We Have Never Been Too Close or Too Far to the Future

Tinta,
Tumpah ruah di meja
Meja kosong tanpa kertas
Yang ada hanya gelas

Kopi,
Tumpah ruah di kepala
Kepala kosong tanpa utas
Yang ada hanya getas

Menulis. Sudah lama tidak menulis. Maksudku … menuliskan isi kepala menggunakan bahasa manusia. Sudah hampir setahun ini belajar menuliskan isi kepala menggunakan bahasa perantara untuk memerintah mesin. Sebab itu, untuk berbahasa manusia kembali kemungkinan sedikit sulit.

Barangkali tidak akan seperti kemampuan naik sepeda, yang apabila kita sudah lama tidak melakukannya maka kemampuan itu tiba-tiba saja datang kembali ketika kita mencoba naik sepeda lagi; seolah-olah segala macam lecet di lutut dan robek di celana ketika belajar naik sepeda dulu … menjadi nyata kembali. Lanjutkan membaca “We Have Never Been Too Close or Too Far to the Future” β†’

Perihal Nama Merek

Membaca sebuah artikel dari The Guardian berikut membuatku berpikir mengenai nama dan merek.

The Guardian: All Alphabet’s holdings have common names. What could go wrong?

Dulu sempat terpikirkan hal yang begitu juga. Mengapa orang sana sepertinya gitu banget dalam memberi nama. Semacam merek “Apple” yang secara umum adalah nama buah, yaitu apel. Ada juga “BlackBerry” yang juga nama buah. Kemudian yang paling terbaru yaitu “Alphabet”. Bukankah itu abjad?

Kalau orang kita, apakah ada yang berani menamai mereknya demikian? Kalau nama-nama semacam “Elang Perkasa”, “Kasih Ibu”, atau “Cap Capung” barangkali banyak kita jumpai sebagai nama toko atau nama merek. Akan tetapi, misalnya, adakah yang akan menamai tokonya dengan “Roti”? Atau memberi nama wartegnya “Kompor” atau “Tahu” misalnya?

“Apalah arti sebuah nama”. Itulah sebuah saduran dari kutipan orang sana yang terkenal. Barangkali itulah yang mendasari mereka menamai suatu merek secara gampangan. Nama-nama yang umum mereka jadikan nama merek.

Artikel dari The Guardian tadi menyebut semacam ketakutan bahwa ketika banyak merek yang mengambil dari kata-kata umum, maka ketika akan mencari sesuatu tentang kata umum di mesin pencari di internet akan muncul keterangan mengenai si merek, bukan kata umum yang dimaksud.

Lantas kemudian aku membaca artikel New York Times berikut ini:

Even in the New Alphabet, Google Keeps Its Capital G

Artikel di atas itu salah satunya membahas perkara generikisasi merek. Semacam yang kita temui di sini untuk kata “odol” untuk menyebut pasta gigi atau “honda” untuk sepeda motor. Di dunia sana (yang berbahasa linggis) ternyata lebih dulu terjadi generikisasi. Silakan lihat saja daftarnya di tautan berikut:

List of generic and genericized trademarks

Jadi ternyata ada kecemasan tersendiri akan pemakaian suatu kata umum menjadi sebuah merek, tetapi di sisi lain rupa-rupanya ada juga ancaman bahwa suatu merek dapat menjadi kata umum. Apa hal?

Inflasi Lebar Lebaran

Adalah sesuatu yang lazim, barangkali, apabila sehabis lebaran (Idulfitri) warung-warung makanan seakan berlomba-lomba menaikkan harga.

hatta, soekarno, buzz lightyear
Hatta, Soekarno dan Buzz Lightyear

Warung nasi goreng langgananku, misalnya, menaikkan harga seporsi nasi goreng ayam dari Rp11.000,00 menjadi Rp13.000,00 (naik 15% lebih). Warung gado-gado, menaikkan harga sebungkus gado-gado dari Rp10.000,00 menjadi Rp12.000,00 atau naik persis 20%.

Belum lagi warung padang yang menaikkan harga sebungkus nasi padang dengan lauk ayam goreng dan terong balado dari Rp13.000,00 menjadi Rp15.000,00. Itu artinya apa, Saudara? Kenaikannya lebih dari 13%!

Lain lagi dengan warteg alias warung tegal. Semua menunya dinaikkan rata-rata Rp1.000,00. Dari yang biasanya aku membeli seporsi nasi bungkus di situ seharga Rp10.000,00, maka sekarang untuk menu yang persis sama aku harus mengeluarkan tambahan uang dua ribu rupiah. Apa hal?!

Warung pecel lele? Sepiring nasi uduk dengan ayam goreng dan lalapan dari yang tadinya Rp12.000,00 menjadi Rp15.000,00! Belum berani saja aku mencoba ke warung mi aceh, barangkali naiknya harga lebih gila lagi mengingat ia pakai daging sapi yang mana pada beberapa hari belakangan daging sapi langka di pasaran, pembatasan impor, harganya melonjak tajam, para pedagangnya mogok, dsb.

Di Pekalongan, tempat kujalani masa kecilku, ada dikenal “harga lebaran”. Yaitu harga makanan memang sengaja dinaikkan berhubung hari raya. Beberapa hari sesudah hari raya, harga kembali normal. Tetapi di Jakarta ini, barangkali hanya di sini ini, harga naik sesudah lebaran adalah sebuah kemutlakan. Ia tidak akan pernah turun.

Tetapi janganlah kelamaan berkeluh kesah. Semangatlah, karena dengan begitu kita akan bekerja lebih giat hingga menaikkan jumlah rupiah yang kita dapat. πŸ˜€

Tombo Ngantuk

Apabila ada yang bertanya apakah obat kantuk yang paling mujarab, tentu jawabnya adalah tidur.

Akan tetapi, Saudara, tidur tidak bisa kita lakukan di sembarang waktu atau semena tempat. Kan?

Berikut ini adalah yang kiat-kiat yang bisa kalian lakukan sebagai penghilang kantuk di kala harus beraktivitas sementara tidur adalah hal yang mustahal dilakukan. \Mustahal adalah mustahil yang keterlaluan.\

1. Senam Kecil-kecilan

Pertama-tama, berdirilah di tempat yang lapang. Tak perlu pergi ke lapangan, cukuplah di depan meja kerja. Tentu apabila itu memungkinkan. Kemudian angkat kaki kiri (seperti akan berjalan di tempat saat baris-berbaris) lantas sentuh dengkulnya dengan tangan kanan. Angkat kemudian kaki yang satunya, yaitu kaki kanan, lantas sentuh dengkulnya dengan tangan kiri (jangan lupa untuk sebelumnya menurunkan kaki kiri ketika akan mengangkat kaki kanan). Lakukanlah gerakan angkat-sentuh-angkat-sentuh tersebut berulang-ulang. Belasan gerak, cukuplah.

2. Senam Sedang-sedang

Apabila hal nomor 1 tadi kurang mujarab bagi kalian, cobalah gerakan berikut:

Berdiri di tempat yang lapang, sama seperti nomor 1 tadi. Rentangkan kedua kaki sampai kira-kira selebar bahu. Kemudian tekuk kedua kaki sementara badan tetap tegak. Dalam pada itu (maksudnya ketika melakukan gerakan menekuk tadi) silangkan kedua tangan di depan dada. Lalu berdiri kembali sembari kedua tangan diluruskan seperti sedia kala lagi. Lakukanlah gerakan tersebut berulang-ulang. Belasan gerak, cukuplah.

3. Minum Kopi, Cokelat, Teh, dsb

Apabila hal nomor 1 dan 2 tidak sanggup mengusir kantuk kalian, minumlah secangkir kopi, cokelat, teh, atau minuman lain yang berkafein. Atau minuman lainnya lagi yang mempunyai efek menyegarkan badan. Sebagai contoh, seorang kawanku pernah berkata bahwa susu kedelai dapat menyebabkan badannya segar bugar sesaat setelah dia meminumnya. Atau seorang kawan yang lain lagi pernah mengaku kalau Teh Kotak yang asli (yang bukan less sugar) dapat menyebabkan pikirannya fokus setelah meminumnya. Barangkali kalian ada minuman khusus yang dapat menyebabkan badan menjadi seakan terbang, silakan kalian meminumnya. Atau dalam bentuk makanan, juga dipersilakan.

Secangkir cokelat hangat...
Secangkir cokelat hangat…

Foto di atas adalah obat kantuk yang baru saja kuminum. Lumayan manjur untuk menghilangkan kantuk, lho. Lanjutkan membaca “Tombo Ngantuk” β†’

Kawan Berjalan: A Self Reflection

Alangkah beruntungnya mereka yang menemukan kawan berjalan yang panjang langkahnya sama. Lebih beruntung lagi apabila langkah keduanya seirama.

Postingan yang kutulis pada 30 November 2014 di atas adalah yang paling berkesan karena barangkali bisa menjadi refleksi atas segala perasaan hati dan pemikiranku selama setahun belakangan ini. Memanglah benar betapa susah mendapatkan kawan berjalan yang semacam itu. Dengan cara yang keras/ susah kusadari hal demikian; memang benar pula bahwa kita baru akan menyadari arti pentingnya keberadaan seseorang bagi kita setelah kita kehilangan dia.

Tadi malam aku menonton lagi film “Doraemon: Stand By Me” untuk kedua kalinya. Lalu kusadari kembali akan satu hal: bahwa barangkali aku seperti Nobita, yang baik sadar maupun tak sadar menyabotase diri sendiri karena beranggapan bahwa seseorang bisa jadi akan lebih baik dan bahagia ketika kita tidak bersamanya. Rasa-rasanya aku ingin menangis pada saat adegan itu, kawan, tetapi…

β™ͺ Malu sama kucing.. β™ͺ Meong β™ͺ meong β™ͺ meoong.. β™ͺ

Andai saja sudah sejak lama aku mengikuti serial Modern Family, barangkali kutipan dari salah satu episodenya bisa membuatku bertindak lain: Lanjutkan membaca “Kawan Berjalan: A Self Reflection” β†’

Asmara Penasaran dan Doraemon

Sangkalan: Sesungguhnya tulisan ini sudah terencana untuk kupublikasikan beberapa waktu sebelum pernikahan si anu (Rapi Amat) dan si itu (Nageta Sapina) heboh ditayangkan selama berhari-hari oleh salah satu stasiun televisi swasta kita.

Disclaimer: This is supposed to be a translation of the sentence above in Lingish. So for the sake of our convenience, let’s just say so.

Siapa sih yang tidak menyukai kisah asmara? Kita semua menyukainya, barangkali. Terlebih apabila kita turut ambil peran di dalamnya. Ya, meski tidak sebagai peran utamanya, barangkali peran sebagai figuran cukuplah sudah dapat membuat kita ikut bahagia.

Akan tetapi bagaimanakah halnya ketika kisah asmara tersebut telah mencapai happy ending dan kemudian peran kita di situ berakhir pula? Akankah kita masih turut menikmati bahagia?

Sedikit kecewa sangatlah mungkin kita rasakan. Tetapi sebagai manusia yang terus ingin hidup di muka bumi ini hingga seribu tahun lagi, selayaknya kita terus melangkah maju. Barangkali dalam pelangkahan kita itu akan kita jumpai kisah-kisah asmara yang perlu pelibatan diri kita di dalamnya. Barangkali pula peran kita tidak lagi sebatas figuran melainkan sebagai pemeran pembantu utama. Sungguh mungkin, bukan?

Maka persiapkanlah diri kita untuk selalu siap sedia menghadapi kemungkinan tersebut. Lihatlah selalu peluang-peluang yang ada selama kita melangkah itu. Dengan demikian niscaya kita akan selalu hidup dari bahagia yang satu ke bahagia yang lain. Haha.

\Otak sedang kacau karena lama tak minum kopi, barangkali.\

Berbicara mengenai Doraemon \anggap saja kita tadi sedang asyik membicarakan robot kucing berwarna biru muda itu\ tahukah kalian kalau di negara serikat seberang lautan sana ditayangkan dalam televisi mereka satu seri kartun animasi Doraemon? Disney XD nama stasiun televisinya, kalau aku tidak salah.

Katanya di sini, ada beberapa pengadaptasian dari bagian cerita sehingga barangkali lebih berterima di hati para pemirsanya di sana. Seperti misalnya Nobita menjadi Noby, Suneo menjadi Sneech, Shizuka menjadi Sue, Gian menjadi Big G, dan seterusnya. Bahkan Doraemon tidak lagi disalahanggapkan sebagai rakun melainkan anjing laut.

Apapun itu, aku mendukung segala pengadaptasian semacam ini. Sama sajalah seperti dulu dilakukan oleh Wali Sembilan. Kan?

Rambut yang Melelahkan

Sudah dari kemarin-kemarin ingin kutunjukkan video ini kepada kalian. Tahu Alaa Wardi, kan? Nah, di video ini dia curhat mengenai rambut gondrongnya. Haha!

Seandainya aku lebih kreatif, barangkali aku pun ingin membuat semacam lagu tentang rambutku begitu, Saudara. Haha!

Si Alaa Wardi ini katanya sering dikata-katai seperti kera atau seperti manusia gua gara-gara rambutnya yang “begitu”. Haha. Sejatinya aku ingin rambutku gondrong seperti rambutnya. Tetapi kata si Alaa rambutnya yang begitu itu sungguh melelahkan. Meski begitu, tetapi dia tidak ingin mencukur rambutnya. Haha!

Jadi lewat video itu si Alaa meminta kita mencari solusi perkara rambutnya yang sering mengganggunya itu. Haha. Bagaimana? Kalian ada ide?

That’s Life, Allegedly

Kupikir lagu paling cocok untuk bulan Juli ini adalah lagunya Eyang Frank Sinatra berjudul “That’s Life”, Saudara.

That’s life (that’s life), that’s what all the people say
You’re ridin’ high in April, shot down in May
But I know I’m gonna change that tune
When I’m back on top, back on top in June

I said that’s life (that’s life), and as funny as it may seem
Some people get their kicks stompin’ on a dream
But I don’t let it, let it get me down
‘Cause this fine old world, it keeps spinning around

Sudah sejak empat hari lalu lagu ini kuputar-putar terus berulang kali, \seperti bumi ini yang terus menerus berputar, kan?\ kudengarkan dan kunyanyikan tiada bosan-bosannya. Memang benar apa kata orang, oldies never die.

I’ve been a puppet, a pauper, a pirate, a poet, a pawn and a king
I’ve been up and down and over and out and I know one thing
Each time I find myself flat on my face
I pick myself up and get back in the race

Dalam hidup, kadang kita merasa sedang di atas, kadang pula kita di bawah. Kadang kita buka puasa dengan sekuali spageti, kadang pula hanya dengan sebiji kurma. Tetapi seperti kawanku si Imam, mari kita mengusahakan agar selalu berbuka dengan si yang manis.

That’s life (that’s life), I tell you I can’t deny it
I thought of quitting, baby, but my heart just ain’t gonna buy it
And if I didn’t think it was worth one single try
I’d jump right on a big bird and then I’d fly

Lanjutkan membaca “That’s Life, Allegedly” β†’

Sesal Tiada Gondrong

Manusia itu makhluk visual yang aneh. Kan? Fenomena ini baru-baru ini aku alami, Saudara.

Tentulah kalian sudah tahu dari postingan Can’t Stand Me kalau aku sudah memangkas rambut gondrongku. Pujian pun berdatangan. Tentu sudah banyak yang mengatakan bahwa aku tampan. Ketika masih gondrong kemarin, satu demi satu dari mereka ini yang mengundurkan diri. Akan tetapi demi hilangnya rambut gondrongku ini, malah bertambah lagi orang-orang yang mengutarakan ketampananku itu.

Aku tetaplah aku, bilamana pun rupa rambutku. Kegondrongan tidaklah mengubahku menjadi lebih jahat atau lebih baik. Memang hanya mengubahku menjadi lebih keren sedikit, tetapi itu pun tidak semua orang bersepakat.

Sesal tiada gondrong
Sesal tiada gondrong

Aku menyengaja untuk memperlama masa kegondronganku kemarin agar tercipta citra gondrong di mata masyarakat. Setelah kurasa cukup lama kuendapkan citra tersebut, maka aku pun memutuskan untuk mengakhirinya agar bisa kulihat bagaimana sesungguhnya perilaku manusia visual terhadap perubahan citraku yang drastis ini. Lanjutkan membaca “Sesal Tiada Gondrong” β†’