Can’t Stand Me

Another headline from The Daily Post:

"What do you find more unbearable: watching a video of yourself, or listening to a recording of your voice? Why?"

Barangkali aku akan menjawab mendengarkan rekaman suaraku sendiri. Mengapa? Karena terasa terlalu berbeda dengan suara asliku. Jauh lebih buruk.

Akan tetapi jawaban sesungguhnya adalah memandang diriku di dalam cermin. Mengapa? Karena dia hidup di dunia cermin, dimana kanan adalah kiri dan salah adalah benar. Tentu di sana gondrong tetaplah gondrong, tetapi aku rasa tidak ada kebodohan di sana karena di sana adalah dunia tanpa suara.

Maaf.

Fobia

Ada orang fobia terhadap badut. Lantas kalian menyebutnya Coulrophobia. Sedang aku menyebutnya Saya**** atau Aku*****. Ada lagi orang fobia terhadap laba-laba. Lantas kalian menyebutnya Arachnophobia. Sedang aku menyebutnya Bukan Saya.

Manusia adalah termasuk jenis makhluk aneh. Maka aneh-aneh pula tingkah lakunya. Ada yang takut terhadap barang sepele semisal biji salak, ada yang takut terhadap air \macam kucing saja\, ada yang takut terhadap bulan, ada yang takut terhadap warna putih, ada yang takut terhadap manusia selainnya, dan bahkan ada yang takut terhadap ketakutan itu sendiri (Phobophobia).

Kali ini aku akan menjawab satu pertanyaan dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Mbak Nur (yang baru-baru ini pindah “rumah” ke ummutsabita.wordpress.com), yakni pertanyaan sebagai berikut:

8. Apakah kamu punya phobia?

Barangkali tidak memiliki apa yang sampai disebut sebagai fobia, akan tetapi aku takut sekali menjadi botak. Itulah salah satu alasannya mengapa belakangan ini aku terobsesi berambut gondrong. Maka pakailah aku sampo bayam, cemceman, dan semacamnya. Akan tetapi tidaklah sampai yang berlebihan kukira.

Ada pula dahulu aku takut akan ketinggian. Maka ketika beberapa tahun yang lalu ketika hendak Belajar Terbang, banyak kawan bahagia sekali menakut-nakutiku. Akan tetapi tidaklah aku merasa takut karena yang kutakutkan sejatinya bukanlah berada di tempat yang tinggi melainkan perasaan tiba-tiba kehilangan akal sehat untuk kemudian meloncat dari tempat yang tinggi itu. Sampai sekarang aku masih sedikit merasa takut ketika melihat ke arah bawah dari tempat tinggi yang terbuka.

Begitulah kiranya jawabanku. Semoga mendapatkan nilai sempurna. Bagaimana?

Bingkai Pikiran

Beginilah tajuk utama The Daily Post hari ini berbunyi:

The Daily Post - Frame of Mind
The Daily Post – Frame of Mind

Maka aku pun bisa menjawabnya begini:

Saat ini dari lukisan suasana hatiku adalah seperti lukisannya Salvador Dali yang berjudul La persistencia de la memoria.

The Persistence of Memory
The Persistence of Memory (Sumber: Wikipedia.org)

Akan tetapi bukan arloji melainkan rambut gondrong keritingku. Akan tetapi bukan dahan-ranting melainkan tiang jemuran baju. Kalian tahu apakah ini maknanya? Itu artinya aku merindukan rambut gondrong keritingku yang telah dipangkas dua hari lalu. T~T

Jawab Cahaya – Bahagia Sederhana

Menindaklanjuti pertanyaan-pertanyaan dari Mbak Nur, kali ini aku akan jawab satu pertanyaan berikutnya. Secara acak, tentu saja. Kena apa? Karena aku suka acak. πŸ˜€

Pertanyaan nomor 9 adalah pertanyaan yang akan kujawab pada kesempatan siang yang dingin \karena AC dua-duanya disetel pada suhu 16 derajat dan kaos kakiku basah kena tumpahan air minum\ ini.

9. Apa 3Β hal sederhana yang bikin kamu bahagia?

Sesungguhnya sangatlah mudah bagiku menjawab pertanyaan ini. Karena pertanyaannya sederhana, maka jawabanku pun menjadi sederhana:

  1. Menghidu aroma \darah\ rumput sehabis dipangkas.
  2. Menghirup segarnya aroma debu tatkala hujan tiba-tiba mengguyur terik jalanan.
  3. Menatap purnama.

Maka bukanlah aku yang baik hati ini berlaku apabila tidak memberi bonus. Adapun bonusnya adalah:

3,5. Sebagaimana yang pernah kutuliskan dalam postingan “Bahagia Sederhana”.

Itulah bahagia sederhanaku. Bagaimana dengan kalian?

Jalan Acak

Seharusnya postingan ini kukirimkan ke sini melalui surel (email) tadi malam. Akan tetapi ternyata aku memang semakin melupa, sehingga tidak sadar kalau tombol Send-nya lupa kujawil.

Baiklah. Jadi begini, Saudara. Setiap kali aku merasa pikiran sedang banyak dipenuhi hal-hal buruk, aku akan keluar ambil jalan kaki. Kupikir dengan berjalan kaki maka pikiranku akan teralihkan kepada hal-hal yang kulihat atau kudengar di sepanjang jalan.

Jadi malam tadi aku keluar untuk ambil jalan. Ternyata banyak sekali hal menarik yang kulihat atau kudengar. Ketika melintasi trotoar di sebuah jalan yang gelap, kudapati sesuatu cahaya merah jingga di selokan. Awalnya aku pikir itu hanyalah bayangan bulan atau lampu di kejauhan. Akan tetapi malam tadi mendung dan tak ada lampu semacam itu di kejauhan. Kupikir lagi, apakah itu benda atau bahkan makhluk hidup fluoresens. Lanjutkan membaca “Jalan Acak” β†’

Otak Si Rambut Panjang

Entahlah. Otakku barangkali sedang bertingkah aneh hari ini. Ia tidak tepat dalam menautkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Seperti misalnya tadi pagi aku meminta dibelikan pisang ambon kepada seorang berbatik ungu. Maka yang kudapatkan adalah tidak hanya enam buah pisang ambon yang ranum melainkan juga setengah porsi mi ayam dan dua bungkus kerupuk. Kusisihkan dua buah pisang untuk kumakan nanti siangnya karena yang selainnya habis pagi itu juga kumakan dan kubagi-bagikan.

Hatta, selesailah aku makan siang. Dari tempat makan itu aku membawa pulang dua buah apel yang cukup matang. Yang satu kuberikan sedangkan yang satunya kumakan. Tidak lupa sebelum kumakan kukuliti terlebih dahulu. Hal inilah yang menjadi pertanda ada sesuatu yang salah dengan otakku. Lanjutkan membaca “Otak Si Rambut Panjang” β†’

Tetap Berlatih

Seorang guru olahraga pernah mengatakan hal ini kepadaku. Katanya, sekali dalam satu kurun waktu seorang atlet yang sedang rehat dalam karier profesionalnya harus berlatih agar dapat menjaga kebisaannya dalam olahraga yang ditekuninya. Perkataannya itu mendatangi ingatanku kemarin malam, yaitu pada saat aku menatap bulan sabit untuk kali pertamanya dalam bulan ini.

Benar juga. Badan manusia relatif lebih mudah pikun daripada hatinya. Barangkali seseorang akan mudah melupakan betapa sakit kakinya ketika terjatuh di jalan. Akan tetapi hatinya tetap akan ingat betapa sakit sekali hatinya mengetahui bahwa orang terkasihnyalah yang telah mendorongnya dengan sengaja sehingga ia terjatuh.

Tetapi bukan hal itu yang ingin aku tekankan. Seorang pemain sepak bola yang dilarang bermain sepak bola untuk sementara waktu karena cedera kaki yang dialaminya, akan membutuhkan waktu untuk setidaknya mengingatkan kakinya kepada teknik-teknik mengolah bola ketika dia sudah sembuh. Ia tidak akan bisa langsung melakukan tendangan ajaibnya seperti sedia kala. Memori kakinya tidak serta merta kembali seperti sedia kala. Katanya.

Maka mulai sekarang aku pun bertekad untuk melakukan hal yang menjadi kejagoanku minimal sebulan sekali. Aku tahu sudah lama aku tidak mempraktikkannya. Sudah hampir setahun ini, barangkali. Tentu aku tidak ingin kehilangan keahlianku ini.

Aku memang tidak berniat untuk kembali lagi menekuni dan berkarier secara profesional di bidang ini. Sudah lama aku memutuskan untuk keluar malahan. Tetapi aku merasa sayang untuk menghilangkan kebisaan ini secara total.

Maka inilah aku sekarang, berbahagia dalam keadaan perut kepenuhan makanan. Sampai berjumpa lagi di lain kesempatan, barangkali dalam satu bulan ke depan. πŸ˜€