tulis
Pelikan Pelikano di toko alat tulis

Barangkali aku terkejut karena kupikir tidak akan ada pulpen-pulpen semacam ini di sini (Indonesia). Aku sudah cukup terkejut ketika pergi ke toko alat tulis di Malang beberapa pekan lalu kudapati tinta botol Pelikan 4001 di situ.

Pulpen Pelikan Pelikano yang kutemukan Sabtu kemarin ini barangkali adalah model lama. Karena di situs resminya Pelikan Pelikano tidaklah berbentuk demikian.

Sampai saat ini pulpen inilah yang menjadi pulpen (fountain pen) yang paling murah yang kupunyai. “Cuma” Rp65k. Sudah termasuk 6 tinta “peluru”.

Di toko alat tulis ini aku pun menemukan mata pena berikut:

View this post on Instagram

Mata pena baru. Nikko Pen. G. Made in Japan.

A post shared by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Senangnya akhir pekan lalu…

My Recent Acquisition

Jadi, Saudara. Tadi malam itu aku ke MOI. Niat janjian dengan kawan-kawan nonton The Internship. Itu loh, filmnya Owen Wilson yang magang di kantornya Google.

Sebelum ke bioskop aku sempatkan mampir dulu ke Gramedia. Ternyata persis di bawahnya bioskop. Aku pun lihat-lihat di bagian pulpen. Setelah lihat sana lihat sini, aku pun tertarik dengan pulpen Sheaffer warna merah bening. Pulpen yang kumaksud di sini tentu saja adalah vulpen atau fountain pen.

Entah Sheaffer seri apa, yang jelas bukan produk keluaran baru. Ringan sekali pulpen ini. Terkesan murahan. Akan tetapi berhubung aku menyukai warna merah transparannya (belum punya pulpen yang transparan), aku beli pulpen ini. Aku rasa harganya Rp265k, tanpa converter.

Si Mbak Pramuniaga aku tanya tentang tinta. Dikeluarkanlah beberapa tinta cartridge dan beberapa tinta botolan. Aku tidak tertarik dengan tinta cartridge, maka aku tidak membelinya. Aku lebih tertarik dengan tinta botolan yang diperlihatkan oleh si Mbak. Karena ada dua botol yang merupakan tinta produk lama Sheaffer. Botolnya unik, seperti botol selai dengan tutupnya yang kaleng.

Aku tanya harga tinta botol itu berapa, si Mbak jawab Rp60k. Aku tahu harga tinta botol Sheaffer yang baru, yang bentuk botolnya mengerucut itu, memang segitu. Tetapi ini kan produk lama, dan di salah satu botol masih tertera label harganya pula. Tertera Rp24k, bukan Rp60k!

Aku coba protes dong ke si Mbak. Si Mbak kemudian BBM ke “bos”-nya. Lama sekali aku menunggu balasan. Aku pikir terlalu mahal membeli tinta “biasa” seharga Rp60k begitu. Tinta Pelikan 4001 lama yang kubeli di Malang dua pekan lalu saja harganya Rp17,3k. Belum lagi tinta Parker Quink harganya cuma Rp27k. Maka tentulah harga tinta Sheaffer Skrip ini memang benar cuma sebesar Rp24k.

Akhirnya si “bos” membalas, dan harga kedua botol tinta ini Rp60k masing-masing. Aku pun mengalah dan membelinya seharga segitu. Lumayanlah untuk menambah koleksi.

Jadi, inilah koleksiku terbaru:

Pulpen Sheaffer dan Botol Tinta Sheaffer Skrip
Pulpen Sheaffer dan Botol Tinta Sheaffer Skrip

Tintailah Parker Vector

Jadi, Saudara, tadi pagi aku membersihkan pulpen Parker Vector-ku. Aku bongkar-bongkar, tuh. Bagi yang ingin tahu bagaimana membongkar Parker Vector, silakan tonton video berikut:

Kemudian aku pun bingung. Haruskah aku menintai pulpen ini?

Parker Vector Metal
Parker Vector Metal

Sejujurnya, aku kurang begitu suka dengan pulpen ini, Saudara. Ketika aku menulis menggunakan pulpen ini, maka aku pun meletakkan jari telunjuk dan jempolku sedemikian rupa sehingga pulpen terpegang dengan nyaman. Akan tetapi bagiku pegangannya ini terlalu licin, Saudara. Apalagi ketika tanganku mulai basah oleh keringat.

Ditambah lagi ujung penanya tidak begitu bagus. Tentu saja ini adalah penilaianku. Sering terjadi “skipping” alias garis terputus apabila kugunakan untuk menulis. Kan tentu ini tidak nyaman, bukan?

Maka, haruskah aku menyimpannya saja dan tak lagi menintainya?

Kaligrafi

Sejak SD aku sudah mengagumi kaligrafi. Di masjid, di musala, di mana saja terdapat kaligrafi arab, aku suka menatapnya lama-lama. Alangkah senang tak terperi ketika dulu ayahku membelikanku buku kaligrafi arab. Berjam-jam aku tahan

Tak hanya kaligrafi arab, aku pun mengagumi kaligrafi latin. Copperplate, blackletter, dan sebangsanya telah membuat otakku serasa meletus. Dorrr! Aku pun terkejut. Di kala bosan menyimak guru menerangkan pelajaran di kelas, aku pun mencoret buku catatan dengan coretan asal kaligrafi. Hatiku pun riang.

Semenjak menggemari fountain pen, aku pun menjadi tahu bahwa untuk membuat kaligrafi atau tulisan indah yang aku kagumi itu membutuhkan pena-pena dengan kriteria khusus. Ada yang mata penanya lentur, ada pula yang mata penanya seperti klem kertas.

Rencananya aku ingin membeli pena semacam itu sebelum pulang ke kampung halaman akhir pekan ini. Sembari ngabuburit menunggui ibu memasak makanan buka puasa, alangkah nikmatnya sambil belajar kaligrafi, bukan?

Calligraphy
Calligraphy

Dari mana datangnya tinta?

Seorang profesor penologi berujar begini:

Maka aku pun kemudian memikirkan begini:

Dari manakah datangnya tinta?

Dari sawah turun ke kali. Ups! 😀

Memulai hobi pulpen atau fountain pen ini sedikit sulit dilakukan di sini. Betapa tidak, Saudara. Tinta yang ada di sini semuanya tidak tahan air (waterproof). Yang aku tahu hanya tinta hitamnya Parker yang tahan air. Tintanya Sheaffer, Lamy, Montblanc, Faber-Castell, Cross, semuanya tidak tahan air. Setidaknya itu yang kutahu.

Di sini itu kan lembab udaranya. Kertas-kertas sering lembab, kemudian berjamur. Kalau tintanya tidak tahan air, ya pasti bakalan luntur. Kalau lunturnya masih menyisakan tulisan yang masih bisa dibaca sih masih mending, yak? Lah ini, lunturnya benar-benar luntur tiada tersisa. Mau bagaimana, coba?

Ditambah, aku adalah orangnya yang kata dokter kelenjar keringat pada telapak tangan cenderung aktif. Jadi kalau menulis seringkali tanganku basah akan keringat. Bagaimana bisa dipaksakan menggunakan tinta yang tidak tahan air ini, coba?

Ada banyak sebenarnya tinta untuk pulpen (fountain pen) di luaran sana yang tahan air, bahkan ada yang disebut bulletproof, ya tahan berbagai cairan kimia semacamnya. Tetapi mereka tidak tersedia di sini. Setidaknya setahuku begitu. Lantas bagaimanakah aku harus bertahan dengan hobi ini, Saudara? Ada ide? Atau ada yang mau mengeksporkan tinta tahan pelurunya ke sini untukku? 😀

Tiga pulpen hitam
Tiga pulpen hitam